Benar kata orang, hati memang tidak bisa dibohongi. Meski bibir ini berusaha mengukir senyum manis, tetapi sorot mata sayu dengan bulatan hitam di sekitar mata seolah menjadi jawaban kebimbangan hati yang sedang aku rasakan. Bagaimana tidak, semalam diriku baru bisa tidur pukul tiga pagi. Usai azan subuh berkumandang, Ibu dan beberapa saudara yang baru datang dari desa langsung membangunkanku untuk bersiap-siap.
Aku keluar dari kamar dengan mata panda yang sangat kentara. Di ruang tengah ada orang tuaku dan beberapa saudara yang asyik mengobrol santai. Entah apa yang mereka obrolkan sepagi ini. Saat aku berjalan melewati ruang tengah, spontan semua orang menatapku dengan tatapan aneh. Mungkin, mereka melihat bulatan hitam di bawah kantung mataku yang terlihat seperti hantu.
“Calon manten, kok, punya mata panda, sih? Kan, begadangnya baru nanti malam. Hehehe ….” Mbak Nur, anak pertama dari Pakde menggodaku di hadapan semua orang.
“Wah, iya-iya. Jangan-jangan, Tania udah mikirin macam-macam gaya, tuh!” sahut Bude dengan terkekeh.
“Sstt! Emak, jangan terlalu jujur gitu, deh. Tania malu, tuh. Lihat, pipinya sampai merah gitu.” Mbak Nur menimpali.
Spontan percakapan singkat Mbak Nur dengan ibunya membuat semua orang terkekeh. Sementara itu, aku hanya terpaku sambil menahan malu. Untuk menghindari godaan yang lebih memalukan daripada ini, aku langsung menuju kamar mandi.
Gemercik air mulai terdengar saat keran kamar mandi aku nyalakan. Bak mandi itu masih terisi separuh. Selanjutnya, aku mulai mengangkat gayung dan mengguyurkan air secara perlahan ke tubuhku. Dingin, tetapi diri ini sangat menikmati kucuran air yang mengalir ke setiap inci tubuh ini. Setidaknya, rasa dingin ini mampu memberikan sensasi kesegaran pada tubuh yang sedari tadi terasa gerah.
Sekitar lima belas menit setelahnya, aku baru selesai mandi. Di luar sudah ada beberapa orang yang mulai mengupas bawang dan beberapa bahan masakan lainnya untuk mengolah hidangan. Tidak berapa lama, terdengar suara orang mengucap salam di depan pintu. Aku bergegas menghampiri, ternyata tamu itu adalah perias pengantin yang akan memainkan jemari ajaibnya di wajahku nanti.
“Mari masuk, Mbak!” Aku mengajak wanita itu masuk. Wanita itu hanya mengangguk pelan seraya menyungging senyum manis untuk merespons ajakanku.
Dia adalah Mbak Nara, seorang perias pengantin kondang yang berasal dari desa seberang. Umurnya pun tidak terpaut jauh dariku, hanya selisih lima tahun di atasku. Di usia yang tergolong matang, Mbak Nara sukses menjadi perias pengantin yang selalu kebanjiran job dari dalam kota maupun luar kota. Bedanya, Mbak Nara mematok tarif yang lebih murah untuk warga di sekitar tempat tinggalnya sebab dirinya tahu betul bahwa mata pencaharian warga sekitar sini adalah petani.
Kali ini, Mbak Nara tidak datang sendirian. Ia membawa satu orang asisten untuk membantunya. Aku tidak begitu kenal dengan asistennya, kuperkirakan ia hampir seumuran denganku. Selain itu, Mbak Nara juga membawa dua orang laki-laki, satunya bertugas sebagai fotografer, satunya lagi bertugas memasang backdrop.
Setelah sang asisten mempersiapkan alat tempur yang akan digunakan untuk merias, Mbak Nara langsung menyuruhku duduk di kursi rias. Tidak lupa dirinya menata pencahayaan yang berasal dari beauty case box rias miliknya. Setelahnya, Mbak Nara mulai membersihkan wajahku, lalu mengoleskan primer make up, foundation beserta tahapan make up lainnya.
Tahap demi tahap make up dilakukan Mbak Nara dengan telaten. Bahkan, wanita itu masih sabar menghadapi aku yang terkadang susah diatur. Sekilas kulihat dari pantulan cermin di hadapan, tangan Mbak Nara begitu lihai memainkan alat tempur untuk memoles wajah calon pengantinnya.
“Noleh kanan sedikit, Mbak. Terus merem, ya,” titahnya saat akan memainkan warna eyeshadow di kelopak mataku.
“Ini nanti akad nikahnya jam berapa, Mbak?” tanya Mbak Nara yang entah ditujukan untuk siapa sebab di kamar rias itu ada aku dan beberapa sepupu yang turut memperhatikan.
“Jam 7, Mbak.” Aku menjawab cepat tanpa membuka mata sedikit pun.
“Oh, berarti harus cepat selesai ini,” jawabnya kemudian.
Tidak terasa, aku dan Mbak Nara larut dalam obrolan santai. Bahkan, beberapa kali wanita itu sempat kepo perihal resepsi pernikahanku nanti karena aku hanya memilih paket wedding untuk akad nikah. Harganya pun tergolong murah, belum lagi dipotong discount yang diberikan khusus warga sekitar.
Setelah berbincang cukup lama, terjawab sudah rasa penasaran wanita itu. Akhirnya, ia mengetahui kalau diriku menikah dengan laki-laki dari kota. Mbak Nara sempat kagum sebab katanya jarang wanita desa ini bisa mendapat jodoh orang kota.
“Nggak papa, Mbak. Perjodohan itu nggak selamanya buruk, kok. Buktinya, saya dan suami juga dijodohkan. Memang nggak saling cinta awalnya, tapi sekarang udah punya satu anak. Hehehe ….” Wanita itu bercerita tentang dirinya.
“Hm … iya, Mbak. Gimana, ya, soalnya aku masih bimbang, Mbak. Terlebih, aku belum pernah komunikasi langsung dengan calon suamiku itu.”
Sekilas kulihat mata Mbak Nara terbelalak. “Masa iya, Mbak?”
Aku mengangguk pelan sebagai jawaban. Terlihat dari pantulan cermin, tiga sepupuku itu sempat saling pandang. Sepertinya, mereka belum tahu mengenai masalah ini. Sepersekian detik setelahnya, salah satu di antara mereka berani mengajukan pertanyaan.
“Terus, kok, kamu mau dijodohkan sama dia, Tan?” Mbak Nur bertanya dengan ekspresi heran.
“Ya … gimana lagi, Mbak. Aku kasihan sama Bapak dan Ibu, mereka mati-matian menafkahiku selama ini. Lagi pula, aku seorang pengangguran, pasti menjadi beban bagi mereka.” Aku menjawab pertanyaan Mbak Nur dengan jujur. Entah kenapa hati ini terasa sesak saat menjelaskan semuanya sebab diriku tidak ingin Ibu dan Bapak mengetahui alasan yang sebenarnya.
“Mbak Nur, tolong jangan bilang-bilang ke orang tuaku, ya. Kasihan kalau mereka sampai tahu.”
“Iya, Tan.”
Mbak Nara yang sedari tadi hanya mendengarkan obrolanku dengan Mbak Nur mulai angkat bicara. Ia memberi beberapa wejangan yang membuat mindset-ku perlahan terbuka. Tidak kusangka, wanita itu juga merangkap menjadi motivator dadakan. Namun, wejangan dari Mbak Nara juga ada benarnya.
Lama kami mengobrol, Bude masuk dengan setengah tergopoh. “Lho, belum selesai riasnya? Ini hampir setengah tujuh, loh!”
“Sebentar lagi, Bude. Ini sudah finishing, terus tinggal pasang hijab dan siger Sunda.” Asisten Mbak Nara menjelaskan.
“Ya sudah, Bapak-bapak terima tamu sudah berjaga di depan, takut kalau keluarga laki-laki keburu datang. Tolong cepetan, ya, Mbak!” ujar Bude, kemudian berlalu pergi.
“Nggih, Bude.”
Meski harga paket wedding ini terbilang murah, Mbak Nara tidak memberikan fasilitas murahan. Make up yang digunakan pun tergolong standar, tidak luntur sampai beberapa jam ke depan. Selain itu, dekorasi backdrop yang diberikan pun mengikuti trend kekinian. Tujuannya menarik minat calon pengantin lain untuk memakai jasa wedding-nya.
Sentuhan tangan Mbak Nara benar-benar ajaib. Kali ini, aku di-makeover bak ratu semalam. Kebaya putih berhias manik-manik dipadu dengan rok batik semakin menunjang penampilanku. Selain itu, gaya hijab dan siger Sunda yang dipasang oleh asistennya juga menambah aura kecantikanku sebagai calon pengantin.
“Wah, cantik banget kamu, Mbak!” Hana, anak kedua Bude memuji penampilanku.
Dapat kurasakan telapak tangan Hana menyentuh ronce melati pengantin. Sepertinya, ia menarik satu kuncup melati pengantin, kemudian menaruhnya dalam genggaman. Dalam adat Jawa, mitos ini cukup mengetren saat ada pernikahan. Hal ini biasanya dilakukan oleh wanita lajang, tujuannya untuk mendekatkan jodoh. Meski belum ada bukti akurat perihal mitos ini, banyak wanita lajang yang nekat melakukannya.
Aku tidak mempermasalahkan tangan Hana yang lihai menarik sebagian ronce melati pengantin. Mungkin, gadis itu pun ingin segera didekatkan dengan jodohnya, mengingat usianya satu tahun lebih muda daripada aku.
***
Alunan lagu islami menyambut kedatangan rombongan mempelai pria. Dapat kudengar kegaduhan orang-orang dari dalam kamar. Tidak berapa lama, asisten Mbak Nara mengeluarkan sepasang busana adat pengantin laki-laki dari dalam tas. Setelahnya, Mbak Nara memerintahkan sang asisten untuk memberikan busana tersebut kepada Mas Aldo.
Karena tidak ada koordinasi serta fiting baju bersama sebelumnya, lelaki itu harus berganti pakaian di kamar mandi rumah ini. Sepersekian detik setelahnya, mata kami beradu pandang saat Mas Aldo melewati depan kamarku. Jujur, aku tidak bisa menyembunyikan rasa deg-degan yang melanda. Bibirku kaku untuk sekadar menyuguhkan senyum tipis di hadapannya.
Akhirnya, lelaki itu melewatiku begitu saja, kemudian segera menuju kamar mandi. Aku hanya bisa menunduk sebab tidak ingin bertatap mata lagi dengannya. Tidak berapa lama, Mas Aldo telah memakai jas putih senada dengan kebaya milikku. Ia pun melewatiku begitu saja tanpa menoleh sedikit pun.
Di luar terdengar riuh rombongan pria sedang asyik berbincang sembari menunggu Pak Penghulu memulai ijab kabul. Aku dituntun oleh Mbak Nur dan Hana untuk duduk di sebelah lelaki berjas putih tersebut. Setelahnya, Pak Penghulu memimpin jalannya prosesi ijab kabul tersebut.
Sekilas kulihat tangan Bapak terulur, kemudian disambut hangat oleh tangan Mas Aldo. Sembari memegang mikrofon, Bapak mulai mengucap ijab dengan lantang.
“Saya nikahkan dan kawinkan engkau, Saudara Rivaldo Emran bin Bandi Subagyo dengan anak saya Tania Raqqila binti Najib dengan maskawin berupa cincin emas dibayar tunai!”
“Saya terima nikah dan kawinnya Tania Raqqila binti Najib dengan maskawin tersebut dibayar tunai!” Suara Mas Aldo tidak kalah lantang. Bahkan, lelaki itu mampu mengucap ijab kabul dengan satu tarikan napas.
“Bagaimana saksi? Sah?”
“Sah!” jawab semua orang hampir bersamaan.
Alhamdulillah, proses ijab kabul berjalan lancar. Tidak lupa kucium tangan lelaki itu dengan takzim sebagai tanda bakti terhadap suami. Cincin yang baru saja melingkar di jari manis seolah menjadi pengikat antara hatiku dengan Mas Aldo.
Tangis haru dan bahagia spontan menyelimuti acara akad nikah kami. Ibu yang sedari tadi menyaksikan dari kejauhan langsung menghampiri dan memelukku dengan erat. Lekas kuusap tetesan air mata yang membasahi pipi wanita itu. Ya, aku tidak ingin wanita hebat itu menangis.
“Alhamdulillah, Ibu turut bahagia, Nduk. Semoga pernikahan kalian sakinah, mawaddah, warahmah," ucapnya pelan, kemudian memelukku lebih erat. “Mungkin, ini akan menjadi pelukan terakhir Ibu sebelum kamu tinggal bersama suamimu nanti.”
Spontan ucapan Ibu membuat hatiku porak-poranda. Bagaimana tidak, aku yang biasanya tinggal bersama Ibu, kini harus pergi meninggalkan beliau dan keluarga kecil kami demi mengemban tugas baru sebagai seorang istri. Tiba-tiba tangisku pecah, air mata ini menetes deras hingga membuat make up pengantin sedikit luntur.
“Lho, make up-mu luntur itu, loh. Udah, jangan ikutan nangis, Nduk. Kamu bisa mengunjungi kami kapan pun. Benar, kan, Nak Aldo?” Wanita itu menatap ke arah lelaki yang sedari tadi terdiam memandangi kami.
“I-iya, Bu.” Mas Aldo menjawab singkat, entah bagaimana ekspresinya saat itu.
Sekilas kurasakan usapan lembut di punggung. Semakin lama usapan itu makin kentara. Spontan diriku menoleh, ternyata tangan Mas Aldo yang mengusap punggungku sedari tadi.
Tanpa disengaja, mata kami beradu pandang. Sorot mata tulus terpancar dari mata Mas Aldo. Ditambah lagi senyum tipis yang tampak manis menghiasi poros bibirnya. Hatiku meleleh, baru kali ini melihat sisi lain dari lelaki yang sudah resmi menjadi suamiku.
“Ayo, lekas berfoto dengan keluargamu. Setelah itu, aku akan membawamu ke kota.” Baru kali ini kudengar suara bariton keluar dari bibir lelaki itu. Aku hanya terpaku tanpa menjawab sepatah kata pun. Bak terhipnotis dengan ucapannya, aku pun mengangguk pelan sebagai tanda menyetujui.