BAB AKHIR - JANJI YANG SUNGGUH JADI NYATA

650 Words
Sore itu, langit terlihat bersih seperti pertanda baik. Ryan berdiri di depan Toko Flamboyan, mengenakan jas abu terang dan kemeja biru muda yang kontras dengan rona gugup di wajahnya. Tapi kali ini bukan untuk urusan bisnis. Bukan untuk pembicaraan berat. Kali ini… untuk izin. Begitu pintu toko dibuka, aroma bunga langsung menyambutnya. Di dalam, Pak Budi tengah menyiram rak anggrek, sementara Bu Retno duduk di dekat meja kasir, merapikan buket kecil. Keduanya menoleh bersamaan. “Ryan,” sapa Pak Budi, tersenyum ramah. “Sendiri saja?” “Ya, Pak. Saya... ingin bicara sebentar,” ucap Ryan dengan nada sopan tapi sungguh-sungguh. Pak Budi menaruh semprotan air dan menghampiri, diikuti oleh Bu Retno. “Ada apa, Nak?” Ryan menarik napas. “Saya ingin mengajak Karin ke acara kantor malam ini. Acara formal. Saya ingin mengenalkan dia… bukan hanya sebagai teman. Tapi seseorang yang penting.” Bu Retno terdiam sesaat. Matanya menatap Ryan dalam, lalu berpaling ke suaminya. Pak Budi mengangguk pelan, senyumnya mengembang. “Akhirnya ya, Nak. Janji kami dulu... mungkin memang bukan kebetulan. Tapi jalan yang memang sedang dibuka pelan-pelan.” Ryan menunduk hormat. “Saya berjanji menjaga Karin, Pak. Bukan sebagai bagian dari janji, tapi sebagai pilihan hati saya.” Pak Budi menepuk bahunya. “Kalau begitu, kamu tak perlu bilang banyak. Kami percaya. Bawalah dia.” **** Tak lama kemudian, Karin keluar dari kamar atas toko. Mengenakan gaun berwarna hijau lembut yang jatuh anggun di tubuhnya. Rambutnya diurai, dan bibirnya hanya diberi sentuhan warna alami. Ryan tertegun sejenak. “Kamu... luar biasa.” Karin tertawa pelan. “Kamu sendiri tampak seperti pria dari halaman majalah.” “Karena kamu inspirasinya,” balas Ryan cepat. Dengan izin dan restu, mereka pun berangkat menuju gedung kaca mewah di pusat kota. Acara malam itu megah. Lampu gantung berkilauan, musik klasik mengalun pelan, dan tamu-tamu berdasi serta gaun malam memenuhi ballroom. Karin berjalan di sisi Ryan, sesekali menyapa kolega-kolega yang dikenalkan Ryan dengan tenang. Ia merasa gugup, tapi tak sekali pun Ryan melepas genggaman tangannya. Hingga, saat waktu hampir pukul delapan, lampu ballroom sedikit diredupkan. Musik berhenti. Ryan berdiri di panggung kecil di ujung ruangan, mikrofon di tangannya. Semua mata tertuju padanya. “Hadirin semua,” ujarnya dengan suara tenang, “malam ini seharusnya hanya perayaan bisnis. Tapi saya minta waktu dua menit, bukan sebagai CEO, tapi sebagai seorang pria.” Ia menoleh ke arah Karin. “Karin, bisa kamu ke sini sebentar?” Karin membeku. Jantungnya berdetak lebih cepat. Perlahan, ia melangkah ke panggung, tangan Ryan menyambutnya. Di depan semua orang, Ryan berlutut. Gasps dan tepuk tangan kecil terdengar dari seluruh ruangan. “Karin Pramana,” kata Ryan, matanya tak lepas dari wajah perempuan yang kini tampak terharu dan kaget, “Kamu datang ke hidupku saat aku kehilangan arah. Kamu memberiku tempat untuk pulang. Kamu adalah tenangku.” Ia membuka kotak kecil beludru biru. “Will you marry me?” Karin menutup mulutnya dengan tangan. Air mata menggenang. Dunia terasa berputar, tapi hati terasa diam. Ia mengangguk pelan. “Iya…” Tepuk tangan meledak di ruangan. Ryan bangkit, menyematkan cincin perak lembut di jari manis Karin, lalu memeluknya erat. Musik kembali mengalun—lambat, lembut. Ryan menarik Karin ke tengah ruangan, memimpin tarian pertama mereka sebagai pasangan yang kini telah resmi menjalin janji baru. Mereka berdansa pelan, tanpa peduli pada tatapan atau sorakan. Hanya ada mereka. Di tengah keramaian, mereka seperti dunia kecil sendiri. Dan saat lagu hampir berakhir, Ryan memegang wajah Karin dengan kedua tangannya. “Aku cinta kamu,” bisiknya. Karin tersenyum dengan mata basah. “Aku juga.” Dan di hadapan langit malam, lampu kota, dan saksi dari dua dunia yang berbeda—Ryan mengecup bibir Karin dengan lembut, penuh makna. Tak ada lagi yang tertinggal dari masa lalu, selain kenangan yang membawa mereka ke titik ini. Janji lama tak lagi sekadar warisan. Kini, janji itu menjadi cinta sungguhan. Yang dipilih. Yang dijaga. Yang akhirnya... menjadi nyata.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD