Bab 11

1030 Words
Seorang wanita langsung terkejut saat mendengar suara, wajah dokter Aditya muncul. Pria itu tak mengenakan pakaian putih seperti biasanya, melainkan memakai jas formal yang terlihat pas di tubuhnya. "Kenapa Mama terlihat terkejut?." Dokter Aditya segera bertanya pada wanita paruh baya yang masih terlihat tertegun di tempatnya berdiri. "Mama hanya tidak menyangka kalau kamu akan pulang." Jawab wanita paruh baya itu mendekat. Dan langsung memeluk tubuh dokter Aditya. "Angin apa yang membuatmu pulang?." Wanita paruh baya itu segera duduk diikuti oleh Aditya. "Selain bekerja di rumah sakit, aku memutuskan untuk ikut bekerja di perusahaan." Jawab Aditya tersenyum tipis. "Tapi kamu harus meminta izin dulu kepada Bryan selaku CEO." Aditya segera berdecih. "Dia bahkan tak ingat padaku! Mungkin karena sudah terlalu lama aku meninggalkan keluarga dan tinggal di luar negeri. Sehingga wajahku saja tidak mampu dikenalinya." Jawab Aditya dengan wajahnya yang terlihat tenang. "Mama tidak bisa memutuskan begitu saja!." Jawab wanita paruh baya itu sendu. "Bagaimana pun aku juga memiliki hak, apalagi di perusahaan itu aku memiliki beberapa persen saham. Aku kembali untuk mengelolanya." Jawab Aditya mantap, wanita paruh baya yang menjadi ibunya Itu tampak gelisah. "Tak perlu dirisaukan. Biar aku yang urus sendiri." Aditya mengulas senyum tipis di bibirnya. Sepertinya pria ini memiliki rencana sendiri. Sementara di rumah sakit, Clara baru saja keluar dari ruang perawatan sang mama. "Dasar wanita rendahan! Tiada hentinya kamu berusaha menggoda Bryan agar kembali ke sisimu. Wanita tidak tahu malu." Nyonya Tamara menatap sinis wajah Clara yang sembab karena baru saja menangis melihat kondisi mamanya yang belum sadar sampai kini. "Abaikan saja keberadaanku nyonya, karena saya juga tidak ingin mengurusi urusan anda. Sebaiknya urus saja Putri anda itu, anda tidak perlu menghiraukan kehadiran saya di rumah sakit ini." Clara menjawab dengan tegas, dia sungguh tidak habis pikir dengan wanita di hadapannya itu Yang sepertinya selalu berusaha mencari gara-gara dengannya. "Saya tidak akan berhenti mengganggumu sebelum kamu pergi jauh dari hidup putri saya! Dan tidak lagi mengganggu Bryan." Tamara ikut berucap dengan suara kencang. Clara pun menarik nafas panjang. "Saya tidak ada waktu untuk maladeni anda. Permisi!!." Clara bergerak pergi meninggalkan Tamara, setiap kali bertemu dengan wanita paruh baya itu. Dia pun ikut tersulut emosi. Benar-benar menguras energi. "Sialan! Aku akan membuat perhitungan denganmu. Kau tidak akan bisa kembali kepada Bryan, karena hanya Alena yang akan menjadi istrinya." Gumam Tamara dengan penuh keyakinan. Sementara Clara bergerak keluar dari rumah sakit. Dia sudah bekerja di cafe. Dia tidak ingin sampai terlambat di hari pertamanya. "Silakan tunaikan tugasmu Clara, dan buat pengunjung di sini terpukau." Salah satu rekan kerja Clara segera menyambut kedatangan wanita itu. Clara sungguh senang dan merasa terhibur di sana, karena semua orang begitu baik padanya. Suara dentingan piano pun seketika terdengar di tempat itu. Menghipnotis semua pengunjung yang ada di sana. "Merdu sekali! Beda dari pianis yang lain! Dia sungguh berbakat!." Beberapa pengunjung segera memuji ke piawaian Clara memainkan piano. "Iya benar! Kita merasa ikut larut dalam permainannya! Sungguh indah!." Yang lainnya segera menanggapi, mereka bahkan lupa dengan makanan yang tersaji di meja. Karena larut dalam permainan piano yang begitu candu dan menggetarkan jiwa. Prok prok prok prok!! Tepuk tangan segera menggema setelah Clara selesai memainkan sebuah lagu. Wanita itu pun berdiri dan menunduk hormat pada semua pengunjung. "Kau benar-benar berbakat! Lihatlah! Semua pengunjung senang dengan permainan pianomu." Pemilik cafe itu bergerak menyalami Clara, dengan senyum yang tercetak di bibirnya. "Nona! Saya ingin memberikan apresiasi terhadap bakat anda! Terimalah!." Seorang pengunjung tiba-tiba naik dan memberikan cek kepada Clara. "Tapi...!!." "Terima saja Clara! Anggap itu rezeki untukmu hari ini!." Clara sungguh terharu karena mendapatkan tip dari pengunjung, matanya segera berkaca-kaca. Karena saat ini dia memang sangat membutuhkan uang untuk menunjang biaya mamanya di rumah sakit. "Terima kasih! Anda sungguh baik." Clara merasa benar-benar mendapatkan rezeki nomplok hari ini. Dia bahkan keluar dari cafe dengan wajah berseri-seri. Mungkinkah itu adalah awal dan timbal balik dalam hidupnya?. *. "Kau!! Untuk apa datang kemari?." Bryan langsung berdiri saat melihat kedatangan Aditya yang memasuki ruang rapat. "Kenalkan saya adalah Aditya Abraham. Pemilik saham lima persen." Bryan langsung melototkan matanya mendengar ucapan Aditya. "Tidak mungkin!." Seru pria itu sedikit terhuyung. "Tapi itu adalah kenyataan! Mungkin kau lupa padaku karena sudah lama kita tak bertemu, Padahal aku adalah saudaramu, walau lain ibu." Bryan benar-benar syok mengetahui kenyataan, sementara Aditya mengukir senyum tipis di bibirnya. "Mulai hari ini saya memutuskan untuk ikut bekerja dan membesarkan perusahaan!." Aditya kembali menyambung, sementara orang-orang yang berada dalam ruangan tampak bingung. "Mungkin di antara kalian tidak ada yang tahu, kalau saya juga adalah seorang Abraham. Kebetulan saya tinggal di luar negeri selama ini, dan baru saja kembali. Jadi selamat bekerja bersama." Aditya kembali berkata dengan menebar senyum di bibirnya. "Katakan! Untuk apa kau kembali?." Bryan mengikuti Aditya masuk ke dalam ruangannya. "Clara membutuhkan uang untuk merawat ibunya. Satu-satunya cara untuk membantunya adalah dengan kembali ke keluarga ini. Walaupun sebenarnya aku tidak ingin." Jawab Aditya santai. "Ciihh! Jadi ini semua demi Clara? Kau jangan lupa kalau dia adalah istriku!!." Seru Bryan tak terima. "Istri yang tidak pernah kau anggap, istri yang kau sepelekan dan kau hina setiap saat. Istri yang saat ini berjuang untuk bercerai darimu! Jadi tidak perlu mengakui dia dihadapanku sekarang. Lambat laun kau akan berpisah darinya." Aditya bergerak menepuk pundak Bryan yang terlihat mengepalkan tangan dan menatapnya penuh kebencian. "Kau menyukai istriku?." Bryan kembali bertanya. "Sangat!!!." Singkat, padat dan jelas. Namun mampu membuat Bryan geregetan. **. "Aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Aku memiliki sejumlah uang, tolong rekomendasikan dokter terbaik untuk merawat mama. Aku mohon!." Clara menatap wajah Aditya dengan penuh harapan. "Kamu jangan takut! Saya akan segera mendatangkan dokter terbaik dari luar negeri untuk merawat mamamu. Soal biaya, kamu tidak perlu memikirkannya." Clara benar-benar tak percaya mendengar jawaban dokter itu. "Tapi.....!!." "Tidak ada tapi tapi Clara! Kau inginkan mamamu segera pulih kembali?." Clara segera mengangguk dengan cepat. "Maka dari itu percayalah pada saya! Saya akan berusaha berbuat yang terbaik untuk kalian!." Bryan yang melihat pemandangan di hadapannya kembali mengepalkan tangan dengan penuh kemarahan. "Dia benar-benar cari muka dengan istriku!!." Pria itu segera berjalan dengan cepat menghampiri keduanya. Buukkk! Tinju besarnya pun langsung bersarang di rahang Aditya. Dokter pria itu terjungkang ke lantai seketika. "Apa yang kau lakukan Bryan?." Pekik Clara segera membantu Aditya. "Kesini kamu!....!!."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD