Jarum jam berputar sangat lambat. Belum dua jam aku di sini, tetapi mulai merasa bosan. Aku hanya duduk di tepi ranjang sambil memilin-milin ujung baju. Sementara itu, Mas Aldo masih setia duduk di sofa sambil menatap layar ponsel terus-menerus. Sesekali kudapati lelaki itu mengulas senyum sambil menatap ponselnya.
“Mas, aku bosan.” Akhirnya, aku memberanikan diri untuk mengungkapkan unek-unek itu sambil sesekali melirik ke arah Mas Aldo.
“Tidur saja, nanti aku bangunin kalau MUA-nya sudah datang.” Lelaki itu menjawab tanpa menoleh ke arahku. Pandangannya tidak lepas dari ponsel yang sedari tadi berada di genggamannya.
“Mas ….”
“Ck, apa lagi, sih?” Kali ini, pandangannya beralih ke arahku. Sorot matanya tampak tajam, setajam elang yang hendak menerkam mangsanya.
Melihat respons Mas Aldo seperti itu, nyaliku mendadak ciut. Tadinya aku ingin beradaptasi untuk mengenalnya lebih dalam, tetapi urung karena rasa takut yang muncul lebih besar daripada niat baik itu.
“Apa? Cepetan ngomong!” bentaknya. Baru kali ini kudengar suara bariton lelaki itu naik beberapa oktaf. Tidak hanya itu, napasnya pun terdengar memburu.
“M-maaf, Mas. A-aku cuma mau bilang … ehm, M-mas Aldo apa nggak sebaiknya tidur juga? Takutnya nan–”
“Udahlah, nggak usah sok peduli! Kalau mau tidur, tidur aja sana! Nggak usah banyak omong! Lagian sudah kubilang tadi, pernikahan kita hanya di atas kertas. Jadi, jangan sok asyik kepadaku!”
Lagi-lagi, hanya penolakan mentah yang aku terima. Tidak ada senyum hangat, sambutan ataupun pelukan seperti yang dilakukan orang-orang pada umumnya. Mungkin, semua itu hanya menjadi mimpi semata. Dicintai dan disayangi adalah dua hal yang tidak akan pernah bisa aku dapatkan sampai kapan pun.
Aku kira, sikap lembut dan sedikit manja akan membuat hati Mas Aldo luluh. Nyatanya aku salah, hal itu justru membuatnya hendak menelanku mentah-mentah. Tanpa kusadari, air mata ini mulai mengalir dari sudut mata. Meluruh deras membasahi pipi kanan dan kiri. Tidak hanya itu, ulu hati mendadak nyeri saat merasakan sakit yang datang tanpa permisi.
Mungkin, saat ini aku benar-benar kalah. Kalah dengan keadaan yang membuatku terjebak dalam situasi rumit. Dinikahi, tetapi tidak mendapat cinta dari suami. Menjadi penambat hati, nyatanya tidak mampu meraih hatinya yang terlalu tinggi. Apakah cinta sesakit ini?
Sepertinya aku sadar, ada sesuatu yang berbeda dari diri ini. Perasaan nyaman mulai muncul saat aku berada di dekat Mas Aldo. Benarkah aku mulai mencintai lelaki itu? Lelaki yang kuanggap sebagai raja, tetapi rela menikah demi mendapat harta orang tua saja. Namun, ia lupa bahwa ada hati dua wanita yang terluka karenanya.
Tanpa sadar, isakanku semakin keras. Bahkan, punggungku ikut bergetar karenanya. Akan tetapi, Mas Aldo tidak memperhatikan sedikit pun. Akhirnya aku luruh, kalah dengan rasa sakit yang tidak mampu tertahan lagi. Langsung kurebahkan tubuh di atas kasur, memunggungi Mas Aldo yang masih duduk di sofa dengan santai.
“Udah, nggak usah nangis. Cengeng banget, sih, jadi orang!” ejeknya tanpa rasa bersalah.
Aku hanya bergeming, tidak menanggapi ucapan lelaki itu. Hati ini semakin sakit saat mendengar ucapan ketus yang keluar begitu saja dari mulutnya. Bukannya dia tidak tahu, melainkan tidak mau tahu tentang perasaan orang lain. Seharusnya, ia juga bisa menjaga perasaanku sedikit saja. Ya, setidaknya sampai pesta pernikahan kami usai digelar.
“Diam, Tania! Kalau kamu nangis terus, nanti disangkanya aku ngapa-ngapain kamu!” Lagi, suara bariton itu terdengar lebih tinggi dari sebelumnya.
Tidak berapa lama, terdengar derap langkah mulai mendekat. Benar saja, Mas Aldo tiba-tiba berdiri di hadapan. Lelaki itu menekuk lutut, memosisikan diri sejajar dengan diriku yang sedang berbaring di ranjang hotel.
“Mau kamu apa, sih? Hm?” tanyanya dengan menatap lekat ke arahku.
Aku yang terkesiap sekaligus ketakutan mendadak diam seribu bahasa. Bahkan, sekadar bertemu pandang dengannya saja tidak berani. Aku menatap lurus ke depan, menggigit bibir bawah kuat-kuat untuk meredam tangis yang beberapa detik lalu tersekat di tenggorokan.
Sakit memang, tidak ada cara lain selain meredam tangisku sendiri. Saat kulihat dari ekor mata, ekspresi lelaki itu mulai berubah. Wajah yang sedari tadi penuh emosi, kini perlahan sirna, berganti dengan ekspresi datar seperti saat pertama kali datang ke rumah.
“Udah, jangan bikin aku tambah pusing. Mohon kerjasamanya,” ucapnya tegas, kemudian berdiri dan berjalan kembali ke arah sofa.
“Di sini bukan kamu saja yang terpaksa, tapi aku juga. Bukan cuma kamu yang tersiksa, aku pun begitu, Mas.” Entah dari mana kekuatan itu muncul. Tiba-tiba, diri ini berani berucap demikan.
“Apa maksudmu?”
Aku mulai bangkit, mengubah posisi menjadi duduk. Lantas, mulai menyandarkan tubuh di sudut ranjang. Entah muncul keberanian dari mana, aku mulai menatap Mas Aldo. Lelaki itu kini duduk di sofa sambil memainkan ponselnya seperti sedia kala.
“Setelah aku perhatikan dari tadi, kamu hanya bicara tentang perasaanmu saja tanpa mau tahu tentang perasaan orang lain. Pernahkah kamu menanyakan apakah aku bahagia atas pernikahan ini? Pernahkah kamu bertanya apakah aku mencintaimu, Mas? Enggak, kan?”
Spontan pandangan Mas Aldo beralih menatap ke arahku. Lantas, ia menaruh ponsel di sampingnya. “Nggak ada gunanya aku menanyakan semua itu padamu. Aku nggak peduli, Tania!”
Bukti nyata tentang keegoisan seorang suami terpampang nyata di hadapanku sekarang. Secara terang-terangan, Mas Aldo tidak memedulikan perasaanku sebagai seorang istri. Sakit memang, tetapi lebih sakit jika semua ini tidak pernah aku ungkapkan. Setidaknya, ia pun harus tahu bukan dirinya saja yang terluka atas pernikahan ini, melainkan ada orang lain yang merasakan hal serupa. Mentalku juga terkoyak, sama persis dengannya saat ini.
“Aku nggak menyuruhmu peduli denganku, Mas. Satu hal yang harus kamu tahu, aku pun terpaksa menyetujui lamaran sekaligus pernikahan ini. Aku nggak ingin mengecewakan Bapak dan Ibu yang sudah berharap banyak atas perjodohan kita.” Aku menjeda ucapan sejenak.
“Kamu tahu, kan, Mas … wanita itu nggak mudah menaruh hati, apalagi jatuh cinta sama orang asing. Meskipun aku cuma gadis desa, tapi aku paham soal itu, Mas. Aku nggak bodoh-bodoh amat, kok!”
Lelaki itu tertegun sejenak, mungkin ia kaget mendengar ucapanku yang sedemikian rupa. Ia bergeming tanpa menanggapi ucapan itu.
“Mas, maaf kalau aku lancang. Aku cuma mau bilang, tolong hargai aku sebagai istrimu. Kalau kamu masih berhubungan dengan mantanmu, bebas, Mas. Itu sudah menjadi hak kamu sepenuhnya, tapi tolong jangan telepon dia di depanku.” Aku menjeda ucapan sejenak.
“Bukannya cemburu atau apa, hanya saja ada sedikit rasa nyeri yang muncul begitu saja. Di sini aku sedang bertahan demi orang tuaku, Mas. Jika bukan karena mereka, aku pasti mengajukan pembatalan pernikahan. Ya, buat apa menikah sama laki-laki yang belum selesai sama masa lalunya? Itu sama aja seperti masuk ke lubang buaya, kan? Ibaratnya, menggali kuburan sendiri. Betul, kan, Mas?”
“Cukup, Tania! Berani-beraninya kamu ngoceh seperti itu, hah! Lancang sekali kamu!” Wajah lelaki itu mendadak merah padam. Rahangnya mengeras, pertanda bahwa amarah tidak mampu tertahan lagi.
“Kamu di sini bukan siapa-siapa, ingat! Kalau bukan karena harta, aku nggak sudi nikah sama gadis desa sepertimu!” sambungnya, lalu berjalan ke arah pintu. Lantas, membanting pintu kamar kuat-kuat.
Mendadak air mata ini luruh begitu derasnya. Hati ini bertambah nyeri mendengar jawaban yang lolos begitu saja dari mulut Mas Aldo. Kalimat-kalimat tajam itu bagai belati yang menyayat hati. Sesakit inikah rasanya bertahan karena keterpaksaan?