Ting!
Pintu lift terbuka, mereka berjalan keluar lift dan Grace tetap mengikuti pria tersebut dari belakang. Langkah pria itu sangatlah cepat, sehingga Grace harus menahan dressnya agar tak tersingkap ke atas saat ia melangkah.
Pria itu berhenti di depan pintu dengan nomor 345 seraya memasukkan kunci yang ia bawa saat selesai melakukan check in.
Ceklek!
Pintu hotel terbuka, pria itu terlebih dahulu masuk lalu membuka sedikit pintu untuk Grace yang sedari tadi masih berdiri di depan pintu kamar hotel mereka.
"Ayo masuk," ujar pria tersebut.
Glek!
Grace menelan salivanya lalu melangkahkan kakinya perlahan seiring jantungnya berdetak kencang.
Apa selanjutnya yang akan pria ini lakukan padanya?
Itulah yang bersarang di dalam otaknya. Pria itu mengunci pintu tersebut saat Grace masuk ke dalam kamar mereka dan memasukkan kunci pintu kamar ke dalam guci kecil bergambar kelinci putih di dekat nakas pintu.
Pria itu membalikkan tubuhnya lalu menatap Grace yang masih berdiri yang tak jauh dari pintu kamar.
Lalu Grace masuk ke dalam kamar dan duduk di bibir ranjang dengan tangan gemetar dan berkeringat.
Sementara pria itu melihat gelagat aneh dari Grace yang tak biasa. Wanita yang selalu menghangatkan ranjangnya biasa langsung menerkam dirinya. Sangat agresif. Tetapi, Grace hanya diam tanpa berkata-kata.
Pria itu berjalan melewai Grace seraya menghidupkan pendingin ruangan, masuk ke dalam kamar mandi tak lupa untuk menggantungkan jas merahnya di gantungan baju.
Grace yang melihat pria membawanya kemari hanya bisa melihat punggung kekarnya dari belakang seraya menelan salivanya.
"Aura laki-laki itu benar-benar membuatku takut saja. Ya Tuhan, bantu aku. Apa yang harus kulakukan sekarang?" gumam Grace seraya mengeluarkan ponselnya yang sudah lama. Layarnya sudah retak dan casing bagian belakang ia lakban karena patah.
Grace masih menggunakan ponselnya karena tak ada uang untuk membeli ponsel baru yang harga jutaan rupiah. Perlu beberapa bulan bahkan tahun jika ia ingin mengganti ponsel lamanya tersebut.
Grace memberikan pesan pada Fanya melalui nomor ponsel Fanya.
(Kapan aku akan pulang?)
Send!
Grace mengetuk-ngetuk layar ponselnya lalu beralih mendudukkan tubuhnya ke kursi yang terletak di jendela kamar hotel.
Grace menyikap tirai jendela dan melihat langit tengah membasahi bumi. Hujan yang sangat deras, berangin tetapi tidak ada terdengar suara halilintar.
Ting!
(Lakukan apa yang diperintahkan Tuan Marvel padamu.)
***
PoV Grace
Bu Fanya baru saja membalas pesanku dan aku cukup terkejut apa yang dia kirimkan pesan padaku. Jadi, nama dia adalah Marvel?
"Tak cocok antara nama dengan kepribadiannya," ujarku lalu kembali menyimpan ponsel bututku ke dalam tas kecil milikku.
Sejenak aku memejamkan mata setelah aku membuka jendela kamar. Aku tak bisa berdiri di dekat balkon karena bisa jadi diriku akan terkena air hujan dan demam.
Aku tak suka sakit.
Tapi, aku juga mau mandi hujan. Masalahnya adalah hari ini sudah malam.
Aku membiarkan tubuhku diterpa angin yang berembus dari arah barat ke utara, menerpa rambutku yang tergerai. Lalu aku menggulungnya hingga aku dapat merasakan leherku juga ikut terembus.
Dingin dan aku menyukainya. Aku melangkah selangkah untuk merasakan seluruh tubuhku diterpa angin dengan menikmati suara hujan yang jatuh ke bumi.
"Mau kabur, ya?"
Mendengar suara maskulin dari dalam kamar hotel, aku membuka mata dan memutar kepalaku ke belakang.
Ternyata pria itu tengah mengenakan kimono berwarna putih. Sudah selesai mandi ternyata.
Aku hanya diam dan kembali melangkahkan kaki mrnuju balkon.
Sret!
Pergelangan tanganku ditarik dari belakang dan membuat tubuhku terhuyung.
Pluk!
Kepalaku menabrak d**a keras milik Marvel. Mataku membulat saat aku mengetahui tubuhku tengah ditahan olehnya.
"Maaf."
Aku segera melepaskan tubuhku dari rengkuhan pria ini, memberi jarak pada tubuhku dan tubuhnya.
Syuh!
Angin dan hujan malah mengguyur tubuh kami beberapa detik sebelum akhirnya pria itu membawaku masuk ke dalam kamar.
"Mau coba lari, ya? Ha?! Mau bunuh diri? Kurang kerjaan banget ya, jadi orang."
Aku hanya diam tak membalas perkataannya yang membentakku. Melihatnya saja membuatku muak.
"Punya mulut gak?!"
Aku tersentak kaget mendengar suaranya yang membentakku untuk kedua kalinya.
"Iya. Cuman mau santai aja," ujarku lalu mendudukkan diri di bibir ranjang.
"Aneh, ya. Jelas hari ini hujan, malah mau mandi hujan malam-malam begini," ocehnya.
Aku mendongakkan kepala menatapnya. Rambutnya basah, tulang selangka miliknya juga benar-benar seksi.
'Astaga, kau mikirin apa Grace?' batinku membuyarkan lamunanku.
Aku mengalihkan pandanganku darinya dan menatap ke lantai sambil mengayunkan kakiku.
"Apa kau akan mandi?" tanyanya.
"Gak," jawabku singkat.
Pria bernama Marvel itu berlalu dari hadapanku, berjalan menuju koper dan mrngeluarkan pakaian miliknya dan menyikap kimono di tubuhnya untuk memakai pakaiannya.
Aku mengalihkan pandanganku darinya. Bisa-bisanya dia mengganti pakaiannya di depanku. Di depan wanita yang tak ia kenal. Apa dia tak punya urat malu? Dia yang aneh, atau dia yang bodoh? Pikirku.
"Astaga, hampir saja."
Aku mengelus dadaku dan mengembuskan napasku perlahan.
"Hampir apa?" tanyanya yang membuatku terkejut.
"Tak ada," kilahku seraya menggigit bibir bawahku gugup.
"Bisa kita lakukan sekarang?"
Aku mendongakkan kepalaku menatapnya. Mataku membulat sempurna menatap wajahnya yang benar-benar mrmbuatku ingin menamparnya. Bibirnya menyinggungkan senyuman misterius, tersenyum miring menatapku lalu matanya menatap ke bawah.
"Apa yang Om liat?"
Aku menutup dadaku dengan kedua tanganku. Pria ini sangat m***m dan liar sekali. Pria itu mendekatiku lalu menindih tubuhku. Yang kulakukan hanya bisa menahan pergelangan tangannya yang berada di samping tubuhku agar ia tak menimpa tubuhku dengan tubuhnya yang kekar.
"Hei, saya membayarmu mahal. Jangan lupakan itu. Saya hanya ingin memperjelas saja, apakah kamu masih perawan atau tidak. Hanya itu saja," ucapnya santai.
Aku meliarkan pandanganku, mencari cela agar aku bisa melarikan dari kamar yang terasa seperti neraka ini.
"Maaf, Om. Saya mendadak sakit perut."
Aku mendorong dadanya dengan keras lalu berlari masuk ke dalam toilet. Tak lupa untuk menguncinya dari dalam.
Aku memegang dadaku, jantungku berdetak sangat cepat saat ia mengukung diriku. Aroma tubuhnya sanhat menusuk indra penciumanku. Pasti ia gunakan parfum mahal, pikirku.
Aku melangkah mendekati wastafel lalu menghidupkan kran air untuk membersihkan wajahku.
Lalu mataku beralih pada tube bertulisan 'Facial wash for all type skin'. Aku mrngambil tube tersebut dan melihat cara penggunaan. Aku membersihkan wajahku dengan sabun tersebut untuk menghilangkan riasan wajah yang membuatku merasa tak nyaman.
Setelah mengeringkan wajahku dengan tissue wajah yang telah tersedia, mataku beralih pada parfum berbotol kaca dengan tulisan Paco Rabanne Parfum Original Invictus man.
Lalu aku mengambil sikat gigi yang bersih dan kering. Menggosokkan gigiku dan setelah selesai aku kembali menenangkan jantungku, berdehem sejenak dan keluar dari kamar mandi.
"Sudah siap?" tanya pria yang berbaring di atas ranjang. Ia meletakkan ponselnya di nakas lalu menatap kembali ke arahku.
"Sini."
Ia menepuk ranjang di sebelahnya dengan aura yang ingin membunuhku.
"A-apa Anda tidak akan membunuh saya?" tanyaku gugup.
Pria itu tertawa mendengar pernyataanku. Apa aku salah?