Pak Haryanto, pengacara Kenan yang tampak panik dan terkejut, bersama seorang penghulu tua dan dua karyawan kepercayaannya sebagai saksi, sudah siap. Rendy, si asisten, berdiri mematung di sudut, terlihat bersalah dan tidak berani menatap Ayunda, adik tirinya.
Ayunda duduk di hadapan penghulu, mengenakan gaun tidur satin polos milik Kenan yang kebesaran. Wajahnya pucat pasi. Ayah Ayunda sudah lama meninggal, jadi wali nikah diwakili oleh wali hakim yang dibawa oleh penghulu.
Kenan duduk tegak, jasnya sudah dilepas, menyisakan kemeja putih yang sedikit longgar. Keringat dingin membasahi punggungnya, menandakan perjuangan batin yang luar biasa melawan efek obat.
"Saya terima nikah dan kawinnya Ayunda binti almarhum Wijaya dengan mas kawin uang sebesar sepuluh miliar rupiah, tunai!" ucap Kenan dengan lantang dan tegas.
Suaranya tidak gemetar sama sekali, seolah dia sedang menyelesaikan kesepakatan merger perusahaan.
"Sah!"
"Sah!"
Suara saksi dan penghulu bergema. Ayunda resmi menjadi Nyonya Kenan Ardhana.
Kenan menoleh sekilas ke arah Ayunda. Tidak ada senyum, tidak ada kehangatan. Hanya tatapan dingin dan tuntutan yang membara.
Setelah akad selesai, Kenan langsung berbisik pada Pak Haryanto, "Transfer sepuluh miliar ke rekening Ayunda segera, besok pagi. Dan sisanya, urus semua biaya operasi dan administrasi rumah sakit untuk ibunya Ayunda. Jangan sampai ada yang kurang."
"Baik, Tuan," jawab Pak Haryanto cepat.
Kenan lalu menatap semua orang di ruangan itu. "Terima kasih atas kedatangan kalian. Sekarang, tinggalkan kami berdua. Dan pastikan tidak ada yang tahu tentang pernikahan ini, terutama media."
Satu per satu, pengacara, penghulu, dan saksi, bahkan Rendy, yang hanya bisa menatap Ayunda dengan tatapan menyesal, meninggalkan apartemen mewah itu, menutup pintu dengan pelan.
Keheningan melanda ruangan. Ayunda dan Kenan kini sendirian. Di luar, lampu-lampu kota menjadi latar belakang dari awal tragedi.
Kenan berdiri. Gerakannya tidak lagi tegar, melainkan didorong oleh kebutuhan yang mendesak. Ia berjalan mendekati Ayunda, matanya gelap.
"Ayunda."
Ayunda mendongak, merasakan ketakutan yang mencekik. "I-iya, Tuan?"
"Aku sudah menepati janjiku. Uangmu sudah aman. Sekarang, giliranmu menepati janji." Suara Kenan serak dan bergetar. Dia tidak bisa menahannya lagi.
Ayunda bangkit, mundur selangkah. Rasa sakit di matanya sangat jelas. "T-tuan, saya... saya belum siap..."
"Tidak ada waktu untuk siap!" bentak Kenan, suaranya sedikit melunak karena menahan diri. "Aku sedang disiksa di sini! Kamu istriku sekarang! Kamu harus melayaniku, malam ini juga!"
Gairah Kenan sudah mencapai puncaknya. Ia meraih lengan Ayunda, tarikannya kuat dan tak terbantahkan. Tanpa menunggu jawaban, Kenan menggendong Ayunda—tubuhnya yang atletis tak kesulitan mengangkat Ayunda yang ramping—dan membawanya menuju kamar tidur utama.
Ayunda hanya bisa menjerit tertahan. Ia memukul bahu Kenan lemah, namun pria itu sudah dibutakan oleh obat.
Kenan meletakkan Ayunda di kasur king size yang lembut, lalu menindihnya. Tubuhnya yang panas dan kekar terasa berat dan menekan.
"Maafkan aku, Ayunda," bisik Kenan, kata-kata yang terdengar lebih seperti rintihan paksaan daripada penyesalan.
Kenan menunduk. Bibirnya yang menuntut dengan kasar membungkam Ayunda. Ciumannya panas, cepat, dan hanya berisi hasrat. Ayunda melawan sebentar, air mata mulai menggenang di sudut matanya, tapi tak ada tenaga. Semua terasa cepat.
Tangan Kenan bergerak lincah, menyingkirkan pakaian tidur Ayunda dengan sekali sentakan, meninggalkannya polos dan terekspos di bawah tatapan gelap Kenan. Pria itu menyentuh setiap inci kulit Ayunda yang masih suci dengan sentuhan yang dipenuhi api.
Ayunda memejamkan mata, membiarkan air matanya mengalir deras ke bantal sutra. Ini demi Ibu. Ini demi Ibu. Itu mantra satu-satunya.
Saat Ayunda merasa siap, Kenan mendekat. Ayunda merasakan sesuatu yang keras dan panas menyentuh kulitnya. Kenan berbisik lagi, tapi suaranya sudah sangat jauh, dikuasai nafsu, "Bertahanlah, Sayang."
Ayunda hanya bisa memeluk leher Kenan erat-erat. Ia memejamkan mata saat rasa sakit yang tajam dan tak terperi menembus daerah intimnya. Kenan merobek batas suci Ayunda dengan paksa.
Napas Ayunda tercekat. Ia menjerit tertahan di pelukan Kenan, air matanya membanjiri bantal. Rasa sakit itu tak tertahankan, dan Kenan tidak peduli. Dia sudah terlalu jauh.
Kenan bergerak cepat dan kuat, menghentak dan bergerak tanpa jeda, tanpa memedulikan rintihan kesakitan istrinya yang baru menikahinya beberapa jam lalu. Dia hanya fokus pada tujuannya: pembebasan dari siksaan Fiona.
Sampai akhirnya, Kenan mencapai pelepasannya, jatuh dengan napas terengah di atas tubuh Ayunda yang kini lemah, basah oleh air mata dan darah.
Sesaat kemudian, Kenan tersadar. Efek obat itu perlahan mereda, digantikan oleh kesadaran pahit. Ia menatap Ayunda, yang terbaring tanpa daya di bawahnya, air mata masih mengalir di pelipisnya.
Kenan perlahan bangkit, duduk di tepi ranjang. Ia menatap Ayunda yang meringkuk, gemetar, dan berlumuran darah perawan. Penyesalan menghantamnya, dingin dan tajam.
Apa yang baru saja aku lakukan?
Ia telah membeli seorang istri dan merenggut kesuciannya, semua karena jebakan busuk dan sepuluh miliar yang tak ada artinya baginya.
Ayunda tidak bergerak. Dia hanya menangis dalam diam, memunggungi Kenan, memeluk lututnya yang bergetar. Dia sudah mendapatkan uangnya, tapi telah kehilangan segalanya.
Kenan tidak tahu harus berkata apa. Permintaan maaf terasa kosong dan hina. Ia hanya bisa mengulurkan tangan, menyentuh bahu Ayunda.
Ayunda tersentak, menjauh dari sentuhan itu seolah Kenan adalah api.
Kenan menarik tangannya kembali. Ia adalah CEO yang dingin, mampu mengendalikan seluruh perusahaan, namun kini ia tak berdaya di hadapan kesedihan seorang gadis remaja yang telah ia nodai.
Kenan akhirnya terlelap, kelelahan fisik dan mental setelah pergulatan hebat melawan obat sialan itu dan gejolak batin. Ia tidur tanpa melepas kemejanya, menyisakan kerutan pada kain katun mahalnya. Di sampingnya, Ayunda terbangun. Rasa sakit di bagian intimnya terasa menusuk, membuat tubuhnya kaku dan sulit bergerak. Ia menahan napas, berusaha tidak membangunkan pria yang kini resmi menjadi suaminya itu.
Dengan sisa tenaga, Ayunda mengangkat tubuhnya perlahan dari ranjang. Ia berjalan terseok-seok, langkahnya gontai dan terasa berat, menuju kamar mandi utama yang luas seperti studio. Pintu kaca di depannya terlihat buram karena matanya dipenuhi kabut kesedihan.
Begitu masuk, Ayunda menyalakan air hangat di bathtub marmer. Ia menanggalkan sisa pakaian tidur Kenan yang sempat ia kenakan tadi malam, lalu perlahan merendam dirinya di dalam air hangat. Air itu terasa menenangkan, meredakan nyeri yang menyiksa di seluruh tubuhnya. Ia membersihkan dirinya, mencuci bersih setiap jejak malam yang penuh paksaan itu. Air matanya menetes lagi, bercampur dengan air bak mandi, tetapi kali ini Ayunda tidak bersuara. Ia hanya ingin semua sakit ini hilang, terbilas bersama air. Setelah hampir lima belas menit, rasa sakitnya sedikit mereda.
Ayunda keluar dari kamar mandi, mengeringkan dirinya, lalu kembali mengenakan pakaian tidur satin milik Kenan. Pakaian itu kebesaran, tapi setidaknya bersih. Ia tak berani kembali ke ranjang. Melihat Kenan tidur di sana terasa mengancam, mengingatkan pada d******i yang baru saja ia alami.
Ia berjalan ke ruang tamu yang megah. Di sudut, ada sofa panjang berwarna abu-abu yang nyaman. Ayunda meringkuk di sana, memeluk dirinya sendiri. Di tengah gemerlap lampu kota yang mulai meredup menyambut pagi, Ayunda memejamkan mata. Ia memaksa dirinya terlelap, mencari perlindungan dari kenyataan yang baru saja ia hadapi. Ia berharap semua ini hanya mimpi buruk yang akan hilang saat ia membuka mata nanti.
Mentari pagi mulai menyapa kota Jakarta. Kenan Ardhana terbangun.
Hal pertama yang ia lakukan adalah meraba tempat tidur di sampingnya. Kosong. Rasa bersalah langsung menyergapnya. Semalam adalah kesalahan, didorong oleh obat dan ego yang dingin.
Kenan bangkit, kepalanya terasa lebih jernih, namun ada beban berat yang menekan dadanya. Ia segera mengenakan pakaiannya, merapikan kemeja yang kusut, dan keluar dari kamar.
Langkah kakinya terhenti di ruang tamu.
Di sofa, Ayunda meringkuk tidur. Wajahnya yang polos tampak lelah dan sedikit pucat. Seluruh tubuhnya tertutup selimut. Melihat Ayunda tidur di sofa, setelah semua yang terjadi, membuat Kenan merasa semakin buruk. Dia telah membeli gadis ini dan memaksanya tidur di ruang tamu, seperti seorang tunawisma.
Tanpa basa-basi, Kenan bergerak. Ia mengangkat Ayunda dengan sangat hati-hati, tubuh Ayunda seringan bulu. Gerakannya lembut, penuh kehati-hatian. Ia menggendongnya menuju kamar di sebelah kamar utama. Kamar itu adalah kamar tamu, mewah, tapi lebih kecil dan terasa lebih 'netral' dan aman. Kenan membaringkan Ayunda di ranjang, menyelimutinya hingga ke dagu.
"Istirahatlah," bisik Kenan pelan, lalu menutup pintu kamar Ayunda dengan sangat hati-hati.
Kenan kembali ke kamarnya, merasa sedikit lega karena Ayunda kini tidur dengan layak. Ia segera membersihkan diri, mandi air dingin untuk mengusir sisa-sisa kegilaan semalam.
Setelah itu, ia melaksanakan salat Subuh. Sebagai seorang muslim, meskipun disibukkan oleh bisnis dan ambisi, Kenan selalu menyempatkan diri untuk beribadah. Saat sujud, ia menyadari dosanya tadi malam. Ini bukan hanya masalah bisnis, tapi juga masalah moral. Ia berdoa, meminta ampunan atas apa yang ia lakukan, meski tahu dosanya tidak bisa hilang begitu saja.
Setelah salat, Kenan bangkit. Ia berniat kembali melihat Ayunda, memastikan gadis itu baik-baik saja.
Kenan berjalan pelan menuju kamar sebelah. Ia membuka pintu sedikit, mengintip.
Dan Kenan terperanjat.
Ayunda tidak tidur. Ia sedang salat Subuh.
Kenan melihat Ayunda yang mengenakan mukena putih (mungkin itu salah satu mukena cadangan yang ditinggalkan pembantu di lemari tamu), sujud dengan tenang. Punggungnya terlihat rapuh, tapi ada ketenangan di gerakannya. Ayunda, gadis yang ia beli dengan sepuluh miliar dan nodai tadi malam, adalah seorang wanita yang taat. Ia menunaikan kewajibannya tanpa terlewat.
Melihat pemandangan itu, seulas senyum tipis yang jarang ia tunjukkan muncul di bibir Kenan. Senyum yang tulus, bukan senyum bisnis. Ada rasa hormat yang muncul di hatinya. Kenan menutup kembali pintu kamar Ayunda dengan sangat pelan, tidak ingin mengganggu ibadah istrinya—istri kontraknya.
Kenan pergi ke dapur. Sebagai CEO, Kenan seharusnya memanggil chef pribadinya. Tapi pagi ini, ia merasa ingin melakukan sesuatu dengan tangannya sendiri. Ia memutuskan untuk memasak nasi goreng. Itu adalah satu-satunya makanan yang ia kuasai sejak kuliah di luar negeri.
Kenan yang gagah, bertubuh atletis dan berpakaian formal rapi, kini sibuk mengiris bawang dan cabai di dapur apartemennya. Aroma nasi goreng yang gurih segera menyebar.