Suasana bandara sepi. Cuma ada suara koper dan pengumuman kedatangan. Kenan berdiri di dekat pintu kedatangan internasional, matanya nyari-nyari. Sampai akhirnya... “Mas!” suara familiar itu terdengar. Sagara datang, rambutnya agak panjang, ransel di punggung, senyumnya masih sama kayak dulu. Kenan langsung nyamperin dan narik adiknya ke pelukan. “Gila, kamu tinggi banget sekarang.” “Dua tahun di Aussie, Mas. Bukan cuma belajar, tapi juga makan enak,” jawab Sagara sambil ketawa. Mereka berdua akhirnya jalan ke mobil, saling tukar cerita ringan. “Jakarta nggak berubah ya, Mas.” “Cuma macetnya makin parah,” jawab Kenan, senyum tipis. Di mobil, Sagara sempat nanya, “Ibu gimana?” “Baik. Masih sering nanyain kamu. Dia bakal seneng banget lihat kamu balik.” Sagara menatap ke luar jen

