Malam terasa begitu syahdu. Setelah seharian penuh drama resepsi dan salam-salaman yang bikin pegal, akhirnya Rendy dan Shafira resmi sendirian di kamar pengantin. Aromanya wangi melati, campur bau lilin aroma terapi yang tipis. Shafira sudah bersandar nyaman di headboard ranjang, senyumnya nggak hilang-hilang. Rendy duduk di sampingnya, meraih tangan Shafira, lalu menciumnya lama. Rendy menatap Shafira lekat-lekat, matanya berkilat nakal. Dia mendekatkan bibirnya ke telinga Shafira. "Siap, Sayang? Malam ini Mas nggak akan buat kamu tidur," bisik Rendy, suaranya rendah dan serak, "dan besok kamu nggak akan bisa jalan." "Ish, Mas!" Shafira memukul pelan bahu Rendy, wajahnya memerah total. Tapi di matanya, ada binar harapan yang nggak bisa disembunyikan. Rendy nggak menunggu lama.

