Hari pertama Ayunda di dunia perkuliahan sudah berakhir. Ia melangkah keluar dari kelas di Fakultas Kedokteran dengan perasaan campur aduk antara lelah dan antusias. Cita-citanya perlahan terwujud, semua berkat pengorbanan dan, ya, kontrak itu.
Ia duduk di kursi panjang di taman kampus yang rindang, ditemani dua teman barunya, Rima dan Ersya.
"Gila ya, Dok. Materinya berat banget," keluh Rima, yang tampil modis dengan kemeja oversized-nya.
"Iya, guys. Tapi dosen anatominya cakep banget, sumpah! Jadi betah di kelas," sahut Ersya genit, dengan bahasa gaul khas anak Jakarta.
Ayunda hanya tersenyum menanggapi celotehan dua teman barunya. "Aku tadi bingung banget pas bagian metabolisme sel, harus lebih rajin belajar nih."
Ketiganya nampak asyik berbicara dan tertawa dengan bahasa gaul mereka yang santai. Mereka membicarakan tugas, dosen, dan tentu saja, fashion yang cocok untuk anak Kedokteran.
Tak lama, muncul seorang pria mendekati mereka. Pria itu tinggi, berkulit sawo matang, dan mengenakan jas lab yang sudah sedikit lusuh—ciri khas mahasiswa yang sibuk koas.
"Halo, boleh gabung? Kalian sepertinya asyik banget," sapa pria itu ramah.
Rima dan Ersya langsung saling pandang, tersenyum menggoda.
"Eh, Mas Abian? Boleh banget, Mas!" jawab Ersya genit.
Pria itu adalah Abian. Ia dari semester akhir dan saat ini sedang menjalani program koas di rumah sakit besar. Abian langsung memperkenalkan dirinya. Ia tersenyum menawan pada Ayunda.
"Nama saya Abian. Maaf ya, dari tadi aku lihat kamu dari jauh. Kamu yang paling semangat tadi di kelas pengantar," kata Abian, fokusnya hanya tertuju pada Ayunda.
Ayunda tersipu. "Oh, iya Mas Abian. Aku Ayunda. Salam kenal."
Setelah berbincang sebentar, ponsel Rima berdering. Pacarnya sudah datang menjemput. Tak lama, Ersya juga dijemput pacarnya.
Tiba-tiba, taman itu terasa lebih sepi. Ayunda dan Abian pun menjadi berbicara berdua.
Abian menceritakan perjuangannya bisa masuk Fakultas Kedokteran. Ia berasal dari kalangan keluarga biasa di daerah, dan ia bisa kuliah di sini murni karena beasiswa penuh. Ayunda langsung merasa kagum pada Abian. Pria ini cerdas, gigih, dan rendah hati. Jauh berbeda dengan Kenan yang serba instan.
Abian yang memang diam-diam menyukai Ayunda sejak ospek mahasiswa kemarin, menggunakan kesempatan ini untuk lebih mendekat. Ia memuji kecantikan Ayunda, dan menanyakan tentang kesulitan Ayunda saat orientasi.
Keduanya nampak asyik berbicara dan bercanda. Abian menceritakan kisah-kisah lucu saat koas, dan Ayunda mendengarkan dengan mata berbinar. Ia merasa sangat nyaman. Ini adalah pertama kalinya ia berinteraksi dengan laki-laki seusianya, yang memiliki mimpi dan passion yang sama, tanpa embel-embel kontrak atau bisnis.
"Ayunda, besok kalau kamu ada waktu, aku bisa bantu kamu belajar anatomi. Aku punya catatan lengkap dari pre-klinik," tawar Abian.
"Wah, serius, Mas? Boleh banget! Aku kesulitan banget tadi," jawab Ayunda bersemangat.
Tepat saat Ayunda tertawa lepas mendengar lelucon Abian, sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti tak jauh dari mereka. Pintu mobil terbuka, dan keluar sosok Rendy, Kakak tiri Ayunda yang kini merangkap sebagai bodyguard pribadinya.
Rendy berjalan mendekat dengan wajah yang kaku. Aura bodyguard profesionalnya langsung mendinginkan suasana.
"Ayunda, ayo kita pulang. Tuan Kenan sudah menunggu," kata Rendy, suaranya datar.
Ayunda terkejut melihat Rendy sudah datang. "Oh, Kak Rendy! Sudah sampai? Kenalin, Kak, ini Mas Abian. Senior di sini."
Ayunda memperkenalkan Rendy kepada Abian sebagai kakaknya. Rendy hanya mengangguk sopan, namun senyumnya terlihat sinis dan dingin.
Abian yang peka merasakan aura tidak enak dari Rendy. "Saya Abian, Mas. Teman barunya Ayunda."
"Rendy," jawab Rendy singkat, tanpa menjabat tangan Abian. Ia langsung melangkah ke mobil. "Cepat, Ayunda. Jangan buat Tuan Kenan menunggu."
Ayunda merasa malu pada Abian. "Maaf ya, Mas Abian. Kakakku memang agak kaku. Aku pulang dulu. Sampai ketemu besok."
Abian tersenyum simpul, namun matanya memancarkan sedikit kekecewaan. "Hati-hati, Ayunda."
Di dalam mobil, Rendy langsung marah-marah.
"Ayunda! Kamu itu sudah menikah! Enggak sepantasnya kamu berbicara dengan laki-laki lain sedekat itu!" Rendy tidak lagi menggunakan panggilan "Nyonya," amarahnya membuat Rendy kembali ke peran kakaknya.
Ayunda menunduk, ia tahu Rendy benar, tapi ia juga merasa Rendy berlebihan.
"Maaf, Kak Rendy. Kami cuma ngobrol biasa kok. Dia cuma senior di kampus," bela Ayunda pelan.
"Teman apanya! Dia jelas-jelas naksir kamu! Aku lihat cara dia menatap kamu! Aku ingatkan, Ayunda. Kamu itu Istri dari Bosku! Orang yang menanggung hidupmu dan ibumu. Kamu harus tahu diri!" bentak Rendy, ia biasanya tidak seberani ini, tapi ia tahu Tuan Kenan sangat sensitif soal Ayunda.
Ayunda hanya diam dan berbisik minta maaf. Hatinya sakit. Ia tahu, ia sadar dan mengerti statusnya. Tapi Abian dan dirinya benar-benar tidak ada hubungan apa-apa selain berteman. Kenapa Rendy harus bersikap sekasar ini?
Rendy tidak peduli. Ia langsung melajukan mobilnya menuju apartemen dengan kecepatan tinggi.
"Kak, aku mau menengok Ibu dulu, ya. Cuma sebentar," pinta Ayunda.
"Tidak bisa, Ayunda. Perintah Bos adalah mengantarkan kamu langsung ke apartemen. Kamu harus istirahat dan belajar. Besok kamu ada kelas lagi," jawab Rendy dingin.
Ayunda pun manyun dan cemberut. Ia merasa Rendy sekarang lebih seperti robot yang hanya patuh pada bosnya, Kenan, daripada sebagai kakaknya sendiri.
Perjalanan itu terasa sangat panjang dan dingin. Ayunda menatap keluar jendela, merasa sedikit tertekan. Statusnya sebagai 'istri kontrak' membuat hidupnya kini diatur total. Tidak ada lagi kebebasan.
Sementara itu, di kantor, Kenan sedang menunggu laporan dari Rendy. Kenan duduk di kursi kebesarannya, sesekali melihat chat Ayunda yang singkat.
Rendy masuk, wajahnya terlihat tegang. Ia langsung melaporkan kejadian di kampus, menceritakan semua interaksi Ayunda dengan Abian.
"Tuan, wanita itu... dia terlalu dekat dengan seniornya. Saya sudah tegur, tapi dia bilang mereka hanya berteman," lapor Rendy.
Kenan mendengarkan dengan wajah datar. Namun, tangannya yang memegang pena tiba-tiba meremasnya kuat-kuat hingga pena itu sedikit bengkok.
Seorang senior? Koas? Abian? Nama itu berputar di kepala Kenan.
"Namanya Abian, Tuan. Mahasiswa penerima beasiswa, lumayan pintar. Dan dia jelas-jelas menyukai Nyonya Ayunda," tambah Rendy, ingin memastikan Kenan mengerti situasi ini.
Kenan tersenyum sinis. "Jadi, selama ini dia sibuk dengan 'teman barunya' di kampus. Aku mengira dia hanya fokus belajar."
Rendy merasa merinding mendengar nada suara Kenan. Ini adalah suara bahaya.
"Rendy," panggil Kenan, suaranya pelan tapi menusuk. "Cepat siapkan mobil untuk menjemput Ayunda. Dan mulai besok, kamu tidak perlu mengantar jemput dia lagi."
Rendy terkejut. "Lalu siapa, Tuan?"
Kenan berdiri, berjalan ke jendela, menatap gedung-gedung Jakarta dengan tatapan tajam.
"Aku," jawab Kenan singkat, penuh otoritas. "Aku yang akan mengantar jemput Istriku. Aku harus memastikan 'teman-teman' Ayunda tahu siapa suaminya. Dan Abian itu... urus saja beasiswanya. Beri dia peringatan keras. Aku tidak mau ada lalat yang mendekati maduku."
Kenan kembali ke mejanya, mengambil ponsel. Ia melihat foto Ayunda di layar. Kecemburuan itu, rasa yang baru ia rasakan selama tiga bulan terakhir, kini meledak. Ayunda harus segera menjadi miliknya sepenuhnya, diakui semua orang, termasuk Abian.
Ia harus segera mengakhiri drama pernikahan kontrak ini. Ayah benar. Kenan segera menghubungi pengacaranya.
"Haryanto, percepat semua berkas pernikahan sah. Aku mau pernikahanku dengan Ayunda diresmikan secepatnya," perintah Kenan. Ia tidak mau ada Abian lain yang mencoba merebut istrinya.
Setelah memberikan perintah tegas pada Rendy dan pengacaranya, Kenan tidak bisa fokus bekerja. Rasa cemburu yang menggerogoti hatinya terlalu kuat. Ia segera membatalkan semua jadwal rapatnya dan melesat ke apartemen.
Kenan membuka pintu apartemen. Suasana sunyi. Ia berjalan ke ruang tengah dan menemukan Ayunda yang kelelahan tertidur di sofa ruang TV. Tas kuliahnya tergeletak di lantai, dan buku-buku berserakan di karpet. Wajah Ayunda tampak damai dalam tidurnya.
Kenan mendekat dan duduk di samping istrinya. Hatinya sempat melunak melihat betapa polos dan cantiknya Ayunda.
Merasa ada pergerakan, Ayunda terbangun. Ia melihat Kenan dan senyum lebar langsung mengembang di wajahnya. Ia segera memeluk suaminya dengan erat.
"Mas Kenan! Aku kangen banget! Kenapa pulang cepat?" sapa Ayunda ceria, mencoba mencium pipi Kenan.
Namun, Kenan menepis pelukan Ayunda dengan lembut tapi tegas. Wajahnya kembali kaku dan dingin, jauh dari kehangatan tadi pagi.
Ayunda terkejut, pelukannya terlepas. "Mas Kenan, kenapa?"
Kenan tidak menjawab dengan pertanyaan santai. Ia langsung memberondong pertanyaan dengan nada dingin dan menuntut.
"Siapa Abian?"
Ayunda mengerutkan dahi. "Siapa Abian? Maksud Mas Kenan?"
"Jangan pura-pura tidak tahu! Senior koas di kampusmu! Yang hari ini berbicara denganmu di taman selama setengah jam! Apa yang kalian bicarakan?!" tuntut Kenan, matanya menatap tajam, penuh selidik.
Ayunda terdiam sejenak. Ia langsung sadar. "Kak Rendy ternyata tukang ngadu!" gerutu Ayunda kesal. Ia merasa Rendy telah mengkhianatinya.
"Rendy hanya melaporkan apa yang dia lihat! Sekarang, jelaskan padaku. Kenapa kamu harus berlama-lama dengan laki-laki lain di tempat sepi? Dan kenapa dia memanggilmu dengan nama depan?!" Kenan membentaknya.
Ayunda bangkit, berdiri di depan Kenan. Ia merasa harga dirinya diinjak-injak.
"Mas Kenan, kami hanya sebatas teman! Dia hanya membantuku dengan catatan kuliah! Kak Rendy saja yang melebih-lebihkan! Dia kan memang selalu kaku dan lebay!" bela Ayunda, suaranya mulai meninggi.
"Hanya teman? Kalau hanya teman, kenapa kamu tertawa lepas dengannya? Kenapa dia menatapmu seperti ingin memakanmu?!" Kenan sudah dikuasai rasa cemburunya yang membabi buta. Ia tidak mau mendengar alasan apa pun. Di matanya, Ayunda telah melanggar batas, meskipun mereka hanya menikah kontrak.
Kenan berdiri, memegang bahu Ayunda kuat-kuat.
"Dengar, Ayunda. Mulai besok, saya yang akan mengantar jemput kamu. Tidak ada lagi Rendy. Tidak ada lagi Abian atau teman laki-laki lainnya. Dan... sebentar lagi saya akan mengumumkan pernikahan kita di mata semua orang!" Kenan mendeklarasikan keputusannya.
Ayunda benar-benar terdiam, shock dengan pernyataan Kenan. Matanya membulat.
"Apa... apa maksudnya, Mas Kenan?" Ayunda berbisik, nadanya dipenuhi ketidakpercayaan. "Bukannya kontrak kita tersisa tinggal sembilan bulan lagi?" tanyanya kesal, mengingatkan Kenan tentang kesepakatan awal mereka.