"Bagaimana keadaanmu Clara? Ternyata Bryan benar-benar tega."
Tante Maya datang dengan cepat melihat kondisi keponakannya. Clara hanya bisa duduk dan menatap kosong ke arah depan.
"Clara katakan sesuatu pada tante! Jangan membuat tante panik. Hanya kaulah satu-satunya sandaran tante sekarang. Kumohon jangan begini!."
Maya menangis terisak-isak di hadapan keponakannya yang tampak tak mengeluarkan sepatah kata pun.
Hiks!!
"Bryan benar-benar manusia tak memiliki hati. Dia tega memperlakukan kamu seperti ini hanya untuk selingkuhannya. Tante bersumpah tidak akan memaafkannya."
Maya kembali berkata, dia sangat pilu melihat keadaan keponakannya itu.
"Saya juga tidak butuh maaf darimu!."
Tiba-tiba terdengar suara Bryan, ternyata pria itu sudah berdiri di belakang Maya. Sontak saja Maya langsung berdiri dan mendekatinya.
"Puas kamu sekarang? Kamu sudah puas kan Bryan? Melihat kondisi Clara seperti ini. Kamu benar-benar manusia yang tidak memiliki hati, padahal Clara adalah istrimu. Tapi kenapa kamu memperlakukannya seperti itu? Kamu sungguh tega Bryan!! Apa kau tidak tahu kalau Clara begitu menderita?."
Maya memukul-mukul d**a Bryan, wanita itu benar-benar terlihat frustasi. Namun dengan cepat Bryan menangkap tangannya.
"Siapa bilang saya tidak memiliki hati? Pengorbanan yang dilakukan oleh Clara akan saya bayar. Tapi Alena sangat membutuhkan donor kulit itu. Lalu apanya yang salah?."
Bryan menghentak tangan Maya, lalu mendorongnya sedikit hingga jatuh kelantai.
Clara tiba-tiba meraba dadanya, nafasnya naik turun, lalu dia menoleh dengan cepat ke arah Bryan.
"Pergi kau dari sini, pergi!! Aku tidak ingin melihat wajahmu!!."
Tiba-tiba Clara histeris, dia bahkan melempar Bryan dengan bantal.
Namun pria itu malah bergerak mendekatinya.
"Bukankah sudah ku jelaskan dari awal? Semua ini ada harganya, kamu tidak perlu khawatir. Kamu tidak sedang berkorban secara gratis untuk Alena. Apapun yang kau mau, akan aku berikan! Tinggal bilang saja, perhiasan Apa yang kau inginkan? Dan berapa uang yang kau butuhkan?."
Clara mengepalkan kedua tangannya, dia menatap Bryan dengan kedua mata yang basah.
"Saya tidak ingin apapun darimu! Aku hanya ingin kau pergi dari sini, Aku tidak ingin melihat wajahmu. Sekarang juga keluar!!."
Clara menunjuk ke arah pintu, Bryan menarik nafasnya dengan panjang. Dia pikir kalau Clara saat ini membutuhkan ruang dan waktu agar bisa berpikir dengan tenang.
"Baiklah aku akan pergi! Kamu bisa berspekulasi apapun tentangku, tapi kau tetap istriku."
Bryan bergerak mengecup kening Clara, sebelum akhirnya keluar dari ruangan dengan santai, tak ada sedikitpun rasa bersalah di wajahnya.
Hiks hiks hiks!!
Wanita itu pun menangis sejadi-jadinya di sana, sementara Maya bergerak memeluknya dengan erat.
"Kapan aku bisa pergi dari kota ini Tante? Aku benar-benar sudah tidak tahan lagi!."
Clara segera berkata dalam pelukan Maya.
"Kita harus bisa berpikir dengan tenang! Ingatlah kalau mamamu tadi masih dalam perawatan, sementara kakakmu Dion masih dalam penjara."
Maya menghapus air mata yang tumpah ruah di pipi Clara. Dia tahu bagaimana perasaan keponakannya itu.
Clara meraba pahanya yang terbalut perban. Kulitnya telah diambil untuk operasi Alena.
*.
"Bagaimana keadaanmu?."
Bryan datang ke ruangan di mana Alena dirawat. Bagian wajah wanita itu masih tampak diperban.
"Saya sangat baik karena kamu selalu ada di sisiku."
Alena langsung meraih kedua tangan Bryan, pria itu pun mendudukkan tubuhnya di sisi pembaringan.
"Apa benar kau telah mengambil kulit Clara untuk operasiku?."
Alena segera bertanya, Tamara sempat menatap keduanya sebelum akhirnya keluar.
"Iya! Hanya kulitnya yang cocok untukmu! Karena kulit Clara terawat dan sehat, Aku tidak ingin mengambil resiko mengambil kulit orang lain."
Alena segera menyandarkan kepalanya di d**a Bryan.
"Aku tahu kamu tidak akan pernah pergi meninggalkan aku!."
Ucap wanita itu memeluk erat tubuh Bryan. Clara yang kebetulan melintas di depan kamar itu bersama dengan Maya. Segera menghentikan langkahnya. Di celah pintu dia melihat kebersamaan keduanya. Tangannya pun terkepal kuat.
"Suatu saat aku pasti bisa pergi meninggalkanmu."
Gumam Clara dengan tekad yang kuat.
"Bagaimana keadaan Mama saya?."
Clara segera bertanya pada dokter yang memeriksa mamanya.
"Andai tidak terkendala pengadaan obat, mungkin mama Anda saat ini sudah lebih baik nyonya, hanya saja obat yang dikonsumsi oleh Mama anda, kebetulan hanya tersisa satu botol, tapi Tuan Bryan menginginkan obat itu untuk pengobatan Nona Alena. Jadi terpaksa mama Anda harus menunggu beberapa hari lagi untuk menyambung obatnya."
Kembali Clara bagaikan dihantam sebuah khodam yang begitu besar mendengar penjelasan dokter. Lagi lagi, kepentingan Alena harus diatas segalanya.
"Clara!....!!."
Maya berusaha untuk menyeimbangkan tubuh Clara yang oleng, dia tahu kalau Clara pasti saat ini shock berat.
"Terima kasih penjelasannya dokter."
Clara perlahan berjalan masuk ke dalam ruangan, di mana sang Mama telah terbaring.
"Mama!! Maafkan atas ketidakberdayaan Clara. Semua sudah ku usahakan semaksimal mungkin. Tapi kemampuanku hanya sebatas ini!."
Clara menangis dengan pilu, wanita itu bahkan merosotkan tubuhnya di bawah ranjang. Menangisi hidup dan takdirnya yang malang. Dipertemukan dengan pria egois yang tak pernah mencintainya seperti Bryan.
"Kak! Kuharap kau segera sembuh, lalu kita pergi dari negara ini sejauh-jauhnya! Tempat di mana kita tidak ada yang mengenal. Dan kita semua hidup dengan damai."
Ingin rasanya, Maya meraung disana untuk melepaskan sesak yang ada di dalam dadanya. Namun dia sadar kalau itu adalah rumah sakit, dan kakaknya butuh ketenangan untuk penyembuhan.
"Clara!!."
Tiba-tiba terdengar suara yang begitu halus, Clara pun menghentikan tangisnya. Maya bergerak cepat mendekati kakaknya.
"Kakak!! Kamu sadar?."
Maya begitu senang melihat kakaknya membuka mata. Walaupun alat bantu oksigen masih terpasang.
"Mama!!."
Pekik Clara menghambur memeluk mamanya itu.
"Ja-ngan se-dih!!."
Wanita itu berucap dengan terbata-bata, nafasnya terlihat sangat sulit. Clara pun menggelengkan kepalanya segera.
"Mama mau apa? Bilang kepada Clara!."
Clara mencium tangan ibunya berkali-kali.
"Ti-tidak! Ma-ma, ha-nya ing-n Clara -bah-agia!!."
Nafas wanita paruh baya itu sudah terlihat benar-benar sesak, sementara tangis Clara kian menjadi saja melihat mamanya. Sedangkan Maya, tak beda jauh darinya.
"Mama jangan berkata apa-apa lagi! Mama pasti sembuh, Mama pasti kuat! Kita semua akan mendapatkan kebahagiaan bersama."
Clara kembali menangis terisak-isak, Clara masih sangat ingin bercakap-cakap dengan ibunya. Namun dokter dan perawat sudah masuk ke dalam.
"Maaf nyonya! Pasien tidak boleh terlalu banyak berbicara! Kondisinya belum stabil!."
Clara dan Maya segera menyingkir memberikan waktu kepada dokter untuk memeriksa pasiennya.
"Dokter!! Pasien kembali drop!."
Tiba-tiba perawat memekik dengan kencang, Clara dan Maya pun terkejut bukan main. Apalagi saat melihat raut panik para dokter dan juga perawat.
"Apa yang terjadi dengan mama saya? Dia baru saja berbicara? Apalagi yang terjadi dengannya?."
Clara segera bertanya dengan nada kencang.
"Maaf nyonya! Sebaiknya anda tunggu di luar saja, kami akan berusaha untuk menolong pasien."
Seorang perawat segera menghalau Clara bersama dengan Maya untuk keluar dari ruangan.
Kedua wanita itu tampak syok bukan main, mereka sungguh takut terjadi apa-apa di dalam sana.
Hahaha hahaha hahaha!!
"Sungguh kasihan sekali! Perawatan yang tidak memadai, begitu pula dengan obat yang tidak mendukung. Wanita tua itu pasti mati!."
Tamara rupanya Ada di sana, wanita paruh baya Itu tampak tertawa terbahak-bahak menertawakan Clara dan Maya.
"Pergi kau dari sini!! Dasar penyihir!!."