bc

Fairy Diaries

book_age18+
41
FOLLOW
1K
READ
possessive
sex
tragedy
sweet
addiction
wife
husband
like
intro-logo
Blurb

WARNING! Mengandung konten dewasa (18+). Bijaklah memilih bacaan!

Bella Scanse, seorang bidadari yang diusir dari dunianya karena tubuhnya disentuh oleh manusia biasa. Bukan murni kesalahannya, tapi ia harus menerima hukuman menjalani sisa hidupnya sebagai seorang manusia. Takdir mempertemukan dirinya dengan seorang pria gagah dan bijaksana, Elijah. Seorang mantan perwira perang dan komandan prajurit kerajaan Alexandra.

Elijah jatuh cinta pada Bella pada pandangan pertama. Bahkan mereka berdua hidup bersama dan melakukan hubungan untuk menuruti nafsu, tanpa rasa canggung.

Keberadaan Bella nan cantik jelita diketahui oleh Raja Alexandria yang merupakan seorang raja pengagum wanita cantik. Banyak wanita cantik ia tiduri dan dibuatnya hamil.

Perjuangan Elijah melawan sang Raja untuk menyelamatkan Bella, membuat gadis itu luluh hati dan jatuh cinta padanya. Dua sejoli itu akhirnya harus menghadapi kemarahan Raja yang ingin membunuh Elijah dan meniduri Bella.

Bella meminta Elijah melakukan hubungan intim dengannya di hadapan Raja. Dengan begitu, Raja pasti menolak untuk bersetubuh dengannya karena sudah ternoda. Awalnya Elijah menolak, namun akhirnya ia setuju. Hal itu pun mereka lakukan di dalam istana dengan cara menyusup. Keduanya bersetubuh di dalam kamar mandi sang Raja di waktu raja hendak mandi. Raja yang melihat adegan itu langsung murka dan menangkap keduanya.

Bella berhasil melarikan diri. Namun Elijah tertangkap pasukan Raja dan dijebloskan ke penjara. Gadis lugu yang cantik itu akhirnya hidup seorang diri di dalam hutan belantara.

Suatu hari Bella bertemu dengan kakaknya. Ia meminta bantuan Marry untuk melepaskan Elijah dari penjara. Hal itu bukan sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Akhirnya Marry meminta Peri Bunga untuk membantu mereka. Usaha mereka pun berhasil. Meski Marry harus menikah dengan sang Raja karena negosiasi diantara mereka berdua.

Bella tidak terima. Namun Marry rela melakukannya demi adiknya. Ia meminta Elijah membawa Marry jauh dari kerajaan itu. Elijah pun berjanji akan menjaga Bella

chap-preview
Free preview
#1 Hukuman
Matahari hari ini bersinar cukup cerah, setidaknya tak ada kata ‘mendung’ yang menghiasi langit siang ini. Suara deru ombak terdengar beradu dan perlahan menghilang. Alunan ombak menabrak batu karang yang berdiri tegak di tengah lautan, sebagian lagi menghiasi bibir pantai. Ombak mengalun dengan mesra, membuat pasir di pantai berdesir dan berbisik seolah mengerti kesedihan yang dialami seorang bidadari yang kini tengah duduk termenung di pinggiran pantai. Pakaiannya yang melambai-lambai terkena terpaan angin siang itu menarik netra seorang pria untuk datang mendekatinya. Bidadari yang masih terhanyut dalam lamunan itu sama sekali tak menyadari langkah tanpa suara dari sang pria yang mencoba mendekatinya. Dengan hanya dibalut beberapa helai kain tipis, tubuh langsing bidadari itu terlihat jelas lekuk-lekuknya nan indah dan membangkitkan nafsu setiap pria yang melihatnya. Tubuh polos yang dibalut kain tipis berwarna putih itu seakan memanggil sang pria untuk segera mendekapnya. Pandangan bidadari yang kecantikannya melebihi kecantikan manusia itu tetap tertuju pada langit biru yang terlihat menyatu dengan hamparan air laut dengan hiasan gelombang yang terus mengalun. Entah dia menyadari kedatangan pria yang notabennya adalah manusia biasa itu atau tidak. Dengan langkah pasti dan nafsu yang memuncak ketika pria itu melihat tubuh polos bidadari yang terlihat jelas dari kain transparan yang menutupi tubuhnya, pikiran kotor dan jahat bercampur dalam otak pria itu. Ia melihat gundukan di d**a bidadari itu yang menantangnya untuk dinikmati. Ketika jarak pria itu tak sampai setengah meter dari sang bidadari, tangan kekar yang nakal tiba-tiba menyentuh puncak gundukan yang dilihatnya. Sontak sang bidadari kaget dan menoleh ke arahnya. Seorang manusia telah berani menyentuh bagian tubuhnya yang sensitif. Bidadari itu tampak ketakutan. Terlihat jelas dari kerutan di keninganya yang membuat wajah cantiknya terlihat berbeda dan mata yang menyipit dengan gelengan kepala pelan. Ia memberi isyarat pada manusia penuh nafsu itu untuk tak menyentuhnya lagi. Bidadari cantik itu berusaha menjauh dari pria yang ingin menikmati tubuhnya. Ia melangkah menjauh secara perlahan, langkah berikutnya, ia gunakan untuk lari. Namun pria yang sudah dipenuhi nafsu di otaknya itu malah menarik sehelai kain yang menutupi tubuh bidadari cantik di depannya. Satu helai kainnya terlepas dari tubuh berkulit putih dan bersih seperti mutiara yang bersinar di dalam lautan. Kini tampak jelaslah separuh bagian tubuh polos seksi itu di mata pria yang ingin menyetubuhinya. Sang pria mengejar bidadari itu dengan kecepatan langkah yang lebih cepat. Tentu saja dengan tenaganya itu, ia bisa meraih tubuh sang bidadari dengan cepat. Pria yang baru saja menarik pinggang bidadari yang hanya dibalut sehelai kain tipis itu terjatuh bersama wanita yang ingin dilumat habis tubuhnya. “Sekarang mau pergi ke mana, Cantik?” Dengan posisi menindih tubuh sang bidadari, pria itu siap menikmati tubuh polos nan putih dan halus. Tak ada manusia yang memiliki kulit sebagus ini, pikirnya. Perlahan tapi pasti, pria itu berhasil mencium tiap senti leher jenjang dari sang bidadari dan membuat si cantik itu merasakan sesuatu yang luar biasa. Sebuah kenikmatan yang belum pernah ia rasakan. Tubuh bidadari itu melemas tak bertenaga. Apalagi tubuhnya ditindih oleh tubuh kekar sang pria yang kini siap melahap gundukan di dadanya. Duaaaarrr! Sesuatu meledak di lautan, tak jauh dari tempat mereka b******u. Ketika hendak menuruti nafsunya yang memerintahkan mulutnya menikmati gundukan penuk kenikmatan itu, sang pria dikagetkan oleh ledakan dari lautan yang baru saja terjadi. Dilihatnya ke arah hamparan air berwarna biru di sampingnya, tak ada apa-apa. Akan tetapi, tiba-tiba tubuh yang ingin sekali ia nikmati itu sudah tidak ada. Lenyap bersama bunyi ledakan tadi. Ia kaget, penasaran dengan apa yang baru saja terjadi. Dicarinya wanita cantik yang sudah berhasil ia dapatkan tadi. Ia mencari ke sana kemari namun hasilnya nihil. Sosok wanita sangat cantik itu tidak ada di manapun. Dengan perasaan kesal dan menyesal, pria itu mengambil segenggam pasir dan melemparkannya ke arah lautan. “Berengsek!” teriaknya kesal. Jika tidak ada ledakan tadi, pasti dirinya telah menikmati tubuh seksi wanita cantik itu. Pikirannya sudah melayang, ingin membenamkan barang miliknya ke dalam bagian sensitif wanita itu. Syukur kalau wanita itu bisa mengandung anaknya, pikirnya. Pria itu adalah pria pemabuk yang baru saja bertengkar dengan istrinya karena mereka tak kunjung dikaruniai keturunan. Sebagai pelampiasan, akhirnya pria itu mengejar sang bidadari yang tengah merenungi nasibnya dii pinggiran pantai. Tentu saja pria itu segera mengejarnya. ..... Dunia bidadari dihebohkan oleh kejadian yang menimpa salah satu dari penghuninya, tidak lain adalah Bella. Bella, seorang bidadari yang memiliki paras tercantik di dunianya, telah bernasib sial hari ini. Tak ada yang mengira bahwa kejadian naas itu akan menimpa si cantik dari dunia bidadari yang bisa saja membuat dirinya dihukum berat oleh sang Ratu. Terduduk lemas di depan singgasana ratu, Bella menundukkan kepalanya. Ia berusaha melupakan kejadian pahit yang memalukan tadi siang. Peristiwa yang membuat semua penduduk dunia bidadari merasa malu dan marah padanya, terlebih sang Ratu. Bella yang nampak sedih dengan bulir airmata yang selalu menetes di kulit wajahnya yang halus, menanti kedatangan Ratu Bidadari untuk memberikan hukuman padanya. Seolah siap menerima hukuman apapun, bidadari tercantik itu menguatkan mentalnya dan berusaha memamerkan wajah yang baik-baik saja. Sang Ratu Bidadari telah menginjakkan kakinya yang terlihat seperti kaki peri, tak memijak lantai istana dan setengah terbang. Pakaian kebesarannya melambai ke belakang, mahkota mutiaranya menghiasi surai coklat panjang, dan tongkat identitasnya mengeluarkan gemerincing seperti lonceng yang sengaja diadu agar menghasilkan suara berisik. Suara dari tongkat itu seirama dengan langkah sang Ratu yang berjalan menuju singgasana. Tanpa melihat ada Bella yang terduduk lemah tak bersaya di lantai, ratu itu terus melanjutkan langkahnya hingga sampai di atas singgasana yang terbuat dari kristal bening berkilau yang bisa menyilaukan mata yang memandang. Setelah berdiri di atas singgasana itu, Ratu Bidadari memandang jauh ke depan, melihat rakyatnya yang berkumpul dan menundukkan kepala sebagai tanda penghormatan untuknya. “Cukup,” ucapnya dengan suara lantang. Segera, rakyatnya menatap ratu mereka penuh dengan tanda tanya. Pertanyaan mereka sama, yaitu hukuman apa yang akan diberikan pada Bella? “Berdirilah,” ucapnya sengan suara lembut dan merdu. Sejurus kemudian ratu itu melihat Bella yang masih menundukkan kepalanya menatap airmata yang jatuh ke lantai istana yang bening seperti kristal. Diam sejenak. Suasana pun hening, tanpa suara apapun. Di sisi kanan ruangan itu ada sesosok bidadari yang mirip dengan Bella. Ya, dia adalah Clara, kakak dari bidadari tercantik itu. Clara menatap adiknya sedih. Kekhawatiran yang memuncak – membuatnya tak bisa menyunggingkan senyum walau hanya satu senti. Dia tak bosan melihat sang adik yang sebentar lagi dihukum oleh ratu. Entah hukuman apa yang akan ia terima. Dirinya dan Bella harus siap menerima semua akibatnya. “Aku telah mendapatkan laporan dari banyak saksi bahwa ada bidadari yang telah disentuh oleh manusia.” Deg! Kata-kata sang Ratu membuat Bella teringat kejadian memalukan itu. Di mana dirinya hampir diperkosa oleh seorang manusia di pantai. Bella semakin merasa sedih dan menyesal. Sesedihnya seorang bidadari, tidak boleh sampai ke tempat manusia. Bahkan sampai disentuh oleh manusia. “Bella, ada yang ingin kau katakan padaku?” tanya sang Ratu pada Bella yang hanya terdiam membisu. Bella merasa malu dan bersalah. Ia tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun pada sang Ratu, apalagi di depan rakyat dunia bidadari. “Clara, adikmu adalah bidadari teecantik di dunia kita. Menurutmu, hukuman apa yang pantas ia dapatkan?” Kali ini Ratu Bidadari bertanya pada Clara yang juga terdiam menatap adiknya yang malang. Clara tercengang. Kedua manik matanya berkaca-kaca. Jika dibolehkan, ia ingin adiknya dibebaskan dari hukuman apapun. “Hamba tidak tahu, Ratu. Ratu lah yang berhak menentukan hukuman bagi adik saya.” Sang Ratu tersenyum, senang, ketika melihat seorang kakak yang tidak membela adiknya yang bersalah. “Lalu, apa kau tahu kesalahanmu, Bella?” Bella mendongakkan kepalanya agar bisa melihat Ratunya nan cantik. Meskipun ratu terkenal sebagai Ratu Tercantik di jagad raya, kecantikan Bella tetap melebihi kecantikan ratunya. “H, hamba sungguh merasa bersalah, Yang Mulia. Dengan tak sengaja, hamba membuat seorang manusia melihat keberadaan hamba di pantai itu hingga dia berbuat tak senonoh pada hamba.” Bella benar-benar menyesal. “Lihatlah, ciuman pria itu pada lehermu bahkan bisa meninggalkan bekas merah di beberapa tempat.” Perkataan sang Ratu sontak membuat semua rakyat yang mendengarnya tercengang. Mereka saling pandang dan bertanya-tanya, apa sebenarnya yang sudah terjadi pada Bella? Clara mengepalkan tangannya, kesal karena sang Ratu telah membuat adiknya semakin malu. Ia ingin memprotes, tapi hal itu bisa berakibat fatal. Sang adik bisa saja dihukum lebih berat daripada rencana hukuman yang diniatkan sang ratu. Bella berusaha untuk tak terlalu memikirkan kata-kata ratunya. Ia harus kuat, harus sabar, dan siap menerima hukuman apapun. Meskipun kejadian itu bukanlah murni kesalahannya, pada faktanya hal itu bisa membuat dirinya diusir dari dunia bidadari. “Sesuai hukum yang sudah berlaku berabad-abad yang lalu bahwasanya jika ada bidadari dari dunia kita disentuh sedikit pun oleh manusia maka dia harus dihukum...” Ratu cantik yang menyebalkan itu menggantung kata-katanya, membuat rakyatnya semakin bertanya-tanya. “Bella harus diusir dari dunia bidadari. Dia akan hidup di dunia manusia selamanya.” Semakin lemas, Bella seakan tak mampu lagi menopang tubuhnya hanya untuk duduk bersimpuh di hadapan ratu. Wanita penguasa dunia bidadari itu menjatuhkan hukuman yang tak terduga padanya. Dunia manusia? Manusia identik dengan kekejaman dan keserakahan. Kejadian siang ini telah membuat Bella tak ingin lagi bertemu dengan manusia yang menjijikkan seperti pria itu. Tidak lagi. “Yang Mulia, tidak kah ada hukuman lain yang sepadan dengan hukuman itu? Manusia benar-benar telah merusak segalanya. Hamba mohon, pertimbangkan lagi hukuman itu, Yang Mulia,” pinta Bella dengan memohon. Wajah cantik itu tampak memelas, pucat, dan terlihat lesu. Ratu bidadari menatap Bella. “Meskipun kejadian itu bukan kesalahanmu, tetapi kau telah membiarkan seorang manusia menyentuhmu. Bahkan sampai mencium lehermu seperti itu, Bella. Itu sangat memalukan!” Bella merasa sangat malu. Sekali lagi, ia dipermalukan di depan umum oleh ratunya sendiri. “Hamba mohon, cukup, Yang Mulia. Anda seorang yang bijaksana. Pantaskah seorang ratu mempermalukan rakyatnya sendiri di depan umum berkali-kali? Di mana belas kasihanmu? Di mana kemurahan hatimu?” Secara tidak sadar, refleks, Clara mengatakan kalimat panjang itu pada ratunya. Terang saja sang Ratu marah dan sakit hati atas perkataan Clara. “Baiklah, kalau begitu hukuman Bella adalah dibuang ke pantai Alexandria tanpa satu helai busana. Tapi aku akan memberikannya sebuah kain yang cukup tebal untuk melindungi tubuhnya dari angin di dunia manusia. Karena saat ini, di sana tengah musim semi.” Keputusan Ratu membuat kakak beradik berparas cantik itu terkulai lemas. Ratu sudah memutuskan hukuman yang pantas untuk Bella. Mengecewakan, menyedihkan, dan tentunya ini tidak adil. ..... Pada hari itu juga, Ratu berniat membuang Bella di pantai Kerajaan Alexandria. Sebuah kerajaan terindah di dunia manusia. Raja dari tempat itu memiliki cara pandang tersendiri terhadap segala sesuatu yang dihadapinya. Namun sayangnya, sang raja dari kerajaan Alexandria itu merupakan laki-laki yang mudah terpikat pada wanita cantik. Sebelum berpindah ke pantai, Ratu Bidadari memberikan satu helai selimut yang cukup tebal. Ia menyuruh Bella menutupi tubuhnya dengan kain itu. Bella pun menurut. Setelahnya, sang ratu membuka semua pakaian Bella dengan satu jentikan jari tangannya. Bella berdiri tanpa busana dan hanya diselimuti sehelai selimut berwarna coklat tua. “Antarkan adikmu ke pantai Alexandria, Clara!” perintahnya pada Clara yang masih nampak sedih dan mata yang berkaca-kaca. Bidadari cantik itu terbungkam dengan tindakan ratunya. Sungguh, ia tidak menyangka bahwa adiknya diperlakukan secara tidak adil di istana mereka. Bella tersenyum pada Clara. Namun kakaknya tak membalas senyuman tulus itu. “Aku baik-baik saja. Semua akan selalu baik-baik saja. Percayalah padaku, aku bisa menjaga diriku sendiri. Semoga semua manusia tidak sekeji pria itu.” Bella berusaha membuat Clara untuk tak mengkhawatirkannya. Ia tidak ingin menjadi beban pikiran untuk kakaknya. “Kakak bisa melihatku kapan pun. Tapi aku tidak akan bisa melihat keberadaan kakak. Aku berjanji padamu, aku akan baik-baik saja di sana.” Bella tidak ingin melepas tangan kakaknya. Ia tetap menggenggam jari jemari kurus kakaknya dan memperlihatkan kesungguhan hatinya saat mengatakan janji itu. Clara tak kuasa menahan airmata yang terus menerus jatuh membasahi wajah cantiknya. Ia tak sanggup lagi berkata meskipun hanya sepatah kata untuk adiknya. Kesedihannya terlalu dalam. “Aku akan berdoa untuk kakak, selalu dan selamanya. Aku mohon, jangan lupakan adikmu.” Sekuat hati Bella menahan bulir airmata agar tak meluap dari bendungan mata indahnya. Tidak, ia tidak boleh menangis. Hal itu bisa membuat kakaknya semakin sedih. “Pergilah! Aku berani berjalan menemukan orang baik seorang diri. Semoga di sana ada orang yang mau menampungku. Kakak boleh kembali.” Kesedihan yang menguasai hati kedua kakak beradik itu tak mampu menghentikan Ratu Bidadari untuk tak menjatuhkan hukuman berat pada Bella. Sedangkan Bella, yang tak merasa bersalah penuh atas kejadian siang itu, hanya bisa sabar dan ikhlas menerima takdirnya. ..... Sepeninggal Clara, Bella masih terdiam dan berdiri di atas dua kaki indahnya. Gadis itu telah menjadi seorang manusia seutuhnya. Semua kelebihan dan kekurangan manusia secara umum, kini telah dimilikinya. Pandangan gadis itu jauh memandang lautan yang diterjang ombak ganas malam itu. Angin musim semi bertiup cukup kencang hingga mampu membuat kain selimut penutup tubuh Bella sedikit melambai. Bella masih tak ingin bergerak sedikitpun. Kenangan bersama sang kakak membuatnya tak bosan berada di tempat itu dalam waktu lama. Ia bersyukur masih memiliki ingatan tentang keluarganya dari dunia bidadari. Ia masih bisa mengingat kakak yang selalu baik padanya. “Maafkan aku. Sungguh, maafkan aku, Kak,” ucapnya lirih diiringi air bening hangat keluar dari dua sudut-sudut matanya. Brakk! Tiba-tiba suara aneh terdengar tak jauh dari tempat Bella berdiri. Gadis itu ingin lari dan bersembunyi. Namun di pantai Alexandria yang luas itu jarang ada pohon kelapa atau tanaman lainnya. Suara itu rupanya mampu membuat Bella bergerak, berpindah dari tempatnya semula. Ia masih trauma dengan kejadian siang itu. Bella tidak ingin seseorang menyentuh putingnya seperti tadi. Malam itu merupakan malam bulan purnama. Di mana sang bulan tersenyum manis di tengah gelapnya malam. Tak ada suara bising atau suara manusia. Hanya suara debur ombak yang berlomba-lomba untuk segera sampai di pesisir. Suara yang lebih keras terdengar ketika ombak besar menghantam batu karang di pinggiran pantai. Sosok Bella yang masih memakai selimut untuk menutupi tubuh polosnya terlihat jelas di bawah sinar terang rembulan. Suasana yang sepi dengan penerangan dari sang rembulan membuat Bella takut. Bagaimana jika ada pria menjijikkan seperti tadi? Bagaimana jika ada penjahat yang ingin membunuhnya? Bagaimana jika ada orang yang ingin berbuat jahat padanya? Ia sama sekali tidak mengenal dunia manusia. Mendengar suara kaki diseret-seret, Bella memberanikan diri melihat dari kejauhan. Mungkin orang itu bisa menolongnya. Tapi mungkin juga orang itu bisa berbuat jahat padanya. Dengan hati-hati, Bella berjalan mendekati sosok pria yang sedang mabuk dan nerocos tidak karuan. Bella tidak seberani seorang pahlawan yang melawan musuhnya. Saat ini dia hanya manusia biasa. Mungkin sekitar sepuluh menit Bella mengamati pria berpakaian hitam dan sedang menikmati minuman yang memabukkan itu. Wajah orang itu terlihat ramah meskipun berada di bawah pengaruh alkohol. Badannya kekar dan postur tubuhnya tinggi. Dia juga tengah membawa pedang. Bella mengernyitkan keningnya. Ia merasa pernah melihat pakaian yang sama dengan yang dikenakan pria mabuk itu. Ah, iya. Pakaian itu adalah seragam pengawal kerajaan Alexandria. Bella pernah melihatnya ketika ia ditugaskan untuk membantu sebagian rakyat Alexandria dari kekejaman rajanya. Meskipun ia tahu bahwa pria itu merupakan pengawal kerajaan, tak membuat Bella langsung mendekatinya. Ia masih menatap curiga pada pria itu. “Ka, kamu siapa?” Deg! Ternyata pria itu bisa melihat keberadaan Bella yang hanya berjarak sekitar sepuluh meter. Bella terkejut. Ia nampak gusar dan takut jika terjadi sesuatu yang buruk padanya malam itu. “Aku... Maaf, Tuan. Aku terdampar di pantai ini. Kapalku tenggelam entah di mana.” Bella terpaksa berbohonh untuk menyelamatkan dirinya sendiri. “Oh... Duduklah di sini.” Pria itu membersihkan tempat untum Bella, agar gadis itu mau duduk di sampingnya. Bella masih takut. Tetapi dirinya membutuhkan komunikasi dengan manusia lain dan mendapatkan tempat berteduh. “Tidak usah takut. Aku hanya mabuk sedikit. Serius. Aku bukan orang jahat.” Dengan perasaan kacau, antara takut dan butuh, Bella memberanikan diri mendekati pria berpakaian serba hitam itu. Tak lama kemudian, ia duduk di samping pria yang masih mabuk karena alkoholnya. Pria itu menatap aneh pada Bella. Mengapa seorang gadis cantik bisa terdampar? Tanpa sengaja, pria itu melihat belahan d**a Bella yang membuat kedua matanya terjaga dan terbelalak. “Kamu... Ingin minum?” Botol alkoholnya ditawarkan langsung pada Bella. Awalnya gadis itu enggan menerima botol yang berisi minuman beralkohol. Namun karena tenggorokannya sangat kering, akhirnya Bella menerimanya dan meneguk beberapa hingga isinya nyaris habis. Mendadak setelah minum air itu, kepala Bella pusing berat. Kedua netranya tertutup karena kepalanya mendadak merasakan sangat pusing. Bella pingsan. Ia menjatuhkan tubuhnya di pangkuan pria berbadan kekar itu. “Hei, ada apa denganmu? Namamu siapa? Kenapa pingsan di sini?” Pria bernama Elijah itu menepuk pipi mulus milik Bella. “Baiklah, mari kita pergi ke pondokku.” Ketika hendak mengangkat tubuh mungil Bella, tiba-tiba kain yang menutupinya terjatuh sehingga tubuh polos Bella tanpa busana terpampang jelas di depan mata Elijah. Elijah begitu kagum melihat tubuh Bella yang seksi, kulit sepatih s**u itu. Dua gunung kembar milik Bella menantang untuk dinikmati. Elijah menelan ludahnya melihat pemandangan luar biasa itu. Seorang pria dan seorang wanita berada di lokasi sepi pinggiran pantai pada sebuah malam. Sebagai pria normal yang tidak memiliki kelainan pada sesama itu, Elijah langsung memainkan dua gunung kembar Bella yang masih belum sadarkan diri. Dengan leluasa, Elijah melahap bukit itu secara bergantian kanan dan kiri. Kenikmatan yang luar biasa menurutnya. Ia bahkan belum pernah melakukan hal itu pada wanita lain sebelumnya. ..... Sebuah ruangan dikelilingi oleh dinding batu dan jendela dari kayu pohon oak, di dalamnya terdapat sebuah perapian yang tengah menyala – mengeluarkan api sedang dan menghangatkan sebagian ruangan itu. Sebuah sofa tua diletakkan tepat di depan perapian, membelakangi jendela kayu yang tertutup rapat agar angin musim semi tak membuat penghuninya kedinginan. Suasana sunyi di dalam ruangan itu. Cahaya pun hanya berasal dari api di perapian tua yang tak mudah padam. Di depan perapian miliknya, Elijah berusaha menghangatkan diri. Sesekali ia melirik ke arah Bella yang tertidur pulas di atas sofa dengan selimut menutupi tubuhnya tanpa celah. Gadis itu terlihat kelelahan, bahkan kini nampak jelas bahwa di bawah kedua bola matanya terdapat tanda hitam seperti mata panda. Menandakan bahwa gadis yang berparas sangat cantik itu sedang kelelahan. Elijah berusaha membuat api di perapian tetap menyala agar mereka berdua merasa hangat malam itu. Pergantian musim dari musim dingin menuju musim semi membuat kulit manusia terlihat kering karena dingin yang masih menguasai alam. Menanti Bella yang tak kunjung bangun dari tidurnya, Elijah merasa bosan. Pria itu sudah tak lagi berada di bawah pengaruh minuman beralkohol dan sadar terhadap yang dia lakukan saat ini. Tiga potong roti masih tersisa di atas meja dapur sederhana miliknya. Tidak terlalu besar, meja itu cukup untuk menampung empat piring dan beberapa gelas. Seorang mantan prajurit kerajaan tak mungkin memiliki rumah mewah seperti istana raja. Elijah hanya mampu mempunyai rumah kecil dengan perabot-perabot yang sudah tua dan usang. Sebuah keberuntungan yang sulit didapat saat ia menemukan rumah kosong dan tak berpenghuni itu beberapa tahun yang lalu. Entah milik siapa, bukan itu yang dia pikirkan. Jika si empunya datang dan mengusirnya maka dia akan angkat kaki dari sana dengan senang hati. Setelah mengoleskan selai nanas pada roti itu, Elijah membawanya ke dekat perapian. Di sana ada sebuah meja kecil, tepat di samping sofa yang digunakan oleh Bella untuk melepas penat. Elijah meletakkan sepiring roti dan dua gelas berisi air putih. Hanya itu yang dia punya dan mampu dia suguhkan pada tamu tercantiknya. Elijah duduk di depan sofa, menatap lekat wajah cantik Bella yang terpampang jelas di depan matanya. Cantik, batinnya. Ia tak bosan melihat setiap senti wajah cantik itu. Baru kali ini dia dapat menyentuh wanita secantik itu. “Wajahmu seperti bidadari, sangat cantik. Bahkan ratu pun kalah dengan kecantikanmu,” lirih Elijah yang masih betah mengagumi kecantikan Bella. Bella tak bergeming. Ia masih menikmati mimpi indahnya, sedangkan Elijah menunggu gadis itu terbangun. Duduk bersandar pada sofa di belakangnya, Elijah mencoba menutup kedua netranya. Sesuatu kembali teringat olehnya. Ia mengingat semua perang yang sudah dimenangkannya, semua misi kerajaan yang telah dicapainya, hanya karena satu hal sepele, ia dikeluarkan dari istana dan kini tak menjadi apapun. Tak ada pekerjaan yang bisa menghasilkan uang lagi. Kini ia telah menjadi pengangguran dengan sebilah pedang di tangan. Elijah berpikir untuk melanjutkan hidup di hutan. Bersatu kembali dengan alam, tanpa ikut campur lagi dengan urusan istana. Ya, hidup sebagai rakyat biasa mungkin lebih nyaman. Sesuatu di belakangnya bergerak, membuat lamunannya buyar seketika. Ada yang bergerak, lebih tepatnya Bella yang semula masih terlelap dalam tidurnya tiba-tiba bangun dan berusaha duduk di atas sofa itu. Elijah menoleh ke arah belakang, tepat di belakangnya kini gadis cantik itu membuka matanya lebar-lebar. Bella masih mengumpulkan semua nyawa yang bercecer, yang membuatnya tak sadar. Ia melihat sekelilingnya. Cahaya redup alias remang-remang dari perapian tua, sebuah meja yang di atasnya ada roti dan air minum, jendela tua yang tertutup rapat, atap yang terlihat sangat gelap, hanya itu yang dapat ia lihat saat ini. “Di mana ini?” Satu pertanyaan berhasil lolos dari bibir mungil semerah delima itu. “Kau ada di rumahku. Ya, memang tidak bagus dan luas. Tapi ini cukup untuk berteduh.” Elijah merendah. “Kau lapar?” tanyanya pada Bella yang masih nampak pucat. Bella mengangguk pelan. “Lihatlah roti itu! Habiskan saja jika kau merasa sangat lapar.” Elijah menunjuk ke arah meja kecil di samping sofa. “Lalu bagaimana denganmu. Kau lapar juga, kan?” tanya Bella balik. Elijah hanya tersenyum. “Makanlah dulu. Jika tersisa maka aku yang akan memakannya.” Jujur, Bella merasa perutnya melilit-lilit sangat lapar. Ia meraih sepiring roti di atas meja kecil itu dan melahapnya dengan rakus. Melihat hal itu, Elijah berpikir bahwa Bella tidak makan selama berhari-hari. Tak ingin suasana canggung menyelimuti mereka berdua, Elijah memutuskan untuk membuka pembicaraan. “Siapa namamu?” Seketika Bella menghentikan aktivitasnya dengan roti di tangannya. “Bella. Panggil saja aku Bella.” “Apakah kau sudah menikah?” tanya Elijah lagi. Menikah? Bahkan Bella tidak pernah berpikir bahwa dia akan menikah. “Tidak. Maksudku, aku belum menikah.” Jika memang Bella ditakdirkan untuknya, Elijah ingin menikahi gadis itu secepatnya. Ia ingin hidup bersama seorang pendamping yang akan menemaninya sampai tua. “Jika menikah denganku, apakah kau bersedia?” Tanpa berpikir panjang, tanpa mengenal Bella lebih lama, tanpa tahu asal gadis itu, tiba-tiba Elijah melamar Bella. Tanpa disadari Bella, Elijah sudah pernah menikmati sebagian tubuhnya. Hal itulah yang membuat Elijah ingin menikahi Bella. ..... Bersambung

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Mantan Sugar Baby

read
8.8K
bc

Hati Yang Tersakiti

read
9.5K
bc

Pawang Cinta CEO Playboy

read
3.6K
bc

Menikah, Karena Tak Sengaja Hamil

read
1.5K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
47.2K
bc

The CEO's Little Wife

read
686.1K
bc

Pak Bos Duda Jadi Jodohku

read
34.3K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook