Clara masih berada di ruangan di mana sang Mama sedang ditangani di dalam sana. Maya tetap setia mendampingi keponakannya itu. Wajah keduanya menyiratkan kekhawatiran yang teramat sangat.
"Nyonya Clara!."
Dokter sudah keluar dari ruangan dengan peluh yang terlihat di wajahnya.
"Bagaimana keadaan Mama saya?."
Clara segera bertanya dengan detak jantung yang bertalu cepat. Dokter pria itu tampak menggeleng perlahan.
"Kita hanya bisa menunggu keajaiban. Mudah-mudahan saja kondisi pasien akan segera membaik. Tapi kalian semua harus bersiap dengan segala kemungkinan."
Jawab dokter pria itu menatap prihatin wajah Clara, sementara Clara sendiri tampak lemas di tempatnya berdiri. Maya bergerak cepat memeganginya.
"Bagaimana bisa kondisinya kembali drop?."
Dokter Aditya datang dengan cepat, Padahal dia baru saja tiba di rumah sakit karena mengurus satu hal.
"Obat yang dikonsumsinya habis! Beberapa hari lagi baru bisa datang. Tapi pasien sudah tidak bisa menunggu lagi."
Dokter Aditya ikut memasang wajah khawatirnya. Dia menatap sekilas wajah Clara yang lemas.
"Mari kita bicara sebentar dokter."
Dokter Aditya memanggil rekan sejawatnya itu. Sementara Maya membawa Clara untuk duduk di sana. Wanita itu tampak menerawang dan menatap kosong ke arah depan.
"Apa aku harus menyerah saja tante?."
Clara bertanya dengan nada rendah, Maya terisak sambil menatap keponakannya.
"Clara! Jika memang kita harus menyerah di titik ini, ingatlah segala pengorbanan yang sudah kau berikan untuk mamamu. Harga diri, martabat. Bahkan hidupmu, sudahkah korbankan semuanya."
Clara menutup wajahnya dengan kedua tangan, dia ingin menyerah saja. Tapi keadaan memaksanya untuk tetap tegar berdiri sekuat karang.
"Kamu boleh lelah, tapi jangan memutuskan untuk berhenti. Beristirahat saja sejenak sayang. Lalu kembali melanjutkan perjalanan."
Maya memeluk keponakannya itu dari samping. Clara sama sekali tak terisak, namun air matanya jatuh tumpah ruah di pipinya.
"Mama! Apa wanita tua penyakitan itu sudah mati?."
Tiba-tiba terdengar suara, Alena muncul dengan kursi rodanya. Tentu saja ada Tamara yang mendorongnya.
"Mama sih berharap kalau dia mati! Sehingga dia tidak lagi menjadi beban untuk Bryan. Sayang sekali Jika dia harus mengeluarkan uang dalam jumlah yang banyak hanya untuk wanita tua yang pesakitan itu."
Tamara berbicara dengan suara kencang. Clara pun mengangkat wajahnya, menatap nanar kedua wanita itu.
"Mama! Sepertinya wanita ini marah padaku!!."
Alena kembali berbicara kepada Tamara dengan nadanya yang manja.
"Biarkan saja! Wanita kampungan dan tidak tahu diri seperti dia, memang pantas menderita!."
Jawab Tamara terkekeh kecil. Maya sudah sangat geram melihat gelagat kedua wanita itu. Sementara Clara bangkit berdiri dengan perlahan.
"Kalian ini bukan manusia! Kalian adalah set**n yang bergentayangan, kamu selalu saja datang menghina aku dengan perkataan yang keluar dari mulut busukmu itu. Padahal kau baru saja menerima donor kulit dariku."
Alena malah tertawa kecil mendengar ucapan Clara.
"Apa aku harus berterima kasih karena telah menerima donor kulit darimu? Itu wajar bukan? Bryan membayarnya, Aku tahu itu. Semua tidak gratis, Jadi untuk apa mengucapkan terima kasih pada wanita tidak tahu diri sepertimu. Seharusnya sedari lama kamu menyingkir dari kehidupan kami. Karena aku dan Bryan saling mencintai. Tapi kau adalah penghalang terbesar di antara kami!!."
Seru Alena dengan suara kencang. Clara benar-benar tidak tahan, dia bergerak cepat menampar wajah wanita yang duduk di kursi roda itu.
Pllaakkkk!!!
Alena menoleh ke arah samping dengan pipi kiri yang memerah akibat tamparan Clara.
"Berani-beraninya kau...!!."
Ucapan Tamara menggantung, karena tiba-tiba saja, Bryan sudah berjalan dengan cepat menuju arah mereka.
"Clara!! Apa yang kau lakukan?."
Bryan langsung mendorong tubuh Clara hingga berhuyung.
"Kau tidak apa-apa kan?."
Bryan sungguh panik karena Alena baru saja melakukan tindakan operasi pada wajahnya.
"Padahal aku datang untuk bersimpati karena ibunya sedang kritis, tapi dia malah marah, bahkan menuntut kulit yang sudah dia donorkan padaku."
Alena segera memeluk pinggang Bryan yang berdiri di hadapannya. Namun dia mencuri tatap ke arah Clara dengan tatapan puas yang begitu mengejek.
"Hanya karena persoalan kulit, padahal aku sudah bilang tidak mengambilnya secara gratis. Aku akan membayarnya!!."
Prangg!!
Bryan melempar sebuah kotak berwarna hitam ke depan kaki Clara hingga isinya berhamburan. Rupanya Ada perhiasan berlian di dalamnya, mata Alena dan Tamara pun melebar seketika melihat perhiasan mahal tersebut.
"Itu adalah bayaran dari kulit yang sudah aku ambil. Jadi kamu tidak perlu mempermasalahkannya lagi, apalagi hal itu membuatmu memukul Alena. Kamu ini benar-benar tidak memiliki hati Clara."
Bryan segera memberi kode kepada Tamara untuk membawa Alena pergi.
"Bryan!! Aku ingin ditemani olehmu! Wajahku sakit akibat tamparan istrimu."
Alena berucap dengan adanya yang super manja kepada Bryan. Dia tidak rela melepas pria itu.
"Nanti aku akan datang untuk menemanimu. Tunggulah di kamar."
Bryan mengelus lembut kepala Alena. Dan wanita itu sempat memeletkan lidah ke arah Clara, sebelum akhirnya dibawa pergi oleh Tamara.
"Wanita itu benar-benar siluman!!."
Maya mengepalkan tangan melihat gelagat kedua wanita tersebut.
Sementara Bryan, bergerak memungut perhiasan yang dilemparnya tadi. Kemudian memperlihatkannya di depan wajah Clara yang terdiam dengan pandangan kosong.
"Perhiasan ini sangat mahal! Aku rasa sangat setimpal dengan harga kulitmu! Jadi aku harap tidak perlu dipermasalahkan lagi, tidak usah mencari gara-gara dengan Alena atau mamanya. Fokuslah pada penyembuhanmu setelah itu kita pulang."
Bryan meraih tangan Clara, namun dengan cepat wanita itu menepisnya.
Bryan pun menarik nafas panjangnya melihat hal itu.
"Aku tahu kamu masih marah! Tapi aku akan menebus semuanya. Beberapa hari lagi obat mamamu akan sampai, dan beberapa dokter juga sudah dipanggil dari luar negeri. Mereka akan ikut merawat mamamu."
Kali ini, Bryan terdengar berbicara dengan begitu lembut. Namun sepertinya Clara sudah mati rasa. Setiap perkataan yang keluar dari mulut Bryan, seperti duri yang menghujam jantungnya secara nyata.
"Ayo Clara! Kita kembali ke kamar, kamu masih harus banyak istirahat."
Maya membawa Clara yang tak lagi memiliki energi untuk berdebat dengan suaminya.
"Kamu akan tetap menjadi istriku Clara. Sampai kapanpun. Kamu hanya boleh mencintai aku."
Bryan bergumam dengan senyum misterius di bibirnya. Dia sempat menatap ke arah dalam di mana mertuanya Tengah terbaring, sebelum akhirnya meninggalkan tempat itu.
**.
"Akhirnya aku bebas juga!."
Dion menatap lama ke arah langit di mana matahari bersinar. Terhitung beberapa bulan dirinya di dalam sel dan tak pernah melihat sinar matahari. Dia pun menghirup dalam dalam oksigen hingga masuk ke dalam paru-parunya.
"Aku harap kamu tidak melakukan kesalahan yang sama! Walaupun kamu sangat marah dan dendam, kamu harus bisa menahan diri. Jangan sampai masuk kesini lagi, Clara dan ibumu sangat membutuhkan mu."
Rupanya yang mengeluarkan Dion dari penjara bukanlah Bryan, melainkan Aditya.
"Terima kasih pak! Saya akan hidup dengan baik, dan akan selalu mengingat pesan bapak."
Aditya menepuk pundak Dion.
"Rupanya kamu benar-benar menjadi pahlawan kesiangan bagi Clara!."