Chapter 7 : Godaan

1164 Words
“Mau sekarang?” Adrian benar-benar terkejut dengan keberanian Elysa. Pria itu sama sekali tidak menyangka jika Elysa memang ternyata semurah itu. Benar juga, pikir pria itu. Elysa sudah ahli dalam hal seperti itu. Dia sudah sering menggoda pria. d**a Adrian bergetar hebat saat Elysa membuka pintu kamarnya lebih lebar lalu berjalan masuk terlebih dahulu. Seolah memberi isyarat Adrian untuk ikut masuk. Adrian menutup pintu kamar Elysa dengan kakinya karena tangan pria itu terasa begitu dingin. Sial, pikirnya. Dia heran dengan reaksi tubuhnya sendiri yang bisa seperti ini hanya karena Elysa. Untuk pertama kalinya pria itu menggoda pegawainya sendiri. Seumur hidupnya pria itu baru melakukannya kali ini. Diakui Adrian dia memang pria b******k, tapi dia tidak bermain-main dengan sembarang wanita apalagi pegawainya, itu tidak akan pernah dia lakukan. Adrian berdiri diam di depan pintu, menunggu Elysa yang sedang masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Saat keluar, wanita itu membuat jantung Adrian berhenti berdetak. Sepertinya Adrian harus menarik kata-katanya yang sempat mengira jika Nadine adalah wanita terseksi di dunia ini. Lebih dari Nadine, Elysa mampu membuat pria manapun saat ini meneteskan air liurnya. Tubuh mulusnya benar-benar menggoda. Elysa memiliki lekuk yang molek, pas sesuai dengan bentuknya. d**a Adrian bergemuruh karena menyadari jika saat ini di sedang tertarik pada tubuh wanita itu. Adrian menelan ludahnya diam-diam sebelum berkata, “asli nggak itu badan?” seringainya. Elysa dengan entengnya menjawab, “kenapa nggak elo cek sendiri aja?” balasnya dengan berani. Adrian berdecih pelan. “Gue kalau pengen nyentuh cewek pilih-pilih, El? Bukan sembarang cewek. Apalagi mantan cewek panggilan,” sindirnya. Elysa meradang dengan sikap sok suci pria itu. Padahal Elysa tau dengan benar jika Adrian suka main perempuan. Hampir tiap malam pria itu keluar rumah dan pulang pagi-pagi buta setelah puas berkencan semalaman dengan wanita bayaran. Wanita itu menahan amarahnya dalam hati. Dia sudah bersumpah tidak akan menggunakan amarah untuk melawan Adrian. Wanita itu tau seorang Adrian memang kejam dan sadis. Tapi pria itu tidak pernah memikirkan dirinya sendiri. Jadi untuk membalas Adrian, Elysa tidak perlu melukai pria itu. Dia hanya perlu mengusik orang-orang dia pikirkan saja. Elysa tersenyum miring. “Kalau Kak Nadine gimana? Dia kan seksi, pernah nggak elo-“ Belum sempat wanita itu melanjutkan ucapannya, die keburu diterjang oleh Adrian. Pria itu mencekik lehernya lalu menjatuhkan Elysa ke atas ranjang. Adrian menggeram marah di atas wanita itu. “Jangan pernah sebut-sebut Nadine gue, mulut kotor elo itu nggak pantes buat nyebut nama Nadine,” bisiknya menggeram di telinga wanita itu. Elysa sama sekali tidak menjawabnya. Karena jangankan membalas ancaman Adrian, untuk bernafas saja dia sulit. Namun Elysa tidak berusaha untuk memberontak karena dia tau jika Adrian tidak akan berani untuk menghabisinya saat ini. Mata wanita itu menatap Adrian. Kristal hitamnya yang mulai meredup membuat Adrian terkesima. Mata yang tengah sekarat itu masih mampu membius Adrian dengan pesonannya. Perlahan Adrian mengendurkan cengkeramannya pada leher Elysa. Dan saat itulah Elysa terbatuk. Wanita itu berusaha menarik nafas dalam-dalam. Dia terlihat rapuh, namun sudut bibirnya masih bisa menyeringai pada Adrian. “Gue penasaran, gimana kalau Mas Ares sampai denger ini ya?” ledeknya dengan suara berbisik. Adrian yang tersulut emosi lantas menarik kembali tengkuk Elysa untuk menciumnya dalam-dalam. “Kalau sampai Ares tau, itu udah pasti dari mulut elo,” bisiknya di depan bibir wanita itu. “Dan gue nggak akan pernah membiarkan elo hidup kalau sampai hal itu terjadi,” ancamnya lalu beranjak bangkit dari atas Elysa. Pria itu kemudian keluar dari kamar gadis itu dengan membanting pintu. Setelah Adrian pergi, Elysa bangkit dari posisinya sembari memegangi dadanya yang berdebaran. Tangan wanita itu gemetar samar. Perasaan ap aitu, pikirnya. *** Paginya saat Elysa turun ke bawah, Elysa melihat pria itu sudah duduk di ruang makan bersama dengan Nadine dan juga Ares. Elysa segera menyapa Nadine dan Ares. “Nathan belum dibangunin ya, Kak?” tanyanya pada Nadine. “Belum, El. Kamu tolong bangunin ya! Aku buru-buru soalnya, ini aja baru selesai masak, belum dandan belum siapin baju. Mana pagi ini ada rapat lagi,” keluhnya. Elysa mengangguk pelan. “Ya udah kalau gitu saya bangunin Nathan dulu ya, Kak.” “Makasih ya, El…” balas Nadine dengan senyuman manisnya. Elysa hanya membalasnya dengan sebuah senyuman simpul lalu bergegas menuju ke kamar Nathan. Diam-diam wanita itu melirik Adrian yang sejak tadi hanya diam sembari menikmati sarapannya. Tumben, pikir Elysa. Biasanya pria itu selalu mengajak bertengkar setiap bertemu dengan dirinya. “Nathan, bangun dong, Sayang! Udah siang loh!” Elysa mengguncang pelan tubuh Nathan. Dan membuat anak itu sontak membuka matanya. “Aunty… Nathan bolos sekolah ya!” balas anak itu dengan suara paraunya. Muka Nathan tertutup dengan bantal. Elysa mendesah pelan, seperti biasanya, anak itu susah sekali bangun pagi. “Jangan dong, Sayang! Nggak jadi Anak pinter dong nanti,” kata Elysa. Wanita itu segera mengangkat tubuh mungil Nathan dan mendudukkannya di ranjang. “Ayo Nathan mandi sekarang, nanti kita bisa telat!” “Aunty… Nathan nggak mau sekolah,” ujar Nathan merengek pada Elysa. “Nathan mau tidur, Aunty…” “Nathan… jangan gitu dong, Sayang!” Elysa sontak menoleh ke belakang dan melihat sosok Ares yang kini berdiri di depan pintu kamar Nathan. Pria itu kemudian masuk dan mendekati Nathan yang sedang cemberut. “Ayo kita mandi!” kata Ares pada sang anak. Pria kitu kemudian menoleh pada Elysa yang masih duduk di samping Nathan. “Biar Nathan mandi sama aku, El. Kamu siapin aja baju dia,” ujarnya. Elysa mengangguk dengan senyuman tipisnya. “Iya, Mas.” Elysa baru saja ingin berdiri dan melakukan apa yang diperintahkan oleh Ares saat terdengar suara orang lain disana. “Biar Nathan gue aja yang mandiin, Res! Lo bukannya ada rapat pagi ini?” ujar Adrian sembari berjalan mendekat. “Iya sih, Bang. Tapi gapapa, kok! Masih ada waktu,” balas Ares pada sang kakak. “Lo tinggal aja, Res. Biar Nathan gue yang mandiin,” kata Adrian lagi. “Elo bukannya ada rapat juga pagi ini, Bang? Itu si Nadine lagi kalang kabut katanya mau ada rapat juga pagi ini.” Adrian berdehem pelan. “Tapi kantor Gue lebih deket dari pada Elo. Jadi mending elo berangkat sekarang aja,” katanya. Ares manggut-manggut pelan. Pria itu kemudian mengelus kepala sang putra, hendak menciumnya namun Nathan langsung melengos dan memeluk Elysa. Sehingga Ares pun berdecak pelan karenanya. “Dih… anak ini!” katanya sebal. “El, titip Nathan ya!” ujar Ares pada Elysa dan dijawab anggukan pelan oleh wanita itu. Setelah Ares pergi, Adrian segera mendekati Nathan yang masih betah memeluk Elysa. Pria itu menarik Nathan dari Elysa. "Ayo Nathan mandi dulu," katanya pada si keponakan. “Nggak mau, Nathan nggak mau mandi!” “Nathan harus mandi, Sayang. Biar bisa sekolah,” sahut Elysa berusaha membujuk anak itu. “Nggak mau Aunty!” “Nathan…” ujar Elysa memperingati. Nathan langsung cemberut melihatnya. “Kalau Nathan nggak mau mandi, Uncle mandiin Aunty Elysa nih!” kata Adrian yang langsung membuat Elysa menoleh padanya. Wanita itu diam membisu, tidak menjawab sama sekali atas godaan Adrian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD