Bab 12

1015 Words
Bryan langsung menarik tangan Clara untuk menjauh dari Aditya. Sementara pria itu hanya sempat menyeka darah yang mengalir di sudut bibirnya. "Kamu keterlaluan! Dokter Aditya tidak memiliki salah padamu." Pekik Clara dengan kencang. Sssttt!! "Ini rumah sakit sayang! Jangan bicara keras-keras, atau mamamu akan mati sebelum waktunya. Ayo kita pergi dari sini, sepertinya kita harus bicara." Bryan menarik tangan Clara, wanita itu bergerak mengikutinya dengan langkah terseok. Aditya tidak sempat untuk menghalanginya. Pasangan suami istri itu melintas di hadapan Nyonya Tamara. Wanita paruh baya itu pun semakin geram karena mengira kalau Clara kembali menggoda Bryan. "Wanita itu semakin menyebalkan saja mama. Dia tidak ingin melepas Bryan. Padahal dia tidak dicintai sama sekali." Alena rupanya ikut melihat keduanya. "Kamu tenang saja! Mama akan melakukan sesuatu!." Nyonya Tamara tampak menatap penuh kelicikan punggung Clara yang ditarik paksa oleh Bryan. Dia pun mengutak-atik ponselnya mengirim pesan pada seseorang. "Akan kupastikan dia menyingkir dari kehidupan kita untuk selamanya. Dan Bryan hanya akan menjadi milikmu seorang." Wanita paruh baya itu ternyata sudah kehilangan akal sehatnya, akibat Obsesi putrinya terhadap suami orang. "Lepaskan aku! Sebenarnya apa yang kau inginkan? Tidak cukupkah kamu melihatku menderita seperti sekarang?." Clara menghentak tangan Bryan setelah mereka berada di tempat yang cukup sepi. "Hubunganmu dengan dokter itu semakin terlihat dekat saja! Aku benar-benar tidak menyangka, kamu mampu melakukan pengkhianatan di belakangku." Clara langsung menatap tajam wajah Bryan. "Memangnya kenapa kalau aku dekat dengan pria lain? Bukankah selama ini kamu tidak pernah mengindahkan keberadaanku? Kamu tidak pernah menganggapku sebagai istrimu! Yang ada dalam otak dan hidupmu hanyalah Alena. Lalu untuk apa aku harus mempertahankan perasaanku padamu?." Clara berucap dengan tegas. Walaupun kedua matanya tampak berkaca-kaca. "Kamu tidak boleh kehilangan rasa cinta itu! Kamu harus terus menumbuhkannya." Bryan menjepit kedua sisi pipi Clara. Membuat wanita itu kesakitan. "Tidak! Aku memang pernah sangat mencintaimu dengan tulus, bahkan aku mencintaimu sangat besar. Tapi semua itu sudah menghilang, dan aku tidak mau menumbuhkan kembali rasa cinta itu. Biarkan saja mati dan pudar untuk selamanya!." Pekik Clara dengan emosi yang memuncak. Mendengar Clara sudah tidak ingin mencintainya lagi, Bryan pun dilanda emosi yang meluap-luap. Namun sebisa mungkin dia meredam amarahnya. "Lalu bagaimana? Agar kamu mau kembali menjadi istriku, istri yang lembut dan penurut seperti dulu? Aku berjanji akan melakukan semua yang kau inginkan?." Clara menatap tak percaya wajah Bryan. Senyum licik pun terbit di bibirnya. "Kalau begitu! Tinggalkan Alena untuk selamanya, Jangan pernah menemui dia lagi. Dan juga, keluarkan kakakku dari penjara. Berikan perawatan terbaik untuk mamaku. Mungkin aku bisa mempertimbangkan untuk kembali seperti dulu...... Menjadi istri yang penurut, tapi tidak ada cinta di dalamnya." Perkataan Clara itu disambung dengan gumaman dalam hati. "Jadi itu yang kau inginkan? Sejujurnya aku lelah mengejarmu seperti ini. Aku hanya ingin memberimu status seperti dulu, agar semua orang tidak ada yang meremehkan mu. Kamu bisa menduduki posisimu kembali, menjadi istriku yang terhormat. Dan disegani orang." Clara hanya sempat mengangkat sudut bibirnya, mendengar ucapan Bryan itu, tak membuatnya senang. Dia malah semakin membenci pria ini. Karena merasa dipermainkan. "Jika kamu sanggup melakukan semua yang kukatakan tadi, maka aku pasti akan kembali. Jadi pikirkan baik-baik pak Bryan!." Clara langsung berbalik, lalu berjalan pergi tanpa ragu. Sementara Bryan masih menunggu dan berpikir di sana. "Kalau itu yang kau inginkan! Baiklah akan kulakukan!." Gumam pria itu. *. "Apa? Kau tidak akan datang lagi? Kenapa Bryan? Apa karena wanita itu?." Alena tentu saja tak terima dengan keputusan Bryan. "Aku ingin mempertahankan rumah tanggaku! Tapi kamu tenang saja, kamu akan tetap mendapatkan perawatan terbaik. Setiap bulan aku akan mengirimkan uang untuk biaya hidupmu dan mamamu. Kalian tidak akan kekurangan apapun!." Alena menaik turunkan nafasnya karena emosi mendengar keputusan Bryan. "Jadi kamu memilih wanita itu? Tega sekali kamu!! Padahal dia bukan siapa-siapa, kamu juga tak mencintainya! Tapi kenapa kamu lebih memilih dia?." Alena histeris di kamar itu, sementara Bryan malah mendalami perasaannya sendiri. Benarkah dia tak mencintai Clara? Lalu Kenapa dia begitu gigih mempertahankannya? Sebenarnya apa yang terjadi padanya?. "Ini hanyalah bentuk tanggung jawabku! Karena dia masih istriku. Aku membutuhkan status Clara untuk menunjang karir dan juga pekerjaanku." Alena menggelengkan kepalanya, sementara Nyonya Tamara menatap tajam keduanya. Dia sungguh tidak rela kehilangan tambang berlian seperti Bryan. "Tidak Bryan, Aku tidak bisa hidup tanpamu. Kamu tidak boleh memperlakukan aku seperti ini!!." Alena menyeru dengan kencang, dia tidak rela kehilangan Bryan, dia semakin panik saat melihat pria itu sudah bangkit berdiri. "Percayalah semua akan baik-baik saja!." Bryan bergerak pergi, keluar dari ruangan tanpa menoleh lagi. Alena menangis tersedu sedan di sana. "Kita tidak akan kalah Alena. Jadi tidak perlu menangis. Sebentar lagi wanita itu akan tersingkir." **. "Dokter dari Amerika akan segera datang. Dia akan menangani penyakit ibumu. Jadi kamu tidak perlu khawatir lagi." Clara sedang berdiri berhadapan dengan Aditya. "Terima kasih atas bantuannya dokter! Saya akan melunasi semua pembayaran!." Tiba-tiba Bryan sudah berdiri di pertengahan mereka. "Soal biaya tidak perlu ditakutkan! Semua akan saya selesaikan." Bryan mengukir senyum remeh di bibirnya mendengar ucapan Aditya. "Saya bisa bertanggung jawab kepada istri dan juga mertuaku tanpa bantuan darimu. Bukan begitu sayang?." Bryan menoleh menatap wajah Clara. "Aku sudah menyetujui semua persyaratanmu, jadi kamu juga harus bisa menjaga diri. Jangan dekat-dekat dengan pria manapun selain aku." Bryan segera berbisik kepada Clara. Sementara Aditya memperhatikan mereka. "Tapi....!!." "Saya harap anda tidak menjadi pebinor, karena walau bagaimanapun, Clara ini masih berstatus istri saya. Tentu anda tidak ingin status dokter Anda menjadi tercoreng bukan?." Bryan mengukir seringai, lalu segera menarik tangan Clara yang masih terlihat bingung. "Apa benar kamu menuruti semua syarat yang aku berikan?." Clara segera bertanya dengan nada tak percaya. "Iya! Mulai saat ini, Aku tidak akan pernah menemui Alena lagi. Jadi mari kita kembali ke rumah. Semua perawatan mamamu aku yang urus. Jadi kamu tidak perlu menghiraukan apapun! Kamu juga bisa keluar dari cafe itu. Tidak perlu lagi bermain piano di sana." Clara terkesiap, dia tak menyangka kalau Bryan mengetahui juga tentang pekerjaannya. ***. "Akhirnya aku kembali lagi ke rumah ini!." Clara menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya melangkahkan kaki kembali ke rumah, dimana dulu ia dan Bryan hidup bersama selama tiga tahun. Beberapa bulan dia meninggalkan rumah itu, namun akhirnya harus kembali juga. "Selamat datang kembali nyonya!!."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD