"Rupanya kamu memang suka aku bermain kasar! Kamu selalu membangkang. Kamu suka sekali melihatku marah. Aku heran, sebenarnya apa yang membuatmu begitu berubah Clara!!."
Bryan memasang wajah menakutkan, dia begitu marah karena Clara ketahuan pulang malam ke rumah sakit. Entah dari mana wanita itu.
"Sebentar lagi kita akan bercerai Bryan. Jadi stop mengurusi hidup dan urusanku, bukankah kamu sudah memiliki Alena? Dia adalah poros hidupmu! Sebaiknya kamu perhatikan saja dia!."
Clara kembali berkata dengan tegas. Dia baru hendak melangkah, namun Bryan kembali menariknya.
"Kamu semakin kurang ajar saja! Aku yakin semua ini pengaruh dokter Aditya! Apa kamu berniat menikah dengannya?."
Bryan sungguh marah membayangkan Clara akan menikah dengan dokter Aditya, dia menarik tangan istrinya itu hingga membuatnya melangkah terseok-seok.
Brraaakkkkkk!!!
Bryan membuka salah satu kamar kosong yang ada dalam rumah sakit itu. Memasukkan Clara ke dalam sana. Dia langsung menghempas tubuh istrinya itu ke atas ranjang pasien.
"Apa yang akan kau lakukan? Jangan gila Bryan!!!."
Seru Clara dengan kencang, sementara Bryan naik ke atas ranjang segera, langsung menindih tubuhnya, berusaha membuka kancing kemeja Clara. Sambil melabuhkan ciuman yang begitu panas, rakus dan liar.
Hhmmpph!!
Clara meronta, berusaha menghentikan Bryan untuk membuka bajunya. Namun pria itu sangat kuat, dia menghimpit tubuh Clara agar tak berkutik. Sementara bibirnya melahap habis bibir wanita itu. Menghisapnya dengan begitu menuntut.
"Ini kan yang kamu inginkan selama ini? Kamu ingin terus-terusan dilayani di atas ranjang."
Pekik Bryan kembali menarik baju Clara.
Sssreekk!!
Baju itupun terbelah dua seketika, menyisakan bra berenda berwarna merah cerah. Clara terbelalak atas kekasaran pria yang berada di atasnya itu.
"Lepaskan Bryan! Bukankah kau tidak pernah mencintaiku? Kamu hanya menginginkan tubuhku, sebaiknya kamu meniduri Alena saja!! Karena kalian saling mencintai!! Pasti itu lebih memuaskan!!."
Clara segera berucap dengan suara yang sangat kencang. Namun Bryan tidak peduli, pria itu menciumi d**a serta perut Clara dengan nafasnya yang memburu.
"Hentikan!! Atau aku akan membencimu selamanya. Aku tidak akan pernah memaafkanmu!!."
Teriak Clara dengan suara nyaring, Bryan pun tertegun dan menghentikan kegiatan. Pria itu bangkit seketika dan turun dari ranjang sambil mendesah frustasi.
"Apa kau begitu ingin bersamanya! Sehingga menolakku?."
Clara segera bangkit, dia menatap nanar ceceran pakaiannya yang sudah robek di mana-mana. Sementara Bryan segera memperbaiki pakaiannya sendiri.
"Tunggu di sini! Meta akan datang membawakan pakaian untukmu."
Pria itu bergerak keluar, namun sesaat dia kembali lagi.
"Jangan kau pikir kejadian malam ini adalah akhir dari segalanya! Kembalilah ke rumah menempati posisimu, sama seperti dulu. Maka kau tidak akan mendapatkan kesulitan. Dan mungkin saja mamamu akan dirawat dengan baik."
Ucapan pria itu bagaikan sebuah ancaman bagi Clara, wanita itu segera berdecih.
"Aku tidak sudi kembali padamu!."
Gumam Clara berusaha menormalkan nafasnya.
Tidak lama setelahnya, Meta sudah masuk ke dalam kamar itu dan membawa sebuah paper bag.
"Pakaian untukmu!."
Wanita itu segera meletakkan paper bag secara kasar di samping Clara yang berusaha menutupi bagian dadanya.
"Kau bilang sudah tidak mencintai pak Bryan, tapi sekarang kamu malah kembali naik ke atas ranjang bersamanya. Perempuan munafik."
Meta segera mengeluarkan kata pedas dari bibirnya.
"Jangan berspekulasi jika tak melihat kenyataan. Apa yang kau lihat belum tentu kebenarannya!."
Jawab Clara ketus.
"Perempuan murahan sepertimu, memang pantas dipermainkan! Jadi nikmatilah!."
Meta bergerak keluar dengan seringai jahat di bibirnya. Clara hanya bisa memejamkan mata. Lalu meraih paper bag. Dia harus kembali menjaga mamanya.
*.
"Sudah beberapa kali dia menolakku. Padahal dulu, dia yang mengemis padaku."
Bryan berada di sebuah bar, pria itu terlihat teler karena minuman.
Pria itu teringat dengan istrinya Clara, yang dulu begitu penurut dan lembut. Bahkan rela melakukan apa saja untuknya. Clara melakukan apapun sebagai istri yang baik di rumah, tak sekalipun wanita itu menolak keinginan Bryan. Bahkan dia selalu berusaha untuk menarik perhatiannya.
Jika Bryan sakit, Clara adalah orang pertama yang akan bersedih, dan merawat dirinya sepenuh hati.
"Apa yang membuatmu seperti ini Clara? Apa benar karena kau ingin bersama dengan dokter itu? Ciihh, Aku bahkan seribu kali lebih baik darinya."
Bryan sudah berbicara ngelantur. Dia kembali menuang minuman ke dalam gelas. Dan pintu tiba-tiba terbuka, seorang wanita seksi berjalan masuk. Dia adalah Meta, asisten Bryan sendiri.
"Tidak enak minum sendirian! Seharusnya Anda mengajak seorang teman!."
Meta berbicara dengan suaranya yang terdengar mendayu, dia menatap ke arah Bryan penuh minat, karena sesungguhnya dia sudah lama menyimpan rasa dengan bosnya itu. Namun status Clara sebagai istrinya, menjadi tembok penghalang bagi Meta.
"Katakan padaku! Apa yang bisa membuat seorang wanita luluh?."
Meta mengerutkan kening mendengar pertanyaan bosnya itu. Dia kembali meletakkan gelas yang sudah terisi minuman.
"Wanita itu menyukai kejutan kecil! Seperti yang Anda lakukan selama ini kepada Alena! Saya rasa Anda sudah sangat berpengalaman tentang hal itu, karena anda sudah seringkali memberikan kejutan istimewa pada Nona Alena."
Jawab Meta menatap lebih detail wajah Bryan yang kusut.
"Bukan untuk Alena!."
Meta kembali mengerutkan kening, akhirnya dia mendesah kasar saat sadar siapa maksud pembicaraan Bryan.
"Untuk Nyonya Clara? Untuk apa anda ingin melakukan itu?."
Meta segera bertanya dengan suara ketus dan kencang.
"Dia istriku! Wajar jika memberikan kejutan istimewa padanya."
Meta kembali menatap dalam wajah Bryan. Dia tak percaya kalau pria itu ingin memberikan kejutan istimewa pada istrinya, hal yang tak pernah dilakukannya selama ini.
"Mungkin dia sama saja dengan nona Alena, Anda bisa memberikan kejutan seperti itu padanya."
Meta benar-benar sewot dan geram, karena ternyata Bryan masih memikirkan Clara.
Gluk!
Meta meminum cairan yang ada dalam gelasnya hingga habis, namun tatapannya tetap terarah pada Bryan.
Dia segera beranjak setelah minumannya itu habis dan bergerak mendekati bosnya.
"Seharusnya Anda juga memperhitungkanku! Karena saya sudah lama bersama anda, tapi anda Tak sedikitpun melirik padaku."
Meta segera berbicara dengan nada sensual, dia sengaja menggesekkan dadanya ke lengan Bryan.
Pria itu pun segera meneguk minumannya, kemudian menoleh menatap wajah Meta. Tatapannya datar dan dingin.
"Saya sudah lama menyukai anda! Tolong perhitungkan saya juga, saya rela menjadi simpanan, asalkan saya bisa bersama dengan anda."
Meta merebahkan kepalanya di pundak Bryan. Dia bahkan berniat untuk mengecup pipi pria itu.
Kreekk!
Namun keinginannya itu tertunda, karena tiba-tiba saja Bryan mencekik lehernya.
"Aa-pa yang Anda lakukan?."
Meta tentu saja langsung terkejut luar biasa.
"Berani-beraninya kamu bermaksud menggodaku! Berharap menjadi simpanan? Kamu bahkan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Clara dan Alena. Tapi kamu begitu berani... Jalang!!."
Meta benar-benar kelabakan karena cekikan Bryan begitu kuat di lehernya. Pasokan oksigen tiba-tiba terasa menipis masuk ke dalam paru-parunya.
Melihat wajah asistennya yang sudah berubah merah dan hampir kehabisan nafas, Bryan baru melepaskan cekikannya.
"Pergi kau dari sini! Dan jangan coba-coba untuk menggodaku lagi, atau aku akan membuat hidupmu hancur! Hingga tiada sisa!."
Meta benar-benar ketakutan mendengar ancaman Bryan yang bisa melakukan apa saja. Wanita itu terburu-buru bangkit dan keluar dari ruangan membawa kesakitan pada lehernya.
"Ciihh!!."
***...
"Aku pulang!!."