Kedua kelopak mata Dhaffin terbelalak, dia seperti baru disadarkan atas sesuatu yang sudah terlewatkan oleh nya dengan begitu natural. “Oh.. apa aku mendengkur? Kurasa aku tidak pernah mendapatkan keluhan soal itu dari beberapa temanku dulu.” Edna mengerang frustasi menghadapi betapa bodohnya pria ini. Dia mendecakan lidah sebelum pada akhirnya berjalan kearah pintu kamar sepertinya dia memutuskan untuk keluar dari ruangan ini seperti sebelumnya. Lampu kamar seketika dimatikan tanpa apa-apa membiarkan suasana yang gelap gulita menjadi dua kali lipat lebih pekat. Dhaffin tidak suka itu, apalagi berada di tempat asing yang notabene terisolasi. Tidak betah bila dia terkurung sendirian tanpa wanita itu. “Edna!” “Apa?” tak ada jeda sama sekali ketika dirinya setengah berteriak. Suara wanita

