Belum lagi Dhaffin berkomentar lebih lanjut, Edna sudah lebih dulu menyingkirkan tangannya dari pangkuan dan miliknya sendiri. Wanita itu dengan berani mengambil sebuah tindakan yang tak bisa dia percaya. Edna mengambil posisi berbaring dengan kepalanya yang bersandar di paha Dhaffin. Dia menutup matanya. “E-Edna?” “Aku berubah pikiran.” Gumamnya dengan mata yang tertutup dan reaksi tubuhnya yang lebih mirip kucing rumahan yang manja. “Aku butuh tidur.” “Ke.. kenapa tidak dikamarmu saja?” sekarang Dhaffin merasa wajahnya sudah melebur pada titik tertinggi. Bila ada cermin disini dia bisa memastikan pipinya sudah semerah tomat gara-gara tingkah polah wanita ini pada dirinya dengan seenaknya tentu saja. “Ini berbahaya, aku tidak bisa berjanji untuk menahan diriku.” Gumamnya lagi yang dili

