Ruangan VVIP sore itu terasa tenang… cuma ada suara mesin monitor yang bunyinya beep… beep pelan. Ayunda duduk di sebelah ranjang Kenan sambil sesekali ngelus tangan suaminya. Mata Ayunda sembab, tapi dia berusaha tetap terlihat kuat. Kelopak mata Kenan akhirnya bergerak. Pelan, tapi jelas. Ayunda langsung bangun dan mendekat. “Mas Kenan…?” suara Ayunda lembut banget, kayak takut ganggu. Kenan membuka mata perlahan, tatapannya masih buram. “Aku… di mana, sayang?” “Kamu di ICU, Mas. Kamu kecelakaan… mobil kamu hancur. Pak Umar… meninggal.” Suara Ayunda bergetar waktu nyebut nama sopir mereka. Kenan langsung merem lagi, air matanya keluar begitu aja. “Innalillahi wa inna ilaihi rojiun… Pak Umar…” napasnya tersengal. Beberapa detik kemudian, dokter Restu masuk sambil ngecek monitor dan

