Bab 9

1044 Words
"Clara! Kau harus makan sedikit. Nanti kamu sakit juga." Dokter Aditya datang membawa sekotak makanan untuk Clara, wanita itu tidak beranjak dari depan ruang ICU di mana mamanya berada. "Clara! Kamu harus makan, karena nanti jika kamu ikut sakit, bagaimana dengan mamamu?." Aditya membuka kotak, lalu mulai menyuapi Clara. Namun wanita itu menghindar, pandangannya kosong ke arah depan. Aditya pun menghela nafas beratnya. "Katakan padaku, cara apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan mama? Apapun akan kulakukan untuknya!." Clara segera bertanya dengan suara serak, kedua matanya berkaca-kaca. "Ada dokter dari luar negeri, dia ahli jantung. Tapi untuk mendatangkannya kemari sangat tidak mudah. Butuh biaya dan juga koneksi yang kuat." Clara menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Jika mama tidak bisa selamat, aku juga tidak ada gunanya lagi tinggal di dunia ini. Kakak dalam penjara, sedang mama telah pergi, aku sama siapa?." Clara menahan kegetiran yang menyerang, nafasnya terasa sesak ketika mengingat Kakak dan juga mamanya. Keluarganya benar-benar hancur. Dan dia tidak mampu melakukan apa-apa untuk mempertahankannya. "Clara! Andai aku bisa membantumu!." Aditya sungguh sedih melihat sahabatnya itu. Dia tidak mampu melihat air mata yang turun di pipi Clara. "Tidak Adit! Kamu sudah banyak membantuku. Aku akan mengusahakan semua sendiri." Clara bangkit berdiri dari duduknya, dia lalu berjalan dengan gontai meninggalkan Aditya yang duduk di sana. "Bagus sekali! Ternyata hubunganmu dengan dokter itu semakin berkembang saja. Kalian memang pasangan yang serasi." Bryan memunculkan wajahnya di sana, Clara hanya menggeleng kemudian mengambil jalan lain. Dia sungguh tidak ingin melihat wajah suaminya itu. "Clara! Kau semakin menjadi pembangkang. Apa sebenarnya yang kau inginkan?." Bryan bertanya dengan suara kencang. Wajahnya terlihat mengeras dan memerah bertanda emosi. "Aku tidak memiliki energi untuk berdebat Bryan. Lakukan saja apa yang ingin kau lakukan, aku tidak peduli." Clara langsung menepis tangan Bryan. Pria itu sangat geram menatap punggung istrinya. "Sialan! Dia semakin tidak bisa dikendalikan." Geram pria itu mengepalkan tangan. Sementara Aditya mengintip kebersamaan mereka. Pria itu terlihat berpikir dan menerawang. "Apakah sudah saatnya aku kembali?." Gumamnya menengadahkan kepala. *. "Nona! Sedang apa anda disini?." Clara tersadar dari lamunannya. Dia menatap ke arah sekitar. Rupanya dia berada didepan sebuah cafe besar. Ternyata dia melamun sepanjang jalan hingga tak sadar. "Ah tidak! Kebetulan lewat saja " Clara melanjutkan langkahnya, namun sayup-sayup di dalam sana terdengar bunyi piano. Dia pun mengerutkan keningnya segera. "Piano di dalam sana sedang rusak! Kinerjanya tidak optimal, ada beberapa hal yang perlu diperbaiki!." Pegawai cafe tampak menatap Clara dari atas hingga bawah. "Piano itu memang sejak kemarin sedang bermasalah! Belum ada teknisi yang berhasil memperbaikinya! Padahal piano itu adalah piano legendaris, milik seorang pianis yang sudah melegenda. Owner enggan untuk menjualnya." Tanpa kata lagi, Clara segera berjalan masuk ke dalam cafe. Dia berjalan dengan anggun menuju arah piano yang sedang dimainkan oleh seseorang. "Saya akan mencoba untuk memperbaikinya." Ucap Clara yakin. Pria yang sedang memainkan piano Itu tampak menatap Clara, dia tak percaya dengan kemampuan wanita itu. "Sudah banyak teknisi profesional yang hendak memperbaikinya! Tapi tetap tak mampu. Memangnya Anda yakin bisa?." Pria itu menatap Clara penuh ejekan. Namun Clara segera mendudukkan tubuhnya, dia memainkan sesaat piano itu, mendengarkan di mana letak permasalahannya. Dia pun kemudian meraba sesuatu di bagian bawah piano. Pria di belakangnya tampak bertolak pinggang, dia tak percaya dengan kemampuan Clara. "Awas aja kalau piano ini semakin rusak akibat ulahmu! Mereka akan menuntutmu dengan ganti rugi yang banyak! Karena harga piano ini lebih mahal daripada harga dirimu nona!." Seru pria itu dengan suara kencang. Namun Clara sama sekali tak memperdulikannya. Dia menyetel sesuatu di bawah Piano. Kemudian dia kembali memainkan benda tersebut. Semua orang takjub seketika karena mendengar suara piano yang begitu merdu. Mengalun dengan irama yang membuai. "Tidak mungkin!!." Pria itu menggelengkan kepalanya dengan cepat, tubuhnya mundur ke belakang tanpa disadari. Sementara Clara terus memainkan piano, jemarinya bermain dengan lincah di sana. Semua orang terdiam, ikut meresapi alunan musik yang begitu merdu dan menghanyutkan. "Sungguh indah! Baru kali ini aku mendengarkan permainan piano yang begitu indah! Aku bahkan merasa terbang ke dunia lain!." Seorang pegawai tampak menatap berbinar kepada Clara. Sementara seorang pria menghentikan pergerakannya di tangga. Sepertinya dia ikut terhanyut dengan alunan piano yang dimainkan oleh Clara. "Pianonya sudah selesai diperbaiki. Ini sudah bisa digunakan." Clara bangkit berdiri setelah lagu yang dimainkannya selesai. Prok prok prok prok!! Semua orang bertepuk tangan segera kepadanya. "Saya hanya kebetulan lewat, jemari saya gatal jika mendengar piano yang dimainkan dalam keadaan tidak sehat." Wanita itu meraba sekilas piano melegenda di hadapannya. Kemudian setelahnya dia bergerak hendak pergi. "Tunggu dulu nona! Kita perlu berbicara sebentar." Clara segera menghentikan langkahnya. Dia menatap seorang pria yang tersenyum mendekatinya. "Saya adalah Anton! Pemilik kafe ini, saya sudah mendengarkan Bagaimana cara anda bermain piano. Kalau boleh tahu anda ini siapa?." Pria itu terlihat sangat ramah. Clara pun segera menyambut uluran tangannya. "Nama saya Clara! Kebetulan saja saya lewat, dan mampir untuk memperbaiki piano ini." Jawab Clara menulis sekilas ke arah piano. "Permainan Anda sangat bagus dan menghanyutkan. Saya sangat yakin kalau anda bermain piano di sini, semua pengunjung akan betah dan menikmati lagu anda. Apa Anda tak berminat untuk bekerja di sini?." Mata Clara langsung berbinar, mata yang tadinya menatap sendu kini kembali bersamangat. "Kebetulan saya sedang mencari pekerjaan beberapa hari ini! Tapi tidak ada yang mau memberikan saya pekerjaan." Jawab Clara terharu. "Kalau begitu selamat bergabung di kafe saya ini! Kalau sekarang anda akan bekerja di sini untuk memainkan musik buat tamu-tamu! Selamat bergabung Nona Clara!." Pria itu kembali mengulurkan tangan sebagai tanda kesepakatan mereka. Kembali para karyawan cafe bertepuk tangan menyambut kedatangan Clara sebagai bagian dari mereka. "Akhirnya aku mendapat pekerjaan!." Clara sungguh terharu karena ternyata ada orang baik yang mau memberinya pekerjaan. Tanpa tekanan dari Bryan. **. Aahhh! Kedatangan Clara kerumah sakit kembali, langsung disambut tarikan kuat oleh Bryan. Dan yang lebih mengejutkan, pria itu langsung menciumnya dengan brutal. Tak memberikan waktu bagi Clara untuk bicara. Pllaakkkk!! Clara langsung menampar pipi Bryan. "Kurang ajar! Memangnya kamu menganggap aku ini apa?." Pekik Clara dengan rasa kesal yang teramat sangat. "Dari mana kamu? Hampir seharian kamu keluar, dan malam begini kamu baru pulang." Bryan memasang wajah menyeramkan. "Bukan urusanmu! Berhenti mengurusi hidupku, urus saja kekasihmu itu, dia lebih pantas dikasihani dari pada diriku." Bryan langsung menarik kedua tangan Clara kuat. "Alena adalah wanita terhormat. Dia tidak murahan sepertimu. Dia sangat menjaga harga dirinya." Cuuiih!!!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD