"Kenapa kamu tidak melepaskan saja semua Clara? Buat apa bertahan pada hubungan yang menyakitkan?."
Dokter Aditya menatap wajah cantik Clara, keduanya berada di kantin rumah sakit.
"Andai aku bisa melepaskannya, Tapi semua itu tidak mudah. Bryan nyatanya bukan pria yang mudah dihadapi. Dia tidak ingin melepaskan ku, dia hanya ingin melihat aku menderita."
Clara memegang kuat cangkir yang ada di atas meja. Dokter Aditya benar-benar memperhatikan raut wajah wanita itu.
"Bryan Abraham adalah salah satu pengusaha terkemuka di kota ini. Bagaimana ceritanya hingga kamu bisa jatuh ke tangannya? Padahal dia memiliki kekasih yang sangat dicintainya, wanita tadi."
Dokter Aditya kembali bertanya, dia memang di dera penasaran yang teramat sangat. Ketika sekolah dulu, Clara adalah termasuk primadona. Namun dia sangat tertutup dan tidak mudah membuka hati.
"Semua terjadi karena kesalahpahaman. Malam itu, karena mabuk. Aku salah masuk kamar. Dan ternyata itu adalah kamarnya, dia juga sedang mabuk. Lalu berakhirlah kami tidur bersama. Dia pikir aku sengaja ngejebaknya, agar aku bisa menjadi istrinya. Padahal tidak sama sekali. Kakakku menuntutnya untuk bertanggung jawab, Dia terpaksa menikahiku."
Clara segera menjelaskan dengan sesekali meminum teh yang ada dalam cangkirnya, walau terasa getir dan pahit.
"Sepertinya aku harus segera pergi Aditya. Kebetulan aku ada urusan."
Tiba-tiba Clara bangkit berdiri karena teringat sesuatu. Aditya pun hanya mengangguk saja.
"Ya sudah! Pergilah! Semoga urusanmu segera beres!."
Clara beranjak pergi diikuti tatapan tak biasa dari dokter Aditya.
"Andai Kau bisa membuka hati untukku dulu Clara. Bahkan sekarang pun Aku Masih mengharapkanmu. Cepatlah berpisah dari dia."
Dokter Aditya terlihat berbicara pada dirinya sendiri.
Clara tiba di suatu tempat, seorang wanita cantik berambut pendek segera menyambutnya.
"Clara!! Apa benar kamu ingin menjual cincin pernikahan kamu dengan Bryan?."
Clara segera menganggukkan kepalanya lalu duduk. Dia membuka cincin satu-satunya yang ada jari manisnya.
"Aku sudah memutuskan untuk bercerai dari dia Heni."
Jawab Clara meletakkan cincin pernikahan bermata berlian pemberian Bryan dulu saat mereka menikah. Walaupun dia memiliki perhiasan yang cukup banyak di rumah Bryan, namun tidak ada satupun yang dia ambil.
Heni yang merupakan sahabat Clara pun memindai wajah sahabatnya itu. Clara tampak melamun di sana, seakan sangat berat untuk melepas cincin yang penuh makna itu.
"Aku harap ini yang terbaik untukmu Clara! Kau pantas bahagia."
Heni mentap iba wajah sahabatnya.
"Kira-kira cincin ini laku berapa?."
Clara segera bertanya dengan suara seraknya.
"Mungkin laku sekitar dua ratus juta."
Jawab Heni. Clara pun segera menganggukkan kepalanya, dia benar-benar butuh uang sekarang.
Dddrrttt!
Clara segera merogoh tasnya karena ponselnya berbunyi.
"Clara!! Tolong Tante!.....!."
Klik
Clara langsung memasang wajah panik seketika.
"Apa yang terjadi?."
"Tante Maya ditangkap polisi!."
Heni ikut panik mendengar kabar itu. Dia bergerak ikut bangkit.
"Aku akan mengurus Tante Maya, kamu urus cincin ini."
Heni langsung mengangguk. Sedang Clara bergerak pergi dengan rasa yang bercampur aduk.
Bryan tampak sedang berbicara dengan seseorang.
"Pastikan dia mendekam dipenjara dalam waktu yang cukup lama."
Perintah Bryan kepada pria di depannya yang merupakan seorang pengacara.
"Tentu saja pak Bryan, saya akan mengurus semuanya."
Jawab pria itu yang segera meninggalkan Bryan sendiri di sana.
"Lepaskan Tante Maya!."
Bryan segera menoleh, Dia menemukan wajah Clara yang menatapnya.
"Cepat juga kamu menemukan aku!."
Bryan segera berkata dengan senyum tipis di bibirnya. Dia bergerak menghampiri Clara. Istrinya itu terlihat tegas dan juga tangguh. Tidak ada ekspresi yang terpancar di wajahnya.
Clara telah berubah banyak.
"Lepaskan Tante Maya!."
Seru Clara lagi saat tak mendapatkan tanggapan berarti dari Bryan.
"Dia sudah melakukan tindakan kekerasan kepada Alena, saya tidak bisa mengeluarkannya begitu saja."
Jawab Bryan dengan senyum tipis di bibirnya itu, dia terlihat sangat santai.
Clara melangkah satu langkah, mendekat dan menatap langsung wajah suaminya. Bryan memang tampan, dan wajah itu sempat sangat digilainnya. Tapi kini semua telah berubah. Cinta itu telah sirna seiring berjalannya waktu karena diabaikan.
"Semua karena Alena, lagi-lagi karena dia yang menjadi prioritasmu. Kamu sangat takut dia tersakiti. Kenapa kamu tidak menikahi dia saja? Dan kenapa kamu mempersulit proses perceraian kita?."
Bryan menarik nafas, dia menatap lekat wajah Clara yang menatapnya begitu dingin.
"Karena aku masih memiliki istri yaitu dirimu! Kenapa aku harus menikahi Alena?."
Jawab Bryan mantap.
"Aku hanyalah istri di atas kertas, teman tidurmu saja, yang akan kau datangi jika kau butuh. Setelahnya kau buang begitu saja. Sedangkan Alena, dia bagaikan permata yang begitu berharga bagimu. Seharusnya kamu menikah dengannya. Dan lepaskan aku!."
Rahang Bryan seketika mengeras, tangannya terkepal kuat. Dia bergerak cepat menangkap tangan Clara.
"Aku sudah berulang kali mengatakan, di antara kita tidak akan perceraian kecuali jika aku menginginkan! Alena adalah urusan lain bagiku. Dan tidak ada urusan denganmu. Jadi stok cemburu padanya."
Clara berusaha keras melepaskan pegangan tangan Bryan yang terasa begitu kuat.
"Di mana cincin pernikahanmu?."
Bryan seketika salah fokus pada jemari Clara yang tidak lagi mengenalkan cincin pernikahan mereka.
"Iihh!! Saya telah menjualnya. Lagi pula cincin itu tidak berharga lagi bagiku."
Bryan segera memasang wajah menakutkannya.
"Katakan di mana kau menjualnya?."
Pekik Bryan dengan kencang.
"Cincin Itu milikku! Jika aku menjualnya itu bukan urusanmu! Sebentar lagi kita akan bercerai. Cincin itu juga tidak akan aku pakai lagi."
Dengan cepat, Bryan memojokkan tubuh Clara pada dinding.
"Kau begitu Ingin bercerai dariku! Kenapa? Apa kau sudah menemukan pria lain? Kau jatuh cinta padanya melebihi cintamu padaku?."
Bryan terlihat begitu marah, dia mengangkat kedua tangan Clara di atas kepala. Lalu mengunci pergerakannya. Tak membiarkan wanita itu berkutik.
"Aku bukan wanita yang mudah jatuh cinta kepada sembarang pria! Aku hanya ingin segera terbebas darimu, terbebas dari belenggu pernikahan yang sangat menyiksa ini! Hhmmpph.....!!."
Bryan langsung menyambar bibir Clara. Dia benar-benar tidak suka mendengar wanita itu ingin menjauh darinya, Padahal selama ini, Clara terang-terangan ingin selalu dekat dengannya. Berusaha mencari perhatian darinya, walau dalam hal sekecil apapun.
Bryan terus menghisap bibir Clara dengan ciuman yang begitu menuntut, dia lupa kalau saat ini mereka masih berada di area rumah sakit.
Bahkan sepasang mata melihat mereka berdua dengan mata yang berkaca-kaca dari atas sana.
Pandangan wanita itu terlihat benar-benar menajam, kedua tangannya terkepal kuat, hingga buku-bukunya pun terlihat memutih.
"Sialan!! Clara sialan, dia selalu bisa memanfaatkan keadaan untuk menjerat Bryan! Dia sungguh k*****t!!."
Alena mengamuk ketika melihat Bryan berciuman dengan Clara di bawah sana.
Tamara pun panik dan berusaha menenangkan putrinya itu yang memang memiliki emosi meledak-ledak.
"Tenanglah Alena!! Nanti Bryan akan menjadi milikmu, dia akan kembali padamu dan menikahimu. Percayalah pada mama!."
Tamara memeluk erat tubuh Alena, sambil mengungkapkan perkataan penenang padanya. Barulah Alena terlihat tenang.
"Bryan hanya milikku. Clara harus menyingkir dari hidup kami."
Pllaakkkk!!!
Clara segera menampar pipi Bryan setelah ciumannya terlepas. Namun pria itu sepertinya tidak peduli, dia bahkan menelpon seseorang.
"Cari tahu di mana cincin pernikahan Clara dijual. Dapatkan cincin itu, dia harus kembali pada pemiliknya."