Part 2 - Dilema

1035 Words
Sejujurnya, hatiku masih menolak keputusan ini. Berat rasanya, pasti terasa sulit ketika menjalani hari-hari bersama orang asing. Aku memang mengetahui namanya, tetapi tidak dengan ceritanya. Bahkan, asal-usul serta kisah masa lalu dari calon suamiku, aku tidak mengerti sebelumnya. Aku masih termenung di atas permadani bermotif bunga yang baru saja digunakan untuk menyambut keluarga Pak Bandi. Bahkan, gamis berwarna nude lengkap dengan jilbabnya masih melekat apik di tubuhku. Ingin rasanya aku berteriak dan melempar cincin ini sembarangan, pertanda bahwa hati ini belum siap menerima orang baru. Sayangnya, bayangan Bapak dan Ibu lagi-lagi menyadarkanku. "Kenapa, Nduk? Sepertinya sedang ada beban berat di pikiranmu." Ternyata, Bapak sedari tadi memperhatikanku dari depan pintu. Beliau mendekat sambil mengelus pundakku pelan. "Cerita aja sama Bapak, Nduk. Kamu kenapa?" Aku menatap lekat sorot mata lelaki itu, berharap Bapak mampu membaca isi hati ini tanpa mengungkapkannya. Sepersekian detik mata kami beradu pandang. Tidak kusangka, air mata mendadak luruh, menetes pelan membasahi pipi kananku. "Apa kamu belum ikhlas, Nduk? Maafkan bapakmu ini, Nduk. Bapak salah sudah memaksakan kehendak padamu. Bapak minta maaf, Nduk. Bapak terlalu egois." Lelaki itu menciumi telapak tanganku, bermaksud meminta maaf karena memaksakan kehendak. Aku terkejut, langsung menarik tanganku kembali. "Bapak … jangan seperti ini, ya. Tania yang harusnya minta maaf, Pak. Seharusnya, Tania nggak boleh egois begini. Tania salah, Pak. Maaf …." Kuraih telapak tangan bapakku, kemudian mengecupnya berkali-kali. Bapak langsung menarik tangannya kembali, kemudian memeluk tubuhku erat. Dapat kurasakan bahwa air matanya menetes dan membasahi pundak kiriku. Mengetahui Bapak menangis, aku pun tidak kuasa membendung air mata ini. "Kalau kamu tidak keberatan, Bapak akan membatalkan perjodohan ini sebelum terlambat," lirih lelaki itu. "Jangan, Pak. Udah, nggak papa. Insya Allah, Tania ikhlas." Aku melepas pelukan lelaki itu, kemudian langsung mengusap bekas air matanya yang masih menetes membasahi pipi keriputnya. Dapat kurasakan kasih sayang tulus yang terpancar dari sorot mata Bapak. Aku pun tahu bahwa tujuannya menjodohkanku dengan lelaki asing itu demi masa depan yang lebih baik. Hanya lulusan SMA membuatku sulit untuk mendapat pekerjaan dengan gaji standar UMR. Banyaknya pesaing sekaligus terbatasnya skill merupakan kendala yang saat ini dihadapi. Artinya, bukan tanpa alasan Bapak dan Ibu mengharapkan perjodohan ini berhasil sebab tidak ada gunanya jika aku terus-menerus menganggur tanpa kejelasan. "Mungkin Bapak benar, kalau menikah dengan Mas Aldo, pasti aku bisa membantu keuangan Bapak dan Ibu." Aku bermonolog, berusaha meyakinkan hati untuk ikhlas menerima perjodohan ini. Toh, tujuan Bapak dan Ibu memang baik. Perlahan, aku mengusap lembut cincin dengan hiasan love yang tersemat apik di jari manisku. Mencoba berdamai dengan simbol yang mengikat dua hati tanpa perkenalan. Bahkan, setelah acara lamaran itu, aku belum mengenal Mas Aldo lebih dalam. Tidak ada obrolan lebih lanjut dari kedua belah pihak untuk mengarahkan hubungan kami. Ah, bagaimana bisa kami menjadi lebih dekat sedangkan aku tidak memiliki ponsel canggih seperti kebanyakan orang? Akhirnya, aku berusaha pasrah. Tinggal mengikuti skenario yang telah Allah gariskan. Aku yakin, suatu saat pasti ada jalan keluar tentang perjodohan ini. *** Malam semakin kelam tanpa bintang yang menghiasi sang cakrawala, hanya awan mendung kecokelatan yang mendominasi. Aku terus menatap ke arah langit, berharap menemukan kedamaian untuk menenangkan kegelisahan hati ini. "Lagi ngapain, Nduk?" Ibu tiba-tiba berdiri di sampingku, kemudian duduk di kursi panjang yang ada di teras rumah. Suara wanita itu membuatku tersadar dari lamunan. "Eh, Ibu. Emm … enggak, kok, Bu. Ini, Tania cuma ngelamun aja." "Ngelamunin apa? Pasti lagi mikirin tentang pernikahanmu, kan? Sabar, Nduk, sebentar lagi kamu akan menjadi manten beneran," ucap Ibu. Aku hanya mengulas senyum tipis, memilih tidak menjawab ucapan Ibu barusan. "Tenang saja, Nduk. Pacaran setelah menikah itu indah, kok." "Jangan terlalu dipikirin, Nduk. Kalau kamu pengen telepon Nak Aldo, kamu bisa pinjam ponsel bapakmu saja. Maaf, Ibu dan Bapak belum bisa membelikanmu ponsel sehingga kamu nggak bisa mengenal calon suamimu lebih dekat." Deg! Ucapan wanita itu bagai dejavu. Bagaimana bisa Ibu mengerti tentang sesuatu yang aku pikirkan tadi? Begitu kuatnya feeling seorang ibu terhadap anaknya, sampai-sampai isi hati sang anak pun beliau bisa menebaknya dengan benar. "Tania yang harusnya minta maaf, Bu. Tania sudah berpikiran buruk terhadap Bapak dan Ibu. Jika kalian rasa inilah jalan terbaik bagiku, insya Allah … Tania siap menjalaninya, Bu." Aku mengembuskan napas berat. Ucapan yang sedari tadi tercekat di tenggorokan, akhirnya bisa terucap dengan lancar. "Nduk, asal kamu tahu. Bapak dan Ibu tidak ada niat untuk menjerumuskanmu. Kami tahu betul latar belakang keluarga Pak Bandi, Nduk. Lagi pula, Pak Bandi dan istrinya sangat menyukaimu, mereka pun setuju untuk menikahkanmu dengan putranya." Ibu menjeda ucapan sejenak. "Setahu Ibu, Nak Aldo itu anak terakhir, Nduk. Kata orang dulu, anak terakhir dan anak pertama itu cocok. Rezekinya bakal lancar, insya Allah." Aku terdiam beberapa saat, mencoba mencerna ucapan Ibu barusan. Wejangan dan pengetahuan tentang pernikahan seolah terdoktrin dengan rapi dalam diri ini. Entah jurus apa yang wanita itu gunakan sehingga diriku dengan mudah menerima semua ucapannya. "Eh, ayo masuk, Bu! Gerimis, nih." Aku menarik lengan Ibu untuk masuk, beliau pun pasrah mengikuti ajakanku. Langit pun seolah turut serta menyimak kisah rumit ini sebab sang cakrawala tidak kuasa menumpahkan tangisnya. Rintik hujan berlomba-lomba jatuh ke tanah dan membasahi pelataran rumah. Tidak berapa lama, terdengar pula amukan guntur yang semakin menambah riuhnya suasana hujan. Kulihat Bapak sedang menonton pertandingan bola di televisi. Setelah menyulut rokok, lelaki itu mulai menyeruput kopi hitam yang masih terlihat mengeluarkan kepul uap. Perlahan, aku dan Ibu mendekat, kemudian duduk di sampingnya. Seketika aku mengamati wajah yang mulai keriput itu. Begitu tulus senyum dan sorot mata yang terpancar dari lelaki itu. "Bapak sudah makan?" tanyaku membuka pembicaraan. "Sudah, Nduk." Beliau menjawab tanpa menoleh ke arahku. Aku bergantian menatap kedua orang tuaku. Kali ini, ibuku berbaring di sebelah Bapak. Matanya perlahan menyipit setelah rasa kantuk mulai menyerang. Benar, tidak butuh waktu lama wanita itu tertidur pulas. Mungkin, beliau kecapaian. Di sela-sela menonton pertandingan bola itu, tangan Bapak tiba-tiba menyentuh puncak kepala Ibu. Beliau memandangi wajah Ibu yang tampak natural saat tertidur pulas. Beberapa kali kudapati tangan kasar Bapak mengusap pipi Ibu yang mulai keriput. Dapat kulihat kasih sayang terpancar dari sorot matanya. Perasaanku meleleh, mendadak muncul getaran aneh dalam diri ini. Beginikah gambaran nyata keromantisan setelah halal? Tanpa sadar, bibirku menyungging senyum tatkala melihat momen romantis yang dilakukan oleh mereka. Kebahagiaan kecil tanpa pura-pura, berbuah kasih sayang tulus dari pasangannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD