"Apa yang Om liat?"
Aku menutup dadaku dengan kedua tanganku. Pria ini sangat m***m dan liar sekali. Pria itu mendekatiku lalu menindih tubuhku. Yang kulakukan hanya bisa menahan pergelangan tangannya yang berada di samping tubuhku agar ia tak menimpa tubuhku dengan tubuhnya yang kekar.
"Hei, saya membayarmu mahal. Jangan lupakan itu. Saya hanya ingin memperjelas saja, apakah kamu masih perawan atau tidak. Hanya itu saja," ucapnya santai.
Aku meliarkan pandanganku, mencari cela agar aku bisa melarikan dari kamar yang terasa seperti neraka ini.
"Maaf, Om. Saya mendadak sakit perut."
Aku mendorong dadanya dengan keras lalu berlari masuk ke dalam toilet. Tak lupa untuk menguncinya dari dalam.
Aku memegang dadaku, jantungku berdetak sangat cepat saat ia mengukung diriku. Aroma tubuhnya sanhat menusuk indra penciumanku. Pasti ia gunakan parfum mahal, pikirku.
Aku melangkah mendekati wastafel lalu menghidupkan kran air untuk membersihkan wajahku.
Lalu mataku beralih pada tube bertulisan 'Facial wash for all type skin'. Aku mrngambil tube tersebut dan melihat cara penggunaan. Aku membersihkan wajahku dengan sabun tersebut untuk menghilangkan riasan wajah yang membuatku merasa tak nyaman.
Setelah mengeringkan wajahku dengan tissue wajah yang telah tersedia, mataku beralih pada parfum berbotol kaca dengan tulisan Paco Rabanne Parfum Original Invictus man.
Lalu aku mengambil sikat gigi yang bersih dan kering. Menggosokkan gigiku dan setelah selesai aku kembali menenangkan jantungku, berdehem sejenak dan keluar dari kamar mandi.
"Sudah siap?" tanya pria yang berbaring di atas ranjang. Ia meletakkan ponselnya di nakas lalu menatap kembali ke arahku.
"Sini."
Ia menepuk ranjang di sebelahnya dengan aura yang ingin membunuhku.
"A-apa Anda tidak akan membunuh saya?" tanyaku gugup.
Pria itu tertawa mendengar pernyataanku. Apa aku salah?
****
PoV Author
Marvel menatap Grace dengan dalam. Jika dilihat dari dekat, Grace memanglah cantik. Cantik sekali. Bahkan mata pria itu tak berkedip beberapa detik yang lalu.
Keindahan kulit wajah dan bola mata milik Grace seakan menghopnotis Marvel agar menatap gadis di bawahnya lebih lama.
"Apa saya bisa untuk mulai menyicipi kamu, Grace?"
Bola mata Grace membulat, bagaimana bisa Marvel mengetahui namanya? Padahal mereka belum saja berkenalan atau bahkan berjabatan tangan.
Pria ini sangat misterius, apakah dia paranormal? Pikir Grace seraya mengusap jari tangannya dengan ibu jari yang ditahan Marvel.
Grace sungguh gugup sekali sekarang, ia belum pernah melakukannya dan ia bahkan tak menonton tutorial cara berciuman dengan pasangan drngan benar.
'Tunggu, kenapa aku malah memikirkan diriku sendiri?' batin Grace. Sementara Marvel menunggu persetujuan dari gadisnya.
Ralat, gadis itu. Gadis yang ia tindih di bawahnya. Benar-benar fantasinya selama ia berada di kamar mandi beberapa waktu lalu.
Ya, Marvel sempat memikirkan bagaimana cara membuat Grace terkesan. Setelah ia membersihkan wajahnya, terlebih dahulu Marvel mengirim pesan pada Fanya tentang gadis tersebut, mulai dari nama, tempat sekolah dan tempat tinggal.
Marvel tak ingin menanyakan mengenai latar belakang gadis itu, karena nanti ia takut Fanya curiga mengenai penasaran Marvel yang terdengar sangatlah berlebihan.
"Om ..." Grace berbisik lirih. Suaranya tercrkat di tenggorokan dan ia hanya bisa meminta takdir yang akan memberikan keberuntungan padanya malam ini.
Grace pun memberanikan diri menatap Marvel yang ada di atasnya.
Matanya benar-benar tajam, menghunus ke lubuk hatinya. Wajahnya sangatlah tampan berseri, Rahangnya tegas, bulu mata yang lebat dan lentik, bibir yang merah berisi, tak ada bulu di rahang dan di atas bibirnya.
'Dia sangat ahli dalam merawat wajahnya,' batin Grace.
Marvel menggerakkan kepalanya ke arah kanan, pasalnya Grace tengah melamun. Melihat Grace yang tersadar, Marvel terkikik geli.
'Apakah dia bisa tertawa?' batin Grace seraya mengerutkan keningnya menatap Marvel.
Aura dinginnya menghilang dan digantikan dengan perasaan hangat.
Marvel kembali menatapnya dengan penuh keinginan. Jika bukan dia memiliki hasrat penasaran, tidak mungkin pria ini sampai memberikan uang muka kepada Fanya, bukan?
Marvel mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Grace. Matanya yang tadi menatap manik mata Grace, kini teralihkan atensinya ke bibir mungil nan tipis milik Grace. Seolah-olah bibir itu memanggilnya untuk segera mencicipi bagaimana manisnya bibir yang pertama kali belum tersentuh oleh pria manapun kecuali dirinya.
Marvel mulai menempelkan bibirnya di atas bibir milik Grace. Ia merasakan aroma strawberry di sana. Apakah dia baru saja memakan buah strawberry? Pikir Marvel.
Marvel melepaskan bibirnya lalu menatap ke arah Grace yang menatapnya dengan penuh keterkejutan. Bagaimana tidak terkejut, ini pertama kalinya Grace melihat wajah pria tampan dari dekat. Sedekat ini hingga menempel pada kulit wajahnya.
Aroma wangi dari kulit wajah pria itu, napas Marvel yang berembus dengan perisa mint, wangi tubuh Marvel yang sangat memabukkan, dan masih banyak lagi hingga Grace tak bisa mrnjabarkan satu per satu.
Marvel kembali mendekatkan wajanhnya, kali ini Marvel mulai menggerakkan bibirnya. Menyesap bibir manis milik Grace.
Dia mulai menggerakkan dengan melumat setiap inci daging ranum gadis itu dengan diam tak membalas ciuman dari Marvel.
Di sinilah Marvel baru percaya bahwa gadis ini memang tak ahli dalam permainan ciuman atau perang bibir.
Grace benar-benar gugup hingga bibinya terasa gemetaran oleh Marvel. Kaki dan seluruh tubuhnya menegang sempurna saat Marvel mulai menyesapi mulai dari bibir gadis itu.
Tetapi, Marvel melakukan hal itu dengan lembut. Selembut mungkin, dia ingin membawa gadis yang berada di kungkungannya merasakan lebih dalam lagi permainan yang senikmat ini. Surga dunia namanya.
Bibir miliknya mulai menghisap bibir mungil yang kaku itu perlahan. Grace hanya diam lalu memejamkan matanya dengan kuat. Kedua tangannya dilepas oleh Marvel guna menahan tengkuk gadis itu yang ingin melepaskan diri darinya.
Grace meremas baju kaos abu-abu milik Marvel. Dia ingin melepaskan perasaannya dengan cara yang seperti itu. Gugup, takut detak jantungnya terdengar oleh Marvel.
Marvel melepas bibirnya yang membungkam bibir Grace saat Grace memukul bahunya beberapa kali untuk menyadarkan pria tersebut.
"Ha ... ha ..."
Grace menghirup oksigen sebanyak mungkin. Pasokan oksigen di paru-parunya telah habis. Dia menahan napasnya saat Marvel berada di dekatnya dan mengembuskan napasnya dengan perlahan-lahan. Tapi, tetap saja membuat ia sesak napas.
"Kenapa?" tanya Marvel menatap wajah gadis yang berada di kungkungannya memerah.
"Kamu mendadak bisu, ha?"
"Saya sesak napas, Om. Om kalau cium saya itu liat-liat kondisi, dong. Kalau saya mati mendadak bagimana?! Saya belum lulus SMA, Om. Saya masih ingin seko--"
Bibir gadis itu kembali dibungkam oleh bibir Marvel yang sudah tidak bisa menahan dirinya lagi.
Shit! s**t! s**t! Kenapa Marvel sekarang sangat bernafsu melihat bibir tipis dan mungil itu mengoceh dan memaki-makinya? Bukannya sakit hati, tapi Marvel justru merasa sangat lucu dan merasa bahwa menimbulkan gelanyar aneh dalam dirinya.
Apakah gadis kecil itu sedang mengajarinya tentang bagaimana cara berciuman dengan baik dan benar dengan gadis yang belum mengetahui perkara ini? Marvel tersenyum saat gadis itu kembali diam, tubuhnya menegang. Marvel tertawa di dalam hati.