Ciuman itu semakin dalam. Kelembutan yang Kenan berikan tadi malam kini bercampur dengan kerinduan yang membara dan keberanian yang dipicu oleh balasan Ayunda. Kenan menyadari bahwa Ayunda sudah tidak takut lagi. Ayunda sudah mulai menerima, bahkan meresponsnya.
Kenan melepaskan Ayunda sejenak, menatap mata Ayunda di bawah remangnya cahaya lampu tidur. Mata Ayunda gelap, dipenuhi kebingungan, tapi ada nyala api baru di sana. Kenan tersenyum tipis, senyum yang sangat menawan.
"Kamu milikku, Sayang," bisik Kenan, suaranya serak dan rendah, penuh d******i yang lembut.
Tanpa menunggu balasan, Kenan kembali mencium Ayunda. Kali ini, ciumannya bergerak turun, melewati dagu Ayunda yang mulus, lalu ke lehernya. Ciuman Kenan terasa hangat dan menuntut, membuat Ayunda mendesah pelan. Ia menjambak rambut Kenan tanpa sadar, mencoba menahan sensasi yang menjalar di tubuhnya.
Kenan semakin berani. Ia membiarkan bibirnya menjelajahi bahu Ayunda, lalu perlahan menurunkan tangannya. Ia membuka kancing blouse Ayunda dengan cekatan, lalu membuka bra-nya. p******a Ayunda yang mungil dan ranum kini terekspos.
"Kamu cantik sekali, Sayang," bisik Kenan.
Kenan menunduk, mencium buah d**a Ayunda dengan sangat lembut. Ia menghisap p****g Ayunda yang mengeras, membuat Ayunda terkejut dan merasakan gelombang kenikmatan yang belum pernah ia bayangkan.
"Mas Kenan... ahh... ahh..." desah Ayunda, nama "Mas Kenan" terucap tanpa sadar dari bibirnya, sebuah panggilan intim yang baru.
Kenan tersenyum di sela isapan. Tangan Kenan yang satu tidak tinggal diam. Perlahan, tangan itu turun, melewati perut Ayunda yang rata, lalu sampai ke daerah intim Ayunda. Kenan menyentuhnya dengan lembut, membelai dan mengusap.
Ayunda terkejut, namun kali ini yang ia rasakan adalah kenikmatan yang luar biasa, bukan rasa sakit seperti malam pertama mereka. Rasa sakit itu telah hilang, digantikan oleh gairah yang dibangun perlahan oleh Kenan.
"Berkali-kali Ayunda mendesah, "Mas Kenan... ahh... ahh... Geli... Mas tapi enak..." Desahan Ayunda terdengar jujur dan polos.
Kenan membalas desahan itu dengan ciuman di perut Ayunda. Ia menyingkirkan sisa pakaian Ayunda, lalu melanjutkan eksplorasinya. Kenan yang sudah ahli dalam memanjakan wanita, membalik posisi Ayunda. Ia mencium paha Ayunda, lalu memainkan lidahnya di daerah intim Ayunda.
Sensasi yang ditimbulkan Kenan terasa sangat memabukkan bagi Ayunda. Seluruh tubuhnya tegang, melengkung karena kenikmatan yang asing. Ia mencengkeram sprei ranjang dengan erat.
"Oh Mas Kenan... ahh... ahh... Aku... aku mau keluar, Mas!" desah Ayunda, nadanya memohon.
"Keluarkan, Sayang. Jangan ditahan," bisik Kenan, suaranya penuh dorongan.
Ayunda pun mencapai pelepasannya. Tubuhnya bergetar hebat, kakinya menendang udara, dan desahannya panjang, memanggil nama Kenan. "Mas Kenan... ahh... Aku... Aku... Ahh..."
Kenan tidak tinggal diam. Ia segera bangkit, melepaskan pakaiannya sendiri. Tubuh gagah dan atletis Kenan yang kini polos terlihat jelas di remangnya cahaya. Ia menindih Ayunda, tubuhnya terasa panas dan penuh hasrat yang terkontrol.
Kenan menatap mata Ayunda sejenak, meminta izin tanpa kata-kata. Ayunda mengangguk, isyarat menerima yang melegakan Kenan.
Dengan hati-hati, pusaka Kenan yang sudah menegang memasuki daerah intim Ayunda. Kali ini, tidak ada rasa sakit yang menusuk. Hanya rasa penuh dan sesak yang menyenangkan. Kenan bergerak dan menghentak lembut, membangun ritme yang membuat Ayunda kembali merasakan gairah.
Kenan pun mulai mendesah. Suaranya dalam, menahan nikmat yang ia rasakan. "Sayang... ahh... ahh... ahh... Nikmat banget..." desah Kenan, ia meremas lembut p******a Ayunda.
Desahan mereka kini bersahutan, mengisi kamar yang mewah itu. Kenan mempercepat hentakannya, membenamkan dirinya lebih dalam, dan Ayunda pun ikut mendorong Kenan, mencari sensasi yang lebih tinggi. Keduanya mencapai puncak bersamaan, kembali melakukan pelepasan yang kuat, membuat tubuh mereka lemas dan berkeringat.
Kenan jatuh di atas Ayunda, memeluknya erat. Napas mereka terengah-engah. Ia mencium kening Ayunda lama, penuh cinta dan penyesalan, bukan sekadar nafsu.
"Maafkan aku... dan terima kasih, Sayang," bisik Kenan.
"Mas Kenan..." Ayunda hanya bisa memanggil nama itu, suaranya sangat lirih. Ia memeluk Kenan erat, menyadari bahwa ia baru saja menyerahkan dirinya, bukan karena kontrak, tapi karena perasaan baru yang mulai tumbuh.
Mereka berdua terlelap, saling berpelukan, di tengah malam yang baru saja menjadi saksi bisu pernikahan kontrak yang perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih personal dan intim. Di malam kedua, Ayunda belajar bahwa Kenan Ardhana tidak hanya membeli dirinya, tapi juga mengajarkannya arti sebuah keintiman yang sesungguhnya.
Kenan bangun beberapa jam kemudian, terbangun karena suara bisikan Ayunda yang pelan. Ayunda masih dalam pelukannya, tapi ia sedang membaca doa. Kenan tersenyum. Ayunda adalah satu-satunya wanita yang ia kenal yang membaca doa setelah bercinta.
Kenan mencium rambut Ayunda. "Kenapa bangun, Sayang?"
"Aku belum salat Isya, mas Kenan," bisik Ayunda malu-malu. "Dan aku baca doa tidur."
Kenan membiarkan Ayunda bangun. Saat Ayunda bangkit, Kenan menarik tangannya.
"Tunggu," kata Kenan. Ia berdiri, mengambil handuk, lalu menggendong Ayunda ke kamar mandi. "Aku mandikan."
Ayunda terkejut, tapi tidak menolak. Kenan memandikan Ayunda dengan sangat hati-hati dan lembut, membersihkan setiap bagian tubuhnya. Sentuhannya kini penuh kasih sayang, jauh dari paksaan. Di bathtub yang sama, tempat Ayunda menangis semalam, kini mereka tertawa kecil.
Setelah selesai, Kenan menggendong Ayunda kembali ke ranjang. Mereka kembali berpelukan di bawah selimut tebal.
"Kamu harus tidur, Sayang. Kamu harus belajar besok," kata Kenan.
Ayunda menyandarkan kepalanya di d**a Kenan. "Aku enggak bisa tidur, Mas. Jantungku masih deg-degan."
"Itu karena kamu sudah mencuri hatiku," goda Kenan. "Dan kamu memanggilku 'Mas' lagi. Aku suka."
"Itu enggak sengaja," Ayunda merona.
"Disengajakan saja. Aku suamimu." Kenan memeluk Ayunda lebih erat. "Besok pagi, aku akan siapkan perpustakaan di ruang kerjaku untuk kamu. Kamu belajar di sana. Kamu bisa minta apa pun yang kamu mau, guru privat, buku, apa pun. Fokus kamu sekarang adalah ujian."
"Aku janji, aku akan lulus dengan nilai terbaik," janji Ayunda, suaranya mantap.
"Aku tahu kamu bisa. Aku percaya sama istriku."
Ayunda mendongak. "Mas Kenan, satu hal. Soal Fiona. Apa kamu akan membiarkannya bebas setelah dia menjebakmu?"
Wajah Kenan mengeras. "Tentu saja tidak. Fiona akan menerima akibatnya. Tapi itu urusanku. Kamu tidak perlu tahu. Fokus saja pada sekolahmu."
"Aku takut Fiona akan menggangguku. Dia tahu aku sudah menikah denganmu," bisik Ayunda.
"Dia tidak tahu kamu yang aku nikahi. Hanya orang-orang kepercayaanku. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh istriku. Aku akan melindungi kamu, Ayunda. Itu janji seorang suami," ucap Kenan tegas, memeluk Ayunda dengan protektif.
Mendengar janji itu, hati Ayunda merasa damai. Rasa takutnya hilang. Ia memejamkan mata, akhirnya tertidur pulas dalam pelukan Kenan, di ranjang yang kini terasa seperti surga yang dibeli dengan harga sepuluh miliar. Kenan Ardhana memandang wajah tidur Ayunda. Ia tahu, kontrak ini tidak akan berjalan sesuai rencana. Ia telah membeli seorang gadis, tetapi ia telah jatuh cinta pada pesonanya yang polos.
Malam itu yang penuh gairah dan keintiman berakhir dengan Kenan dan Ayunda tertidur lelap dalam pelukan, melupakan semua tentang kontrak dan sepuluh miliar.
Pagi itu, mereka terbangun ketika adzan Subuh berkumandang dari speaker ponsel Kenan. Kenan membuka mata, melihat Ayunda yang sudah bangun dan tersenyum malu-malu di pelukannya.
"Selamat pagi, Sayang," bisik Kenan, suaranya serak.
"Pagi, Mas Kenan," jawab Ayunda. Panggilan "Mas Kenan" terasa lebih natural sekarang.
Mereka bangkit. Untuk pertama kalinya, mereka mengambil air wudu bersama. Kenan memimpin, dan mereka melaksanakan salat berjamaah di kamar yang sama tempat mereka saling memiliki tadi malam. Suasana berubah drastis dari gairah menjadi kekhusyukan yang menenangkan.
Setelah salat selesai, Ayunda melipat mukenanya. Ia mendekati Kenan yang duduk bersila, lalu dengan penuh hormat, mencium punggung tangan Kenan. Kenan tersenyum lembut, lalu menarik Ayunda dan mengecup kening Ayunda lama, memberikan kehangatan yang tulus.
Kenan kemudian duduk di sofa dekat jendela, membuka laptopnya, bersiap untuk bekerja. Sementara Ayunda, dengan semangat baru, langsung menuju dapur.
"Mas Kenan mau sarapan apa?" teriak Ayunda dari dapur.
"Apa saja, Sayang. Buatan kamu pasti enak," balas Kenan.
Ayunda memutuskan untuk membuat nasi goreng teri cabe ijo, resep andalannya. Ia mulai meracik bumbu. Tak lama, aroma nasi goreng yang pedas dan gurih itu mulai menyeruak, sampai masuk ke kamar dan menyentuh indra penciuman Kenan.
Kenan menutup laptopnya. Aroma itu terlalu menggoda untuk diabaikan. Ia bangkit dan berjalan menuju dapur.
Dapur Kenan yang biasanya steril dan dingin, kini dipenuhi asap masakan. Kenan berdiri di ambang pintu, melihat Ayunda yang hanya mengenakan dress pendek satin tadi malam, dengan rambut diikat asal ke belakang. Sinar matahari pagi menembus jendela dapur, menyorot Ayunda. Kecantikan gadis itu, dengan kesederhanaan dan fokusnya memasak, menggetarkan hati Kenan.
"Mas Kenan, kenapa di sini? Nanti bau asap," tegur Ayunda, tersipu.
Kenan berjalan mendekat, memeluk Ayunda dari belakang. Ia menyandarkan dagunya di bahu Ayunda, lalu mencium leher istrinya dengan gemas.
"Mas Kenan, aku sedang masak! Jangan ganggu," ucap Ayunda, tertawa kecil.
"Hmm, aku sepertinya ketagihan sama pesona kamu, Sayang. Dari tadi aku mencium aroma manis, ternyata bukan cuma nasi goreng," goda Kenan.
"Mas bisa ambilkan piring?" Ayunda mencoba mengalihkan pembicaraan, jantungnya sudah berdebar lagi.
"Okey, Cinta. Nanti hadiahnya jangan lupa, ya," balas Kenan, mengedipkan matanya genit. Ia mengambil satu piring besar.
Ayunda menaruh nasi goreng yang matang ke piring. Setelah itu, ia menyajikannya di meja makan balkon, tempat mereka makan malam tadi. Tak lupa, Ayunda membuatkan kopi spesial tanpa gula—Kenan tidak pernah suka kopi manis—dan jus mangga kesukaannya sendiri.
Mereka duduk berhadapan. Ayunda mengambil sendok.
"Ayo, Mas. Cobain," kata Ayunda.
"Suapin," pinta Kenan.
Keduanya makan dari piring yang sama. Sesekali Kenan menyuapi Ayunda dengan lembut, dan bergantian, Ayunda menyuapi Kenan, membersihkan sisa nasi di sudut bibir Kenan dengan jarinya. Suasana pagi itu terasa sangat hangat, intim, dan penuh cinta, jauh dari kesan kontrak atau bisnis.
Setelah nasi goreng habis, Ayunda membawa piring kotor ke wastafel dan mencucinya. Kenan tidak membiarkannya bekerja sendirian.