Adrian menghela nafas panjangnya. Setelah meminum sebotol air mineral, saat ini pikirannya sudah mulai waras. Pria itu lalu membuang botol air yang sudah kosong ke tong sampah lalu beranjak kembali ke dalam mobilnya. Pria itu duduk di belakang, menatap Elysa yang sudah tertidur pulas. Matanya menelusuri kaki jenjang Elysa yang telanjang hingga ke pahanya. Lalu kaos wanita itu yang tersingkap hingga ke leher.
Adrian mendesah berat. Dengan sangat tidak rela pria itu harus merapikan kaos hitam milik Elysa yang berantakan karena ulahnya tadi. Lalu tak lupa memakaikan celana jeans Elysa dengan susah payah. Kalau dipikir-pikir lagi, Adrian cukup hebat juga tadi karena bisa melepaskan celana ketat wanita itu dalam sekali sentak. Tapi untuk memakaikannya kembali dia butuh waktu yang lama dan usaha yang begitu sulit.
Baru setelah celana Elysa terpasang sempurna di pinggang wanita itu, Adrian bisa menghela nafas lega. “Heran gue! Udah kayak makein celana buat Nathan aja! Susah banget!” keluhnya.
Wajah pria itu merengut sebal. Malam ini dia gagal mendapatkan teman kencan. Belum lagi Elysa yang lepas dari cengkeramannya malam ini. bukan lepas sih sebenarnya, karena Adrian lah yang memilih untuk melepaskannya. Saat menggoda Elysa tadi, wanita itu selalu menyebutkan nama Ares. Dan tentu saja Adrian kesal dibuatnya. Seenaknya saja Elysa menganggapnya Ares. Padahal dial ah yang memberinya kenikmatan.
Konsentrasi Adrian langsung hilang begitu saja berikut gairahnya yang seketika lenyap tanpa bekas. Hanya tinggal kedongkolan di hati pria itu. Adrian menggeram jengkel saat melihat wajah Elysa. Pria itu bersumpah suatu saat dia akan memastikan mata Elysa terbuka lebar dan wanita itu sedang sadar seratus persen saat dia mencumbunya.
Namun untuk saat ini, dia akan bertahan. Otak warasnya masih bekerja. Sumpahnya untuk tidak menggoda bawahannya masih dia ingat dengan jelas. Meskipun sebenarnya Elysa bukanlah bawahannya, melainkan pegawai yang disewa oleh adik iparnya untuk menjaga Nathan. Tapi bagi Adrian itu sama saja. Tunggu sampai wanita itu minggat dari rumahnya, mungkin hal itu masih bisa dipertimbangkan.
Adrian berdecih lalu menampar pipinya sendiri. Setelah memaki Elysa habis-habisan dan merendahkannya, bisa-bisanya kini dia memiliki niat untuk meniduri wanita itu bahkan menggodanya habis-habisan tadi. Adrian mendesah frustrasi, bisa-bisanya pikirannya kacau karena seorang pengasuh anak. Sialan, pikir Adrian.
Pria itu kemudian keluar dari pintu belakang lalu duduk di kursi kemudi. Saat ini dia kepikiran untuk membawa Elysa ke apartemennya saja. Karena tidak mungkin dia membawa pulang wanita itu ke rumah dalam keadaan mabuk berat. Bisa-bisa Nadine dan Ares kena serangan jantung. Hanya selang satu detik setelah berpikiran demikian, Adrian lalu menampar pipinya dengan keras. Kalau dulu dia justru ingin mengungkapkan keburukan si pengasuh keponakannya itu pada si Nadine dan juga Ares, saat ini dia malah menutupi kesalahan dan kelakuan binal Elysa di belakang mereka. Adrian merasa saat ini otaknya sudah mulai tidak waras. Sepertinya dia perlu bicara dengan seorang psikiater nanti.
***
Elysa terbangun dengan kepala yang terasa sangat berat. Perlahan wanita itu mencoba untuk duduk. Saat memutar kepalanya ke sekeliling ruangan, wanita itu mengerutkan dahinya heran. Seingatnya dia hotel yang dia sewa tidak memiliki kamar seluas itu. Dengan terhuyung Elysa mencoba untuk bangkit dan bergegas keluar dari kamar tersebut.
Begitu menginjakkan kakinya di depan pintu kamar, wanita itu sontak saja mendelik kaget begitu mendapati sosok yang begitu dia kenal saat ini tengah berdiri di depan meja makan dengan sebuah piring di tangannya. Pria itu hanya menatap Elysa sekilas lalu melanjutkan aktivitasnya disana.
“Bang Adrian?” kata Elysa kaget. “Elo ngapain ke kamar gue?” serunya. Kepalanya berdenyut nyeri ketika dia berteriak. Elysa menatap Adrian yang berdecih pelan.
“Yakin ini kamar elo?” sinisnya.
Pertanyaan pria itu sontak saja membuat Elysa menjelajah sekeliling ruangan dengan matanya. Dan benar saja kata Adrian. Wanita itu langsung sadar jika saat ini dia sedang bukan berada di hotel yang dia datangi kemarin. Elysa kemudian melotot pada Adrian. “Gue lagi ada dimana sekarang?” katanya.
“Di apartemen gue,” balas Adrian. Pria itu kemudian duduk di kursi lalu menuangkan segelas s**u ke dalam gelas kosong dan meminumnya sedikit. Dia dengan santai menggigit sandwich buatannya sendiri tanpa mempedulikan reaksi Elysa.
“Ap-apa? Apartemen elo? Kok bisa?” ujar Elysa dengan panik. Wanita itu kemudian mencoba mengingat-ingat apa yang terakhir dia lakukan kemarin. Setelah tiba di hotel kemarin dia kemudian jalan dengan temannya, Jerry. Mereka sempat makan malam di sebuah restoran sebelum kemudian Jerry mengajaknya untuk pergi ke klub. Elysa yang sudah lama merindukan tempat seperti itu langsung setuju. Tapi bagaimana mungkin setelahnya dia tidak ingat apapun.
Elysa melirik Adrian dengan curiga. “Elo ketemu sama gue dimana? Terus kenapa gue bisa sampai kesini?” ujarnya penuh selidik.
“Bang!” Elysa memanggil Adrian dengan nada putus asa karena pria itu sama sekali tidak menanggapi pertanyaannya. Adrian asyik dengan kegiatannya sendiri. Dan itu membuat Elysa semakin was-was karena tidak biasanya pria itu diam seperti ini. Jika Elysa menanyakan sesuatu atau bicara padanya, pria itu pasti akan bereaksi keras misalnya dengan ucapan sinis yang dia lontarkan atau hinaan lainnya.
Melihat sikap Adrian, Elysa merasa sepertinya terjadi sesuatu tadi malam. Bodohnya dia sampai-sampai tidak ingat tentang apapun karena terlalu mabuk. Si Jerry sialan itu memang teman b******k! Bisa-bisanya dia meninggalkan Elysa yang sedang mabuk berat hingga dia bisa bertemu dengan iblis di depannya saat ini.
“Bang Adri!” seru Elysa putus asa.
“Gue udah beliin elo baju ganti. Ntar siang elo harus balik ke rumah. Nadine sama Nathan udah kalang kabut nyariin elo!” ujar Adrian lalu mengelap bibirnya dnegan tisu basah. Pria itu kemudian mengakhiri sarapannya dan meninggalkan meja makan.
Dan Elysa yang tidak puas dengan jawabannya, langsung beranjak mengekori pria itu. “Bang Adri!”
Elysa mencegat langkah Adrian tepat di depannya. Dengan wajah frustrasinya, wanita itu kembali menanyai Adrian. “Gimana gue bisa ketemu sama elo semalem? Nggak terjadi apa-apa kan, Bang?”
Adrian menghela nafas panjang. Pria itu menatap Elysa malas. “Elo tuh banyak bacot banget tau nggak! Udah untung elo tuh gue tolongin. Kalau aja gue nggak liat elo semalem, udah mampus elo jadi santapan serigala kelaparan di klub. Ngerti?” balasnya sok. Padahal dialah serigala kelaparan yang hampir menerkam Elysa semalam.
Adrian masih ingat betul bentuk tubuh Elysa yang dia sentuh semalam. Dan pada akhirnya dia sampai tidak bisa tidur karena wanita itu. Bahkan pagi ini saat melihat Elysa yang tampak cantik dan seksi dengan raut wajah polosnya dan rambut acak-acakan khas bangun tidur itu, Adrian hampir saja menerjangnya lalu mencumbunya seperti semalam di kamar jika saja dia tidak pandai-pandai menahan diri.
Sialan memang si Elysa! Kenapa dia bisa semakin menarik saja, maki Adrian dalam batinnya.
Elysa hanya diam dengan wajah ditekuk mendengar ucapan pria itu. Dia lalu membiarkan Adrian pergi. Setelah melihat pria itu menutup pintu apartemen, Elysa langsung memberikan tatapan penuh kebenciannya. Sebenarnya dia ingin sekali melawan Adrian seperti biasanya. Namun karena badannya saat ini sedang tidak baik-baik saja, efek dari alkohol yang dia minum semalam, Elysa hanya bisa pasrah.
Wanita itu kemudian duduk di kursi yang bekas diduduki oleh Adrian. Ada satu buah sandwich lagi yang ada di piring. Di sebelahnya ada secangkir teh hangat. Tak perlu waktu lama bagi Elysa untuk tau jika teh beraroma lemon itu disediakan oleh Adrian untuknya. Sudut bibir wanita itu tertarik membentuk sebuah seringaian kecil. Adrian pasti takut dia pulang ke rumah Ares dengan bau minuman keras.
Setelah sarapan barulah Elysa kembali ke kamar untuk mencari baju yang dibilang oleh Adrian tadi. Saat melihat ke arah sofa, wanita itu langsung menyahut satu stel pakaian lengkap dengan pakaian dalam. Elysa mengernyit sejenak karena merasa aneh dengan pakaian yang disiapkan oleh Adrian. Kebetulan sekali pakaian itu sesuai dengan seleranya. Serta ukurannya pun sepertinya pas untuknya. Elysa mendengus pelan. Sepertinya pengalaman dengan banyak wanita membuat pria itu bisa memahami wanita dengan baik.