Asap masih tebal banget di lantai atas. Dinding gosong, kayu-kayu masih nyala kecil, udara panas sampai bikin napas sesak. Sagara dan Rendy naik buru-buru, muka mereka serius, panik, dan ketakutan jadi satu. “Gas! Cepetan, sebelum api naik lagi!” ujar Rendy sambil nutup hidungnya dengan lengan baju. Sagara fokus ngelihat sekitar, matanya nyari tanda-tanda Ayunda. Tapi yang dia temuin cuma sisa-sisa barang yang udah gosong. Tiba-tiba pandangannya berhenti pada sesuatu di tumpukan abu. “Sabar… sabar… ini apa…” gumamnya. Dia jongkok, tangan gemetar. Di antara abu, ada kalung kecil yang Ayunda selalu pakai. Di sampingnya cincin tipis yang selalu nempel di jarinya. “Ayunda…” suara Sagara pecah. “Ayunda… kenapa kamu pergi secepet ini… kenapa?” teriaknya sambil nangis. Rendy langsung ikut j

