Aku menapaki anak tangga dengan gerakan yang terlalu cepat, hanya untuk dapat mengambil dua pijakan dalam satu langkah. Senapan riffleku sendiri sudah tergenggam erat didada, menjaganya untuk dapat berfungsi hingga melepaskan timah panas tepat didepan muka si sialan Vladimir. Gigiku menggertak karena menahan amarah. Emosiku juga mulai timpang tindih dan tidak stabil hampir membuatku berada dalam kondisi setengah gila. Gambaran Dhaffin yang sedang tersudut oleh ancaman dari Vladimir mulai kembali muncul saat pemuda itu berusaha memberikan perlawanan namun sia-sia sebab kalah oleh kekuatan Vladimir yang mencekik lehernya. Belum pernah aku melihat Dhaffin seputus asa itu. pancaran sinar matanya yang tersiksa dan tersudut sebab tidak dapat berbuat apa-apa melelehkan segala tekad yang ada pad

