Restu untuk istri sepuluh milyar

1480 Words
Kenan duduk di sofa ruang tengah, menyalakan televisi. Ia mencari channel berita, tapi Kenan malah memilih menonton film kartun. Ayunda tersenyum geli dari dapur. "Ternyata seorang CEO dingin kesukaannya nonton kartun," gumamnya. Kontras antara penampilan Kenan yang gagah dan tontonannya yang kekanak-kanakan itu sangat menggemaskan. Setelah mencuci piring, Ayunda berniat duduk di sofa sebelah Kenan. Namun, sebelum ia sempat duduk, Kenan menariknya dengan cepat, membuat Ayunda jatuh duduk di pangkuannya. Keduanya tertawa melihat adegan Tom and Jerry yang konyol. Kenan memeluk Ayunda dari belakang, dagunya menyandar di bahu Ayunda, menikmati kebersamaan itu. Sampai tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul enam. "Astaga, Mas Kenan! Sudah jam enam! Aku harus buru-buru ke sekolah!" Ayunda tersentak. "Tenang, Sayang. Sekolah kamu enggak akan hilang," Kenan terkekeh. "Tapi sebelum ke sekolah, aku mau lihat Ibu dulu. Walaupun cuma sebentar," pinta Ayunda. Kenan mengangguk. "Tentu. Tapi kamu harus ganti baju dulu." Ayunda masuk ke kamar. Ia membuka lemari besar Kenan dan menemukan seragam sekolah baru yang sudah disiapkan Kenan—entah dari kapan. Seragamnya sudah rapi, bersih, dan berbau pewangi mahal. Ayunda mengganti pakaiannya. Ia mengoleskan pelembap dan bedak tipis, juga lip gloss sederhana. Ia mengikat rambut panjangnya dengan rapi, siap untuk kembali menjadi siswi SMA. Kenan berdiri di ambang pintu, memperhatikan istrinya yang sudah berubah dari 'nyonya' menjadi 'siswi'. Saat Ayunda berbalik, Kenan langsung berjalan mendekat dan memeluk istrinya dari depan. Kenan membalikan badan Ayunda, menempelkannya ke pintu lemari, lalu mencium bibir ranum Ayunda dengan ciuman selamat pagi yang cepat dan dalam. "Jaga diri kamu, Sayang. Jangan lihat cowok lain," Kenan tersenyum nakal. "Siap, Mas CEO," balas Ayunda. Kenan segera menelepon Rendy. "Rendy, antar Ayunda ke rumahnya dulu, lalu ke sekolah. Cepat!" Mobil mewah Kenan melaju menuju rumah Ayunda. Di sana, Rendy menunggu di ruang tamu, sikapnya masih dingin dan profesional. Ayunda segera masuk, memeluk ibunya erat-erat. "Ibu, aku harus cepat. Ada ujian dadakan." "Ya ampun, kamu sudah mau berangkat," kata Bu Halimah. "Masih pagi banget. Ini, Ibu sudah siapkan sarapan buat kamu dan Rendy. Jangan sampai kalian lapar saat kerja nanti." Bu Halimah menyodorkan dua kotak bekal di tepak. Ayunda terharu. "Terima kasih, Bu. Aku pergi dulu ya." Ayunda dan Abimanyu berangkat bersama Rendy. Abimanyu duduk di depan, dan mereka bercerita tentang sekolah. Sampai di sekolah Abimanyu, Abimanyu mencium tangan Rendy dan Ayunda. "Dah, Kakak," katanya. Kemudian Rendy langsung melajukan mobilnya ke sekolah Ayunda yang tak jauh dari sekolah Abimanyu. Satu minggu berikutnya, Ayunda tinggal di apartemen Kenan dan fokus menghadapi ujian akhirnya. Ayunda belajar siang dan malam di ruang kerja Kenan yang sunyi dan nyaman. Kenan tidak mengganggu Ayunda. Ia menghormati janji Ayunda untuk fokus belajar. Kenan bekerja dari rumah, sesekali datang membawa jus mangga, atau hanya memberikan semangat kepada istri kecilnya itu. Kenan bahkan rutin mengantar jemput Ayunda ke sekolah selama masa ujian, membuat semua teman sekolah Ayunda terheran-heran melihat siapa pria gagah yang selalu mengantar Ayunda. Dan hasil yang dinantikan tiba. Ayunda bersama teman-temannya berkumpul di sekolah, menantikan pengumuman kelulusan. Jantung Ayunda berdebar kencang. Ia sudah berusaha keras. Sore itu, Kenan menjemput Ayunda. Wajah Ayunda berseri-seri, matanya berkaca-kaca. "Mas Kenan!" Ayunda langsung memeluk Kenan begitu ia masuk ke mobil. "Gimana, Sayang? Lulus?" tanya Kenan cemas. "Aku lulus! Dan... aku lulus dengan nilai tertinggi di sekolah, Mas!" Ayunda menangis bahagia. Kenan tertawa lepas, memeluk Ayunda erat. "Aku tahu! Selamat, Sayang! My smart wife!" Beberapa minggu kemudian, kabar bahagia lain datang. Ayunda dinyatakan diterima di Universitas Indonesia, dan ia memilih fakultas Kedokteran. Kenan memeluk Ayunda di ruang kerja mereka. "Aku bangga banget sama kamu, Sayang. Kamu sudah membuktikan kalau uang tidak membuat kamu malas." Kenan, sebagai suami, sepenuhnya mendukung pilihan Ayunda. "Lanjutkan mimpimu. Aku akan mengurus semua biayanya. Kamu tidak perlu khawatir soal uang. Aku akan membangunkan rumah sakit terbaik untuk kamu, Dokter Ardhana." Ayunda tertawa. Kontrak mereka masih berjalan. Tapi Kenan sudah menjadi lebih dari sekadar CEO dingin. Ia adalah suami, support system, dan cinta pertama Ayunda. Ayunda tahu, hidupnya baru saja dimulai. Ia akan menjadi istri kontrak, dokter masa depan, dan satu-satunya pemilik hati CEO sedingin es itu. Hari itu adalah hari yang sangat penting. Pintu gerbang megah Universitas Indonesia menjulang di depan mata, menandakan Ayunda memasuki babak baru dalam hidupnya. Ayunda tampil cantik dalam balutan kemeja dan celana bahan yang rapi, siap menjadi mahasiswi baru di Fakultas Kedokteran. Di sampingnya, berdiri sosok yang tak kalah mempesona, Kenan Ardhana, yang hari itu rela menunda rapat pagi demi mengantar istrinya. Kenan mengenakan setelan jas abu-abu, memancarkan aura CEO yang protektif. Mereka berhenti tepat di depan gerbang utama kampus. Ayunda menatap Kenan, hatinya berdebar penuh haru dan semangat. "Aku masuk dulu, Mas Kenan," ucap Ayunda. Ayunda meraih tangan Kenan dan mencium punggung tangannya dengan lembut, kebiasaan yang kini selalu ia lakukan setiap pagi. Kenan membalasnya dengan menarik Ayunda mendekat, mencium keningnya lama, penuh rasa bangga. Lalu, Kenan mencium bibir Ayunda dengan cepat dan dalam, sebuah ciuman perpisahan yang intim. "Belajar yang rajin, Sayang," bisik Kenan, menangkup wajah Ayunda. "Jaga hatimu hanya untuk aku. Jangan biarkan cowok manapun mendekat, apalagi mengantar kamu pulang." Ayunda tersenyum manis, mengangguk patuh. "Siap, Mas CEO protektif. Aku pergi, ya. Hati-hati di jalan." Ayunda melangkah, memanggul tasnya, menembus kerumunan mahasiswa baru. Kenan berdiri di sana hingga punggung Ayunda menghilang. Setelah memastikan istrinya aman, Kenan pun masuk kembali ke mobil dan meluncur menuju kantornya. Kenan tiba di puncak Ardhana Group. Ia baru saja mendarat di ruang kerjanya ketika intercom-nya berbunyi. "Tuan Kenan, Bapak Presiden Direktur memanggil Anda sekarang," suara sekretarisnya terdengar tegang. Kenan menghela napas. Ia tahu, jika Asraf Ardhana, Ayahandanya, memanggil secara mendadak, itu pasti bukan urusan kecil. Kenan segera menuju lantai teratas, tempat kantor Ayahnya berada. Begitu masuk, ruangan itu diselimuti suasana formal dan dingin. Asraf, yang sudah berusia 60 tahun namun masih tampak gagah dan berwibawa, duduk di balik meja mahoni besarnya. Asraf memandang wajah anaknya, tatapannya tajam dan menilai. "Duduk, Kenan," perintah Asraf. Kenan duduk. "Ada apa, Yah? Penting sekali sampai Ayah memanggilku sekarang?" Asraf tidak langsung menjawab. Ia mengambil sebuah folder dari mejanya dan meletakkannya di depan Kenan. "Aku sudah memerintahkan anak buahku untuk mengamati kamu, Kenan. Aku tahu kamu sibuk, tapi setidaknya kamu harus menjaga reputasi perusahaan. Hasil pengamatan mereka menyebutkan... kamu tinggal di apartemen bersama seorang wanita selama tiga bulan terakhir," ucap Asraf tanpa basa-basi. Kenan tersenyum tipis. Ia sudah menduga ini. Ia tidak terkejut, dan ia pun tidak menyangkal. "Ya, Ayah. Itu benar," jawab Kenan santai. Asraf mengangkat alisnya, terkejut dengan ketenangan anaknya. "Siapa dia? Kenapa kamu tidak pernah memperkenalkan dia pada kami? Dan kenapa kalian tinggal bersama tanpa ada kejelasan? Kamu tahu, reputasi Ardhana Group..." "Dia istriku, Ayah," potong Kenan tegas. "Kami sudah menikah secara sirri tiga bulan yang lalu." Asraf terdiam sejenak. Ia terkejut, namun ia tahu Kenan bukan tipe yang bermain-main. "Nikah sirri? Kenapa kamu melakukan ini?" tanya Asraf, nadanya melembut. Kenan pun menceritakan semuanya, mulai dari jebakan Fiona di pesta ulang tahun perusahaan, kebutuhannya akan penawar, pertemuannya dengan Ayunda di halte bus, dan perjanjian sepuluh miliar yang ia tawarkan. Ia juga menceritakan bagaimana Ayunda menutupi pernikahan mereka dari Ibu Halimah yang sakit-sakitan. "Aku tahu ini gila, Yah," tutup Kenan. "Awalnya ini hanya kontrak bisnis dan kebutuhan fisik. Tapi Ayunda berbeda. Dia tidak memanfaatkan uang itu untuk dirinya sendiri, dia gadis yang taat dan sangat gigih. Dia fokus pada kuliahnya di Kedokteran sekarang. Dia sudah mengubah apartemenku yang dingin menjadi... rumah." Asraf mendengarkan setiap kata dengan saksama. Senyum kecil muncul di bibirnya. "Fiona sudah aku urus, dia tidak akan mengganggumu lagi. Tapi Ayunda..." Asraf bersandar di kursinya. "Aku mengerti, Nak. Kamu sudah membuat keputusan besar. Aku senang kamu sudah menemukan wanita yang bisa kamu percaya, yang bisa membuatmu tersenyum lagi. Aku memberikan restuku." Kenan merasa lega yang luar biasa. Restu Ayahnya adalah segalanya. "Tapi," lanjut Asraf, suaranya kembali serius. "Pernikahan sirri tidak cukup untuk penerus utama Ardhana Group. Ayah tidak mau ada masalah hukum di masa depan. Kamu harus mengakhiri pernikahan kontrak yang tidak jelas itu, dan segera menikahi dia secara sah di mata hukum. Setelah itu, Ayah ingin kamu memperkenalkan Ayunda ke keluarga besar dan mengadakan resepsi perdana keluarga Ardhana yang pantas." Kenan mengangguk setuju. Sebenarnya, sudah tiga bulan ini dirinya memang ingin mengakhiri status pernikahan kontrak dengan Ayunda. Ia tidak tahan lagi memanggil Ayunda 'istri kontrak'. Ia ingin Ayunda menjadi istri sejati, seutuhnya. "Baik, Ayah. Aku setuju," kata Kenan. "Aku akan segera mengurusnya. Aku akan menikahi Ayunda secara sah secepatnya." "Bagus," puji Asraf. "Satu hal lagi. Kamu harus tahu, hati Ibumu sedikit keras. Dia mungkin akan terkejut dengan kabar ini, apalagi soal pernikahan sirri. Menaklukkan hati ibumu adalah tugas pertamamu sebagai calon suami sah." Kenan tersenyum, percaya diri. "Aku tahu, Yah. Tapi aku punya Ayunda. Kami akan melakukannya bersama." Kenan bangkit, menjabat tangan Ayahnya. Ia meninggalkan kantor Ayahnya dengan hati yang ringan dan rencana besar di kepala. Ia akan menjadikan Ayunda miliknya seutuhnya, dan membuktikan pada seluruh dunia—termasuk Ibunya yang keras hati—bahwa Ayunda, sang Istri Sepuluh Miliar, adalah cinta sejati yang ia pilih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD