Bab 14

1090 Words
Clara menunggu dengan tidak sabar kedatangan suaminya. Dia berharap Bryan segera datang dan mengungkapkan segala perasaannya itu secara nyata. Dan dia akan menyambutnya dengan sukacita. Namun setelah menunggu beberapa jam, Bryan tak kunjung muncul. Clara mulai kalut. Makanan yang sudah tersaji di hadapannya Tak disentuhnya sedikitpun. "Nyonya! Ini sudah pukul sebelas malam, kami harus segera tutup." Salah seorang pelayan dari tempat itu mendekati Clara. "Tapi Suami saya belum datang! Dia berjanji akan datang sebentar lagi." Pelayan itu tampak menatap malas wajah Clara. "Anda sudah menunggu di sini berjam-jam, dia tidak mungkin datang. Lagi pula setiap kali, tuan Bryan membooking tempat ini. tidak pernah lewat dari jam sepuluh malam. Sedangkan ini sudah jam sebelas " Clara langsung mengerutkan keningnya. "Apa suami saya pernah membooking tempat ini sebelumnya?." Pelayan itu tampak menarik nafas terlebih dahulu. "Seminggu yang lalu tuan Bryan juga membooking tempat ini. Kembang apinya bahkan lebih meriah dari yang tadi. Dan semua itu dipersembahkan untuk seorang wanita yang memakai kursi roda." Clara tersentak mendengar ucapan pelayan itu. Dia pun menertawakan dirinya sendiri yang ternyata begitu mudah percaya dengan omongan manis yang keluar dari mulut Bryan. "Alena!!! Oh tentu saja! Dia tidak mungkin melakukan semua ini karena perasaan cinta. Ternyata kau terlalu naif Clara." Clara kembali menertawakan dirinya sendiri. Dia pun segera berjalan hendak pergi. "Eh tunggu dulu nyonya! Tempat ini belum dibayar oleh suami Anda." Clara kembali terasa dihantam oleh sebuah palu yang teramat berat. Dia pun teringat tentang tasnya yang dibawa oleh Meta. Sehingga sekarang dia tak memiliki apa-apa selain ponselnya. "Saya tidak memiliki uang! Tas saya dibawa oleh asisten suami saya!." Clara segera menekan nomor Bryan, Namun ternyata nomor pria itu tak aktif. Dia pun mencoba menghubungi nomor Meta. Namun nomor wanita itu sedang sibuk. "Kira-kira berapa yang harus saya bayar?." Tanya Clara dengan nada tak enak hati. "Sepuluh juta." Mata Clara langsung membulat seketika. Dia sama sekali tak memiliki benda berharga selain ponsel yang dimilikinya. "Saya hanya memiliki ponsel ini! Tapi harganya tidak sampai sepuluh juta." Pelayanan itu segera berdecak kesal. "Sepertinya kau benar-benar ingin menipu kami! Terpaksa kami akan melaporkan Anda kepada polisi." "Jangan, saya mohon!! Saya berjanji akan melunasinya nanti. Tapi izinkan saya pulang terlebih dahulu." Clara berusaha untuk meminta keringanan. "Halah, tidak bisa!! Kami akan melaporkan Anda kepada polisi atas tindakan penipuan." Clara akhirnya tertunduk pasrah, dia tak bisa melakukan apa-apa. Dan akhirnya polisi pun datang dan membawanya ke kantor. Semalaman dia harus menginap di kantor polisi. "Clara!! Sungguh malang sekali nasibmu. Bryan ternyata benar-benar mempermainkanmu. Pria itu benar-benar k*****t!." Heny yang sudah membebaskan sahabatnya itu. Clara diam saja saat sahabatnya tersebut mengumpat kepada suaminya. Sementara di rumah sakit, tampak Bryan yang baru saja keluar dari ruangan Alena. Wajah pria itu kusut. Ucapan dokter terngiang-ngiang di telinganya. "Nona Alena menderita luka di bagian pipinya. Harus segera dilakukan operasi, kalau tidak. Wajahnya akan rusak." Bryan menghentikan langkahnya dan berpikir, karena dokter menyarankan untuk mendapatkan kulit yang sesuai dengan tipe kulit Alena. Dia pun jadi berpikir untuk mengambil kulit siapa. "Clara! Pasti kulitnya cocok, karena kulitnya sangat sehat dan terawat." Bryan mengukir senyum, karena sudah mendapatkan seorang wanita yang bisa mendonorkan kulitnya untuk Alena. Dan pucuk dicinta ulam pun tiba. Clara melintas di hadapannya. Dia langsung saja menarik tangan istrinya itu, dia benar-benar lupa dengan kejadian semalam. Di mana Dia meninggalkan Clara di tempat yang sudah dipesannya. "Aku butuh bantuanmu!." Wajah Bryan terlihat sangat memelas, sementara Clara menatap nanar padanya. Lalu segera menghentak pegangan tangan pria itu. "Ayolah Clara! Bukan waktunya untuk marah, aku akan menebus semua kesalahanku. Tapi sekarang aku butuh bantuanmu." "pria ini benar-benar tidak tahu diri!!!. Apa dia lupa dengan kejadian semalam?." Batin Clara segera berkata, dia menatap tajam wajah Bryan. Namun untuk sekarang Dia tidak memiliki energi berdebat dengan pria ini. Karena semalaman dia tak makan, ditambah harus menginap di kantor polisi. "Alena terluka karena melompat dari gedung! Wajahnya rusak, dia harus segera melakukan tindakan operasi. Aku harap kamu mau mendonorkan kulitmu untuknya." Dengan cepat, Clara menoleh ke arah suaminya. Wajahnya pun berubah murka. "Kau benar-benar tidak berperasaan, kamu minta kulitku untuk diberikan kepada selingkuhanmu itu? Aku tidak akan pernah memberikannya. Biarkan saja wajahnya itu rusak, itu sudah setimpal karena menghancurkan hidupku.. Menyingkir dari hadapanku, Aku benar-benar muak melihat wajahmu!!." Clara tak perduli saat ini dia berada di rumah sakit, omongannya terdengar kencang karena sarat akan amarah dan emosi. "Kau tidak boleh menolak! Ingat kalau kakakmu masih belum keluar dari penjara, aku juga bisa menyetop pengobatan ibumu. Apa itu yang kau mau?." Bryan kembali berhasil dengan ancamannya, Clara pun terkulai lemas seketika. Jika menyangkut tentang mama dan juga kakaknya. Dia memang tak bisa berbuat apa-apa. "Kenapa kamu begitu tega padaku! Aku harap suatu saat kamu akan menyesali semua ini! Dan disaat itu, semua sudah terlambat!." Nafas Clara tercekat, dia benar-benar menahan rasa sesak di dadanya. Dia merasa hampir mati karena ulah pria di hadapannya ini. "Ambil!! Ambil kulitku sebanyak-banyaknya, agar bisa mempercantik selingkuhanmu itu. Ambillah, biar kau puas!!." Clara menarik jas Bryan, wajahnya terlihat benar-benar putus asa. Setelah menginap satu malam di kantor polisi, kini dia harus dihadapkan dengan kenyataan di hadapannya. Pria egois serta ambisius itu, tega mengorbankannya hanya untuk obsesinya kepada sang mantan kekasih. "Aku berjanji akan menebus semuanya Clara! Aku akan membelikan perhiasan yang sudah lama kau inginkan! Semua ini tidak kuambil dengan gratis. Kamu akan mendapatkan harga yang sepadan." Ucapan Brian itu membuat Clara tersadar, semua kata-kata indah yang kemarin dan tadi malam pria itu ucapkan. Adalah omong kosong belaka. Bryan tak pernah benar-benar berubah, pria itu hanya mengakalinya. Dan sekali lagi, dia telah jatuh dalam perangkapnya. Operasi benar-benar dilakukan, dengan mengambil kulit bagian paha Clara agar bisa mengembalikan kecantikan Alena. **. "Obatnya habis tuan! Kita harus kembali mensuplainya dari luar negeri, ini adalah botol obat terakhir. Dan kebetulan obat ini juga digunakan oleh nona Alena, sama seperti obat yang digunakan oleh ibu mertua anda." Bryan menatap botol yang ada di tangan dokter. "Tinggal supplay saja dari luar negeri!." Jawab Bryan seenak jidat. "Mensuplai dari luar negeri membutuhkan waktu paling cepat seminggu, sementara Nona Alena dan juga ibu mertua Anda sangat membutuhkan obat ini. Jadi anda harus memilih, pengobatan Siapa yang harus didahulukan?." Bryan langsung terlihat berpikir, namun itu tidak lama. Setelahnya Dia segera menyebut nama mantan pacarnya. "Berikan obat ini untuk Alena saja, Dia baru saja dioperasi dan membutuhkan pemulihan. Aku tidak ingin kalau sampai operasinya gagal. Dia pasti akan sangat menderita. Sementara ibu mertuaku, berikan saja pengobatan nomor dua sembari menunggu obat itu datang." Dokter itu tampak memasang wajah gelisah mendengar keputusan Bryan. "Tapi! Tapi tuan.....!!!." "Lakukan saja perintahku! Atau mau dipecat dari rumah sakit ini?."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD