“Phavel?” White yang biasanya tenang kini bahkan hampir setengah berteriak hanya karena perkara sebuah nama. Wajahnya bahkan berubah pucat menyamai warna rambutnya yang putih keperakan. Entah karena rasa takut atau bahkan rasa marah yang memuncak melebihi batas. “Orang itu? Ketua anda membiarkan orang itu menjalankan tugas se krusial ini?! Dia itu orang yang terlalu licik dan lihai. Dia bisa berpotensi menjadi seorang penghianat—” “Tapi diluar segala ekspektasi yang kau katakan barusan, dia tetaplah berstatus sebagai anggota GSF.” Potong Davira, berusaha sedikit untuk membela dan bersikap tidak setuju atas ujaran yang dikeluarkan oleh White yang merupakan ketua timnya sendiri. Sebelah tangannya bertopang ke atas meja, sebagai penyeimbang. “Wajar saja bagi Ketua berkeputusan untuk menurunk

