Episode 4 Ika dan Bagas
Wajah bak hantu baru menyadarkanku akan kantong mata dan mulut menganga dengan kepala bengkok ke arahku di tambah lubang-lubang yang menggantung tangannya membuat dirinya pantas untuk mendapatkan peran hantu yang terkena skandal.
Aku pun menarik pundak Zeta sekuat tenaga. Mendorongnya ke depan dan juga menariknya kebelakang secara berulang-ulang sebagai ancang-ancang untuk menarik tangannya keluar. Namun, malah lengannya yang tersangkut sekarang. “Bisakah kau buang mochi itu?”
“Apa ... membuang mochi, aku tak bisa mendengarmu sekarang. Aku harus fokus berteriak!” sahut Zeta lalu berteriak nyaring dengan sekuat tenaga membuat diriku berhenti sejenak menarik pundaknya dengan tanganku karena kedua tanganku ini mengarah menutup kedua kuping ini.
Meskipun teriakan Zeta tidak enak didengar, untung saja teriakan itu membuahkan hasil. Guru olahraga bercelana hitam panjang pun terheran-heran melengkah di antara pembatas-pembatas besi yang terpisah, melangkah berjalan melewati Zeta.
“Pak ringan tangan! Tolong tangan saya dibebaskan, Pak!” teriak Zeta meneriaki guru itu. Sesaat guru olahraga itu terhenti lalu ia pun membalikkan badannya dengan tetap memengangi selembar kertas yang ada di genggaman tangan kanan guru olahraga bercelana panjang itu Namun, guru itu malah kabur melihat wajah Zeta.
“Ada apa dengan wajahku, kenapa dia berlari dengan kaki panjangnya?!” tanya Zeta sembari berteriak, meneriaki seluruh isi lapangan dengan memutarkan kepalanya yang bengkok dari kiri ke kanan.
Melangkah dengan nafas yang berembus lantang dan udara yang juga melewati celah antara seragam yang terkenakan pada tubuh dan ketiakku yang basah, hanya bisa membuat diriku tercenung menyender di pembatas besi, menatap tanah-tanah coklat yang berkerikil serta akar-akar pohon yang tampak seperti jari-jari kecil, sekecil jari-jariku yang cukup menggemaskan.
“Lihatlah Ika s****n itu!” teriak Zeta sembari menarik-narik lengannya, aku pun melihat ke arah Ika yang sedang melempar-lemparkan bola sembari berlari-lari memutari lapangan.
Berlari menjauhi ring, langsung saja dilemparkan bola basket itu oleh Ika hingga memasukkan bola itu ke dalam ring. Dari jarak kejauhan, Ika bersorak menatap diriku yang kelelahan begitu juga dengan Zeta yang lengannya masih mengantung dengan tiga es mochi di ujung tangannya.
“s****n, dia bisa memasuki bola dari jarak dekat. Kenapa dia lari jauh-jauh, melelah-lelahkan diri sendiri lalu menembak dari jarak jauh, apakah dia mau pamer, bodoh?!” teriak Zeta yang tidak lelah-lelah melelahkan telingaku.
“Ana,” Suara Bagas pun terdengar, dengan segera aku membalikkan badan dan melihat Bagas yang menyeringai lebar dengan gigi-giginya. Lantas saja, kuambil kesempatan itu untuk memberitahu rahasiaku yang sudah tertunda-tunda, mungkin saat aku menundanya lagi, aku tidak akan bisa menyampaikan pesan itu pada sahabatku.
“Zet, sebenarnya aku menyukai teman sebangkuku karena tangannya,” gumamku pada Zeta, langsung saja ia memukul kepalaku dengan tangan kirinya yang baru saja ia tarik lalu masuk kembali ke dalam lubang pembatas besi,
“Kau menyukai seseorang karena tangan? Tidakkah kau menyukaiku sekarang karena pukulan tanganku..?” tanya Zeta dengan matanya yang membeliak menusuk mataku, kembali dirinya melanjutkan kata-katanya “Jangan ganggu aku, aku sedang berkonsentrasi,” gumamnya dengan tenang lalu menarik nafas panjang dengan mata terpejam. Ia pun mulai mulai menghembuskan nafasnya secara keras melalui lubang hidung yang terbuka lebar dengan matanya yang juga terbuka lebar-lebar menatap lubang-lubang pembatas besi yang menggantung kedua tangannya.
“Zet ...” panggil Bagas dengan suara kelelahan dari arah belakangku membuat diriku membalikkan badan untuk melihatnya. Terlihat dirinya menunduk ke bawah dengan tangan memegang lutut berirama dengan nafasnya yang tak beraturan. “Kenapa kau memukul—“
“Bagas, tolong tarik aku, aku angkat tangan dari jeruji besi ini,” mohon Zeta dengan kepala bengkok dan mata berkaca-kaca pada Bagas menciptakan perasaan iba, aku pun mengangguk dan kembali menarik pundaknya dibuatnya.
“Baiklah, baiklah,” sahut Bagas kemudian mengekoriku dan memeluk diriku untuk menarik Zeta.
“Zet, sepertinya aku kehabisan tenaga, aku tidak kuat menarikmu,” ucap Bagas dengan nafas yang mengetuk-ngetuk leherku memicu perasaan ditambah dengan pelukannya belum dilepas padahal peganganku pada pundak Zeta sudah terlepas.
Kembali lagi aku meletakkan kedua tanganku pada pundak Zeta, mencengkeramnya untuk menarik dirinya, tetapi itu terhenti kembali disaat pak guru olahraga datang dengan gergaji di pundaknya.
“Apa yang kalian lakukan?” tanya guru olahraga dengan gergaji itu yang menatap diriku secara langsung dan itu mengejutkanku termasuk juga mengejutkan Zeta yang segera membengkokkan kepalanya ke kanan dan ke kiri mencari asal usur suara itu.
“Pak ...!” teriak Zeta kembali dengan mata berkaca-kaca. “Bantu aku!” Suara Zeta yang lemas membuat diriku menarik-narik dirinya berkali-kali dalam hitungan detik.
Pak guru olahraga itu pun menurunkan gergaji dari pundaknya. Setelah itu, ia mengeluarkan gergaji yang tajam dan runcing dari kemasannya yang terbungkus rapi.
“Jangan ... jangan gergaji, aku tidak mau tewas pak,” ucap Zeta sembari melihat sekeliling lapangan. Kepala Zeta pun mengikuti arahan pak guru olahraga yang sedang berjalan lalu berjongkok menghadap ke pembatas besi dengan gergajinya.
“Pak! Tarik aku dulu, keluarkan aku dulu, bagaimana bisa Bapak membiarkan tanganku seperti ini, aku tidak ingin tangan bersihku menggantung seharian di jeruji besi ini, Pak!?” teriak Zeta dengan keras saat melihat gergaji yang menyayat pembatas besi.
“Baiklah, baiklah,” sahut guru olahraga dengan raut kesal, ia pun berjala ke tengah antara diriku dan Zeta, segera saja aku memberikannya tempat untuk dirinya menari pundak Zeta.
Kembali lagi, diriku menarik pundak guru olahraga yang bidang itu, tetapi karena anak tangga yang berada di ujung depan sepatuku, aku pun menjadi jatuh dan pelukan Bagas yang mengitari perutku dilepaskan.
Untung saja berkat topangan tangan kiri membangkitkan diriku sebelum pantatku menyentuh tanah. Namun, tanpa bantuanku dan juga Bagas, pak guru itu berhasil menarik Zeta hingga melepaskan pembatas Besi lapangan basket.
“Kenapa harus sepeti ini? Aku berat hati untuk melakukan ini,” gumam Zeta mengikutiku dengan kedua tangannya yang memegang mochi masih menggantung di lubang-lubang pembatas besi.
Pembatas besi yang lebar, menyulitkan dirinya untuk masuk kelas. Zeta pun menyampingkan badannya lalu memasuki kelas setelah diriku.
“Maaf ... maaf, permisi,” ucap Zeta saat akan memasuki jalan yang diapit bangku-bangku. Tibalah diriku dan dirinya di dekat mejaku. Cepat dan segera, aku pun mengambil uang dari kantong tas yang kusembunyikan di kolong mejaku.