Adrian meneguk segelas alkohol dengan mata yang menatap lurus pada Elysa yang tengah menari di lantai dansa bersama dengan seorang pria yang asing di matanya. Ya, Adrian sudah bertahun-tahun rutin mengunjungi tempat tersebut dan merasa dia belum pernah melihat pria itu sebelumnya. Dia pasti pendatang baru di klub ini, pikir pria tersebut.
Dua gelas, Adrian meneguk gelas keduanya. Namun pria itu belum juga mau melepaskan tatapannya pada sosok Elysa yang kini semakin liar menari. d**a Adrian bergemuruh keras. Pria itu menoleh kepada jack, si bartender kenalannya. “Jack, cewek itu sejak kapan disini?” tanyanya degan jari menunjuk ke sosok Elysa.
Jack mengamatinya sejenak lalu mengangguk lirih. “Oh, cewek yang pake kaos hitam itu?” katanya yang langsung dibalas anggukan oleh Adrian. “Kayaknya gue baru liat hari ini, kok. Baru aja dia masuk sebelum elo,” lanjutnya.
“Emangnya kenapa, Bro? Elo kenal?”
Adrian mendengus pelan. “Dia itu pengasuhnya keponakan gue.”
Ucapan Adrian sontak saja menimbulkan keterkejutan di wajah Jack. “Hah? Serius elo, Bro?” katanya kaget.
“Gila bener! Cewek secantik itu, seseksi itu jadi pengasuh? Edan!” ujar Jack sembari tertawa-tawa.
Adrian mengangguk dengan dengusan sinisnya. Benar kan, bukan hanya dia yang berpikir jika wanita itu sudah gila saat melamar pekerjaan sebagai seorang pengasuh. Padahal jika mau dia bisa menjadi selebriti atau paling tidak seorang model. Bahkan jika dia ingin cepat kaya, wanita itu juga bisa jadi simpanan para pria kaya. Pasti banyak yang menginginkannya menjadi simpanan.
Kepala Adrian berdenyut, pria itu melihat Elysa dari sudut matanya. Wanita itu rupanya masih asyik bergoyang di lantai dansa. Adrian mengabaikannya, pria itu berniat untuk pulang. Dia berpamitan pada Jack yang langsung meledeknya karena tidak biasanya Adrian langsung pulang sebelum mendapatkan teman kencan. Namun Adrian tidak peduli, dia sudah muak berada disana, satu tempat dengan si murah Elysa.
Pria itu kembali berdecih pelan lalu mulai melangkahkan kakinya menjauh dari meja bar. Suara music yang keras mengiringi setiap langkah kakinya. Adrian berjalan melewati kerumunan orang yang berdiri sambil bergoyang mengikuti music yang disetel oleh seorang disk jockey di atas panggung. Langkah pria itu kemudian berhenti saat melihat seorang wanita muda yang sedang mengenakan setelan kaos hitam berlengan pendek dengan celana jeans panjang yang begitu pas mengikuti lekuk tubuhnya. Rambutnya yang hitam tergerai panjang sampai ke punggung. Meskipun penampilannya tergolong aneh untuk berada di tempat seperti ini, namun pesonanya luar biasa hingga bisa menarik Adrian yang sudah berniat keluar dari tempat itu dan berbalik untuk mendatanginya.
Mata Adrian terus terpaku, menatap lekat sosok Elysa yang terus menari seiring dengan irama. Pinggangnya berlenggak-lenggok dengan sensual sementara kepalanya mendongak dengan mata tertutup rapat. Wanita itu tampak begitu menikmati music yang diputar. Dia bahkan tidak peduli dengan pria yang bersamanya.
Adrian mengernyit tak suka dengan pria tersebut. Apalagi ketika melihat tangan pria itu berada di pinggang Elysa, berniat untuk menariknya mendekat karena posisi Elysa yang semakin lama makin menjauh darinya tanpa wanita itu sadari. Pria itu kemudian menatap Adrian dengan aneh kala tangannya justru mendarat di lengan Adrian.
Dan Adrian juga kaget dengan keberaniannya untuk menghentikan pria itu meraih pinggang Elysa. Namun bukan Adrian jika dia akan mengalah. Pria itu sengaja membuat ekspresi seram untuk ditunjukkan pada si pria yang bersama Elysa sehingga membuat pria itu mundur dengan teratur. Asrian lalu mendengus sinis. dasar pria pengecut, baru dipelototi saja sudah mundur. Sepertinya Elysa salah memilih pasangan.
Adrian bergerak maju untuk menarik Elysa keluar dari tempat tersebut. Elysa tampak kaget. Namun wanita itu tidak kuasa untuk melawan. Rupanya saat ini wanita itu tengah mabuk berat. Dia hanya meracau dan memaki Adrian sembari memukul-mukulnya lemah. “Lepasin! Lepasin gue, b******k!”
Racauan wanita itu sama sekali tidak dihiraukan oleh Adrian. Pria itu berusaha untuk membopong Elysa yang sudah tidak mampu berjalan dan membawanya masuk ke dalam mobil. Lalu dengan cepat pria tersebut duduk di kursi pengemudi. Adrian berniat untuk memakaikan sabuk pengaman ke badan Elysa. Saat ini dia tidak punya pilihan lain selain membawa Elysa untuk pulang. Karena tidak mungkin dia mengabaikan Elysa dan membiarkan wanita yang tengah mabuk berat itu untuk berada disana dan beresiko dimanfaatkan oleh orang lain.
Baru saja tangan Adrian meraih sabuk pengaman yang ada di kursi Elysa, namun tangan pria itu terhenti karena melihat mata Elysa yang saat ini sedang terbuka lebar menatapnya. “Mas Ares?”
Adrian sontak saja melotot pada wanita itu. Ares? Enak saja, pikir Adrian. Dia yang bersusah payah mengeluarkannya dari klub dengan membopongnya sampai ke mobil, justru Ares yang dia sebut. Mata Elysa ini sudah buta mungkin ya? Masa dia tidak bisa membedakan wajah Ares dan Adrian. Pria itu mengomel sendiri di dalam hatinya.
“Nathan belum tidur ya, Mas?”
“b******k!” maki Adrian pelan. Kini justru keponakannya yang bandel itu yang dibicarakan oleh Elysa. Memang benar si Elysa ini ingin memancing kemurkaannya.
Lalu selanjutnya wanita itu tertawa sendiri. Jemarinya yang panjang dan juga lentik, menunjuk wajah Adrian dengan berani. “Elo kok sekarang jelek sih, Mas? Jadi mirip sama mukanya si Adrian. Ih… najis,” racau wanita itu sembari terkekeh. Sepertinya Elysa memang sudah mabuk berat saat ini.
Dan Adrian tidak berniat untuk menanggapinya sama sekali. Pria itu tidak ingin meladeni seorang wanita mabuk. Bisa-bisa dia stress kalau dia mengambil hati omongan kurang ajar Elisa. Tangan pria itu kini beralih menyentuh pinggang Elysa, berniat menahannya karena sejak tadi Elysa sama sekali tidak berhenti bergerak-gerak dan menyulitkannya untuk memasang sabuk pengaman.
Namun di luar dugaan, wanita itu meraih wajah Adrian dengan jemarinya yang lentik itu dan seketika membuat Adrian merinding karenanya. Belum pernah ada seorang wanita yang menyentuh wajahnya seperti itu, bahkan para wanita kencannya sekalipun. Karena Adrian tidak suka ada orang yang memegang wajahnya. Karena hal tersebut dia artikan sebagai hinaan.
“Tapi gue suka.” Adrian diam tak bergeming ketika bibir Elysa menyentuh bibirnya. Wanita itu menciumnya lebih dulu. Dengan berani Elysa memagut bibir Adrian dengan bibir tipisnya yang berwarna merah. Pria itu sama sekali tidak bergerak. Dia hanya diam, membiarkan Elysa bermain dengan bibirnya. Jika sebelumnya Adrian suka wanita yang memiliki bibir penuh, saat ini dia meralat pemikirannya, karena bibir tipis lebih menggoda.
Pria itu mulai mengimbangi ciuman Elysa yang terasa memabukkan lebih dari dua gelas alkohol yang tadi diminumnya di dalam. Bahkan kini dia lebih menuntut dan menguasai. Adrian kemudian meraih pinggang Elysa dan menari tubuh wanita itu untuk duduk di pangkuannya. Saat ini dia tengah terbakar gairah. Adrian tau jika Elysa bukanlah wanita yang tepat untuk melampiaskannya, namun dia tidak ada pilihan lain. Siapa yang memulai haruslah yang menyelesaikannya. Dan yang dia lakukan dengan Elysa di mobil saat ini tentu hanyalah permulaan.