Bryan menatap tajam wajah Aditya. Dia melangkahkan kaki mendekati kedua pria itu.
"Terserah julukan Apa yang ingin kau berikan padaku! Yang jelas aku tidak akan membiarkan Clara menderita lagi karena ulahmu!."
Bryan mengepalkan tangan mendengar ucapan Aditya, dia menatap sejenak wajah Dion yang menatapnya sengit.
"Ternyata kamu berusaha untuk mengambil semua perhatian keluarga istriku. Segitu inginnya kamu merebut dia dariku. Apa kau ini pria yang tidak laku? Sehingga kamu harus merebut istri orang lain."
Aditya segera mengukir senyum manis di bibirnya, dia sama sekali tak bersindir mendengar ucapan Bryan.
"Saya sudah mengenal Clara lama, bahkan sebelum kau mengenalnya. Saya hanya ingin melihat Clara bahagia dan terbebas dari kekangan yang mendera hidupnya. Tidak ada maksud apa-apa."
Jawab Aditya mendekati Bryan. Kedua saudara itu berdiri saling berhadapan, saling menatap satu sama lain dengan pandangan yang sangat menghunus.
"Tapi apapun maksudmu kepada istriku! Aku yakinkan itu tidak akan berhasil, karena Clara hanya mencintaiku. Di hatinya tidak ada tempat untuk pria lain! Dia hanya akan menjadi milikku selamanya!."
Aditya mengeraskan rahang, salah satu tangannya terkepal kuat.
"Kadang rasa cinta itu bisa berubah menjadi kebencian yang sangat besar! Apalagi saat kehadirannya tak dihargai! Saya tidak bermaksud untuk merebut Clara Jika dia memang mencintaimu. Tapi aku adalah orang pertama yang akan maju untuk mendukungnya, Jika dia sedang terpuruk."
Aditya segera berbalik lalu mengajak Dion untuk pergi. Berdebat dengan Bryan hanya akan menghabiskan energi.
"Sial!!."
Bryan mendengus kesal melihat Aditya kini telah pergi bersama dengan Dion.
"Maafkan saya pak!!, karena beberapa hari ini tidak masuk bekerja."
Clara kembali mendatangi cafe yang sudah menerimanya bekerja.
"Tidak apa-apa Clara! Saya yakin kamu memiliki alasan kenapa tidak masuk pekerja! Jika kamu sudah siap, kamu bisa bekerja lagi hari ini!."
Clara segera mengangguk sambil tersenyum tipis, dia tidak menyangka kalau owner kafe itu benar-benar baik.
"Terima kasih! Saya akan bekerja kembali!."
Clara segera mengangguk kemudian berbalik.
"Aku senang kamu kembali bekerja Clara. Para penggemarmu sejak kemarin sudah menanyakan keberadaanmu."
Clara mengulas senyum manis kepada seluruh pekerja yang ada di cafe itu. Dia pun bergerak mendekati piano kemudian duduk di sana.
"Ternyata dia berbohong padaku!."
Gumam wanita itu setelah mendudukkan tubuhnya di hadapan piano. Ternyata Bryan telah berbohong, pria itu mengatakan telah mengirim surat resign ke cafe, tapi ternyata tidak benar.
Suara alunan piano pun kembali terdengar mengalun di ruangan itu. Beberapa pengunjung yang hadir di sana tampak terdiam menikmati permainan jemari lentik Clara.
"Permainan piano Clara benar-benar indah! Tapi kali ini lagunya terasa sangat sedih!."
Bukan hanya pengunjung, pegawai di cafe itu ikut larut dalam permainan piano yang dimainkan oleh Clara.
"Jadi dia kembali bekerja di kafe ini? Benar-benar keras kepala!."
Bryan berjalan masuk ke dalam cafe dengan langkah lebar diikuti oleh Meta. Dia segera berhenti saat melihat istrinya tengah fokus memainkan piano, dan semua orang yang mendengarnya, tampak ikut larut dalam permainannya.
"Aku sudah bilang kamu tidak perlu bekerja!."
Bryan langsung menangkap tangan Clara membuat wanita itu bangkit berdiri.
"Kamu tidak perlu mengatur hidupku!."
Clara menghentak pegangan tangan Bryan.
"Aku sudah bilang jangan bekerja! Aku adalah suamimu masih mampu menghidupimu. Kamu benar-benar tidak menganggapku Clara!!."
Seru Bryan dengan kencang.
"Kamu juga sudah mengingkari janji. Apa kamu lupa, kamu pernah berjanji untuk tidak lagi menemui Alena. Tapi apa kenyataannya? Hanya satu telepon saja darinya, kamu langsung pergi tanpa menghiraukan apapun. Kamu bahkan tak pernah perduli Bagaimana perasaanku! Lalu untuk apa juga aku harus mendengarkanmu?."
Pekik Clara bangkit emosinya. Dia menatap ke sekeliling dan semua orang memperhatikannya.
"Maaf Pak! Clara ini adalah karyawan saya, dan saya tidak suka ada orang yang bermain kasar kepada salah satu karyawan saya. Jika ada permasalahan pribadi. Silakan selesaikan di luar. Tapi saat ini Clara masih bekerja. Jadi Anda boleh pergi!."
Bryan mendengus sebal dan melotot kearah pemilik cafe.
"Saya sudah mengirim surat resign untuk istri saya. Apa kau tidak menerimanya?."
Bryan bertanya dengan suara keras.
"Surat resign itu bukan dikirim oleh Nona Clara. Jadi saya tidak menerimanya. Dan benar saja, nona Clara kembali lagi untuk bekerja."
Pemilik cafe itu seperti tak terintimidasi oleh ucapan dan tatapan Bryan.
"Pak! Sebaiknya kita segera pergi dari sini!."
Meta segera berbisik kepada bosnya, Bryan tampak mengubah mimik wajahnya mendengar bisikan Meta, lalu menatap pria dihadapannya.
"Kita akan menyelesaikan semuanya nanti Clara!."
Bryan bergerak pergi dari tempat itu membawa emosinya. Clara menarik nafas panjang dan menatap wajah pemilik cafe dengan tatapan bersalah.
"Maafkan saya pak!."
"Tidak apa Clara! Kamu selesaikan saja pekerjaanmu! Saya bisa menangani semuanya!."
**.
"Wanita tua penyakitan ini! Hanya menghabiskan uang Bryan saja. Harusnya semua uang itu untuk Alena. Untuk apa harus membiayai perawatan wanita yang seharusnya mati saja sepertimu."
Tamara masuk ke dalam ruangan Mama Clara. Maya sedang keluar membeli makanan, dan wanita itu bebas masuk ke dalam.
"Harusnya kamu segera ke akhirat saja! Tidak perlu merepotkan orang lain. Apalagi menghabiskan uang Bryan. Tidak tahu diuntung!."
Tamara kembali bergerak mendekat. Dia sempat menoleh ke arah pintu takut ada orang yang datang, lalu dengan cepat dia meraih selang oksigen yang terpasang di hidung Mama Clara.
"Aku hanya membantumu untuk keluar dari penderitaan ini. Kamu tidak akan menderita sakit lagi, tidak perlu merepotkan orang lain lagi. Jadi berterima kasihlah padaku!."
Tamara berbisik di dekat telinga Mama Clara, wanita yang masih terbaring itu perlahan menggeliat. Lalu matanya terbuka dengan lebar.
Nafasnya sudah mulai terlihat sesak, kedua kakinya bergerak dengan cepat.
Tamara mengundurkan tubuhnya, dia tidak ingin menunggu berlama-lama di situ. Dia bergerak keluar dari pintu dengan cekatan, lalu memindai sekeliling.
"Aku akan menyingkirkan semua orang yang menghalangi langkah putriku."
Gumam wanita itu segera bersikap normal kembali seakan tidak terjadi sesuatu.
"Kakak!! Apa yang terjadi denganmu? Tolong dokter!! Ada apa dengan kakak saya??."
Maya yang baru saja masuk ke dalam ruangan langsung berteriak dengan kencang saat melihat kondisi kakaknya yang kejang-kejang. Mulut kakaknya terbuka lebar dengan mata yang terbelalak.
"Apa yang terjadi dengannya?."
Dokter langsung datang bersama dengan perawatnya.
"Saya tidak tahu! Ketika saya datang dia sudah seperti ini!."
Wajah Maya panik luar biasa. Dia diminta untuk keluar dari ruangan. Tepat bertepatan dengan kedatangan Aditya dan Dion.
"Dion!! Mamamu!!."
Seru Maya terisak-isak dan langsung memeluk Dion.
"Apa yang terjadi dengan Mama? Katakan tante!!."
Seru Dion ikut panik melihat tantenya yang menangis.
"Saya akan melihatnya!."
Dokter Aditya bergerak masuk ke dalam ruangan.
"Cepat hubungi adikmu. Clara sedang berada di cafe. Dia harus tahu kondisi mama kalian."
***.
"Apa? Tidak mungkin!!!."