Adrian menatap mata Elysa yang saat ini tengah menyorotnya. “Gimana, El? Mau nggak gue mandiin?”
Elysa menatapnya lurus dan lekat. Wanita itu kemudian menjawab dengan berani, “gue dulu atau Nathan yang mau elo mandiin?” katanya. Elysa menahan senyumannya ketika melihat pupil mata Adrian melebar. Pria itu diam tidak menjawab namun dari sorot matanya, Elysa tau jika godaannya tadi berhasil mengenai pria itu.
Elysa tidak pernah menyangka jika pria yang begitu keras dan sombong seperti Adrian, yang terus gembar-gembor menyerukan jika dia tidak pernah tertarik dengan seorang wanita penghibur, kini justru tersulut gairah hanya karena godaan kecilnya saja? Memangnya dimana letak harga diri pria itu sebenarnya?
“Elo.”
Elysa mengerutkan alisnya, menajamkan telinganya ketika mendengar Adrian bersuara dengan lirih dan samar. “Apa?” katanya.
“Elo,” ulang Adrian. “Gue mau mandiin elo setelah Nathan,” lanjut pria itu kemudian.
Elysa tidak bisa menahan debaran dadanya yang begitu keras. wanita itu hanya duduk diam, sama sekali tidak bergerak maupun beraksi apapun ketika Adrian menggendong Nathan untuk pergi ke kamar mandi. Bahkan sampai Nathan selesai mandi, Elysa masih bergeming.
“Aunty! Aunty! Nathan mau pakai baju! Nanti Nathan telat!” teriak Nathan pada Elysa dengan gaya menggemaskannya.
Adrian yang melihat keponakannya terkekeh kecil. Pria itu menghampiri Nathan yang sedang menarik-narik tangan Elysa. Pria itu kemudian melepaskan tangan Elysa dari pegangan Nathan. “Nathan, kamu ganti baju sendiri, dong. Udah bisa sendiri kan?” ujarnya.
“Tapi Nathan mau ganti baju sama Aunty El!” balas Nathan manja. Anak itu kemudian menjatuhkan dirinya ke pangkuan Elysa dengan gaya manjanya.
Adrian menggeleng pelan lalu tersenyum dan mengelus singkat kepala Nathan. Semenjak Elysa datang, anak itu jadi semakin manja. Padahal biasanya saat dengan Nadine, Nathan selalu memakai sendiri pakaiannya karena dia memang sudah bisa berpakaian sendiri. Nadine mendidik Nathan agar mandiri. Namun sebaliknya, Ares justru begitu memanjakan anak itu dan membantunya dalam melakukan apapun. Tak heran perbedaan kedua orang itu dalam mengasuh Nathan membuat Ares dan Nadine sering kali bertengkar.
Adrian tidak heran kenapa Ares begitu pada Nathan. Karena dia sendiri pun begitu. Sejak kecil Ares selalu dimanja oleh Papanya, tidak seperti Adrian yang dididik dengan keras karena dialah yang akan meneruskan bisnis perusahaan. Jadi saat mereka dewasa, sifat Adrian dan juga Ares sangat bertolak belakang. Adrian tumbuh menjadi orang yang keras dan ambisius terhadap semua sesuatu. Sedangkan Ares justru lebih mengutamakan kasih sayang dan nurani setiap kali bertindak. Itulah yang membuat pria itu mendirikan bisnisnya sendiri, alih-alih bergabung dengan kakaknya di kantor milik mendiang papa mereka.
“Dasar kamu! Kalau sama cewek cakep main peluk-peluk aja!” omelnya.
“Uncle berangkat ke kantor dulu ya! Kamu sekolah yang bener! Awas kalau buat masalah lagi di sekolah!” lanjut pria itu. Kemudian Adrian bergegas keluar dari kamar Nathan untuk berangkat ke kantor dengan terburu-buru karena ingat jika dia sedang ada rapat. Pria itu saking buru-burunya sampai lupa dengan Elysa.
***
“Loh, Mas Ares kok ada disini?”
Elysa terlihat kaget melihat kedatangan Ares yang secara mendadak berada di sebelahnya, duduk di ayunan yang sama dengannya. Ares tersenyum kecil lalu mengangguk. “Barusan lewat, El. Sekalian mampir.”
Elysa hanya manggut-manggut mendengar penjelasannya. “Oh iya, Mas. Jadi mumpung ketemu sama Mas Ares disini, saya mau ijin. Takutnya kalau saya bilang di rumah nanti malah lupa lagi,” ujar Elysa pada pria itu.
“Mau ijin apa?”
“Saya mau ambil cuti boleh, Mas? Saya ada perlu ke luar kota buat jenguk saudara saya yang lagi sakit.”
Dan Ares tampak tidak keberatan dengan permintaan yang diajukan oleh wanita itu. Dengan senyuman lebarnya Ares langsung mengangguk setuju. “Ya udah kamu bisa pergi. Si Nathan nanti biar sama Bibi aja,” jawabnya.
Elysa mengangguk pelan. “Nanti saya juga mau ijin sama Kak Nadine.”
“Nggak usah, nanti biar aku yang bilang sama Nadine,” sahut Ares.
Elysa tersenyum kecil. “Makasih banyak ya, Mas.”
Ares hanya menjawabnya dengan anggukan kecil. “Oh iya, si Nathan belum keluar ya? Saya mau ngajak kalian berdua makan siang bareng di luar.”
“Wah, kok Mas Ares tau aja sih kalau saya lagi pengen makan siang di luar?” balas Elisa sembari terkekeh. Elysa melengkungkan bibirnya dengan sempurna karena hatinya merasa senang. Sepertinya dia tidak perlu bersusah-susah untuk mendekati Ares terlebih dahulu karena pria itu justru yang bergerak mendekatinya.
Sepertinya, si tampan itu tidak sebaik yang dia pikirkan. Dia juga menyukai wanita cantik seperti kakaknya. Bahkan pria itu tak sungkan untuk mendekati pengasuh anaknya sendiri. Memang pada dasarnya semua pria itu sama saja.
Di saat wanita itu sibuk memandangi wajah tampan Ares dari samping, pria itu kemudian merogoh sakunya untuk mengambil ponsel miliknya dan menghubungi seseorang. Begitu sambungan teleponnya tersambung, Ares langsung mulai menyapa orang yang ada di seberang sana.
“Sayang, kamu ada waktu nggak hari ini? kita makan siang di luar yuk! Ini ada Elysa juga sama Nathan.” Ares melirik Elysa seraya tersenyum.
“Oke. Boleh deh. Ya udah terserah kamu aja dimana makannya. Oke deh. Bye, Sayang.” Ares mengakhiri sambungan telepon dengan sang istri. Pria itu sama sekali tidak memperhatikan raut wajah Elysa yang tadi penuh senyum dan kini mendadak datar. Wanita itu kecewa karena ada Nadine yang akan makan siang bersama dengan mereka. Padahal Elysa ingin sekali memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mendekat lebih lagi pada Ares.
Di rumah selalu ada Nadine yang bersama pria itu jadi Elysa kesulitan jika harus mendekatinya. Bahkan untuk mengobrol dengan Ares pun sedikit susah karena kehadiran Nadine. Sudah hampir dua bulan ini Elysa tinggal di rumah Ares namun belum mendapatkan hasil apapun. Karena justru orang yang sering berada di sekelilingnya adalah si b******k Adrian. Tanpa sadar wanita itu mendesah berat. Kalau begini terus, kapan kesempatan untuk menginjak si b******k itu tepat di mukanya akan datang?
“El! Ayo kita jalan!”
Elysa tergagap dan segera meringis kecil ketika menyadari jika saat ini Nathan sudah keluar dan berada di gendongan ayahnya. Anak itu buru-buru memanggil Elysa ketika melihat kehadiran wanita itu. “Nathan mau sama Aunty El!”
“Apa sih! Sama Daddy aja kan bisa!” balas Ares.
“Aaa… Daddy! Nathan mau Aunty El!” rengeknya.
“Dih… anak cowok kok ngerengek! Dasar kamu ini kalau sama cewek cantik aja, nyosor terus!”
Setiba di restoran, Nadine sudah menunggu kedatangan mereka. Wanita itu langsung bersemangat melambai pada suami dan juga anaknya. Elysa yang kini sedang menggandeng tangan Nathan terpaksa harus berjalan lebih cepat karena anak itu menarik tangannya. “Udah lama ya nunggunya? Maaf ya, jalan agak rame tadi,” ujar Ares sembari mendaratkan sebuah kecupan kecil di dahi sang istri.
Nadine tersenyum lebar. “Gapapa kok, Sayang. Aku juga masih belum pesen,” balas Nadine.
Ares mengangguk pelan lalu duduk di kursi yang berhadapan dengan Nadine. Otomatis Elysa duduk di kursi sebelahnya yang kosong. “Oh iya, Bang Adrian mana?”
Baru saja p****t Elysa menyentuh dudukan kursi yang empuk, wanita itu harus merasakan kaget mendengar ucapan Ares. Dia pun menoleh dengan cepat ke arah Nadine. “Lagi di toilet. Paling bentar lagi dateng kok,” balas Nadine pada sang suami. Ares pun mengangguk kecil. "Ya udah deh kita pesen makanannya sekarang aja. Ntar biat Bang Adrian nyusul."
Elysa menahan nafasnya. Dadanya berdebaran kencang. Kenapa harus ada pria itu disini sih, batinnya. Kehadiran Nadine saja sudah membuatnya kecewa karena menghalangi rencananya untuk mendekati Ares. Sekarang justru ditambah dengan kedatangan tamu tak diinginkan yang lain kesana. Sial, pikirnya kesal.