Rendy yang sudah kembali dari mengantar Tuan Takeshi ke bandara, berjalan menuju ruang kerja Kenan. Ia membawa beberapa berkas penting yang harus ditandatangani Kenan sebelum jam makan siang usai. Rendy berjalan mendekat. Ia meletakkan tangannya di kenop pintu, lalu tiba-tiba ia mendengar suara samar dari dalam ruangan. Bukan suara meeting, melainkan suara desahan mesra dan erangan manja yang sangat ia kenali, bercampur tawa lembut. Rendy sontak menghentikan gerakannya. Ia memejamkan mata, wajahnya langsung memerah, lalu geleng-geleng kepala. "Astaga. Tidak di kantor, tidak di rumah, sama saja," gumam Rendy. "Dasar pasangan bucin! Harusnya ini jam kerja, malah sibuk bulan madu di ruangan. Untung meeting jam dua siang, jadi masih ada waktu." Rendy merasakan sedikit rindu kepada Shafi

