Bab 6

1222 Words
"Clara! Tolong Tante! Keluarkan Tante dari sini!." Maya menangis terisak-isak sambil menggenggam tangan Clara yang duduk dihadapannya. Kini Clara harus menjenguk dua orang didalam penjara sekaligus. "Tentu saja Clara akan mengusahakannya Tante!! Percayalah, tapi Tante harus bersabar." Clara menghela nafas berat, sejujurnya dia tidak tahu dengan cara apa dia bisa mengeluarkan tantenya dari sana. Sedangkan dia tidak memiliki uang untuk menyewa pengacara. "Hiks! Lalu bagaimana dengan mama mu? Apakah dia sudah baikan? Jangan katakan tentang kondisi Tante padanya." Maya masih menggenggam tangan Clara dengan kuat. "Mama sudah lebih baik, jangan khawatir." Jawab Clara, Maya pun menghela nafas leganya. Setelah menjenguk tantenya, Clara kemudian menjenguk kakaknya, kondisi pria itu terlihat begitu memprihatinkan, tubuhnya sedikit kurus. "Kakak!." Clara tidak sanggup membendung air matanya saat melihat kakaknya, pria itu benar-benar bukan seperti kakaknya yang dulu. "Kakak tidak apa-apa, tidak perlu memikirkan kondisi Kakak di sini. Kamu lanjutkan hidup, dan segera bercerai dari pria itu. Dia hanya akan membuat dirimu sengsara. Kakak tidak ingin melihat kamu menderita." Clara semakin terisak mendengar ucapan kakaknya. "Tante Maya juga berada di tempat ini, semua itu karena Bryan, dia sungguh egois. Di matanya hanya ada Alena." Clara semakin mengencangkan tangisnya, tangis yang sejak tadi dia tahan akhirnya tak terbendung lagi. "Kakak akan segera keluar dari sini percayalah! Dan kakak akan melindungimu! Tapi kamu harus segera berpisah dari pria itu! Kalau tidak, kamu akan semakin menderita, dan besar kemungkinan kamu akan menyeret semuanya dalam lubang penderitaan yang semakin dalam." Clara membenarkan ucapan kakaknya. Bryan memang sangat egois, dia mementingkan kepentingan Alena di atas segalanya. Bahkan tega mengorbankan apapun demi kebahagiaan wanita itu. "Iya! Kita akan bersama kembali dalam kebahagiaan. Mama pasti juga akan sembuh. Dan kakak serta Tante Maya bisa keluar dari tempat ini. Kita akan pergi sejauh-jauhnya." Clara berusaha menumbuhkan harapan untuk dirinya sendiri, dia kembali menatap wajah kakaknya sebelum akhirnya bangkit berdiri. Pria itu hanya bisa menatap punggung adiknya dengan sendu. Clara tidak langsung pulang ke rumah sakit, dia bergerak ke suatu tempat. Kemarin dia sudah memasukkan permohonan kerja disebuah restoran. "Oh jadi Anda yang ingin bekerja?." Seorang wanita langsung memindai penampilan Clara dari atas hingga bawah, dia merasa kalau wajah Clara sedikit familiar. "Iya benar Bu! Saya ingin bekerja di sini kalau boleh. Menjadi apa saja saya terima." Jawab Clara, dan wanita di hadapannya Itu tampak menarik nafas panjangnya. "Wajahmu terlalu cantik untuk ukuran seorang waiters! Kenapa kamu ingin bekerja di restoran?." Wanita itu masih tidak percaya kalau Clara ingin bekerja sebagai pelayan di restoran itu. "Saya ingin bekerja apa saja yang penting mendapatkan uang. Ibu saya sedang sakit." Jawab Clara dengan nada getir. Sejujurnya dulu dia pernah bekerja sebelum menikah dengan Bryan, dia bahkan bekerja sebagai manajer di sebuah perusahaan. Karena dirinya tergolong pintar, bahkan karirnya dengan cepat melesat. Namun apalah daya, setelah menikah dengan Bryan. Pria itu tak membiarkannya bekerja. "Ya sudah! Kamu boleh masuk bekerja hari ini! Schedule kerja kamu nanti akan saya buat." Clara menghela nafas lega karena akhirnya bisa mendapatkan pekerjaan. Dia juga nanti akan mencari pekerjaan yang lebih baik, misalnya melamar pekerjaan di kantor. Namun untuk sekarang dia sangat membutuhkan pekerjaan apapun. Demi mendapatkan uang. *. "Terima kasih Pak Bryan, semoga kedua perusahaan kita nanti akan semakin besar dan sukses." Seorang pria segera menjabat tangan Bryan, rupanya pria itu juga berada di dalam restoran di mana Clara bekerja. Bryan baru saja hendak beranjak bersama dengan Meta asistennya, namun seluit pandangannya segera menangkap kehadiran Clara yang memakai pakaian pelayan restoran. "Apa yang dilakukannya disini?." Pria itu segera bertanya sambil memperhatikan istrinya. Kedua tangannya tiba-tiba mengepal. "Saya rasa Nyonya sedang bekerja di restoran ini pak!." Jawab Meta memindai wajah Bryan yang sudah berubah merah. "Minta pemilik restoran ini untuk segera memecatnya. Dan pastikan tidak ada satupun tempat kerja di kota ini yang mau menerimanya." Perintah Bryan adalah mutlak dan tak bisa diganggu gugat. Meta hanya bisa mengangguk, kemudian mengerjakan perintah bosnya. "Maaf Nona! Sepertinya Anda harus segera meninggalkan tempat ini. Kami batal menerima anda." Clara segera meraba dadanya, Padahal dia belum satu jam bekerja di sana, namun sudah kembali dipecat. "Kalau boleh tahu Kenapa saya batal dipekerjakan? Padahal saya sangat membutuhkan pekerjaan ini!." Clara berusaha memprotes. "Kami sudah memutuskan! Jadi silahkan pergi dari sini!." Sahut wanita di hadapan Clara. Wanita itu hanya bisa menarik nafas panjang yang terasa berat, namun dia juga tak bisa berbuat apa-apa. Clara segera berganti baju kembali, setelahnya dia bergerak pergi. "Jadi ini yang ingin kamu lakukan sehingga memaksa untuk bercerai dariku? Kamu ingin hidup bebas dan bekerja di luar! Supaya apa? Supaya banyak laki-laki yang melihat dirimu? Dasar w*************a!!." Bryan langsung menyentak kasar lengan Clara. Wanita itu tampak terkesiap saat melihat penampakannya di sana. "Apa semua ini karena kau? Sehingga aku dipecat di saat belum bekerja?." Bryan mengukir seringai, Clara benar-benar geram melihat pria itu. Pllaakkkk!! Karena mendapatkan tamparan dari Clara, dengan cepat Bryan menarik kepala istrinya itu lalu menciumnya dengan rakus. "Lepaskan!!." Clara berusaha sekeras mungkin untuk menjauh dari Bryan. Dia mengelap bibirnya segera yang telah dicium oleh pria itu. "Aku pastikan tidak ada satupun tempat di kota ini yang akan menerimamu bekerja. Jadi bermimpilah untuk mendapatkan pekerjaan. Kamu hanya boleh bekerja sebagai istriku, dan dari semua itu kamu akan mendapatkan bayaran. Nyonya Bryan akan tetap berada di tanganmu." Clara mengepalkan tangannya atas sikap otoriter pria ini. "Aku tidak akan pernah menyerah! Aku yakin pasti bisa mendapatkan pekerjaan! Menyingkirlah dari hidupku selamanya Bryan Abraham, Aku sangat membencimu!!." Clara bergerak pergi membawa amarahnya, air matanya sudah tidak terbendung lagi. Namun dia tidak ingin menangis di hadapan Bryan. Dia tidak ingin memperlihatkan sisi kelemahannya di hadapan pria itu. "Berusahalah semampumu Clara, tapi aku pastikan kau tidak akan pernah lepas dari genggamanku." Ucap Bryan menatap punggung Clara yang telah berlalu. Meta yang berdiri tidak jauh dari Bosnya itu tampak memperhatikannya. "Katanya tidak cinta! Tapi juga tidak ingin melepaskan! Aneh!!!." Gumam wanita itu yang menilai tindakan bosnya yang plin-plan. **. "Ya halo!." "Clara! Cincin kamu telah laku, rumahmu juga tergadai, tinggal menunggu pencairan uangnya." "Oh benarkah! Syukurlah, aku memang saat ini sangat membutuhkan uang. Aku harus menyewa pengacara untuk membebaskan Tante Maya, belum lagi biaya pengobatan mama. Aku benar-benar membutuhkan uang yang banyak." Clara tampak menghela nafas lega saat mendapatkan kabar dari sahabatnya Heni, yang telah membantunya untuk menjual cincin dan juga menggadaikan rumahnya. "Semoga nanti aku mendapatkan uang banyak, hingga bisa menebus rumah itu kembali! Mama! Papah! Maafkan Clara!." Clara menarik nafas beratnya, rumah kedua orang tuanya terpaksa harus digadai demi untuk mendapatkan uang. Sementara dia sendiri, untuk sementara tinggal di apartemen Heni. Namun dia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit. Tok tok tok!! Clara segera menoleh saat mendengar ketukan di pintu. Lagi-lagi wajah menyebalkan Bryan muncul di sana. "Ada apa lagi?." Clara segera bertanya dengan suara rendah, dia tidak ingin kalau sampai istirahat mamanya terganggu. "Aku hanya ingin berbicara denganmu dan mengembalikan sesuatu!." Jawab pria itu enteng. Suaranya bahkan cukup keras, seakan tidak takut kalau sampai mertuanya terganggu dan penyakitnya kambuh. Clara bergegas menarik Bryan keluar dari kamar, membawanya ke tempat yang sepi. "Apalagi yang kau inginkan? Kamu telah membuatku dipecat sebelum bekerja. Apa kamu datang menemuiku untuk menertawakanku?." Clara berucap dengan tegas, dan hal itu tidak disukai oleh Bryan. Dia menginginkan Clara yang lembut dan juga menurut seperti dulu. "Aku hanya ingin mengembalikan milikmu!." Bryan menarik tangan Clara, lalu segera memasangkan cincin pernikahan mereka dijari manis wanita itu. "Dari mana kamu mendapatkannya? Apa kau yang telah membelinya?."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD