Surat Cinta

1000 Words
Kotak makan jingga berada dalam rangkulanku saat aku melewati bangku Zeta, berjalan mengumpulkan lembar jawaban ke Meja guru. Melihat guru itu sibuk menuliskan sesuatu di kertas bergarisnya, aku pun melangkah kembali melewati dirinya. “Semuanya, jika sudah mengumpul boleh istirahat ya!” ucap guru itu dengan nada yang lembut, aku pun terhenti dibuatnya. Siswa sebangkuku itu pun mengumpulkan jawabannya begitu juga dengan Zeta yang tersandung anak tangga yang memisah antar wilayah depan kelas. Tangannya terulur ke hadapanku dengan bibirnya yang berkemak-kemik hingga menjatuhkan cairan hidung yang belum terhapus, jatuh masuk ke dalam mulutnya. “Siriana, tunggu dulu,” panggil guru di balik meja itu saat diriku akan membalikkan badan. “Kemari,” pintanya dan aku pun menurutinya, berdiri di depan mejanya tanpa menaiki anak tangga itu. “Sigit, kemari ya,” pinta ibu guru tersebut yang juga sama pada siswa sebangkuku membuat diriku berdiri menatap Sigit yang melangkah dari bangkunya bersamaan dengan Zeta yang kemudian berjalan menyilang di belakangnya. “Ibu belum memeriksa secara keseluruhan, tetapi ibu sudah melihat bahwa jawabanmu dan Sigit selalu persis,” tutur ibu itu yang kemudian ia sambung kembali, “Semuanya boleh istirahat ya.” “Ibu tidak bermaksud menjelekkan dirimu dan juga dirinya di depan kelas. Makanya di meja ibu ini, ibu sendiri berbicara secara pribadi dengan kalian,” kata guru yang ada di depanku dan juga ada di depan kelas. “Ini sudah akhir semester, akhir kelas, dan akan menjelang ujian akhir serentak ... jika kalian belajar dan menjawab ujian sendiri, tentunya itu untuk diri kalian sendiri, bukan untuk ibu, bukan untuk Sigit, dan juga bukan untuk Siriana, tetapi untuk dirisendiri.” Mendengar hal yang ada benarnya, aku pun langsung menganggukkan kepalaku dan meninggalkan mereka di kelas. “Ana,” Panggil Zeta yang terdengar dari belakang sedang berlari mengejarku lalu dirinya menepuk pundak kananku. “Ayo beli mochi,” ajak Zeta yang menarik tangan kananku untuk berlari mengikuti langkahnya. Melihat keramaian kantin dengan beragam kecil dan besar tubuh seseorang, aku merasa terkucilkan di antara seragam-seragam putih. “Kau mau?” tanya Zeta padaku seraya menggenggam dua mochi di tangan kanannya, dirinya selalu berhasil menerjang kulkas di tengah kerumunan pembeli. Aku pun mengangkat kotak makanku, menunjukkan padanya bahwa diriku tidak melupakan si jingga. “Jangan sungkan, biar aku yang bayar!” sahut Zeta yang mengambil kembali satu mochi dengan kemasan ungu dari kulkas. “Sebotol air, Zet,” pintaku pada Zeta dari kejauhan sembari menunjukkan telunjuk kananku padanya, dengan segera dirinya pun mengangguk pelan padaku. “Bu, bilang pada pemilik warung ini, namaku Azeta Azelea dengan hutang 3 es mochi dan 1 botol air ya, terima kasih banyak, Ibu,” pinta Zeta dengan sopan setelah mengambil sebotol air dari kulkas lalu meninggalkan dagangan itu, kembali dirinya merangkulku pada lengan, mengajakku ke tempat seperti biasa. “Bagas mana?” tanya Zeta pada Ika yang menyender di pembatas besi dengan kertas di tangannya yang berkeringat. “Ke kelasmu,” sahut Ika sembari membalikkan badannya. Botol minum di tanganku diraih olehnya. Kepalanya langsung mendongak ke atas meminum air dari botolku, aku pun mengerutkan mata menatap dirinya. “Apakah kau baik-baik saja, Ka?” tanyaku pada Ika melihat keringat yang terus bercucuran dari keningnya yang berkernyit seiring dengan embun air dingin yang menetes dari dinding botol plastik itu. “Itu air dingin, Ka! Apakah tidak membahayakan?” tanyaku kembali pada Ika, khawatir akan dirinya yang baru saja sehabis latihan basket. “Tidak apa-apa, aku haus sekali, dari tadi belum dapat minum,” sahut Ika setelah meminum setengah air dari botol plastik itu. Ia pun mengembalikan botol itu padaku. “Latihannya kapan, tujuan kita kan hanya sebagai pendukung?” tanya Zeta dengan mata yang menyipit seraya melihat sekeliling lapangan yang tampaknya sudah mulai sepi ditinggalkan para pemain basket. “Baru saja selesai,” sahut Ika sembari kembali menyenderkan punggungnya di pembatas besi, aku pun meniru dirinya dengan meletakkan kedua siku di atas pembatas besi untuk menopang tubuhku. “Oh, kalau begitu kita kembali ke kelas ya,” sahut Zeta dengan nada tegas, tetapi pelan. Dirinya masih saja berdiri tegap di dataran yang lebih rendah dariku dan Ika. “Baiklah. Kalau begitu, selamat tinggal,” pamitnya sembari melambaikan kedua tangan yang salah satunya memegang kertas. Berlambai dan berjalan mundur lalu meninggalkan kami berdua di pinggir lapangan. Zeta pun melangkahkan kakinya, menaiki anak tangga lalu berdiri di sampingku. Tangan-tangannya kembali menggeliat di lubang-lubang pembatas besi. “Apakah kau pernah menyukai seseorang,” tanyaku pada Zeta seraya menatap sepasang natanya yang juga mulai menatapku. “Pernah ...,” ucapnya yang terhenti, tatapannya menatap hampa tengah lapangan, tangan-tangannya berhenti di antara lubang-lubang yang berukuran kecil. “Aku menyukaimu jika kamu seorang pria, aku menyukai pak guru olahraga itu jika ia melupakan kembalian lebihku, tetapi itu kesalahannya, dan aku juga menyukai priamu itu jika dia tidak sedingin kulkas” “Jadi, intinya hatiku belum terjatuh saat ini, tetapi masih melayang,” bisiknya dengan pelan dan nafas yang berlebihan di dekat kupingku menyerupai bisikan setan. Terlihatlah Ika yang berlari ke tengah lapangan setelah memberikan sebuah kertas pada guru olahraga bercelana hitam. Ika mengambil bola basket. Setelah itu, tampak dirinya sedang berbicara dengan teman prianya yang mengenakan kaos merah tua. “Ana,” panggil Zeta dengan halus sembari menatap Ika dari kejauhan yang masih saja berbicara dengan temannya begitu juga denganku yang terfokus pada warna bola basket yang di pegang Ika yang memiliki warna serupa dengan warna merah tua di pergelangan tangannya. “Ana!” Warna itu juga tampak serupa dengan warna tanah yang bercampur kotoran. Warna kotoran atau tanah itu bukanlah warna coklat tanah melainkan warna merah tua suatu darah. Setelah meletakkan kotak makan jingga dan botol air di tanah, Aku pun berjalan mundur, mengukur jarak terdorong dari pembatas besi ke tempat diriku terjatuh. Namun, kotoran itu sudah menghilang sekarang. “Ana!?” teriak Zeta memanggil diriku dengan kedua tangannya yang masih tergantung di lubang-lubang pembatas besi. “Jangan tinggalkan aku, tanganku tersangkut, tarik aku dulu lalu tolong bebaskan aku dari jeruji besi ini,” pintanya dengan es mochi yang mengatup di genggaman kedua tangannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD