“Sayang, buruan keburu aku telat nih!” Ares berteriak-teriak dari bawah ke arah kamar Nathan. Pria itu dengan wajah merengut duduk di sebelah Adrian yang sedang menikmati makananya dengan santai dan damai seolah tidak terpengaruh sama sekali dengan semua kegaduhan yang ada di rumah mereka pagi ini. Dia hanya diam melirik sang asik yang kini duduk di kursi dengan wajah ditekuk sembari mengikat dasinya.
Tak lama terdengar suara Nadine mengomel saat turun dari tangga sembari menggandeng Nathan di sebelahnya. Sama halnya dengan Ares, baik Nadine maupun putra mereka, Nathan berwajah serupa pagi ini. Ketiga orang itu masing-masing merengut kesal. Nadine langsung menyuruh Nathan untuk duduk di kursi sebelah Ares sementara dia sendiri duduk di samping Adrian.
“Sayang, kamu coba hubungin Elysa gih! Suruh dia cepet-cepet balik. Aku udah nggak sanggup ngeladenin Anak kamu yang rewelnya minta ampun ini!” kata Nadine dengan sebal sembari melirik ke arah Nathan yang duduk dengan kedua tangan terlipat di depan dadanya.
“Iya, Daddy! Nathan mau Aunty El!” teriaknya sebal. “Aunty El mana?”
Ares mendesah keras. ini baru hari kedua Elysa mengambil cuti dan seluruh orang di rumah tampak sangat frustrasi. Nadine jadi kesal karena setiap pagi sebelum dia berangkat kerja, dia terlebih dahulu harus membangunkan putranya, Nathan yang sangat bandel dan memandikannya. Apalagi anak itu sudah begitu susah untuk diatur oleh Nadine. Setiap hari dia hanya menanyakan Elysa terus menerus. Tidak mau mandi, tidak mau makan, anak itu terus merengek mencari Elysa dan membuat Nadine pusing mendengar ocehannya.
“Aku masih belum bisa hubungin Elysa. Kalau aku udah bisa hubungin dia, dari kemarin juga aku bakal langsung minta dia pulang!” balas pria itu sebal. Pria itu sebenarnya juga sudah tidak tahan karena sang istri terus mengomel setiap saat berhadapan dengan Nathan. Apalagi ketika pagi hari saat mereka semua sedang bersiap-siap untuk berangkat ke kantor.
Ares tau istrinya kerepotan untuk merawat anaknya yang sangat bandel tersebut. Jangankan Nadine, Ares sendiri pun akan menyerah ketika dia harus diminta untuk memandikan Nathan. Anak itu hanya akan menurut pada Elysa dan juga Adrian. Sayangnya pria itu sama sekali tidak mau membantu. Sudah dua hari ini, sepertinya Adrian terlihat sedang dalam suasana hati yang buruk. Entah apa yang terjadi di kantor saat ini sehingga pria itu tampak selalu kesal dan tidak bersemangat.
Ares sebenarnya ingin membantu jadi dia menanyakan tentang hal tersebut pada Nadine. Namun justru jawaban Nadine begitu bertolak belakang dengan yang ditunjukkan oleh Adrian. Kata Nadine Adrian sedang meluncurkan produk baru di perusahaan mereka dan sepertinya hal itu berjalan lancar. Namun entak kenapa pria itu justru tidak tampak senang karenanya.
Maka dari itu, Ares tidak berani mengganggu abangnya, takut ditelan dia kalau sampai membuat Adrian kesal.
“Kamu tau nggak nomer telepon agensinya Elysa! Telepon sana, bilang Elysa nggak bisa dihubungin,” suruh Ares pada sang istri.
“Udah, Sayang. Tapi kata kepala agensinya, dia juga kesulitan buat hubungin Elysa,” balas Nadine.
“Ya udah, kalau gitu kita lapor polisi aja. Aku nggak enak juga, takut terjadi sesuatu sama Elysa. Misalnya dia kecelakaan atau gimana dan nggak bisa hubungin kita.”
“Iya ya… bener juga kamu. Kalau gitu aku lapor ke kantor polisi,” ujar Nadine. Wanita itu kemudian menoleh pada Adrian. “Bang, nanti sebelum berangkat kita mampir-“
“Nggak usah dicari,” sela Adrian memotong ucapan Nadine. “Dia pasti balik kalau udah waktunya dia balik,” lanjutnya.
“Tapi kan Bang-“
“Dia ijin cuti lima hari kan? Ya udah tunggu aja tiga hari lagi dia juga pasti balik,” kata Adrian lagi. “Dia sengaja matiin ponselnya itu juga udah trik kali. Kebanyakan karyawan ya gitu kalau udah di luar jam kerja pasti matiin ponsel karena nggak mau diganggu sama bosnya. Udah sering kayak gitu,” lanjut pria itu dengan santainya sembari mengunyah sandwich yang dibuatkan oleh si Bibi tadi pagi-pagi sekali sebelum berangkat belanja.
Ares dan Nadine sama-sama terdiam dan memikirkan ucapan sang kakak. Memang masuk akal juga yang dibilang oleh Adrian. Pria itu pasti sudah banyak pengalaman dengan hal tersebut. Nadine menatap suaminya lalu menaikkan kedua belah alisnya pada sang suami untuk memberi isyarat mereka harus bagaimana. Namun Ares hanya mengendikkan bahunya pelan. Karena memang dia tidak tau harus bagaimana.
Nadine mendesah panjang. “Ya udah deh,” ujarnya pasrah. “Ntar kalau Elysa balik, gantian gue sama Ares yang cuti ya, Bang!” katanya pada sang kakak ipar.
Adrian melirik adik iparnya sekilas. Melihat wajah memelas Nadine dia sedikit iba namun dia tidak bisa membantu banyak dan tidak ingin membantunya. Karena pria itu sudah bertekad untuk menjaga jarak dengan Nadine. “Memangnya kalian mau ngapain ambil cuti?”
“Kita mau liburan, pengen istirahat.”
Adrian menyeringai kecil. “Udah kayak berat aja kerjaan elo, Nad. Elysa aja biasa aja ngurusin Anak elo dari pagi sampai malem,” balasnya.
“Ya itu kan Elysa, Bang. Gue kan beda,” ujar Nadine tak terima.
Adrian terdiam. Pria itu tampak kaget dengan reaksinya sendiri. Untuk pertama kalinya pria itu menyebut nama Elysa dengan benar. Bukan lagi sebutan w************n, si penghibur atau makian lainnya. Diam-diam pria itu mendesah lirih, menyadari jika dia sudah mulai tidak waras saat ini.
***
Adrian turun dari mobilnya lalu melangkahkan kakinya untuk masuk ke sebuah klub malam di pusat kota. Malam ini dia butuh menenangkan diri dan memulihkan kewarasannya yang belakangan ini menurun. Ya, dia ingin mencari teman kencan malam ini dan bersenang-senang.
Saat masuk, seorang pria kekar yang menjaga tempat itu langsung menyapa Adrian dengan gembira karena tidak melihat Adrian dalam waktu yang lama. Dan setelah basa-basi sebentar, Adrian pun masuk. Pria itu langsung pergi ke meja bar untuk menemui si bartender yang dia kenal dengan baik. “Jack!” sapanya pada si bartender.
“Hei, Bro! lama banget elo nggak kesini?” balas si bartender pada Adrian. “Banyak yang elo tuh buat ngajak kencan tapi elo nggak muncul-muncul. Udah punya pacar ya lo?”
Adrian menyeringai. “Pacar apaan? Ada tuh pengasuh-“ Pria itu kemudian menghentikan ucapannya laku menggeleng cepat. “Nggak, nggak ada.” Adrian mendesah diam-diam hampir saja dia keceplosan dan menyebutkan si pengasuh keponakannya yang membuatnya sibuk, sibuk memikirkannya.
Sembari mengobrol dengan Jack, mata pria itu berkeliling untuk mencari-cari wajah bening yang bisa dia rayu malam ini. Namun tatkala matanya bergerak ke sudut ruangan, di tempat yang paling pojok, dia melihat siluet dari seseorang yang rasanya dia kenal. Adrian berdiri dengan ragu dan menajamkan penglihatannya hingga dia mendapatkan apa yang dia cari. Benar saja, pikirnya. Pria itu kemudian mendengus keras lalu terkekeh. Entah kenapa dia tidak heran bisa menemukan orang itu disini. pria itu berniat mengambil ponselnya lalu menghubungi adiknya, Ares untuk memberi tahukan keberadaan orang yang dicari-cari oleh adik dan juga iparnya itu disini. namun belum sempat pria itu menelepon, Adrian melihat seorang pria menghampiri si wanita yang sedang menjadi fokusnya saat ini.
Pria itu kemudian mendengus keras lalu berbalik kembali ke kursinya. Dengan d**a yang bergemuruh, pria itu meminta minuman dari Jack lalu meneguknya cepat. Diam-diam dia melirik dan mencari keberadaan si wanita yang kini sedang berada di lantai dansa bersama dengan pria tadi. Adrian berdecih pelan lalu bergumam, “dasar pengasuh murahan.”