"Kamu tenang saja! Mamamu pasti akan baik-baik saja. Dia ditangani oleh dokter bedah jantung terbaik di rumah sakit ini!."
Dokter Aditya tampak berdiri berhadapan dengan Clara.
Wanita itu tampak resah karena ibunya sudah berada di dalam ruang operasi. Kali ini sang Mama akan menjalani operasi jantung.
"Andai saja aku bisa mendatangkan dokter terbaik dari luar negeri. Pasti akan aku lakukan. Katanya di luar negeri ada dokter jantung yang belum pernah gagal mengebati pasiennya."
Doktrin Aditya menarik nafasnya.
"Iya benar Clara! Tapi untuk mendatangkannya butuh uang yang banyak. Lagi pula dia tidak sembarang menangani orang."
Jawab Aditya ikut prihatin, andai saja Dia memiliki kemampuan untuk menolong Clara lebih jauh. Dia pasti akan melakukannya, namun tenaganya juga terbatas.
"Hebat sekali nona Alena, dia bahkan dirawat oleh dokter-dokter terbaik yang direkrut dari luar negeri. Pak Bryan Abraham benar-benar tidak main-main dalam merawat kekasihnya. Dia bahkan rela melakukan segalanya, cintanya sungguh besar."
Clara tertunduk miris mendengar obrolan perawat yang kebetulan melintas di sampingnya. Rupanya mereka sedang menggosipkan Alena dan juga Bryan.
Dokter Aditya tampak menarik nafas panjang melihat sahabatnya itu.
"Walaupun dokter di rumah sakit ini bukan dokter dari luar, tapi mereka cukup baik dan profesional dalam menangani pasien. Semoga saja operasinya berjalan dengan lancar."
Aditya kembali mengucapkan kata penenang untuk Clara, dan wanita itu hanya bisa mengangguk pasrah. Semua upaya sudah ia usahakan, sampai semua barang yang memiliki nilai, sudah ia jual untuk pengobatan sang mama.
"Clara!!."
Tiba-tiba terdengar suara yang nyaring memanggil Clara. Wajah Maya muncul di sana. Wanita itu langsung menubruk tubuh keponakannya dan memeluknya dengan erat.
"Tante sudah bebas?."
Clara segera bertanya dengan nada tak percaya.
"Saya yang sudah mengeluarkannya! Jadi berterima kasihlah padaku!."
Bryan rupanya sudah berdiri di sana dan memperhatikan mereka. Dia mengerling tidak suka kehadiran dokter Aditya.
"Dia yang sudah membebaskan tante."
Ucap Maya membenarkan perkataan Bryan.
Clara hanya menatap nanar wajah pria yang masih menjadi suaminya itu. Bryan pun mengukir senyum kemenangan di bibirnya.
"Apa anda akan berada di sini terus dokter? Apa Anda tidak memiliki pekerjaan lain?."
Bryan segera menghampiri dokter Aditya yang masih ada di sana. Tatapannya terkesan menyindir.
"Saya hanya ingin mendampingi Clara menunggui ibunya."
Jawab pria itu santai.
"Sepertinya Anda adalah dokter tersantai di rumah sakit ini! Apa Anda tidak memiliki pasien?."
Bryan menatap tak senang wajah dokter Aditya yang mengukir senyum. Entah kenapa, Bryan merasa senyum dokter itu tak asing.
"Saya adalah dokter ortopedi! Saya sudah memeriksa seluruh pasien Saya. Jadi anda tidak perlu khawatir apapun pak Bryan, saya masih memiliki waktu untuk sahabat saya."
Jawab dokter Aditya kembali masih dengan gesturenya yang terlihat santai dan tanpa beban. Seakan tak terpengaruh dengan intimidasi yang dilakukan oleh Bryan.
"Anda tidak perlu menemani Clara! Karena di sini saya ada, dan saya adalah suaminya."
Bryan kembali berkata dengan gayanya yang otoriter.
"Bukankah anda lebih senang menemani kekasih anda? Tumben sekali ingin menemani istri anda?."
Bryan langsung mengepalkan tangan karena dokter Aditya mengembalikan ucapannya.
"Itu bukan urusanmu!!."
Pekik Bryan dengan kencang, dokter Aditya langsung menaruh telunjuknya di depan bibir.
"Jangan keras-keras! Di sini rumah sakit, bukan pasar Pak. Bukan saatnya menunjukkan tempramen dan keegoisan. Apalagi di depan orang yang sedang berduka."
Dokter Aditya berjalan mendekati Clara dan langsung merangkul wanita itu. Bryan sungguh meradang melihatnya.
"Pak! Alena membutuhkan anda. Katanya dia ingin diajak berjalan-jalan ke taman rumah sakit."
Meta memperlihatkan wajahnya di depan semua orang tanpa rasa bersalah. Bryan sempat menatap tajam kepada Clara sebelum akhirnya meninggalkan tempat itu.
"Tetap saja, wanita itu yang utama."
Maya menatap punggung Bryan tajam.
*.
"Maaf Bryan! Karena Aku memanggilmu! Aku ingin sekali keluar berjalan-jalan. Aku bosan di dalam kamar."
Alena memasang wajah sedih yang dibuat-buat. Dia terlihat memasang wajah imut dan polos di hadapan Bryan.
Pria itu segera berjongkok di hadapannya.
"Tidak apa-apa! Lagi pula Mama Clara tidak begitu penting."
Jawab pria itu dengan senyumnya. Alena pun mencondongkan tubuhnya, memeluk tubuh Bryan.
"Selama ini kamu selalu ada untukku! Aku merasa sangat dicintai."
Alena berucap dengan tatapan mengejek yang terarah pada Clara, yang rupanya sedang mencari udara segar di taman itu.
Dan wanita tersebut tampak menatap nanar ke arah mereka yang sedang berpelukan. Alena pun segera mengacungkan jari tengahnya. Bertanda Clara telah kalah.
Clara sempat menggelengkan kepala sebelum akhirnya beranjak pergi. Niatnya ingin mencari udara segar di sana segera sirna karena melihat pemandangan tak mengenakkan itu.
"Clara!! Dari mana saja kamu?."
Kedatangan Clara kembali di depan ruangan mamanya dioperasi, disambut Maya dan juga dokter Aditya.
"Apa yang terjadi? Kenapa wajah kalian terlihat tegang?."
Dokter Aditya dan Maya saling tatap segera.
"Operasi mamahmu tidak berjalan dengan lancar, dia mengalami drop di tengah operasi."
Degup jantung Clara bertalu dengan cepat mendengar kabar buruk itu.
"Lalu Bagaimana keadaan Mama?."
Wanita itu segera bertanya dengan suara bergetar.
"Untuk sementara mamamu akan dipindahkan ke ruangan ICU! Operasi akan dilanjutkan setelah kondisinya membaik. Karena untuk sekarang, sangat beresiko jika melanjutkan operasi."
Clara segera bersandar pada tembok, hal terberat yang takut dipikirkannya adalah kehilangan sang mama, satu-satunya alasan dia bertahan.
"Kamu harus kuat! Jika kamu lemah, siapa yang akan menguatkan mamamu."
Maya segera memeluk keponakan nya itu. Mereka berdua terisak di sana.
Dokter Aditya yang melihat keduanya tampak menarik nafas panjang dan juga terlihat berat.
**.
"Pemandangan di sini indah sekali. Terima kasih telah membawaku ke sini Bryan."
Alena menyandarkan kepalanya di bahu Bryan. Keduanya saat ini sedang berada disebuah restoran terapung tepi pantai, Bryan membooking khusus tempat itu untuk menyenangkan Alena.
"Sama-sama Alena, kamu pantas mendapatkan yang terbaik."
Jawab Bryan mengecup kepala Alena, namun wanita itu malah memajukan bibirnya, berharap dicium oleh Bryan. Namun pria itu segera memalingkan wajah ke arah lain. Alena pun kecewa.
"Kamu masih sakit."
Ucap Bryan, dia tahu kalau Alena sedang kecewa padanya.
"Aku tahu! Maaf!."
Alena segera menjawab, namun kekecewaan tak bisa disembunyikan dari wajahnya. Dia berharap Bryan menciumnya seperti sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta.
"Ayo makan saja!."
Pria itu mengalihkan perhatian Alena dengan menyuapi wanita itu. Steak mahal sudah dia pesan khusus untuk wanita di hadapannya.
Boomm!! Boomm!!!
Tiba-tiba terdengar suara letupan, dilangit tampak terang benderang dihiasi oleh kembang api.
Alena takjub seketika.
"Itu untukmu!."
Ucap Bryan segera.
"Untukku?."
"Iya! Karena kau sangat cantik malam ini."
Alena tersipu malu dengan perkataan Bryan.
Sementara di rumah sakit, tampak beberapa paramedis yang berlarian menuju arah ruangan ICU. Rupanya Mama Clara sedang kritis.
"Pasien sedang kritis!! Kita harus cepat mengatasinya. Kalau tidak, kita akan kehilangannya."
Clara panik luar biasa saat mendengar ucapan dokter. Maya Sudah menangis terisak-isak di sampingnya.
"Mama!! Mama!!!."