Pria itu tersenyum kecut. Bagaimana bisa ada gadis yang masih virgin di jaman sekarang? Bahkan dengan tawaran yang dikeluarkan Fanya membuatnya ingin membuktikan apakah gadis itu masih perawan atau tidak. Atau itu hanyalah permainan Fanya saja? Uang muka? Ini pertama kalinya Fanya meminta uang muka saat ia menawarkan jalang-jalang miliknya. Biasanya pria itu akan membawa ke sebuah kamar khusus dan membayarnya pada Fanya atau pada jalang tersebut.
Pria itu menatap gadis yang masih saja menundukkan kepalanya. Ia benar-benar terancam sekarang. Harga dirinya ia jual kepada pria yang benar-benar tak ia krnal sama sekali.
"Baiklah, aku akan membawanya."
Pria itu memberikan kode pada bodyguardnya agar memberikan amplop coklat itu pada Fanya.
Tap!
Amplop coklat itu mereka letakkan di atas meja. Tebal dan ia bisa mengira-ngira harganya pasti sangat banyak.
Kisaran 30 juta. Fanya mengulurkan tangannya untuk mengambil amplop yang berisi uang tersebut lalu membukanya.
"Follow me!" perintah pria tersebut pada gadis yang sedari tadi menundukkan kepalanya.
"Grace, ikuti pria itu. Dia sudah membayarmu padaku, nanti kau akan mendapatkan bayaran juga darinya. Kau harus memuaskannya, jadilah yang terbaik. Maka bayaranmu akan berlebih dari padaku," ujar Fanya seraya berbisik sebelum akhirnya para bodyguard itu menyuruhnya agar berjalan di belakang sang majikan mereka.
Grace perlahan melangkahkan kakinya mengikuti pria yang telah membayarnya melalui Fanya.
Gugup, sangat gugup dan ia tak tahu bagaimana takdir dan kehidupan selanjutnya nanti.
Baru 5 langkah, Grace menoleh ke belakang dan mendapati Fanya yang tengah tersenyum bahagia seraya mengecup uang dengan lembaran yang tebal.
"Manusia licik," umpat Grace lalu kembali menoleh ke depan.
Ternyata mereka sudah di parkiran mobil.
"Masuklah bersama Tuan, Nona. Duduklah di belakang bersamanya," kata pria itu lalu menutup pintu kursi penumpang setelah Grace masuk ke dalam mobil mewah dan mobil itu berjalan meninggalkan parkiran club.
Pria yang berada di samling Grace hanya diam sambil memegang i-Padnya. Entah apa yang ada di dalam sana, tetapi Grace tak ambil pusing. Saat ini, dia harus menenangkan pikiran dan hatinya.
"Kita ke hotel xxx, ya."
Pria itu memberi arahan pada sang bodyguardnya. Sementara Grace semakin ketakutan. Apa yang akan mereka lakukan di hotel sana? Pikiran Grace mulai berkecamuk.
Pria yang berada di sampingnya melirik ke arah Grace yang diam-diam memperhatikan guratan wajah gadis itu.
Takut.
Gugup.
Rasanya beradu menjadi satu. Tak mengubah penasaran pria tersebut untuk membuktikan bahwa gadis yang ia bawa dengan mobil mewahnya sekarang apakah benar masih virgin atau tidak.
Di perjalanan, Grace memilih bungkam seribu bahasa. Ia tak tahu harus berbuat apa sekarang. Rasa menyesal sudah muncul di lubuk hatinya. Ini yang pertama dan terakhir kalinya. Ia tak mau terlibat dalam permasalahan seperti ini lagi dalam hidupnya. Harga dirinya telah hilang oleh Fanya.
"Nona, ini air mineral. Minumlah."
Pria kekar yang duduk di depannya memberikan sebotol air mineral yang masih disegel itu pada Grace.
Dari tadi, pria yang mengemudikan mobil sang majikannya itu memperhatikan bagaimana raut wajah Grace yang tampak gugup dan memberikan kode pada sang teman untuk membuka dashboard mobil yang terdapat air mineral di sana.
"Ah, terimakasih."
Grace mengambil sebotol air mineral itu, lalu membuka segel dan meneguk air tersebut agar gugupnya hilang.
Lega, tetapi hanya sedikit. Tak masalah, ia bahkan tak menyadati bahwa tenggorokannya sangat kering dan seharusnya ia siram dengan air dingin.
"Bisa dipercepat lajunya, Pak Yudi?" tanya pria yang berada di samping Grace tersebut tanpa melepas tatapannya dari i-Pad yang berada di pangkuannya.
"Baik."
Mobil mewah yang Grace tumpangi melaju melewati malam dan Grace hanya bisa diam.
***
Sesampainya di depan hotel mewah, pria itu turun tanpa menunggu sang bodyguard membukakan pintu untuknya. Grace tetap dengan wajah datarnya saat bodyguard pria tersebut membukakan pintu untuknya.
"Masuklah ke dalam hotel itu, Nona. Tuan sedang melakukan check in hotel."
Mereka mengarahkan Grace agar masuk ke dalam lobi hotel itu karena majikan mereka sudah berada di sana untuk melakukan check in memakai hotel malam ini.
Grace melipat bibirnya sejenak seraya memandang megahnya hotel di depannya. Di mana tempat inilah nantinya, tidur bersama pria yang tak ia kenal.
Grace melangkahkan kakinya perlahan, memasuki hotel tersebut dan melihat bahwa pria itu tengah menatapnya datar.
"Bisakah kau percepat langkahmu? Lamban sekali."
Pria itu berjalan memasuki hotel tersebut dan diikuti Grace dari belakang. Grace menatap ke kanan dan ke kiri.
'Hotelnya benar-benar mewah, pasti bayarannya mahal untuk beberapa malam saja,' batin gadis itu lalu masuk ke dalam lift dan pria itu menekan tombol 29.
Di dalam lift, hanya keheningan yang menyelimuti mereka. Grace diam dan sedikit melirik ke arah pria yang tengah berdiri di samping kanannya dengan wajah datar.
Setelan jas merah dengan warna senada di celana dan kemeja hitam yang melekat di tubuhnya menambah kesan dingin pada pria ini.
Grace menelan salivanya saat pria yang berada di sampingnya menoleh ke arahnya.
"Kenapa kau menatapku begitu? Saya tahu saya tampan, jangan sampai air liurmu jatuh ke lantai saat kau menatapku seperti itu," ujar pria tersebut.
'Benar-benar sombong sekali. Masih banyak kok, laki-laki yang lebih tampan darinya. Contohnya Vito,' batin Grace sambil mencebikkan bibirnya.
Ting!
Pintu lift terbuka, mereka berjalan keluar lift dan Grace tetap mengikuti pria tersebut dari belakang. Langkah pria itu sangatlah cepat, sehingga Grace harus menahan dressnya agar tak tersingkap ke atas saat ia melangkah.
Pria itu berhenti di depan pintu dengan nomor 345 seraya memasukkan kunci yang ia bawa saat selesai melakukan check in.
Ceklek!
Pintu hotel terbuka, pria itu terlebih dahulu masuk lalu membuka sedikit pintu untuk Grace yang sedari tadi masih berdiri di depan pintu kamar hotel mereka.
"Ayo masuk," ujar pria tersebut.
Glek!
Grace menelan salivanya lalu melangkahkan kakinya perlahan seiring jantungnya berdetak kencang.
Apa selanjutnya yang akan pria ini lakukan padanya?
Itulah yang bersarang di dalam otaknya. Pria itu mengunci pintu tersebut saat Grace masuk ke dalam kamar mereka dan memasukkan kunci pintu kamar ke dalam guci kecil bergambar kelinci putih di dekat nakas pintu.
Pria itu membalikkan tubuhnya lalu menatap Grace yang masih berdiri yang tak jauh dari pintu kamar.
Lalu Grace masuk ke dalam kamar dan duduk di bibir ranjang dengan tangan gemetar dan berkeringat.
Sementara pria itu melihat gelagat aneh dari Grace yang tak biasa. Wanita yang selalu menghangatkan ranjangnya biasa langsung menerkam dirinya. Sangat agresif. Tetapi, Grace hanya diam tanpa berkata-kata.
***
Nah, nah, nah. Gimana nih guys? Udah baper belum?
Bergabunglah Bersama Kami