***
Sejak Sabtu pagi, banyak orang berkumpul di rumahku. Ibu-ibu sedang memasak sambil berbincang santai, sementara Bapak-bapak sedang memasang terop di depan rumah. Meski terkesan sederhana, tetapi mampu membuat warga bergotong-royong melancarkan acara tersebut.
Rumah yang tidak seberapa luas ini mendadak sempit. Bagaimana tidak, banyak jajanan sekaligus bahan makanan yang akan diolah menjadi jamuan nanti malam. Seperti biasanya, keluargaku juga menggelar acara pengajian Bapak-bapak atau yang biasa disebut walimahan.
Tetanggaku yang mayoritas ibu-ibu mulai berdatangan untuk membantu mengolah bahan makanan. Ada yang mengupas sekaligus merajang bawang, memotong wortel dan kentang, mencuci daging serta ayam untuk lauk, dan lain sebagainya. Sementara itu, aku hanya diam sambil menatap satu per satu orang yang sedang menekuni pekerjaannya, tidak diperbolehkan membantu sedikit pun. Kata orang dulu, istilahnya sedang dipingit, tujuannya agar tidak terlalu lelah saat hari H nanti.
“Lho, kamu kok diem aja di sini, Tan? Apa nggak manggil tukang hena? Kan, biasanya calon manten, tuh, pakai hena atau luluran biar badannya bersih dan rileks,” ucap wanita yang memakai daster bermotif bunga. Dia adalah Bu Mardi, tetanggaku yang paling kepo.
“Ah, nggak, Bu. Saya mana ada duit untuk manggil tukang hena begitu. Duit buat pengajian aja pas-pasan, Bu,” jawabku sekenanya.
“Lho, masa keluarga calon suamimu nggak kasih fasilitas hena untukmu? Harga hena itu murah, loh. Kisaran 300 ribu, Tan.” Bu Mardi melanjutkan ucapannya.
“Nggak, Bu. Nggak papa kalau jadi manten tanpa hena. Toh, yang penting akad nikahnya sah. Hehe ….”
“Eman, loh, Tan. Udah dandan cantik-cantik, masa nggak pakai hena, sih? Malu kalau dilihat orang, tangan sama mukanya belang.”
“Hushh, ngomong apa, toh, Bu? Mbok ya dijaga bicaranya itu. Kasihan Tania, Bu.” Bu Evi yang sedang mengupas bawang pun ikut menimpali.
Aku tersenyum kecut mendengar ucapan Bu Mardi yang terkesan ceplas-ceplos. Selain kepo, beliau adalah orang yang terkenal asal bicara tanpa filter. Bahkan, beberapa tetangga pun tidak menyukainya lantaran wanita itu sering menyindir tetangga lain secara terang-terangan.
Daripada terus-menerus mendengar celotehan Bu Mardi yang tiada henti, aku memutuskan masuk ke kamar. Mengunci diri dan sedikit merenung, apakah diriku sudah memilih keputusan yang benar? Besok adalah hari pernikahanku dengan lelaki asing itu, Mas Aldo.
Lekas aku merebahkan tubuh di kasur sambil menatap langit-langit kamar yang tidak seberapa luas. Saat itu, momen tentang lamaran kemarin berputar begitu saja. Aku semakin bimbang dibuatnya, takut jika harapan tidak sesuai dengan kenyataan.
Tiba-tiba, rasa kantuk mulai menyerang. Sekilas kulihat jam dinding yang menunjukkan pukul sepuluh pagi. Padahal baru pukul sepuluh, entah kenapa aku tiba-tiba mengantuk. Perlahan, aku mencoba memejamkan mata untuk tidur sejenak.
***
"Bangun, Nduk! Nduk, bangun! Sudah jam berapa ini?"
Aku terbangun saat mendengar suara gedoran pintu beberapa kali. Tidak hanya itu, terdengar suara wanita setengah berteriak, siapa lagi kalau bukan Ibu. Refleks aku bangun dari tempat tidur, kemudian bergegas membuka pintu.
"Ada apa, sih? Kok, teriak-teriak begitu, Bu?" tanyaku sambil mengusap mata beberapa kali.
"Ini sudah jam berapa, Nduk? Buruan mandi, sholat, terus bantuin Ibu buat pengajianmu nanti."
Mendengar ucapan beliau, spontan aku menoleh ke arah jam dinding. Astagfirullah, ternyata sudah jam 5 sore. Perasaan tidur cuma sebentar, tahu-tahu hari sudah sore.
"Ya Allah, Bu. Kenapa nggak bangunin Tania tadi?"
"Ibu pikir kamu kecapekan, makanya Ibu membiarkanmu tidur."
"Ya udah, Tania mandi dulu, Bu."
Aku mengambil handuk yang tersampir di belakang pintu, kemudian bergegas menuju kamar mandi. Saat di dapur, ada tiga orang tetanggaku yang sedang repot memasak untuk hidangan pengajian nanti malam. Karena merasa tidak enak, akhirnya aku mengucap permisi sambil membungkukkan badan sedikit.
"Amit, nggih, Bu." Aku berucap sambil membungkukkan badan sedikit, melewati dua orang wanita yang sedang mengolah daging.
"Eh, calon manten." Bu Minah menoleh sambil menggodaku sedikit. "Baru bangun, ya? Belum apa-apa, kok, udah capek, sih? Hahaha …."
Spontan dua wanita lainnya tertawa mendengar ucapan Bu Minah barusan. Mukaku mendadak bersemu merah menahan malu. Bagaimana tidak, belum apa-apa sudah digoda seperti itu. Buru-buru aku masuk ke kamar mandi untuk menutupi rasa malu ini.
Sekitar sepuluh menit berada di kamar mandi, akhirnya aku pun keluar. Masih sama seperti tadi, tiga orang wanita itu tidak henti-hentinya menggodaku. Beginikah rasanya jadi calon pengantin? Malu-malu saat disinggung tentang hal-hal berbau pernikahan.
Aku kembali membungkukkan badan sedikit, kemudian mengucap permisi untuk menjemur handuk di belakang. Setelahnya, aku kembali duduk di antara tiga orang wanita tadi, lalu memegang pisau, hendak membantu mengiris-iris daging yang akan dibuat nasi rames untuk suguhan nanti.
"Lho, mau ngapain kamu? Udah, jangan bantu-bantu, Tan. Istirahat sana!" ucap Bu Evi saat melihatku memotong daging.
"Udah, nggak papa, Bu. Lagian, Ibu tadi menyuruhku bantuin, kok." Aku menjawab sambil memotong daging tersebut.
"Hmm … dasar keras kepala! Disuruh istirahat, kok, malah bantuin." Bu Evi mengomel karena diriku tidak menuruti ucapannya.
Aku terkekeh pelan saat melihat Bu Evi merengut sambil mencuci ayam mentah. Lucu juga, ternyata masih banyak orang yang peduli terhadapku. Bahkan, seorang Bu Evi yang biasanya jarang mengobrol dengan orang lain, ternyata orangnya asyik dan sangat perhatian.
Tidak lama setelahnya, Ibu datang dan menyuruhku berganti pakaian. Acara pengajian itu nantinya akan dimulai setelah isya, kurang lebih pukul tujuh malam.
***
Azan Isya telah berkumandang, Bapak-bapak yang sedari tadi membantu mendirikan terop pun mulai pergi satu per satu. Biasanya, mereka akan melaksanakan salat berjamaah di masjid. Tidak hanya itu, Bu Minah dan Bu Evi pun pamit pulang sebentar untuk melaksanakan salat berjamaah di masjid.
"Tenang saja, nanti kami balik lagi, Bu. Kami izin sholat sebentar," ucap Bu Minah sambil berlalu pergi.
"Nggih, Bu." Ibu menjawab pelan, kemudian melanjutkan pekerjaan Bu Minah untuk mengupas telur rebus.
Aku sedari tadi hanya melihat mereka dari pintu dapur sebab Ibu tidak mengizinkanku membantu lagi. Ada getaran aneh yang tidak bisa dihindari, bahkan perlahan air mata ini menetes membasahi pipi. Begitu bahagianya raut wajah wanita yang melahirkanku saat ini. Mungkin, memang inilah yang diinginkan setiap orang tua, yaitu menyaksikan putra-putrinya menjemput jodoh masing-masing.
Ketika asyik tenggelam dalam lamunan singkat, terdengar suara bapakku bersama Bapak-bapak lainnya di depan rumah. Sepertinya, salat berjamaah telah usai. Hal itu terbukti saat aku melihat empat orang lelaki sedang sibuk menggelar tikar di jalanan.
"Mana rokoknya, Bu?" Bapak berteriak dari depan pintu, kemudian setengah berlari menuju dapur. "Bu!" panggilnya lagi.
Mendengar suara Bapak, Ibu langsung tergopoh menghampiri lelaki itu. Keduanya bertemu di pintu dapur. "Oh, iya. Ibu lupa, Pak. Ya udah, Bapak minta aja di warung pojok, nanti Ibu bayar setelah pengajian. Tiga bungkus aja, Pak, jangan banyak-banyak!"
"Oke."
Lelaki itu dengan semangat keluar rumah, lalu menuju warung pojok untuk membeli rokok. Tidak lama setelahnya, beliau kembali sambil membawa satu kaleng rokok berwarna merah.
"Nggak ada yang bungkusan, Bu. Habis! Tinggal yang kalengan ini, Bapak beli satu. 75 ribu harganya," ujarnya seraya menunjukkan rokok kaleng tersebut.
"Iya, deh. Ya udah, ini gelasnya, Pak. Buat naruh rokoknya biar nyebar di tiap sudut." Ibu menyodorkan tiga buah gelas untuk menaruh rokok itu.
Tanpa menjawab apa pun, Bapak langsung mengikuti instruksi yang diberikan oleh istrinya itu. Setelahnya, beliau langsung keluar sambil membawa tiga gelas yang berisi beberapa batang rokok dalam satu gelasnya.
"Sini kubantu, Pak!" tawarku.
"Nggak usah, Nduk. Tuh, kamu bawa camilannya saja." Beliau menunjuk beberapa piring camilan yang terletak di atas meja.
Aku mengangguk pelan, kemudian menuruti ucapan lelaki itu. Lekas kubawa dua piring berisi kacang rebus dan roti gulung selai cokelat, kemudian menaruhnya di tengah-tengah tikar yang sudah digelar di depan rumah. Di sana sudah ada beberapa orang lelaki sepantaran Bapak yang menatapku sambil tersenyum. Merasa ditatap seperti itu, aku pun tersenyum sambil menganggukkan kepala pelan sebagai tanda menghormati beliau.
Tidak lama setelahnya, acara pun dimulai. Satu per satu warga kampung mulai datang. Terlihat juga Pak Hamid, seorang ustaz di kampung ini. Beliau sedang berbincang dengan tamu yang lain, kemudian menyalami Bapak sambil tersenyum ramah.
Setelah para undangan hadir, Pak Hamid memimpin jalannya acara dengan mengucap basmalah sebagai pembukaan. Setelahnya, dilakukan dengan membaca selawat nabi dan lain-lain. Acara pengajian pun berlangsung khidmat.
Saat Bapak-bapak sedang khusyuk mengaji, Ibu-ibu justru semangat mengisi piring dan menatanya sebelum dihidangkan kepada mereka. Kali ini, menu yang disuguhkan sebagai hidangan adalah nasi rames dengan lauk daging, lengkap dengan telur, kerupuk udang beserta acar kuning yang terlihat menggugah selera. Inilah menu andalan kampung kami ketika ada acara penting. Menu sederhana, tetapi menarik saat disuguhkan.
Di penghujung acara, hidangan pun dikeluarkan. Jumlah undangan yang hadir sekitar 100 orang. Menurut Pak Hamid, inilah acara walimahan nikah dengan jumlah hadirin terbanyak sebab biasanya hanya 60-70 orang yang datang.
***
Waktu begitu cepat berlalu seolah sulit diajak kompromi. Kulirik jam yang menempel apik di dinding kamar, ternyata menunjukkan pukul dua belas malam. Tepat tengah malam, mataku belum sempat terpejam padahal rasa kantuk mulai menyerang. Bukan tanpa alasan sebab hati ini masih ragu, benarkah besok diriku akan menjadi istri orang? Sulit dipercaya.
Tiba-tiba, bayangan Mas Aldo berkeliaran dalam benakku. Entah apa maksudnya, semakin aku berusaha menolak, bayangan itu semakin kuat hadir dan memenuhi otakku. Sedang apa dan di mana, itulah beberapa pertanyaan yang tiba-tiba muncul dan seolah ingin kuketahui jawabannya.
"Sadar, Tania … sadar!" Berulang kali aku menepuk pelan kedua pipiku, berusaha menyadarkan diri dari bayangan calon suamiku yang tiba-tiba hadir tanpa permisi.
Tiba-tiba, diri ini teringat jelas senyum tipis yang tersuguh dari bibir lelaki itu tatkala memasangkan cincin di jari manisku. Senyum tipis milik Mas Aldo pasti membuat hati wanita mana pun meleleh, bahkan menghancurkan predikat lelaki kulkas yang selama ini disandangnya. Bagaimana bisa aku memikirkannya secara tiba-tiba? Apakah aku mulai mencintai calon suamiku itu? Lebih tepatnya, jatuh cinta pada pandangan pertama. Benarkah?