Kenan menatap Ayunda. Wajahnya tegang, tetapi matanya memancarkan tekad yang kuat.
"Kontrak itu sudah berakhir, Ayunda. Saat kamu menciumku kembali, saat kamu menerima pelukanku, kontrak itu sudah tidak berlaku lagi di hatiku. Aku tidak tahan lagi menyembunyikanmu. Aku tidak tahan melihatmu didekati laki-laki lain!"
"Untuk itu," lanjut Kenan, suaranya bernada tinggi dan penuh otoritas, "Saya akan menjadikan kamu istri sahku selamanya, bukan untuk sembilan bulan. Kamu akan menjadi Nyonya Ardhana, diakui secara hukum, dan semua orang akan tahu kamu milikku!"
Ayunda menggeleng cepat, air mata mulai menggenang. "Tidak bisa! Mas Kenan tidak bisa membeli kebebasan saya! Saya menikahi Mas Kenan demi Ibu, dan saya punya mimpi! Saya butuh kebebasan untuk belajar, untuk bertemu teman, bukan dikurung di sangkar emas!"
"Kamu nggak punya pilihan, Ayunda!" Kenan membentak, tangannya mencengkeram lengan Ayunda. "Saya suami kamu, jadi kamu harus nurut sama saya! Kamu adalah milikku sekarang! Aku sudah jatuh cinta sama kamu! Aku nggak mau kehilangan kamu!"
Mendengar pengakuan cinta yang disampaikannya dengan nada marah dan d******i itu justru membuat Ayunda semakin kesal.
"Mas Kenan, kamu... kamu benar-benar menyebalkan!" teriak Ayunda, ia menarik lengannya dari cengkeraman Kenan.
Ayunda berbalik dan berjalan cepat menuju kamarnya. Ia tidak ingin mendengar apa pun lagi.
Kenan mengejar, tapi Ayunda lebih cepat. Begitu sampai di kamar, Ayunda langsung mengunci kamarnya dari dalam.
"Sial!" teriak Kenan, meninju dinding di sebelah pintu.
"Ayunda! Buka pintunya! Kamu nggak bisa memperlakukan suami seperti ini!" Kenan memukul pintu berulang kali.
"Aku nggak mau! Aku nggak mau jadi istri selamanya! Aku mau kebebasan!" balas Ayunda dari dalam, suaranya terdengar tercekat karena tangis.
"Kamu itu milik saya! Kamu milik Kenan Ardhana! Tidak ada yang boleh merebutnya dari saya! Kamu ngerti, Ayunda?!" Kenan berteriak, amarahnya mencapai puncak.
Ayunda bersandar di balik pintu, air mata membasahi pipinya. Ia takut dan marah. Ia memang mencintai Kenan, tapi ia tidak suka d******i dan pemaksaan ini. Ia tidak mau mimpinya sebagai dokter terenggut hanya karena status yang diubah sepihak oleh suami cemburunya.
"Kamu enggak bisa memaksaku!" balas Ayunda.
"Oke! Kalau kamu enggak mau buka, aku akan tidur di sini sampai kamu buka! Tapi besok, kamu akan menjadi Nyonya Ardhana!" ancam Kenan, suaranya mulai meredup, penuh keputusasaan.
Kenan pun duduk bersandar di lantai, di depan pintu kamar Ayunda yang terkunci. Ia adalah CEO yang memiliki segalanya, namun malam ini, ia hanya seorang pria cemburu yang ketakutan kehilangan wanita yang baru ia cintai, terkurung di luar kamar yang seharusnya menjadi kamar mereka.
Malam itu, Ayunda meringkuk di kamarnya yang terkunci. Air matanya sudah kering, digantikan oleh rasa lelah dan amarah yang dingin. Ia merasa Kenan sudah keterlaluan. Ia tidak ingin kebebasannya direnggut. Ia ingin menjadi seorang dokter, bukan hanya istri yang dikurung.
Namun, perut tidak bisa diajak kompromi. Setelah pertengkaran hebat itu, Ayunda menyadari dirinya belum makan sejak siang. Rasa lapar mulai menusuk, membuatnya tidak nyaman.
Setelah menunggu hampir dua jam, dan tidak ada lagi suara dari luar, Ayunda perlahan bangkit. Ia berjalan mengendap-endap menuju pintu. Ia membuka kunci dengan hati-hati, lalu menarik kenop pintu.
Matanya langsung tertuju pada pemandangan di samping kamarnya. Kenan tertidur meringkuk di kursi kecil yang ada di dekat pintu. Pria setinggi dan segagah Kenan terlihat begitu rentan saat tidur di kursi sempit itu, dengan jasnya yang sedikit kusut. Ekspresinya menunjukkan kelelahan dan mungkin, penyesalan.
Ayunda pun tidak peduli. Gengsinya masih terlalu tinggi. Ia melangkah keluar, berjalan tanpa suara melewati Kenan, menuju dapur.
Dapur Kenan yang mewah terasa dingin dan sepi. Ayunda membuka kulkas. Ia mencari bahan makanan yang cepat dimasak. Nasib baik, ternyata hanya ada daging slice dan beberapa bumbu instan. Ayunda segera memutuskan untuk membuat tumisan daging slice dengan saos teriyaki, sebuah menu yang cepat dan mengenyangkan.
Aroma manis dan gurih dari tumisan itu segera menyebar di apartemen. Setelah matang, Ayunda segera memasukkan tumisan daging itu ke mangkok kecil, lalu mengambil nasi di rice cooker. Ia meletakkan mangkok dan piring nasinya di meja makan dan mulai makan dengan lahap.
Suara sendok beradu dengan piring dan aroma masakan yang kuat, tanpa disadari, telah membangunkan Kenan.
Kenan terbangun, badannya kaku dan pegal karena tidur di kursi. Hal pertama yang ia rasakan adalah perutnya yang melilit karena lapar. Ia tidak makan sejak siang karena sibuk dengan urusan kantor dan rasa cemburu.
Kenan berjalan gontai ke dapur dan kaget ada Ayunda yang duduk sendirian di meja makan. Ayunda sedang makan dengan sangat lahap, fokus pada makanannya, seperti tidak ada pertengkaran yang baru terjadi.
Kenan berjalan dan duduk di hadapan Ayunda.
Ayunda tidak peduli. Ia terus menyuapkan nasi dan daging ke mulutnya. Ia memutuskan untuk mengabaikan Kenan sepenuhnya.
"Boleh saya minta masakan kamu?" tanya Kenan, suaranya pelan dan memelas. "Lapar sekali. Sejak siang belum makan."
Ayunda menatap Kenan sekilas, wajah Kenan terlihat sungguh-sungguh kelaparan. Hati Ayunda sedikit melunak, meski gengsinya tetap kokoh.
"Makan saja," jawab Ayunda datar, tanpa menatap Kenan lagi.
Kenan pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia segera mengambil piring dan menyendokkan nasi, lalu menyendokkan lauk tumisan daging slice yang terlihat menggoda itu.
Kenan mulai makan. Rasa lapar membuatnya makan dengan lahap. Namun, setelah suapan kedua, matanya membelalak. Tumisan daging Ayunda itu terasa sangat pedas! Ayunda ternyata menambahkan banyak irisan cabai rawit hijau.
Kenan, yang tidak terbiasa makan pedas, mulai berkeringat. Wajahnya memerah. Namun, karena gengsi dan rasa lapar yang mendesak, ia tetap memaksakan diri. Ia sesekali minum air mineral banyak-banyak karena kepedasan, lalu kembali makan dengan lahap.
Ayunda tersenyum tipis di sudut bibirnya. Ia melihat Kenan tersiksa karena pedas, dan itu sedikit memuaskan rasa kesalnya setelah pertengkaran. Ayunda selesai dengan makannya, ia puas melihat steak mahal Kenan ditukar dengan nasi goreng teri cabe ijo dan tumisan pedas.
Ayunda bangkit, membawa piring dan gelas kotornya ke wastafel dan mencucinya.
Setelah selesai, Ayunda kembali dan duduk di depan Kenan yang kepedesan. Kenan masih berjuang menghabiskan makanannya.
"Kenapa kamu buat pedas sekali?" tanya Kenan, suaranya sedikit sengau karena menahan pedas.
"Aku lupa kalau Mas Kenan tidak suka pedas," jawab Ayunda tanpa emosi. "Atau mungkin, itu karma karena sudah membuatku marah."
Kenan menyudahi makanannya. Ia mengambil napas lega. "Yah, setidaknya, itu adalah masakan paling jujur yang pernah aku makan. Pedas, tapi enak. Sama seperti kamu."
Ayunda menatap Kenan. Kenan tersenyum lembut, senyum yang menunjukkan ia sudah tidak marah lagi. Ia hanya lelah dan menyesal.
"Aku minta maaf sudah membentak kamu, Sayang," ujar Kenan. "Rasa cemburu itu membuatku gelap mata. Aku tidak bermaksud mengancam kebebasanmu. Aku hanya... takut kehilangan kamu."
"Tapi Mas Kenan tidak bisa memaksakan pernikahan sah. Kontrak kita sembilan bulan lagi. Aku butuh waktu untuk berpikir," balas Ayunda, nadanya kini melunak.
"Aku tahu. Tapi kita tidak bisa berpura-pura lagi, Ayunda. Apa yang terjadi di antara kita sudah lebih dari sekadar kontrak. Aku mencintai kamu," Kenan meraih tangan Ayunda. "Aku akan buktikan padamu bahwa menikah denganku tidak akan merenggut impianmu. Aku akan mendukung kamu. Aku akan menjadi suamimu, bukan penjara."
Ayunda menatap matanya, mencari kejujuran. Kenan terlihat tulus.
"Baik," Ayunda menghela napas. "Aku butuh waktu. Dan aku minta Mas Kenan berhenti mengatur hidupku. Aku hanya ingin belajar."
"Aku janji, aku akan lebih mengerti kamu. Tapi kamu juga harus janji, jangan buat aku cemburu lagi," Kenan mencium tangan Ayunda.
Ketegangan perlahan mencair. Tumisan pedas dan nasi hangat telah menjadi penawar bagi amarah dan gengsi mereka.
"Aku akan mencuci piring," kata Kenan, berdiri.
Ayunda menggeleng. "Sudah aku cuci. Hanya piring Mas Kenan ini saja yang belum."
Kenan tersenyum. "Kalau begitu, ayo ke kamar. Aku akan memelukmu sampai kamu tertidur. Kamu sudah lelah."
Malam itu, mereka kembali tidur di kamar yang sama. Tidak ada lagi gairah, hanya pelukan hangat yang menenangkan. Ayunda menyadari, meski Kenan arogan dan bossy, hatinya jauh lebih lembut daripada yang ia bayangkan. Dan cemburu Kenan, meskipun menyebalkan, adalah bukti cinta yang tulus, bukan sekadar hasrat.
Keesokan paginya, suasana di apartemen Kenan sangat berbeda. Bukan lagi d******i CEO dingin, melainkan kegaduhan seorang pria yang sedang sakit perut.
Kenan sudah bolak-balik ke kamar mandi sampai lima kali sejak adzan Subuh tadi. Wajahnya yang tampan kini terlihat pucat dan dipenuhi keringat dingin. Badan Kenan terasa lemas, semua adalah akibat dari tumisan daging slice super pedas buatan Ayunda tadi malam.
Ayunda, yang sudah bangun, melihat suaminya berjalan gontai keluar dari kamar mandi untuk yang kesekian kalinya. Hatinya sedikit melunak, meskipun ia masih menyimpan rasa kesal.
Ayunda mendekat. "Mas, coba ini. Aku punya obat sakit perut yang biasa aku beli di warung dekat rumah. Manjur banget." Ayunda menyodorkan sebutir tablet dari saku piyamanya.
Namun, Kenan menolaknya dengan cepat. "Enggak, Sayang. Aku nggak bisa minum obat sembarangan. Merek apa itu? Aku nggak percaya obat dari warung," tolak Kenan, kembali ke mode CEO yang sangat picky. Ia kemudian meraih ponselnya dan langsung menyuruh Rendy memanggil dokter pribadinya, Dokter Hasan, untuk datang ke apartemen secepatnya.
Kenan duduk lunglai di sofa ruang tamu, menyalakan televisi dan menonton film kartun kesayangannya—mungkin untuk mengalihkan rasa sakit di perutnya.
Sementara itu, Ayunda menggeleng maklum. Ia menyimpan kembali obat warungnya dan bergegas ke dapur. Ia memutuskan untuk membuatkan sesuatu yang lebih aman dan menenangkan untuk perut suaminya: Bubur hangat.
Ayunda memasak bubur dengan hati-hati, menambahkan sedikit kaldu ayam agar rasanya tidak hambar. Aroma bubur yang gurih mulai menguar, menggantikan bau masakan pedas semalam.
Tak lama setelah itu, nampak Kenan masuk ke kamar mandi lagi. Ayunda hanya tersenyum maklum. Setelah lima belas menit yang terasa lama, Kenan keluar dengan wajah semakin pucat dan memegang perutnya erat-erat.
Bubur sudah matang. Ayunda segera menaruhnya di mangkok yang cantik, lalu membawa nampan berisi bubur dan air putih hangat ke hadapan Kenan.
"Mas, ayo makan bubur dulu. Biar enak perutnya," ucap Ayunda lembut.
Kenan yang sudah lemas pun nurut. Ia duduk tegak, dan Ayunda mulai menyuapinya perlahan, seperti merawat seorang anak kecil. Kenan makan dengan pelan, merasa bersalah karena telah membuat istrinya repot setelah pertengkaran.
"Enak, Sayang. Maaf ya, aku merepotkan," bisik Kenan.
"Enggak apa-apa, Mas. Tapi ini balasan karena Mas Kenan mau memaksakan kehendak," cibir Ayunda pelan.