Rahasia dibalik akad

1556 Words
Setelah matang, Kenan menata nasi goreng itu di piring dengan apik, menambahkan telur mata sapi dan acar. Ia menuangkan s**u hangat ke gelas, lalu membawa nampan berisi sarapan itu menuju kamar Ayunda. Kenan mengetuk pelan. "Ayunda, ini aku." "Masuk, Kenan," jawab Ayunda dari dalam, menggunakan nama itu dengan canggung. Kenan masuk. Ayunda sudah melipat mukenanya dan duduk bersandar di tempat tidur. Ekspresi Ayunda datar, kosong, tanpa senyum. Kenan berjalan mendekati tempat tidur, tersenyum. Ia meletakkan nampan di meja samping tempat tidur. "Aku masak nasi goreng. Makan, ya. Kamu belum sarapan," ucap Kenan, suaranya lembut, berusaha menghilangkan semua ketegangan semalam. Ayunda hanya menatap nasi goreng itu sekilas, lalu kembali menatap Kenan. Matanya masih menyimpan duka. "Terima kasih, Kenan. Tapi aku enggak lapar." Kenan menarik kursi di sudut kamar, duduk di samping ranjang. "Ayunda, jangan begitu. Kamu harus makan. Kamu lemah, kamu butuh energi. Aku enggak mau kamu sakit." Kenan mengambil piring nasi goreng, mengambil sendok. "Oke. Kalau kamu enggak mau makan, biar aku suapin." Ayunda terkejut. "Kenan, jangan! Itu enggak pantas. Aku bisa sendiri." "Ssst," Kenan mendekatkan sendok. "Ini adalah permintaan suami pertamamu. Buka mulut." Dengan sedikit bujukan dan rayuan manis yang tak pernah ia gunakan pada wanita lain, Kenan berhasil membuat Ayunda membuka mulut. Ayunda makan dengan canggung, tapi nasi goreng buatan Kenan memang enak. "Gimana? Enak, kan? Aku cuma bisa masak ini," kata Kenan, nadanya santai. "Enak," bisik Ayunda pelan. Setelah suapan ketiga, Ayunda memberanikan diri menatap Kenan. "Kenan, aku mau bicara." Kenan mengangguk. "Bicara saja. Habiskan dulu ini." Setelah Ayunda selesai, Kenan membersihkan mulut Ayunda dengan tisu, lagi-lagi dengan gerakan lembut. "Sekarang, bicara. Apa yang ingin kamu katakan?" Ayunda menarik napas dalam-dalam. "Aku mau tahu... kenapa kamu melakukan itu tadi malam? Kenapa kamu tidak melakukannya bersama Fiona? Bukankah itu yang Fiona inginkan?" Wajah Kenan langsung tersenyum kecut. Semua kehangatan tadi pagi menghilang, digantikan oleh ekspresi dingin. "Kamu pikir aku akan tidur dengan wanita yang sudah menjebakku, Ayunda? Apalagi, wanita yang telah mengkhianatiku?" Kenan menyandarkan punggungnya ke kursi. "Fiona menjebakku karena dia tahu aku akan menolaknya. Aku membencinya. Dia selingkuh dengan teman bisnis terbaikku. Sejak itu, Fiona mati bagiku. Jadi, daripada aku menyerahkan diriku pada wanita yang ingin menghancurkanku, aku lebih memilih mengambil jalan pintas yang lebih bersih. Aku membeli janji. Membeli kamu." Ayunda hanya mengangguk kecil, mulai memahami sebagian kecil dari dunia gelap Kenan. Ia mengerti kenapa Kenan bersikap sebrutal itu tadi malam—itu bukan hanya gairah, tapi juga dendam dan rasa jijik pada Fiona yang melampiaskan melalui dirinya. "Aku minta maaf, Ayunda," ujar Kenan, kata-kata yang sulit keluar. "Aku berjanji, aku tidak akan menyentuhmu lagi tanpa seizinmu. Tadi malam... aku terpaksa. Aku dijebak. Aku tidak bisa mengendalikan diri. Aku tidak bermaksud menyakitimu." Ayunda menatapnya lama. Permintaan maaf itu terdengar tulus. "Janji itu, Kenan. Pegang." "Aku janji," ulang Kenan, matanya menatap tegas. Kenan membawa piring dan gelas kosong, lalu meninggalkan kamar Ayunda. Pintu tertutup pelan. Kenan tidak langsung ke kantor. Ia pergi ke kamarnya dan menghubungi butik langganannya. "Halo, butik Ratu. Kirimkan segera staf kalian ke apartemenku di Emerald Tower. Bawakan lima set pakaian wanita yang sopan, ukuran S. Lengkap dengan dalaman, sepatu flat, dan tas selempang. Semua harus kualitas terbaik. Segera!" Hampir satu jam kemudian, bel apartemen Kenan berbunyi. Seorang wanita muda dari butik datang membawa dua paper bag besar berisi pakaian, sepatu, dan tas. Kenan dengan cepat mengecek isinya, membayar tagihan yang nilainya bisa membeli motor baru, dan menyuruh wanita itu pergi. Kenan membawa tas belanjaan itu, serta sebuah amplop besar, menuju kamar Ayunda. Ia mengetuk pintu lagi. "Ayunda, ini aku." Ayunda membuka pintu. Ia masih mengenakan piyama satin Kenan yang kebesaran. Kenan tersenyum. Senyumnya kini lebih rileks. Ia menyerahkan tas belanjaan itu. "Ini pakaianmu. Jangan pakai piyama itu lagi. Aku tidak mau istriku terlihat seperti baru bangun tidur saat menengok ibunya." Ayunda memandang isi tas itu. Ada beberapa blouse sederhana tapi elegan, rok, dan beberapa setel pakaian dalam yang masih berlabel. Ia merasa sedikit malu, tapi juga lega karena ia tidak punya pakaian lain di sini. "Terima kasih, Kenan," bisik Ayunda. Lalu Kenan menyerahkan amplop besar itu. "Ini," kata Kenan. "Di dalamnya ada kartu ATM dan buku tabungan atas nama kamu. Sepuluh miliar rupiah sudah ada di rekening itu. Cek sendiri." Ayunda tersenyum tulus. Itu adalah senyum pertamanya pagi ini. Senyum lega seorang anak yang tahu nyawa ibunya sudah aman. Ia menerima buku tabungan itu dengan tangan gemetar. "Aku... aku tidak tahu harus bilang apa. Terima kasih banyak, Kenan." "Tidak perlu berterima kasih. Itu kesepakatan kita." Kenan menatap jam tangannya. "Aku sudah atur. Jam delapan tepat, aku akan mengantarkan kamu sendiri ke Rumah Sakit Bunga Bangsa Jakarta untuk menengok ibumu yang sudah dioperasi. Siap-siap, Ayunda." "Kamu akan mengantarku?" tanya Ayunda terkejut. "Ya. Aku suamimu, meskipun kontrak. Aku harus tahu di mana ibumu dirawat. Sekarang, bersiaplah." Kenan berbalik dan berjalan keluar, meninggalkan Ayunda di kamar yang dipenuhi pakaian baru, rekening sepuluh miliar, dan kebingungan baru tentang status suaminya. Kenan Ardhana memang dingin, tapi ia menepati janji, bahkan melebihi yang tertulis di kontrak. Ayunda memegang buku tabungan itu, lalu menyentuh peci rajutan yang ia jahit sendiri dan sembunyikan di tasnya. Ia tahu, babak baru dalam hidupnya—sebagai Pesona Istri Sepuluh Miliar Milik CEO Dingin—baru saja dimulai. Tepat pukul delapan pagi, Kenan dan Ayunda sudah berada di dalam private lift apartemen. Ayunda mengenakan pakaian barunya; sebuah blouse putih sederhana dan rok span hitam, terlihat sopan dan manis. Kenan sendiri tampak gagah dalam setelan jas navy yang rapi, siap untuk hari yang panjang di kantor. Perjalanan singkat ke Rumah Sakit Bunga Bangsa terasa canggung. Ayunda sesekali melirik Kenan, sementara Kenan hanya fokus ke depan, meski sesekali ia melirik ke samping melalui kaca mobil mewah itu. Mobil melaju pelan, membelah lalu lintas pagi Jakarta. "Kamu sudah siap bertemu ibumu?" tanya Kenan, suaranya terdengar formal. Ayunda mengangguk, tangannya meremas tas selempang barunya. "Siap, Kenan. Terima kasih." "Ingat," Kenan memandangnya sekilas. "Semua biaya sudah lunas. Operasi berhasil. Ibumu akan baik-baik saja." "Iya, aku tahu. Aku sudah mengecek rekening tadi. Sepuluh miliar itu... jumlah yang gila," bisik Ayunda. "Anggap saja itu adalah harga kontrak. Aku menepati janji." Tak lama, mereka tiba di Rumah Sakit Bunga Bangsa. Mobil Kenan berhenti tepat di depan lobi VVIP. Ayunda dan Kenan segera diantar oleh perawat menuju ruang rawat inap VVIP Ibu Halimah. Di dalam ruangan yang luas dan nyaman, Ibu Halimah, ibu Ayunda, sudah terlihat lebih segar. Wajahnya tidak lagi pucat, dan senyum tipis tersungging di bibirnya. Di sampingnya, duduk setia Abimanyu, adik Ayunda yang masih SMP. Abimanyu sibuk membaca buku pelajaran, namun sesekali ia mengangkat kepala untuk memastikan ibunya baik-baik saja. Ayunda tertegun sejenak. Melihat ibunya tersenyum membuatnya merasa lega luar biasa. Segala rasa sakit, pengorbanan, dan keputusan gila tadi malam terasa terbayar lunas. "Ibu!" Ayunda segera berlari kecil, memeluk ibunya dengan erat. Air mata haru mengalir deras, namun kali ini air mata bahagia. "Ayunda, Sayang. Kamu datang," bisik Ibu Halimah, membalas pelukan Ayunda dengan lemah. "Ibu baik-baik saja, Nak. Jangan menangis." Ayunda melepaskan pelukan, lalu mencium pipi ibunya. "Iya, Bu. Aku senang Ibu sudah segar." Ia beralih memeluk Abimanyu. "Adek, gimana? Udah sarapan?" "Udah, Kak. Nasi goreng dari rumah sakit," jawab Abimanyu, matanya masih polos, lalu ia menatap Kenan dengan tatapan penasaran. Ayunda menarik napas. Ini bagian yang paling sulit. Ia harus mengarang cerita. "Bu, ini..." Ayunda tersenyum canggung pada Kenan. "Kenalkan, ini Pak Kenan. Beliau bos di perusahaan tempat aku kerja paruh waktu sekarang." Kenan, yang berdiri diam dengan aura CEO yang mendominasi, hanya mengangguk sopan pada Ibu Halimah. Ibu Halimah tersenyum ramah. "Ya ampun, Nak Kenan. Terima kasih banyak sudah mau menjenguk. Saya sudah dengar dari Rendy. Rendy bilang, Bapak sudah membiayai semua operasi saya. Saya tidak tahu harus membalas kebaikan ini dengan apa." Ayunda buru-buru menyela, menepuk bahu Kenan pelan, seperti rekan kerja yang akrab. Ia memberikan kode mata pada Kenan, tatapan memohon agar Kenan tidak merusak kebohongan ini. "Iya, Bu. Pak Kenan memang baik sekali. Beliau bilang, Ayunda itu rajin dan pintar. Jadi beliau mau menerima Ayunda kerja paruh waktu di perusahaannya," jelas Ayunda meyakinkan. "Semua biaya rumah sakit ini dibayar dari talangan kantor, Bu. Nanti gaji Ayunda akan dipotong sedikit-sedikit buat melunasi utang biaya operasi ini." Ayunda menatap ibunya dengan tatapan penuh kepastian, berusaha menutupi rasa takut. Dia tahu, ibunya memiliki riwayat penyakit jantung yang sensitif terhadap shock dan stres. Jika Ibu Halimah tahu Ayunda sudah menikah, apalagi dengan cara kontrak demi uang, itu bisa memicu serangan jantung mendadak. Kenan yang mendengar kebohongan Ayunda hanya bisa berdiri diam. Wajahnya yang semula tegang karena menahan hasrat, kini tegang karena menahan diri untuk tidak membongkar cerita itu. Ia membalas tatapan Ayunda dengan tatapan tajam, seolah berkata: Kita bicara nanti. Ibu Halimah menghela napas lega. "Ya ampun, Nak Kenan. Terima kasih banyak. Saya sudah merepotkan Bapak. Terima kasih sudah menerima Ayunda. Saya janji, Ayunda pasti akan bekerja dengan baik dan melunasi utangnya." "Tentu, Bu Halimah. Ayunda adalah karyawan yang berpotensi. Tugas perusahaan adalah membantu karyawan yang berprestasi," jawab Kenan, berhasil menguasai diri dan memainkan peran sebagai 'bos baik' dengan sempurna. Suaranya terdengar meyakinkan dan hangat. Setelah berbincang sebentar, Kenan melihat jam tangannya. "Bu Halimah, saya harus kembali ke kantor sekarang. Tapi saya minta izin untuk bicara sebentar dengan Ayunda di luar," ujar Kenan sopan. "Oh, tentu, Nak. Silakan. Ayunda, layani bosmu itu dengan baik, ya." Ayunda mengangguk, lalu mengikuti Kenan keluar. Mereka berjalan menuju sudut lorong yang sepi, jauh dari pandangan perawat dan pengunjung lain.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD