"Apa-apaan tadi, Ayunda?" desis Kenan, wajahnya kembali dingin.
"Aku harus melakukannya, Kenan!" balas Ayunda, nadanya sedikit meninggi. "Kamu pikir ibuku akan baik-baik saja kalau tahu aku sudah menikah sirri dengan kamu? Demi uang sepuluh miliar? Dia bisa shock dan kena serangan jantung lagi! Aku tidak mau ambil risiko itu!"
Kenan mengusap wajahnya dengan frustrasi. "Tapi kamu berbohong! Kamu bilang aku bos yang menalangi operasi dengan potong gaji! Itu konyol! Aku CEO, Ayunda, aku tidak main potong gaji untuk utang seratus juta!"
"Itu adalah kebohongan yang paling masuk akal buat Ibu, Kenan! Dengan begitu, Ibu tidak merasa berutang budi. Dia pikir aku akan membayarnya sendiri! Biarkan dia tahu aku bekerja paruh waktu di kantormu, bukan menjadi istrimu! Lagipula, apa bedanya? Aku memang 'bekerja' untukmu selama satu tahun ini!" Ayunda menatapnya dengan mata memohon.
Ayunda mendekat. "Kumohon, Kenan. Biarkan kebohongan ini bertahan. Demi keselamatan ibuku. Aku janji, aku tidak akan merusak reputasimu. Di depan ibuku, kamu adalah bosku, bukan suamiku."
Kenan menatap mata Ayunda yang berkaca-kaca. Ia melihat ketulusan dan ketakutan yang nyata di sana. Ia tahu Ayunda tidak sedang memanfaatkannya lebih jauh, ia hanya melindungi ibunya.
Kenan menghela napas, panjang dan menyerah. Ia kembali kalah oleh Ayunda. Pertama karena janji di dapur, sekarang karena air mata seorang anak.
"Baik," Kenan mengangguk kaku. "Aku akan mengikuti kebohonganmu. Tapi hanya di depan ibumu. Di sini, kamu tetap istriku."
"Terima kasih, Kenan." Ayunda merasa lega luar biasa.
"Aku akan menjemputmu malam ini jam sembilan. Kamu harus kembali ke apartemen," kata Kenan, nadanya kembali otoriter.
Ayunda menggeleng cepat. "Tidak, Kenan. Aku akan tidur di sini, menemani Ibu. Abimanyu juga di sini. Aku tidak mau meninggalkan Ibu sendirian di malam pertamanya setelah operasi."
"Tapi kamu istriku sekarang. Dan kamu belum pulih sepenuhnya," Kenan menuntut.
"Aku baik-baik saja. Aku akan tidur di sofa kamar rawat. Aku tidak akan meninggalkan Ibu." Ayunda bersikeras. "Aku baru bisa meninggalkannya kalau dia benar-benar pulih dan bisa dipindahkan ke kamar biasa."
Kenan menyadari, tidak ada gunanya berdebat dengan Ayunda tentang ibunya. Kenan sang CEO yang biasa mendapatkan semua yang ia inginkan, harus kembali mengalah pada keinginan sederhana istrinya yang baru ia nikahi semalam.
"Baiklah. Aku akan kirim Rendy dan perawat pribadiku ke sini nanti sore. Pastikan kamu makan teratur. Aku tidak mau kamu sakit," perintah Kenan, ada nada protektif yang tanpa sadar ia keluarkan.
Ayunda tersenyum tulus. "Iya, Kenan. Terima kasih."
Kenan mengangguk. "Aku pergi. Aku akan hubungi Rendy untuk mengecekmu."
Kenan berbalik dan berjalan cepat menuju lift VVIP. Ia meninggalkan rumah sakit dengan perasaan yang campur aduk. Ia adalah suami yang dibohongi, tapi ia membiarkan kebohongan itu demi melindungi ibu mertuanya. Ia membeli seorang istri, tapi sekarang ia merasa seperti ia yang harus melayani istri kontraknya.
Ayunda kembali ke ruang rawat ibunya. Ibu Halimah tersenyum melihatnya.
"Gimana, Nak? Bosmu sudah pergi?"
"Sudah, Bu. Beliau sibuk," jawab Ayunda, duduk di samping ibunya, meraih tangan ibunya yang hangat.
"Kamu harus bekerja keras, Nak. Jangan sampai memalukan bosmu. Kita harus segera melunasi utang ini. Pak Kenan itu orang baik, jangan sampai dikecewakan."
Ayunda memeluk ibunya erat-erat, air mata kembali menggenang. "Iya, Bu. Ayunda janji, Ayunda akan bekerja keras. Ayunda akan selalu ada buat Ibu dan Adek."
Ayunda tahu, kebohongan ini adalah tali yang akan mengikatnya pada Kenan selama satu tahun penuh. Tapi demi senyum ibunya, Ayunda rela menjadi istri kontrak, dan menjadi seorang 'karyawan' yang harus membayar utang sepuluh miliar dengan pengorbanan dirinya.
Seminggu sudah Ayunda menghabiskan hari-harinya di Rumah Sakit Bunga Bangsa, kamar VVIP ibunya. Ia tidur di sofa lipat, menjagai Ibu Halimah dengan penuh kasih sayang.
Sementara itu, Kenan, sang CEO dingin, kembali tenggelam dalam kerajaan bisnisnya. Hubungan mereka selama seminggu ini hanya sebatas chat singkat. Kadang Kenan bertanya, "Sudah makan?" atau "Ibumu bagaimana?" yang dibalas Ayunda dengan, "Sudah, Kenan. Baik," atau "Terima kasih." Dingin, seperlunya, sesuai dengan status kontrak mereka. Namun, di balik sikap dingin itu, Kenan diam-diam merasa sangat merindukan istri kecilnya. Apartemen mewahnya terasa terlalu sunyi, dan nasi goreng buatannya terasa semakin hambar.
Hari ini adalah hari yang dinantikan: Ibu Halimah diperbolehkan pulang. Ayunda bersemangat, mengemas barang-barang ibunya dan barang-barang pribadinya yang ia bawa dari rumah. Ia tahu, setelah ini, ia tidak bisa lagi beralasan di rumah sakit. Ia harus kembali ke apartemen Kenan dan menjalankan peran sebagai istri kontrak.
Di depan lobi rumah sakit, Ayunda memapah ibunya. Abimanyu, adiknya yang sudah tidak sekolah selama lima hari, sigap membawakan tas. Mereka terkejut melihat sebuah mobil sedan mewah sudah menunggu, dan berdiri tegak di samping mobil itu adalah Kenan Ardhana sendiri, tampil gagah dengan kemeja kasual mahal.
"Kenan!" Ayunda terkejut, sekaligus sedikit panik. Ia tidak menyangka Kenan akan datang menjemput.
Kenan tersenyum tipis pada Ayunda, lalu beralih menyapa Ibu Halimah. "Bu Halimah, selamat ya, sudah boleh pulang. Saya sudah siapkan mobil untuk mengantar Anda."
Ibu Halimah tersentuh. "Ya ampun, Nak Kenan. Repot-repot sekali. Harusnya saya naik taksi saja."
"Tidak apa-apa, Bu. Saya kebetulan baru selesai urusan di dekat sini," dusta Kenan dengan mulus. Ayunda tahu Kenan sudah membuat jadwalnya berantakan demi menjemput mereka.
Kenan memerintahkan sopirnya untuk membuka pintu. Abimanyu duduk di kursi depan bersama sopir, terlihat kagum dengan interior mobil mewah itu. Sementara Kenan, Ayunda, dan Ibu Halimah duduk di jok belakang.
Mobil mewah Kenan melaju dengan santai menuju rumah Ayunda yang sederhana. Di sepanjang jalan, Ibu Halimah terus memuji kebaikan Kenan, dan Ayunda harus mati-matian menjaga agar ceritanya tidak bocor. Kenan sesekali menanggapi, bersikap hangat dan bersahabat seperti bos yang sangat baik.
Setengah jam kemudian, mereka tiba di rumah minimalis milik keluarga Ayunda.
Sopir dan Abimanyu segera membawakan barang-barang. Ayunda memapah ibunya turun dengan hati-hati. Kenan mengawasi semuanya.
Setelah Ibu Halimah dibaringkan di kamar, Ayunda kembali ke ruang tamu. Kenan sudah duduk di sofa, terlihat sangat nyaman. Ia tidak canggung sama sekali di tengah kesederhanaan rumah Ayunda.
Abimanyu sudah duduk di sofa tunggal di depan Kenan. Anak SMP itu tampak bersemangat, menatap Kenan dengan rasa ingin tahu.
"Om Kenan itu CEO, ya? Kantornya sebesar apa, Om?" tanya Abimanyu polos.
Kenan tersenyum. "Ya, kurang lebih begitu, Abi. Kantornya tinggi sekali. Tapi kerjaan Om enggak seseru main game kamu."
Abimanyu tertawa. Kenan berbicara kepada Abimanyu dengan santai, menanyakan sekolahnya, dan menasihatinya. Kenan yang dingin dan dominan di kantor, di depan Abimanyu, menjelma menjadi sosok kakak yang bijaksana dan menyemangati. Kenan berjanji akan memberikan biaya kursus privat untuk Abimanyu agar ia tidak ketinggalan pelajaran. Abimanyu pun senang bukan main.
Ayunda keluar dari kamar ibunya, lega melihat ibunya sudah terlelap. Ia melihat interaksi Kenan dan Abimanyu, dan hatinya menghangat. Ia tidak menyangka Kenan bisa bersikap sehangat itu.
"Adek," panggil Ayunda. "Adek sudah lima hari enggak sekolah. Sekarang Ibu sudah tidur, kamu juga istirahat di kamarmu, ya. Besok pagi kamu harus sekolah."
Abimanyu mengangguk patuh, menoleh ke Kenan. "Sampai jumpa, Om Kenan. Terima kasih ya, Om."
"Sama-sama, Abi. Belajar yang rajin, ya," balas Kenan.
Setelah Abimanyu masuk ke kamar, suasana menjadi sepi. Ayunda duduk di sofa yang berseberangan dengan Kenan.
"Terima kasih sudah mengantar kami, Kenan. Dan terima kasih sudah bersikap baik pada Abimanyu," ujar Ayunda tulus.
Kenan tidak menjawab. Matanya menatap Ayunda tajam. Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan.
"Sudah selesai urusan ibumu, Ayunda. Sekarang, kita kembali ke urusan kita," ucap Kenan, suaranya rendah dan serius.
Ayunda menghela napas. Ia tahu ini akan terjadi. "Kenan, aku tidak bisa malam ini. Aku harus jaga Ibu. Ibu baru saja selesai operasi."
"Aku sudah siapkan perawat standby di rumah sakit selama seminggu ini. Aku bisa panggil perawat terbaik ke sini malam ini juga," balas Kenan. "Kamu harus ikut aku."
"Tidak, aku tidak mau ada orang asing di rumah ini. Aku harus di sini. Aku tidak akan meninggalkan Ibu."
Kenan tiba-tiba habis kesabaran. Raut wajahnya berubah menjadi dingin dan sedikit frustrasi. Ia menggebrak meja kopi kecil di depannya, membuat Ayunda terkejut.
"Sudah seminggu, Ayunda! Seminggu aku sendirian di apartemen itu! Kamu pikir aku siapa?" desis Kenan, amarahnya tertahan.
Ayunda diam, terkejut melihat Kenan kehilangan kontrol seperti ini.
Kenan berdiri, berjalan mendekati Ayunda. "Aku suamimu. Aku sudah menepati semua janjiku. Aku sudah memberimu sepuluh miliar, aku sudah mengurus ibumu. Sekarang, kamu harus menepati janji kontrakmu. Kamu harus kembali ke apartemen, sekarang."
Kenan tiba-tiba menyadari betapa merindukannya ia pada istri kecilnya ini. Rasa rindu itu bukan hanya karena efek obat, tapi karena kehadiran Ayunda yang polos dan tulus telah menjadi titik terang di tengah dinginnya hidup Kenan.
"Ayunda," panggil Kenan, suaranya melembut, tapi matanya tetap menuntut.
Sebelum Ayunda sempat menolak, Kenan bergerak cepat. Ia meraih lengan Ayunda dan menariknya ke pangkuannya.
Ayunda terkejut setengah mati, ia duduk kaku di pangkuan Kenan. "Kenan! Apa yang kamu lakukan! Ini di rumah ibuku!" bisik Ayunda panik, berusaha mendorong d**a Kenan.
Kenan tidak bergeming. Ia memegang pinggang Ayunda dengan kuat. "Jangan bergerak. Kalau kamu menolak, aku akan masuk ke kamar ibumu sekarang dan membuka semua kebohonganmu. Aku akan bilang kalau kita sudah menikah, dan kamu harus ikut aku."
Ancaman itu berhasil. Ayunda terdiam, seluruh tubuhnya menegang. Ia tidak mau ibunya kembali shock. "J-jangan, Kenan. Kumohon."
"Kalau begitu, turuti aku," bisik Kenan, suaranya serak. Ia menang dalam permainan kekuasaan ini.
Ayunda pun terdiam, membiarkan dirinya duduk di pangkuan suami kontraknya. Rasa malu dan takut bercampur aduk, tapi ia tidak bisa melawan.