Bab 20

1065 Words
Bryan berteriak dengan kencang tanpa sadar saat membaca isi map yang ternyata adalah surat cerai yang ditinggalkan Clara untuknya. "Apa-apaan ini? Apalagi yang dia lakukan? Apa dia sengaja melakukan ini untuk memancingku?." Bryan menarik dasinya dengan gusar, dia melangkah lebar menapaki anak tangga satu persatu menuju lantai atas. Dia hendak mencari keberadaan istrinya. "Clara! Di mana kamu? Clara!!." Seru Bryan masuk ke dalam kamar dan mencari istrinya. Namun batang hidung Clara sama sekali tak dia temukan. Dia membuka kamar mandi, namun tidak ada orang di sana. Bahkan rasa sepi terasa menyergapnya. "Aku yakin ini hanya akal-akalan dia saja. Mana mungkin dia berani menggugat cerai diriku. Dia kan sangat mencintaiku dan tak rela kehilanganku." Bryan berbicara kepada dirinya sendiri, dia bergerak membuka lemari dan tak menemukan satupun barang Clara di sana. "Dia mengambil seluruh barang-barangnya! Drama apalagi yang dia mainkan?." Bryan tertawa penuh ejekan atas apa yang dilakukan Clara saat ini. Dia menyapu kamar dengan pandangan, namun seluruh foto yang dipajang Clara di sana bahkan sudah tidak ada. Bryan kembali bergerak keluar dari kamar itu menuju arah lantai bawah. Dia bergerak ke arah dapur untuk mencari pelayan. Namun tak menemukan siapapun di sana. "Ke mana pelayan-pelayan bodoh itu?." Gerutunya segera mengutak-atik ponsel untuk menelpon nomor Clara. Namun tak tersambung. "Dia bahkan memblokir nomorku! Dramanya kali ini sungguh berani!." Kesalnya, dia Lalu menekan nomor kepala pelayan yang bekerja di rumah itu. "Halo di mana kalian? Kenapa tidak ada satupun pelayan yang berada di rumah ini?." "Maaf tuan!! Tapi Nyonya telah memberikan kami libur selama sebulan, saat ini kami sedang pulang ke kampung halaman masing-masing!." Bryan segera menutup panggilan dengan kasar. Dia bertolak pinggang sambil memindai ruangan itu dengan pandangannya. Akhirnya dia pun melihat dinding yang kosong. Tidak ada lagi foto pernikahan besar di sana. Kreekk!! Saat melangkahkan kaki, dia menginjak serpihan foto besar di lantai. "Dia bahkan menghancurkan foto kesayangannya!!." Gumamnya sembari meraba serpihan foto yang sudah terbelah dua. Foto pernikahan besar itu memang foto kesayangan Clara. Dia bahkan rela mengeluarkan uang banyak untuk bisa membuat foto tersebut. "Apa dia benar-benar pergi kali ini? Tidak mungkin kan dia seperti itu!! Aku tahu dia sangat mencintaiku! Mana mungkin dia berani meninggalkanku." Gumam Bryan masih tak percaya kalau Clara benar-benar meninggalkannya, namun tak bisa dipungkiri, kalau tiba-tiba rasa cemas mendera hatinya. Dia segera menghubungi Meta, sang asisten. "Cari tahu apa benar Clara sudah menggugat cerah diriku! Aku ingin informasinya dalam satu menit!." Klik!! Bryan menghempas tubuhnya di sofa, menatap nanar surat cerai yang sudah ditandatangani Clara. "Dia pasti hanya bermain-main untuk menarik perhatianku! Dia sedang bersembunyi di suatu tempat! Atau mungkin dia berada di Rumah sakit menjaga mamanya. Dia sedang berpura-pura lagi seperti dulu." Bryan bangkit berdiri segera setelah mendapatkan semangatnya lagi, dia yakin kalau Clara saat ini sedang berada di rumah sakit menemani mamanya. Pria itu pun segera keluar dengan terburu-buru menuju arah mobilnya. Meluncur cepat ke arah rumah sakit. "Maaf Pak! Anda sedang mencari siapa?." Seorang perawat tampak terkejut melihat penampakan Bryan yang masuk tiba-tiba ke dalam ruangan di mana seorang pasien dirawat di sana. "Di mana ibu-ibu yang dirawat di sini? Bukankah di sini adalah ruangan perawatan ibu mertuaku?." Perawat Itu tampak mengerutkan kening mendengar pertanyaan Bryan. "Maksud anda pasien yang meninggal itu? Ibu dari Nyonya Clara?." Bryan segera melototkan mata mendengar pertanyaan suster. "Meninggal? Apa maksudmu?." Bryan bertanya dengan cepat dan keras. "Ibu dari Nyonya Clara memang telah meninggal dunia beberapa hari yang lalu Pak! Mana mungkin anda tidak tahu kematian mertua anda sendiri?." Bryan memundurkan tubuhnya, dia sungguh terkejut dengan pernyataan perawat yang tampak menatapnya dengan pandangan aneh. "Tidak mungkin!! Kenapa saya tidak tahu akan informasi itu?." Bryan segera berbalik dan berjalan keluar dengan langkah cepat. Dia hendak menemui tim dokter yang merawat ibu mertuanya. "Dokter! Apa benar ibu mertua saya telah meninggal dunia?." Dokter yang kebetulan berpapasan dengan Bryan itu segera menganggukkan kepalanya. "Iya benar! Ibu mertua Anda meninggal beberapa hari yang lalu! Saya pikir anda sudah tahu!." Bryan mengusap wajahnya kasar mendengar jawaban dokter itu. "Sungguh miris sekali! Seorang menantu yang bahkan tidak tahu kalau mertuanya telah meninggal dunia. Dia bahkan sibuk menemani selingkuhannya." Tiba-tiba dokter Aditya datang, lalu menatap wajah Bryan penuh ejekan. "Apa yang kau katakan? Apa benar mamanya Clara telah meninggal dunia?." Bryan Segera balik bertanya kepada dokter Aditya. "Iya benar! Empat hari yang lalu, Ibu mertuamu telah meninggal dunia dengan damai. Sehingga dia tidak perlu lagi merasakan sakit, tak perlu melihat penderitaan putrinya Yang Tak Dianggap. Kurasa itu adalah jalan yang terbaik untuknya." Bryan kembali mundur ke belakang hingga menyadarkan tubuhnya pada tembok. "Empat hari yang lalu? Kenapa tidak ada yang memberitahuku?." Gumam Bryan dengan nada penuh penyesalan. Sementara Aditya tampak menatapnya dengan sinis. "Silakan nikmati penyesalanmu!." Ucap dokter itu sambil melangkah pergi dengan rekannya. Meninggalkan Bryan yang masih berdiri bersandar di sana. "Empat hari yang lalu, itu berarti sebelum Clara kembali ke rumah. Dia memang sudah merencanakan kepergiannya dengan sempurna, dia datang hanya untuk melihatku yang terakhir kalinya. Melaksanakan kewajibannya sebagai istri, juga untuk terakhir kalinya!!." Pria itu merosotkan tubuhnya ke bawah tembok, dan duduk termenung di sana menyesali segalanya. **. "Iya benar pak! Nyonya Clara memang sudah menggugat cerai anda, dan gugatan perceraian itu telah terdaftar." Bryan duduk lemas di hadapan Meta. Pikirannya kalut, hatinya dilanda was-was kalau Clara benar-benar pergi meninggalkannya. "Lalu apa kau tahu kalau ibu mertuaku meninggal dunia? Kenapa kau tak memberitahuku?." Bryan menatap tajam wajah Meta yang terlihat gugup. "Saya hendak memberitahu anda waktu itu! Tapi Anda meminta saya membooking villa untuk Nona Alena. Jadi waktu itu, Saya tidak sempat lagi untuk memberitahu anda. Apalagi anda sedang sibuk liburan. Saya takut mengganggu." Bryan kembali bernafas dengan gusar mendengar penjelasan Meta. "Lalu apakah Clara benar-benar pergi?." Pria itu seakan bertanya pada dirinya sendiri. "Kalau soal itu saya juga tidak tahu Pak! Tapi sebagai sama-sama wanita, saya pikir keputusan anak Clara untuk meninggalkan anda sudah sangat tepat. Hidup dengan ketidakpastian itu sangat tidak nyaman." Bryan memejamkan matanya, menumpu jidatnya dengan kedua tangan. "Nona Clara pantas mendapatkan kebahagiaan. Setelah semua badai yang sudah ia lalui." Meta menatap nanar wajah bosnya yang dulu pernah dikagumi dan diinginkannya. Tapi entah kenapa sekarang perasaannya terasa begitu berbeda. Saat melihat Bryan dari sisi yang lain. "Maaf Pak! Saya menarik simpati saya pada anda, karena ternyata Anda adalah pria yang tidak teguh pendirian! Anda pria yang plin-plan!!." Meta bergumam dalam hati. "Mungkin anda tidak tahu, kalau nyonya Clara juga pernah menginap di kantor polisi semalaman karena perbuatan anda." "Apa?." ***.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD