***
Brakk!
Aku terkesiap mendengar pintu kamar tiba-tiba terbuka, menampilkan sosok laki-laki yang baru resmi menjadi suamiku tadi pagi. Aku menoleh sekilas, lalu mengalihkan pandangan lagi ke arah jendela kamar. Mas Aldo masuk tanpa mengucap salam. Bahkan, ekspresi wajahnya tampak datar. Bukan tanpa alasan, dirinya terlihat masih kesal terhadapku. Sebenarnya, aku ingin menyapa, tetapi urung. Hati ini tidak mampu lagi mendengar jawaban menyakitkan yang terlontar tanpa filter.
Setelah menimbang keputusan cukup lama, akhirnya aku mencoba acuh tak acuh dan tidak menganggapnya ada. Aku hanya diam, duduk termenung di sudut ranjang sambil menatap kosong ke arah luar. Sepertinya, pemandangan kepadatan jalan raya yang terpampang di luar jendela hotel lebih menarik daripada suasana canggung di kamar ini.
“Cepatlah bersiap-siap, sebentar lagi MUA-nya datang.” Mas Aldo berjalan mendekat, lalu duduk di sebelahku. Meski begitu, ia tidak menatapku sedikit pun. Pandangannya hanya tertuju ke layar ponsel seperti biasanya.
“Iya,” jawabku singkat.
Aku beranjak dari tempat semula, kemudian berjalan pelan melewati Mas Aldo yang masih setia menatap layar ponsel itu. Tidak lupa sedikit membungkukkan tubuh sebagai tanda hormat. Meski begitu, aku pun masih menjunjung tinggi adab-adab terhadap suami.
“Handuknya ada di depan kaca rias. Di depan pintu kamar mandi, tuh.”
Aku mengernyit heran, lalu melirik sekilas ke arah lelaki itu. Setelah kuperhatikan, ia tidak menoleh sedikit pun. Lantas, bagaimana Mas Aldo bisa tahu kalau aku akan ke kamar mandi? Ah, sepertinya ia bisa membaca pikiran seseorang. Tanpa sadar, hal itu justru membuat senyumku mengembang. Ada sedikit bunga-bunga yang bermekaran di hati. Entah kenapa, diri ini merasa bahwa Mas Aldo masih memiliki sedikit kepedulian terhadapku. Lekas kuambil handuk di tempat yang telah diinstruksikan oleh Mas Aldo. Benar saja, di sana ada dua handuk putih yang diletakkan di depan kaca rias.
“Kalau mau nyalain keran air, dilihat dulu. Hati-hati, yang sebelah kiri itu keran air panas. Awas keliru.”
“Iya,” jawabku singkat.
Sejujurnya aku bingung dengan sikap lelaki itu. Entah kenapa, ia masih mau memberi tahu tentang hal sekecil itu. Apa karena aku gadis desa dan dia menganggap bahwa diri ini tidak tahu apa-apa? Ah, sungguh membingungkan!
***
Setelah mengeringkan dan menyisir rambut, aku mulai bersolek di depan kaca rias. Mulai memoleskan bedak bayi yang biasa aku gunakan, kemudian memakai body lotion untuk melembabkan kulit. Walaupun aku berasal dari desa, tetapi memakai body care sudah menjadi rutinitas sampai saat ini.
Tidak seberapa lama, terdengar suara ketukan pintu kamar dan aku segera membukanya. Ada beberapa orang wanita yang berdiri di depan pintu. Satu orang menenteng tas koper, dua orang lainnya membawa cover jas berisi gaun pengantin beserta perlengkapannya.
“Selamat siang, Kak. Kami dari MUA wedding. Benar ini kamarnya Pak Aldo?” tanya seseorang yang menenteng tas koper.
“Iya, benar. Mari, silakan masuk!” ajakku mempersilakan orang-orang itu masuk.
Ketiga orang itu dengan cekatan melakukan tugasnya masing-masing. Ada yang membuka dan menata alat make up, ada pula yang menata ring led beserta aksesoris pengantin yang sudah disiapkan. Semua sudah bersiap dengan job desc masing-masing.
“Duduk sini, Mbak!” titah seorang wanita muda yang diperkirakan seusia denganku. Setelah itu, wanita itu mulai melakukan pekerjaannya dengan telaten.
Satu per satu tahapan make up mulai dilakukan. Mulai dari memoleskan foundation, primer make up, bedak, alis, dan lain sebagainya. Tanpa sadar, aku pun menikmati setiap prosesnya. Bahkan, pandanganku tidak lepas dari kaca sedikit pun. Setiap tahapan make up yang dilakukan oleh wanita itu membuat perubahan wajahku sangat kentara.
“Mbak, dari tadi saya make up-in sampean, tapi belum tahu namanya, nih,” ucap wanita yang tengah memoles eye shadow di kelopak mataku dengan telaten.
“Oh, iya, ya? Saya Tania, Mbak. Mbaknya sendiri, namanya siapa? Maaf, belum sempet ngajak kenalan, Mbak.”
“Hehe … iya, Mbak. Saya Lina, Mbak.”
Obrolan terus berlanjut hingga beberapa saat. Setelah ditelusuri, ternyata Mbak Lina adalah salah satu owner MUA kondang di Surabaya. Hasil makeup-nya yang flawless dan kekinian membuat namanya melejit dan banyak diminati calon pengantin. Tidak hanya di dalam kota, beliau pun melayani make up untuk acara di luar kota, tentu saja dengan tambahan tarif transportasi hingga akomodasi ke lokasi.
“Beruntung banget, loh, Mbak, sampean dipegang langsung sama Mbak Lina. Biasanya yang pegang ya kita-kita, asistennya ini. Hehehe …,” celetuk seseorang yang tiba-tiba muncul di belakang Mbak Lina.
“Hustt! Apaan, sih, Ret?” sahut Mbak Lina sambil mengulas senyum ke arahku.
“Hehe, iya Mbak. Saya beruntung banget, ya? Jarang-jarang bisa dirias langsung sama owner-nya sendiri.”
Tanpa terasa, obrolan kami semakin asyik hingga tidak sadar bahwa acara temu manten akan dimulai satu jam lagi. Mas Aldo yang sedari tadi asyik duduk di sofa sambil menatap layar ponselnya, tiba-tiba beranjak ke arah pintu. Memang terdengar ketukan samar sejak beberapa detik lalu. Setelah dibuka, ternyata tamu itu adalah seorang crew Wedding Organizer yang sudah dipersiapkan oleh keluarga pengantin pria. Crew tersebut memberitahukan bahwa acara gladi bersih resepsi manten akan digelar setengah jam lagi.
“Oke, Mas. Terima kasih infonya.” Mas Aldo kembali menutup pintu, lalu berjalan ke arah Mbak Lina.
“Ehm … maaf, Mbak. Apa riasnya masih lama? Barusan ada crew WO yang ngasih tahu kalau acara gladi bersihnya dimulai setengah jam lagi.”
Mbak Lina berhenti sejenak, lalu menoleh ke arah Mas Aldo. “Oh, sebentar lagi udah selesai, kok, Pak. Ya … sekitar lima belas menit lagi. Tinggal finishing hijab dan aksesoris kepalanya aja, kok.”
“Oh, baiklah.”
Setelah berucap demikian, lelaki itu kembali ke posisi semula. Duduk di sofa sambil menatap layar ponselnya. Ah, sibuk sekali lelaki itu. Bahkan, ia tidak mengajakku berbicara meski sekadar basa-basi.
“Mas ….” Entah dari mana lagi keberanian itu muncul, bahkan aku berusaha memanggilnya selembut mungkin agar orang lain tidak curiga bahwa sedang ada masalah di antara kita.
“Hm? Ada apa?” sahutnya tanpa menatap ke arahku.
“Aku haus.”
Sempat kulihat dari pantulan kaca rias, lelaki itu tampak menarik napas panjang. Sepertinya, ia berusaha agar tidak marah melihat sikap random-ku barusan. “Iya, tunggu sebentar.”
Lelaki itu membuka kulkas mini yang ada di sudut kamar hotel, kemudian mengambil sebotol air putih dingin di dalamnya. Setelahnya, ia menuangkan air tersebut ke dalam gelas, kemudian menyodorkannya ke arahku.
“Nih, minum, Sayang ….”
Sial! Semua ini terasa seperti mimpi. Selain temperamental, ternyata Mas Aldo pun jago bersandiwara. Buktinya, akting lelaki itu terlihat meyakinkan. Bukan aku saja yang merasa, tetapi Mbak Lina dan dua orang asistennya juga turut menyaksikan sikap manis Mas Aldo barusan.
“Duh, romantisnya pengantin baru. Jadi pengen nikah lagi, nih. Hahaha!” gurau Mbak Lina sambil membenarkan posisi aksesoris cunduk mentul atau yang dikenal dengan sebutan kembang goyang.
“Iya, dong, Mbak. Maklum, masih pengantin baru, masih seneng-senengnya.” Mas Aldo menjawab sambil terkekeh. Detik berikutnya, ia kembali lagi ke tempat semula.
“Wah, nggak nyangka. Selain ganteng, Pak Aldo juga romantis, ya?” puji asisten Mbak Lina yang diketahui bernama Retno.
Seketika, hal itu membuat semua orang terbahak-bahak, tidak terkecuali Mas Aldo. Baru kali ini aku melihat lelaki itu tertawa lepas. Memang benar kata Retno, jika dilihat lebih jelas, Mas Aldo memang tampan. Sayangnya, lelaki itu tidak pernah menampilkan sikap ramah seperti ini. Hal ini membuatku semakin penasaran, apakah aku bisa meluluhkan hatinya suatu saat nanti?