Bab 13

1085 Words
Clara berjalan perlahan memasuki kamar itu, kamar di mana dulu dia menggantungkan asa serta harapan, kerap kali menunggu kepulangan Bryan bahkan sampai pagi dan berhari-hari. Karena pria itu sibuk menemani mantan kekasihnya. "Aku harap hubungan kita akan semakin berkembang kedepannya, Aku berjanji akan lebih memberikan perhatian padamu." Bryan langsung menarik tangan Clara, membelai wajah wanita itu. "Tentu saja!." Hanya itu yang sempat keluar dari bibir Clara, wajah wanita itu datar saja. Tak berbinar seperti dulu saat menatap suaminya. Buk!! Bryan mendorong perlahan tubuh Clara hingga terjatuh di kasur. Lalu dia bergerak menindihnya. "Lakukan yang kau mau! Aku akan menerimanya dengan sukarela!." Clara seakan berpasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh Bryan atas tubuhnya. Pria itu pun bangkit dan membuka jasnya, melemparnya asal ke belakang. Clara ikut menarik bajunya hingga pundak putihnya pun terlihat. Bryan melabuhkan kecupan di sana. Tidak ada penolakan, juga tidak ada balasan. Clara hanya terdiam, dia benar-benar berpasrah dengan segala perlakuanmu Bryan. "Ayo balas, cium dan peluk aku dengan liar seperti dulu." Bisik Bryan mencium leher Clara. Wanita itu reflek mendongak keatas. Memberikan akses kepada Bryan. "Aku lupa! Aku harus meminum ini dulu." Clara mengambil sesuatu dari dalam laci, pil kontrasepsi yang dulu rutin diminumnya. "Kau tidak perlu lagi memakan pil ini! Aku ingin kita segera memiliki anak." Clara menatap tak percaya wajah Bryan, padahal dulu pria itu selalu mewanti-wanti untuk dirinya meminum pil, agar tak sampai hamil anaknya. Bryan selalu beralasan belum siap. "Oh begitu!." Jawab Clara, dia berusaha mengukir senyum. Walaupun dalam hati dia berjanji akan meminum pil itu setelah selesai. Kini bukan Bryan yang tak sudi memiliki anak darinya, tapi dialah yang tak sudi memiliki anak dari Bryan. Bryan menyatukan diri dengan sempurna, seakan segala perasaan dan juga gejolak ia tumpahkan di sana. Pria itu bahkan tiada habisnya mereguk kenikmatan pada tubuh istrinya, seakan dia benar-benar merindukannya. Gluk!! Clara segera meminum pil setelah permainan panas itu selesai. Sementara Bryan sudah berada di dalam kamar mandi. "Untuk saat ini aku akan menjadi istrimu yang penurut, seperti dulu. Aku tidak akan membantah apapun, tapi kamu harus tahu. Tak ada cinta di dalamnya." Gumam Clara mengukir senyum sinis, dia bahkan tak menikmati permainan tadi. Tidak seperti dulu, setiap kali Bryan menyentuhnya, dia pasti akan meresapi segala sentuhan pria itu dengan sedalam-dalamnya. Tapi berbeda dengan sekarang, semuanya terasa benar-benar hambar. "Kau sebenarnya Kenapa Clara? Aku merasakan dirimu benar-benar hampa. Kau tak bersemangat seperti dulu, apa cinta itu benar-benar telah mati untukku?." Bryan bersandar pada tembok, membiarkan butir-butir air terjatuh di tubuhnya. Dia bukannya tidak merasakan perubahan Clara, namun nalurinya juga sangat menginginkan wanita itu, sehingga mengabaikannya. "Kau ingin pakai dasi yang mana?." Bryan tertegun saat mendengar pertanyaan Clara yang membawa dua buah dasi. Padahal dulu, wanita itu pasti akan ngotot memakaikan dasi pilihannya, tapi kini dia malah memberikan pilihan. "Terserah saja yang mana kau suka!." Jawabnya mengukir senyum tipis. "Aku takut salah pilih! Jadi kau pilihlah yang mana ingin kau pakai." Bryan segera menarik nafasnya, semua terasa berbeda sekarang. "Yang ini saja." Jawabnya menunjuk dasi yang berwarna navy, Clara langsung mengambil dasi itu dan membantu memakainya. Bryan menatap wajah cantik istrinya itu, padahal dasi itu dulu tak disukai oleh Clara. Dia pasti akan memprotes Jika dia ingin memakainya. "Sudah selesai! Selamat bekerja!." Clara langsung melenggang menuju arah kamar mandi setelah ucapannya selesai. Bryan menatapnya dengan pandangan tak terbaca. "Dia benar-benar berubah! Apa semua karena dokter itu? Jangan harap kau bisa bersamanya." Bryan mengambil jasnya dengan kasar karena emosi, dia berpikir kalau Clara berubah karena dokter Aditya. Prraanggg!! "Bryan benar-benar tidak datang, Aku membenci Clara mamah, dia membuat Bryan jauh dariku!." Alena kembali mengamuk sambil hiteris, dia bahkan menghancurkan segala peralatan yang ada di dalam ruangannya. "Tenanglah sayang! Nanti mama akan berbicara kepada Bryan." Tamara tentu saja panik melihat kondisi putrinya. Dia bergerak hendak menelpon nomor Bryan, Namun ternyata panggilannya dialihkan. "Wanita itu benar-benar sialan! Dia ingin menguasai Bryan sendiri saja. Padahal dia memiliki tanggung jawab pada Alena." Tamara begitu geram, dia menatap tajam ke arah depan, membayangkan wajah Clara yang dibencinya. *. "Ini adalah tempat yang sudah dibooking oleh pak Bryan, dia menyewanya khusus untuk anda." Meta berucap dengan menatap tak suka wajah Clara. "Tas anda simpan saja di sini, karena pak Bryan ingin memberikan kejutan untuk anda." Meta segera mengambil tas Clara. "Tidak perlu, Saya ingin membawa tas ini masuk." Meta langsung menatap sengit padanya. "Saya bilang tinggalkan saja di sini. Repot amat sih, nanti tas Anda ini akan saya kembalikan. Handphone anda bawa saja masuk, karena nanti pak Bryan akan menelpon anda." Meta bergerak pergi meninggalkan Clara yang kini sedang berdiri di sebuah restoran terapung yang mewah. "Silakan masuk nyonya! Tempat ini sudah dipesan khusus untuk anda!." Seorang pelayan segera mempersilahkan Clara masuk ke dalam. Wanita itu pun melangkah perlahan, ada tulisan selamat datang kepadanya, namanya pun diukir dengan huruf besar, dan sudah dihias dengan lampu-lampu yang indah. "Dia sepertinya terniat sekali hendak memberikan kejutan seperti ini untukku!." Gumam Clara mendudukkan tubuhnya. "Tapi ke mana dia? Kenapa belum datang?." Gumam Clara menatap ke sekeliling mencari bayangan Bryan. Dddrrttt!! Namun tiba-tiba ponselnya berbunyi, nama Bryan pun muncul di sana. "Aku sengaja ingin memberikan kejutan kecil ini untukmu! Karena aku tahu kalau selama ini aku sudah berbuat kesalahan padamu, padahal kamu sudah berusaha mati-matian untuk memperjuangkanku! Mungkin saja perasaanmu ini telah pudar, namun aku akan berusaha untuk menumbuhkannya kembali. Agar berbunga dan bertunas di hatimu." Clara tertegun mendengar kata-kata Bryan, hatinya mencelos seketika. Bayangan Bagaimana dirinya mati-matian memperjuangkan cinta pria itu, kembali berputar. "Aku harap belum terlambat untuk melakukan semua ini! Tapi kau harus tahu, Aku benar-benar ingin menebus semua kesalahanku di masa lalu. Ingin merajut kembali pernikahan kita agar lebih indah. Sekali lagi maafkan aku istriku!!." Kedua mata Clara tak mampu membendung air mata saat mendengar ucapan Bryan, hatinya tiba-tiba luluh lantak seketika, mendengar ungkapan pria itu yang benar-benar menyentuh kalbunya. "(Apakah aku harus memberikannya kesempatan kedua?)." Clara segera bergumam dalam hati. "Sayang!! Jangan karena diriku kamu menangis lagi, sudah cukup air matamu itu! Semua ini kupersembahkan untukmu! Sebagai penebus rasa bersalah dan juga dosaku padamu di masa lalu! Jangan pernah menoleh ke belakang, mari kita tatap masa depan yang lebih indah." Ternyata Bryan berada tidak jauh dari tempat di mana Clara berada. Pria itu sedang memandang istrinya dengan penuh cinta. Boomm!! Tiba-tiba di langit, tampak dihiasi oleh kembang api yang begitu indah. Ada nama Clara dan juga kata i love you yang tertulis di sana. Clara segera menutup mulutnya karena takjub. "Maaf pak Bryan, Nona Alena melompat dari gedung rumah sakit. Kondisinya kritis!!." "Apa? Ayo kita segera ke sana!!!."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD