#2 Kenikmatan

2390 Words
Suasana hening di dalam bangunan tua yang ditemukan Elijah dan diklaim sebagai rumahnya. Api dalam perapian pun menjadi semakin redup karena kayu bakar semakin menipis. Malam ini Elijah mendapat penolakan dari seorang gadis tercantik yang pernah ia temui. Maksud hatinya melamar Bella tidak lah buruk. Dia hanya ingin hidup bersama pendampingnya di rumah itu. Namun sekarang yang akan terjadi adalah mereka hidup bersama tanpa status pernikahan. Baiklah, menurut Elijah ini tidak apa-apa. Mayoritas wanita akan menikah dengan laki-laki yang dicintainya. Sedangkan mereka berdua baru bertemu dan belum saling mengenal. Mungkin Bella masih memerlukan waktu atau dia harus mencintai Elijah lebih dulu agar bersedia menikah dengan lelaki kekar itu. “Aku akan mencari kayu bakar,” kata Elijah, memecah keheningan malam itu. Saat ini keadaan di luar sangat gelap dan angin malam terlalu dingin jika menyentuh kulit manusia. Mendengar bahwa Elijah hendak mencari kayu bakar membuat Bella khawatir dan tiba-tiba beranjak dari sofa. Kain selimut yang menutupi tubuh polosnya seketika melorot dan ia pun memamerkan kulit putih miliknya, dari atas hingga ke bawah. Elijah membelalakkan kedua netranya. Ia sama sekali tidak meminta Bella menunjukkan tubuh telanjangnya di depan mata seperti itu. Tapi secara tak sengaja malah Bella yang melakukannya sendiri. Gadis polos mantan bidadari itu belum mengerti arti malu yang sebenarnya. “Jangan sembarangan bertingkah. Lihatlah dirimu. Tak ada sehelai kain pun yang menutupi tubuhmu.” Elijah mengambil selimut yang terjatuh di bawah kaki Bella dan melilitkan lagi di tubuh gadis itu. Bella hanya terdiam melihat apa yang dilakukan Elijah untuknya. Ia benar-benar bersyukur bahwa Elijah adalah orang yang sangat baik. Jika Elijah seperti laki-laki yang ada di pantai siang itu, pastilah Bella tak dapat mempertahankan kehormatannya lagi. Pastilah tubuhnya sudah diperkosa. “Terimakasih,” ucap Bella lirih. Elijah menatap manik mata Bella yang berada tepat di depannya. “Besok pagi akan ku belikan pakaian untukmu. Kau tidak bisa memakai selimut ini terus menerus. Tapi...” “Tapi apa?” tanya Bella penasaran. Kenapa Elijah harus menggantungkan kata-katanya? “Tapi aku tidak mengerti ukuran pakaianmu. Bisa saja pakaian yang ku beli besok akan terlihat kekecilan atau kebesaran di tubuhmu.” Ia tampak berpikir – menemukan cara untuk mengukur tubuh Bella. Bella menundukkan kepalanya, melihat tubuhnya sendiri. Bagaimana cara mengukur baju untuk dirinya sendiri? Ia terus bertanya-tanya dalam hati. “Aku tahu caranya,” kata Bella setelah beberapa detik melihat tubuhnya yang terbalut kain selimut. Elijah mengerutkan kening. “Memangnya bagaimana cara mengukur badanmu?” tanya Elijah bingung. Ia bukan penjahit, juga bukan perancang baju. Bella melepaskan selimut yang melilit tubuh polosnya. Kemudia ia melingkarkan tangan Elijah pada pinggangnya. Detak jantung Elijah tak karuan. Ia melihat tubuh Bella yang telanjang di depannya. Bahkan kedua tangannya melingkar indah di pinggang ramping Bella. “Kau bisa mengukurnya dengan tanganmu.” Bella yang begitu polos bisa menemukan cara mengukur badannya yang malah membuat Elijah memerangi nafsunya saat itu. “A, apa tidak ada cara lain?” tanya Elijah yang tidak ingin berlama-lama berada dalam satu ruangan dengan seorang gadis yang tengah telanjang bulat. “Aku pikir hanya ini caranya agar kau bisa mengetahui ukuran pakaian untukku.” Glek! Elijah berusaha menelan ludahnya sendiri meskipun sulit dilakukan. Nafsunya semakin memuncak. Tapi akalnya tidak membenarkan nafsu itu. Akalnya menolak melakukan hal tak senonoh pada gadis cantik yang sangat polos itu. Perlahan, Bella memindahkan tangan Elijah untuk mengukur lingkar badannya. Otomatis tubuh mereka pun berpelukan erat. d**a sixoack Elijah beradu dengan gunung kembar milik Bella. Kenyal dan padat, batinnya. Bella pun tiba-tiba terdiam. Ia merasakan sesuatu yang berbeda saat kedua gunungnya bersentuhan dengan d**a Elijah. Penasaran dengan rasa nikmat itu, Bella pun meminta Elijah menyentuh setiap inchi bagian tubuhnya. Kenikmatan yang belum pernah ia rasakan saat menjadi bidadari, kini ia dapat merasakannya dengan seorang manusia bernama Elijah. Mendapat izin dari si empunya, Elijah bebas melakukan apapun pada tubuh mungil Bella. Gadis itu pun mendesah merasakan nikmat di bagian-bagian tubuhnya yang sensitif. Nafsu sudah di puncak hingga ubun-ubun, Elijah tak mampu berpikir lagi. Akhirnya ia membenamkan barangnya pada lubang kenikmatan milik Bella. Darah segar pun keluar berlumuran di sepanjang senjata milik Elijah. Sesuatu yang terasa agak nyeri telah membuat Bella meringis. Tapi kesakitan itu tak ada artinya jika dibandingkan kenikmatan yang ia rasakan malam itu. Elijah telah merenggut kehormatan Bella atas izin gadis polos itu sendiri. Namun Bella sama sekali tak mengerti tentang hal itu. ..... Pagi hari terdengar suara burung berkicau bersahutan di atas salah satu pohon pinus yang tertanam beberapa tahun di halaman bangunan tua milik Elijah. Beberapa burung tersebut rupanya telah membuat sarang dan berkeluarga di sana. Sebuah pemandangan yang indah di sekitar tempat tinggal laki-laki mantan pemimpin pasukan istana itu. Tanaman bunga liar memenuhi halaman depan rumah di sebelah kanan dan kiri. Rerumputan pun mulai menampakkan ujung daunnya di musim semi itu. Matahari tampak malu memamerkan sinarnya yang begitu hangat. Di teras rumah terlihat seorang gadis tengah duduk melamun, badannya dilindungi oleh kain selimut yang cukup tebal. Kedua manik matanya yang indah menatap kosong pada rumput-rumput yang mulai menyebar di halaman rumah. Bella, gadis polos yang baru saja mengerti rasanya kenikmatan berhubungan badan itu tak sadar jika Elijah baru sampai di bangunan tua yang disebut sebagai rumah baginya. Elijah berhasil membeli satu stel pakaian wanita, lengkap dengan pakaian dalamnya. Sesampainya di depan Bella yang sedang melamun, Elijah memberikan pakaian itu pada Bella. Akan tetapi gadis yang ia belikan baju di pasar itu malah terdiam dan asyik melamun. “Apa yang kau pikirkan?” tanya Elijah ingin tahu isi pikiran gadis yang ia cintai. Bella terkaget. Ia menoleh ke arah Elijah yang mengulurkan tangannya, memberikan satu stel pakaian untuknya. Dilihatnya pakaian itu. Kemudian Bella berdiri dan mengambil tumpukan kain berwarna merah, krem dan kombinasi hitam itu. Tak lupa, ia juga menarik tangan Elijah agar mengikuti dirinya masuk ke dalam ruangan yang gelap, tempat mereka bercinta kemarin malam. Keduanya kini berdiri di depan perapian. Cahaya yang masuk ke dalam ruangan itu sedikit sekali. Hanya cahaya mentari pagi yang menerobos jendela di belakang sofa, tepatnya di depan Elijah dan Bella yang berdiri dengan saling bertatapan. “Ada apa?” tanya Elijah santai. Dia tidak mengetahui sama sekali maksud Bella menyuruhnya masuk ke dalam bangunan tua itu bersamanya. “Pakailah, lalu kita akan membuat makanan bersama.” Bella masih terdiam dan mematung di depan Elijah. “Terimakasih, Elijah. Aku akan memakai pakaian ini. Tetapi aku memerlukan bantuanmu.” Dibukanya bungkusan kain tiga warna itu kemudian ia mencobanya satu persatu, mulai pakaian dalamnya. Elijah membantu Bella menarik ikatan pada tali pengikat bra-nya. Dengan pakaian dalam itu, p******a Bella tampak lebih berisi dan lebih menggoda. Laki-laki itu puas melihat gadis tercantik di hidupnya memakai pakaian yang pantas dikenakannya. Elijah tersenyum puas melihat pakaian itu cocok sekali melekat di tubuh Bella. Gadis itu terlihat sangat cantik. “Aku ingin mengatakan satu hal padamu, Bella.” Elijah menatap Bella lekat. Ia sedang menikmati kecantikan alami seorang gadis yang ditemukannya secara tidak sengaja. Entah ini jodoh atau bukan. Yang pasti, Elijah akan menjaga Bella sebisa mungkin. Bella masih nampak sibuk melihat tubuhnya yang sudah terbalut pakaian manusia. Ia sama sekali tak menyangka bahwa dirinya bisa berpakaian layaknya manusia biasa. Bella merenung sepersekian detik. Elijah yang melihatnya malah bertanya-tanya dalam hati. Dirinya ingin mengatakan sesuatu pada si cantik itu. Namun Bella malah terlihat tengah merenung. Apa yang dipikirkan Bella? Rupanya Bella memikirkan tentang jati diri seorang mantan bidadari. Ia takut jika suatu saat Elijah mengetahui bahwa dirinya adalah bidadari, laki-laki itu akan pergi darinya. Saat ini yang diinginkan Bella adalah hidup dengan baik seperti manusia pada umumnya. Memiliki cinta dan kasih sayang. Memikirkan bahwa dirinya sebatang kara di dunia manusia, membuat Bella terduduk lesu. Tentu saja hal itu semakin membuat Elijah bertanya-tanya. “Bella, apa yang terjadi padamu? Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Elijah yang menurunkan badannya pada posisi jongkok agar dapat menyamai posisi Bella yang terduduk di atas lantai yang dingin. Mata cantik itu tampak berkaca-kaca. Seketika Bella sadar, setelah mendengar pertanyaan dari Elijah. “Ada yang ingin aku katakan padamu, Elijah.” Elijah tersenyum mendengar kata-kata Bella. “Baiklah, katakan apa yang ingin kau sampaikan padaku?” tanya Elijah dengan nada lembut. Ia memang bertubuh kekar, tangannya sudah terbiasa mengayun pedang bahkan membunuh orang. Namun perasaan Elijah sangat lembut. Ia tidak pernah bisa bersikap atau berkata kasar pada wanita. Bella menarik nafas dalam. Ia ragu untuk mengatakan kebenaran pada laki-laki yang sudah terlalu baik padanya. “Sebelum aku mengatakannya, tolong berjanjilah padaku, Elijah. Berjanjilah bahwa kau akan tetap bersamaku.” Bella memegang tangan Elijah seakan tidak ingin kehilangan laki-laki yang ada di hadapannya itu. “Baiklah, jika itu yang kau mau, aku berjanji tidak akan meninggalkanmu.” Lega hati Bella mendengar janji yang terucap dari mulut Elijah. “Sesuatu yang ada padaku. Sebenarnya aku adalah...” Bella mulai ragu lagi. “Apa?” tanya Elijah tanpa tekanan. Bella menatap Elijah kemudian ia mencium bibir Elijah dengan lembut. “Aku adalah bidadari yang dihukum menjadi manusia selamanya.” Deg! Betapa terkejutnya Elijah mendengar pengakuan Bella yang menurutnya tidak masuk akal. Mana ada bidadari di alam semesta ini? Menurutnya, keberadaan bidadari hanyalah sebuah dongeng pengantar tidur yang tidak mungkin ada di alam semesta. “Bidadari?” tanya Elijah untuk meyakinkan dirinya bahwa indera pendengarannya masih normal. Bella mengangguk pelan. “Kau percaya padaku?” Sulit untuk bisa percaya namun Elijah berusaha mempercayai Bella. Bagaimana bisa gadis itu mempercayainya jika dia tidak percaya pada Bella? “Ya, aku percaya padamu,” kata Elijah pelan meskipun dalam hatinya ia sulit mempercayai cerita itu. “Kenapa kau percaya padaku?” tanya Bella. Elijah tidak menyangka bahwa Bella akan menanyakan pertanyaan ini. Ia harus memutar otak untuk menemukan jawaban yang tepat agar Bella tidak sakit hati. “Dengarkan aku, Bella. Aku tidak tahu asal usulmu yang sebenarnya, aku juga tidak mengenalmu lebih lama. Tapi yang aku tahu, ketika aku mempercayai seseorang maka orang itu akan menjaga kepercayaanku. Jadi, aku ingin percaya padamu supaya kau juga percaya padaku.” Bella tercengang. Ternyata pemikiran Elijah sama persis dengan pemikirannya tentang kepercayaan. “Aku percaya padamu, Elijah. Kau tidak akan menyakiti siapapun, termasuk aku. Iya, kan?” “Baiklah, aku akan mencari bahan makanan. Setelah itu kita bisa membuat makanan bersama-bersama.” Elijah mengangkat tubuh kekarnya, kemudian berdiri di atas tumpuan kedua kaki jenjangnya. Tak berapa lama kemudian, ia mendengar suara hentakan kaki kuda, sayup-sayup nyaris tak terdengar. “Kau mendengar suara kuda berjalan?” tanya Elijah pada Bella yang sudah berdiri di depannya. Bella menggeleng pelan seraya mengatakan tidak. “Aku mendengarnya. Kita harus menutup pintu.” Elijah segera menutup pintu kayu yang sudah usang dan mulai rapuh. Dia berdiri di balik pintu dan mengintip dari celah kayu tua itu. Beberapa menit kemudian, terdengar suara rombongan berkuda yang melewati rumahnya. Bella pun dapat mendengar suara hentakan kaki kuda yang beradu di atas tanah. Ia mengintip dari balik jendela yang sudah ditutup sebelumnya. “Siapa mereka?” Bella melihat banyak kuda ditunggangi oleh beberapa orang berpakaian bagus dan gemerlap seperti dari kerajaan – berada di deretan paling depan. Di belakangnya ada beberapa kuda yang ditunggangi oleh dua orang, para wanita di depan dan di belakangnya didampingi oleh laki-laki. Wanita-wanita itu berparas cantik dan bertubuh seksi. Bahkan ada dua orang dari wanita itu hanya mengenakan sehelai kain sehingga tubuhnya kelihatan jelas dari kejauhan. Elijah menggeleng tak percaya dengan apa yang tengah dilihatnya. Rombongan kerajaan yang baru saja menjemput paksa wanita-wanita cantik hanya untuk dijadikan b***k seks di istana. “Mereka... Siapa?” tanya Bella yang mulai merinding melihat rombongan itu. Ia tidak bisa membayangkan jika dirinya menjadi salah satu dari para wanita tersebut. “Mereka adalah keluarga kerajaan yang menjemput paksa para wanita cantik dari berbagai wilayah. Wanita-wanita itu dipaksa untuk melayani nafsu b***t keluarga kerajaan. Tubuhnya dinikmati banyak laki-laki hidung belang.” Bella meremas pakaiannya yang menjuntai ke bawah. Miris sekali nasib para wanita itu. “Apakah tidak ada yang bisa menyelamatkan mereka?” Elijah menoleh ke arah Bella sembari menggeleng pelan. “Elijah, bukankah kau adalah mantan pemimpin pasukan istana? Apakah kau tidak bisa menyelamatkan mereka?” Sebenarnya Bella ingin sekali menyelamatkan para wanita itu. Menjadi b***k seks adalah nasib paling buruk di dunia manusia, menurutnya. “Bagaimana aku yang seorang diri bisa melawan begitu banyak pasukan? Ditambah lagi para bangsawan itu.” “Bagaimana jika para wanita itu hamil karena sering disetubuhi?” “Mereka akan diasingkan sampai melahirkan bayi. Kemudian bayi itu dijual dan wanita itu akan dikembalikan ke istana untuk melakukan hubungan lagi.” Bella merinding mendengar penjelasan Elijah. Raja di Alexandria ternyata sejahat itu pada rakyatnya. “Aku takut mereka akan menemukanmu, Bella. Lambat laun, pihak kerajaan pasti mengetahui keberadaanmu. Apalagi kau tidak memiliki identitas sama sekali.” .... Pemandangan di istana kerajaan Alexandria begitu indah. Berbagai macam bunga menghiasi taman-taman kerajaan dan di bawahnya terdapat kolam-kolam ikan. Tiang-tiang berukuran besar menyangga atap-atap teras dan anak tangga yang tidak sedikit berada di bagian depan istana. Siang ini akan ada kejadian mengerikan di istana yang begitu indah. Para wanita yang menjadi korban kekejaman raja Alexandria akan dilucuti pakaiannya dan disiram air s**u bersama-sama di halaman istana. Suatu acara yang aneh dan tidak lazim. Banyak yang tak tega melihat wanita-wanita itu dipaksa menjadi b***k seks keluarga kerajaan. Namun tak ada yang berani menentang perintah raja. Beberapa orang wanita diseret ke halaman dengan paksa. Tubuh mereka seksi dan berkulit putih seputih s**u. 12 orang diikat pada tiang kemudian dilucuti semua pakaian yang tertanggal di tubuh seksi mereka. Tak sedikit orang yang melihat tubuh seksi tanpa sehelai pakaian itu bisa menahan nafsunya. Sebelum prosesi pemandian s**u dimulai, pasalnya sang raja mengizinkan siapapun menyentuh tubuh para wanita itu. Entah mereka akan menyentuh p******a atau yang lainnya. Hal itu membuat orang-orang yang melihatnya semakin bersemangat. Mereka bisa dengan leluasa menikmati tubuh seksi wanita-wanita cantik yang terikat di tiang. Semuanya dilakukan di depan umum. .... Siang ini Bella tampak murung. Pikirannya terganggu dari ketenangan. Ia masih memikirkan tentang wanita yang dijadikan b***k seks oleh orang-orang dari kerajaan. Elijah kembali dari hutan dan membawa dua bungkusan, buah dan bahan makanan untuk dimasak. Dari halaman rumah, ia dapat melihat raut wajah Bella yang berbeda dari biasanya. “Ada apa denganmu?” tanya Elijah ketika kaki kanannya menginjak teras rumah tua miliknya. Bella masih tak menjawab. Tapi tiba-tiba ia melontarkan pertanyaan pada Elijah. “Apa kita bisa menyelamatkan mereka? Aku akan meminta bantuan dari dunia bidadari.” Deg! Elijah mematung tak bergeming. Menolong wanita-wanita yang dijadikan b***k seks bukanlah semudah membalikkan telapak tangan. .... Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD