Dua jam sudah kami resmi menjadi pasangan suami istri. Kini, Mas Aldo hendak memboyongku ke kota, lebih tepatnya di pusat kota Surabaya. Aku mengikuti langkah lelaki yang sudah sah menjadi imam sekaligus penyempurna agamaku.
Langkah lelaki itu berhenti tepat di sebuah mobil hitam yang terparkir di ujung gang. Ia mengambil kunci dan memencet tombol untuk membuka pintu mobil tersebut. Setelahnya, lelaki itu mempersilakan diriku masuk bak seorang ratu yang dipersilakan masuk oleh rajanya. Setelah aku masuk, Mas Aldo langsung duduk di posisi kanan, tepat di belakang kemudi.
"Hati-hati, ya, Nduk, Nak Aldo." Ibu berucap di samping pintu mobil sebelah kiri. Mas Aldo sengaja membuka jendelanya lebar-lebar agar diri ini bisa bercakap-cakap dengan wanita itu.
"Ibu baik-baik di sini, ya. Jangan mengkhawatirkan Tania lagi, Bu. Insya Allah, Mas Aldo bisa jaga Tania dengan baik." Aku mengusap dan mengecup punggung tangan Ibu. Sementara itu, Mas Aldo hanya bergeming menatap kami.
"Kami pergi dulu, ya, Bu. Assalamualaikum." Lelaki itu berucap sambil mengulas senyum, tampak manis sekali.
"Waalaikumsalam."
Wanita itu mundur tiga langkah, kemudian masih mematung melihat kepergian kami. Sesekali kulihat beliau melambaikan tangan ke arahku. Namun, aku justru memalingkan muka sebab tidak kuasa membendung air mata yang hendak menetes deras.
"Tutup kacanya," titah Mas Aldo setelah menjalankan mobil agak jauh meninggalkan rumah.
"Hah, apa?"
"Tutup kacanya!" ucapnya lagi, kali ini menggunakan penekanan.
"Gimana caranya? Aku nggak bisa, Mas." Aku menatap lelaki itu dengan polos.
Sekilas kulihat lelaki itu mengembuskan napas kasar. "Fyuh! Iya, lupa. Biar aku saja."
Sekilas kulihat dari pantulan cermin depan, raut wajah Mas Aldo mendadak berubah. Sepertinya, lelaki itu badmood karena sikapku barusan. Lantas, aku langsung meminta maaf padanya. Namun, hanya dehaman yang dilontarkan sebagai jawaban.
Sepanjang perjalanan, tidak ada obrolan di antara kami. Mas Aldo hanya fokus menatap jalan raya sedangkan aku hanya bisa memainkan jari serta memilin-milin ujung bajuku untuk mengisi kekosongan.
Tanpa terasa, satu jam sudah mobil yang dikendarai Mas Aldo membelah kemacetan kota Surabaya. Kali ini, mobil itu menyalakan sein kiri dan mulai memasuki basemen Love Hotel. Aku menatap ke luar jendela, sekilas tampak bangunan megah dari hotel tersebut. Bahkan, dekorasinya pun benar-benar mewah.
"Ayo!" ucap Mas Aldo setelah memarkir mobil di parkiran hotel tersebut.
Lelaki itu keluar dari mobil sedangkan aku masih berdiam di dalamnya. Beberapa detik setelahnya, lelaki itu menghampiriku, kemudian membuka pintu mobil tersebut. Bahkan, ia juga membantu melepas seat belt yang terpasang di tubuhku.
"Udah, ayo!" ucapnya datar.
Tidak kusangka lelaki itu benar-benar dingin, bahkan sikapnya pun berbeda sewaktu acara di rumahku tadi. Gambaran Mas Aldo yang ramah serta murah senyum mendadak hilang begitu saja, berganti sikap dingin dan cuek yang terpampang nyata di hadapan.
"Ngapain bengong? Ayo!" ucapnya setengah membentak.
Aku mengangguk pelan, kemudian berjalan pasrah mengikuti langkah lelaki itu. Mas Aldo berjalan ke arah resepsionis hotel, kemudian memberi tahu sesuatu yang tidak kumengerti. Setelahnya, wanita yang duduk di belakang meja resepsionis itu langsung memberikan sebuah kunci dengan bandul nomor kamar.
Lagi-lagi Mas Aldo hanya menoleh sekilas, lalu memberi isyarat dengan kepalanya agar aku mengikutinya lagi. Aku hanya menurut, tidak memberi tanggapan ataupun bertanya hal lainnya.
Kamar 222, sebuah bilik berukuran sedang dengan dekorasi dan penataan yang estetik menjadi saksi kebersamaan dalam kebisuan sepasang pengantin baru. Bahkan, hingga saat ini Mas Aldo enggan mengajakku berbicara, ia justru asyik memainkan ponselnya di sofa.
"Mas …." Akhirnya, aku nekat membuka pembicaraan terlebih dahulu.
"Hm?"
"M-maaf kalau aku lancang. Kok, sikapmu beda dengan tadi sewaktu di rumahku, Mas?" tanyaku memberanikan diri.
"Bukan urusan kamu!" jawabnya ketus.
Mendengar jawaban yang terlontar dari bibir lelaki itu, aku mendadak bungkam. Aku tahu, mungkin Mas Aldo tidak pernah menginginkan pernikahan ini terjadi, begitu pun denganku. Mungkin, ia bersikap seperti ini karena ada hati yang dikorbankan atas perjodohan kami.
"A-apa kamu tidak menginginkan pernikahan ini, Mas?" Aku kembali bertanya seolah meminta jawaban pasti atas pertanyaan tersebut.
Mendadak lelaki itu menaruh ponselnya, kemudian menatap tajam ke arahku. Tatapannya mirip dengan tatapan elang yang hendak menerkam mangsanya. Perlahan lelaki itu mendekat, kini wajahnya hanya berjarak 10 senti dari wajahku.
"Dengar, ya. Jangan kamu pikir aku senang atas perjodohan ini. Enggak! Aku tersiksa, Tania! Aku terpaksa menerima perjodohan ini demi orang tuaku. Tahu kenapa?" Mas Aldo menjeda ucapannya sebentar.
"Karena aku tidak ingin kehilangan harta orang tuaku! Papa mengancam tidak akan mewariskan perusahaannya jika aku tidak bersedia menikah denganmu. Jadi, kamu jangan berharap apa pun dariku, Tania! Asal kamu tahu, sampai saat ini aku masih mencintai Dinda!"
Jawaban yang terlontar dari bibir Mas Aldo barusan mampu mengaduk-aduk perasaanku sekaligus menancapkan ribuan paku di hati ini. Perih hati ini saat aku mengetahui ada nama wanita lain di hatinya.
Tanpa terasa, air mata ini menetes deras. Di hadapan suamiku, aku menumpahkan segala sakit hati atas ucapannya barusan. Sekilas kupikir Mas Aldo akan syok setelah menatapku menangis seperti ini. Namun, lelaki itu justru abai, tidak meminta maaf sekalipun.
"Percuma kamu nangis, itu nggak akan bikin perasaanku sama Dinda berubah! Pernikahan kita sebatas di atas kertas, selebihnya jangan berharap lebih apalagi menuntut nafkah batin dariku!" Lagi, lelaki itu tega melontarkan perkataan tanpa disaring lebih dulu. Apa mungkin dirinya tidak bisa berpikir kalau ucapannya itu sangat menyakiti hati?
Ada rasa sesak yang tiba-tiba menjalar di ulu hati. Bahkan, sakitnya pun lebih dari dihujani dengan ribuan jarum. Aku tetap mencoba tegar, sekuat tenaga mengatur napas agar isak tangis tidak semakin menjadi-jadi. Lekas kugigit bibir bawah kuat-kuat, bermaksud membungkam isak tangis yang tersekat di tenggorokan.
Hari ini seharusnya menjadi momen bahagia bagiku, tetapi faktanya berbeda. Hari ini akan kukenang sebagai hari patah hati terhebat, mendengarkan fakta menyakitkan dari Mas Aldo yang sebelumnya tidak pernah kudengar.
***
Tidak berapa lama, kudengar ponsel Mas Aldo berbunyi. Mimik mukanya pun berubah drastis. Awalnya merah padam karena marah, perlahan menjadi teduh berseri-seri. Kalau boleh jujur, hatiku sedikit sejuk saat melihat ekspresi Mas Aldo seperti itu ketika tatapan teduh terpancar dari matanya. Sayangnya, itu semua bukan untukku.
"Iya, halo? Jangan marah lagi, ya, Sayang. Percayalah, aku masih tetap mencintaimu," ungkap lelaki itu melalui sambungan telepon. Kurasa, Mas Aldo sedang berbicara dengan Dinda, kekasihnya.
"Apa? Jangan sekarang, ya. Aku lagi di hotel sama istriku, persiapan buat acara resepsi nanti. Gini aja, nanti aku jadwalkan ulang pertemuan kita, ya. Oke?" Setelah berucap demikian, lelaki itu menutup sambungan telepon.
Sekali lagi, tanpa mengindahkan kehadiranku di kamar ini, lelaki itu semakin asyik dengan ponselnya. Entah apa yang sedang ia bahas dengan kekasihnya itu. Yang jelas, aku sangat terluka karena sebutan "istri" hanya menjadi predikat yang disandang olehku.