Bryan baru saja masuk kedalam, namun secara tiba-tiba, Clara menariknya dengan kuat. Lalu mendorong tubuhnya ketempat tidur, setelahnya wanita itu merangkak naik keatas perutnya.
"Apa yang kau lakukan?."
Bryan segera bertanya melihat ke agresifan istrinya.
"Tidak! Aku hanya rindu!."
Sahut wanita itu mencium d**a Bryan. Dan pria itu memejamkan matanya segera. Hatinya terasa berbunga-bunga mendengar kata rindu yang terucap dari bibir Clara.
"Apa kau suka?."
Clara bertanya sembari menggigit bibir bawahnya.
"Suka sekali! Dulu kamu sering seperti ini jika sedang merayuku."
Clara terdiam, bayangan waktu itu terkuak kembali, Clara mengutuk dirinya yang menjadi b***k cinta hingga melupakan harga dirinya sebagai seorang wanita.
Wanita itu pun segera bangkit, memasang kembali sweaternya. Bryan Mengerutkan kening melihat perubahan sikap wanita itu.
"Apa yang terjadi? Kamu marah?."
Bryan segera bertanya karena berpikir kalau Clara marah akibat dirinya yang mengungkit masa lalu.
"Tidak! Siapa yang marah? Aku hanya ingin menyiapkan kopi hangat untukmu, kamu kan biasanya minum kopi sebelum tidur."
Bryan menatap kepergian Clara yang keluar dari kamar. Dia ingat betul kalau wanita itu selalu melarangnya minum kopi sebelum tidur. Tapi kenapa sekarang malah dia yang ingin membuat kopi untuknya?.
Bryan duduk merenung diatas tempat tidurnya hingga Clara sudah kembali lagi dengan secangkir kopi ditangan.
"Minumlah!."
Clara meletakkan cangkir itu di atas nakas samping Brian yang hanya menatapnya dengan pandangan tak terbaca.
Sementara Clara langsung membaringkan tubuhnya, memejamkan matanya dengan rapat.
Bryan hanya bisa menatap punggungnya sambil menarik nafas panjang.
"Apa yang sebenarnya terjadi dengannya? Dia datang tapi telah berubah!."
Gumam pria itu dengan suara rendah. Clara sempat membuka matanya kemudian mengukir senyum misterius.
Dddrrttt!
Terdengar suara ponsel yang bergetar, rupanya Ada telepon yang masuk ke ponsel Bryan.
"Aku tidak bisa datang malam ini. Bukankah sudah ada ibumu yang menemani? Aku sedang lelah! Tidak bisa kemana-mana!."
Clara mendengarkan dengan cermat percakapan Bryan yang ditebaknya adalah Alena. Mungkin wanita itu memintanya untuk datang.
"Apa kau sudah tidur?."
Clara sempat menggeliat kecil mendengar pertanyaan Bryan.
"Ada apa? Aku merasa mengantuk sekali!."
Jawab Clara pura-pura menguap.
"Ah tidak! Aku hanya ingin bertanya kabar mamamu."
Clara tertegun, rupanya sampai saat ini Bryan belum tahu mengenai Ibu mertuanya sendiri yang telah meninggal dunia.
"Oh! Dia sudah lebih baik! Dipindahkan ke ruangan lain."
Jawab Clara merubah suaranya yang sedikit bergetar.
"Oh syukurlah! Obat itu mungkin sudah datang. Jadi dia bisa berobat semaksimal mungkin, lagipula Alena sudah kembali ke rumah."
Clara mengangkat sedikit bibirnya.
"Iya!."
Jawabnya singkat, lalu kembali memejamkan matanya.
Clara sudah tahu, ketika kematian mamanya, Bryan sibuk menemani Alena liburan di pantai. Bahkan gosip yang bergulir sama sekali tak diindahkan olehnya. Mungkin juga, Bryan sudah menggunakan koneksinya untuk meredam berita tersebut.
Pada keesokan harinya, Bryan berangkat ke kantor dengan bersemangat, Dia sangat senang karena Clara telah kembali ke rumahnya.
Sementara Clara sendiri, tampak sedang berdiri di hadapan seluruh pelayan di rumah itu.
"Kalian bisa kembali ke kampung! Ini adalah pesangon untuk kalian. Bersenang-senanglah di sana, dan kembalilah sebulan lagi. Saya harap kalian semua bahagia."
Para pelayan itu tampak sumringah menerima amplop dari Clara.
"Terima kasih nyonya! Anda sungguh baik sekali!."
Ucap salah satu dari pelayan tersebut dengan senyum yang tercetak di bibir masing-masing.
Mereka pun segera menarik koper masing-masing keluar dari rumah meninggalkan Clara sendirian saja. Bahkan penjaga di rumah itu pun telah diberikan libur olehnya.
"Sekarang tinggal membersihkan semua jejak. Jangan sampai ada yang tertinggal."
Clara berdiri di depan sebuah foto pernikahan yang sangat besar. Foto pernikahan itu sebenarnya bukanlah foto asli, melainkan dia sendiri yang telah membuatnya. Dia sungguh terobsesi memiliki foto pernikahan bersama dengan Bryan, foto pernikahan yang indah dan mesra.
Namun apalah daya, dia sama sekali tak memiliki foto pernikahan mereka berdua. Karena Bryan menolak berfoto dengannya. Dia memang sehina itu di mata suaminya.
"Maaf! Tapi kamu harus dihancurkan! Tidak ada gunanya tinggal di sini!."
Prraanggg!!!
Dihempasnya foto berukuran besar itu di lantai hingga kacanya hancur berkeping-keping. Clara kembali menarik lembaran foto di dalamnya.
Sreeekkk!!
Foto itu pun robek menjadi dua bagian, foto wajahnya dengan Bryan kini telah terpisah.
"Pantasnya memang seperti ini. Kenapa aku baru sadar sekarang?."
Clara kembali berbicara kepada dirinya sendiri dengan mata yang berkaca-kaca.
Setelah merobek foto tersebut, dia masuk kembali ke dalam kamar.
Seluruh barang-barang yang menjadi miliknya diambilnya segera tanpa sisa.
Yang tersisa di dalam kamar itu hanyalah barang-barang Bryan.
"Seharusnya dari dulu aku melakukan ini! Sehingga tidak perlu menanggung rasa sakit terlalu lama."
Clara akhirnya menangis, tak sanggup membendung air matanya.
Untuk sejenak dia menangis tersedu-sedu di dalam kamar itu.
Sejujurnya dia pernah berulang kali mengancam hendak pergi, namun itu hanya sekedar ancaman untuk Bryan.
Dia pasti kembali lagi tanpa diminta, mungkin hal itulah yang membuat Bryan sangat yakin kalau dia tidak akan pernah bisa meninggalkan pria itu.
"Tidak boleh menangis lagi! Sudah saatnya membuka lembaran baru!."
Clara merapikan koper besar yang akan dibawanya.
Setelah menatap sejenak ke dalam kamar, dia bergerak pergi. Di ruang tamu Dia segera meletakkan sebuah map, dengan harapan Bryan akan langsung melihat map itu ketika pulang.
Clara berjalan keluar dan tak sedikitpun menoleh menatap rumah yang pernah ditempatinya selama tiga tahun bersama Bryan.
Sebuah mobil telah menunggunya di sana.
"Ke mana kita nona?."
Tanya pria yang menjadi sopir.
"Ke bandara pak!."
Jawab Clara dengan sorot mata yang begitu tajam ke arah depan. Dia mengambil ponsel dan mengirim pesan kepada kakaknya. Kalau saat ini dia sudah on the way ke bandara.
"Selamat tinggal Bryan Abraham!! Semoga kita tidak akan pernah bertemu lagi!."
Gumam wanita itu lalu membuka jendela mobil. Ponsel yang ada di tangannya segera ia buang ke jalan. Benda itu teronggok mengenaskan di atas aspal.
**.
"Kau sudah datang!."
Maya dan Dion menyambut kedatangan Clara yang tampak sangat cantik dengan make up flawless di wajahnya.
"Iya tante!."
Jawab wanita itu dengan senyum manis yang merekah. Segala beban yang selama ini menghimpit jiwanya terasa hilang sudah.
"Saya harap kalian akan mendapatkan kehidupan yang terbaik di sana! Saya akan sering datang untuk mengunjungi kalian."
Dokter Aditya mengantar mereka ke bandara.
"Terima kasih atas semuanya dokter!."
Ucap Clara menjabat tangan dokter Aditya yang menatapnya dengan sendu.
"Songsong masa depanmu yang lebih cerah Clara, aku yakin kau bisa."
Jawab pria itu tulus.
Dokter Aditya menatap punggung ketiga orang itu masuk ke dalam bandara. Dia menarik nafas lega karena ketiganya benar-benar bertekad untuk memulai kehidupan yang baru di luar negeri sana.
***.
"Sayang kamu di mana? Kenapa tidak menyambut ku?."
Bryan baru saja pulang, Dia segera membuka jas dan melerai dasi. Memanggil Clara, berharap akan disambut oleh wanita itu.
"Ke mana dia?."
Bryan memindai ruangan yang terasa sangat sepi. Pelayan juga tidak tampak, bahkan pintu tidak terkunci saat dia masuk.
"Apa ini?."
Pandangannya jatuh pada sebuah map di atas meja. Dia pun langsung meraih map tersebut dan segera membaca isinya.
"Ini? Apa-apaan ini!!!?."