"Kenapa?" tanya Marvel menatap wajah gadis yang berada di kungkungannya memerah.
"Kamu mendadak bisu, ha?"
"Saya sesak napas, Om. Om kalau cium saya itu liat-liat kondisi, dong. Kalau saya mati mendadak bagimana?! Saya belum lulus SMA, Om. Saya masih ingin seko--"
Bibir gadis itu kembali dibungkam oleh bibir Marvel yang sudah tidak bisa menahan dirinya lagi.
Shit! s**t! s**t! Kenapa Marvel sekarang sangat bernafsu melihat bibir tipis dan mungil itu mengoceh dan memaki-makinya? Bukannya sakit hati, tapi Marvel justru merasa sangat lucu dan merasa bahwa menimbulkan gelanyar aneh dalam dirinya.
Apakah gadis kecil itu sedang mengajarinya tentang bagaimana cara berciuman dengan baik dan benar dengan gadis yang belum mengetahui perkara ini? Marvel tersenyum saat gadis itu kembali diam, tubuhnya menegang. Marvel tertawa di dalam hati.
"Hmph ..." Grace mendesah saat napasnya mulai tercekat.
Marvel tidak akan membiarkan gadis itu melepaskan pangutan bibir mereka. Marvel menyesap semua inci bibir dan mendesak lidahnya ke dalam rongga mulut gadis itu dengan lembut.
Dan hal yang paling disukai Marvel sekarang adalah sedang memeluk gadis kecil yang seperti anak kecilitu dengan posesif tepat di pinggang dan tengkuknya.
Gadis itu semula diam dan beberapa lama melakukan perlawanan. Marvel memberikan ruangnya untuk bernapas, menghirup udara sebanyak dua kali helaan dan kembali membungkam gadis tersebut.
Otaknya sudah korslet. Penolakannya seakan bertolak belakang dengan debaran jantungnya. Untuk pertama kalinya Grace berciuman dan ternyata rasanya seperti ini. Aneh, tetapi membuat candu.
Dua bibir yang kenyal menyatu. Lidah pun saling bertabrakan dan membelit. Grace tak berbuat apa-apa, yang mendominan adalah Marvel. Sensasinya kini menimbulkan rasa geli di beberapa titik tubuh Grace. Terutama bagian intinya. Rasanya ... dia mulai basah.
'Apa aku pipis?' batinnya.
Marvel melepaskan pangutan mereka. Grace menahan Marvel yang demakin dekat dengan tubuhnya dengan menahan dadanya.
Rambut Grace berantakan karena ulah Marvel. Berantakan. Mereka berdua sama-sama berantakan. Melihat Grace yang tengah menghirup udara sebanyak mungkin, membuat Marvel tersenyum kecil.
Cup!
"Bibir ini milik saya." Marvel me-labeli bibir Grace sebagai miliknya membuat Grace tertegun sesaat. Bagaimana bisa Marvel berkata seperti itu? Hei, ini hanya sesaat. Kemudian, tomorrow Grace akan menghilang. Melupakan malam ini dan kembali memulai hidupnya seperti biasa setelah ia mendapatkan uang dari Marvel.
"Jangan gila," umpat Grace menatap tajam Marvel lalu ia mencoba untuk duduk, namun siapa sangka jika jemari Marvel malah akan nakal dan mulai bermain. Tak tanggung-tanggung, bagian bawah Grace langsung menjadi jangkauan Marvel untuk membuat Grace diam, tak melawan, tanpa sadar mendesah.
"b******k!" pekik Grace menatap tajam ke arah Marvel.
"Anda ... ahh ..."
"Bicara kasar lagi, satu sentuhan," ucap Marvel seraya mendekatkan wajahnya ke samping wajah Garce, berbisik di telinga Grace.
"Jangan gila ya, saya ... hmpp ..."
Grace membungkam mulutnya dengan tangannya sendiri, sementara tangan yang satunya ia gunakan untuk menahan pergelangan tangan Marvel yang sudah berani menyentuh mahkota yang selalu ia jaga.
Grace merinding dikala jemari Marvel berhasil menyentuh daging kenyal miliknya dari luar hotpansnya.
Grace mendorong Marvel hingga ia terhuyung ke belakang. Marvel terkejut dengan kekuatan gadis yang berada di ranjang bersamanya.
Gadis itu memilih untuk berjalan mrnuju pintu keluar, tapi sebelum itu terjadi Marvel lebih dahulu menahan gadis tersebut.
Sret!
Grace terbaring ke ranjang lalu Marvel kembali mengukungnya. Marvel menatap gadis itu dengan tatapan iba, agar ia tetap berada di kamar hotel menjelang fajar.
"Tetaplah di sini," pinta Marvel yang ditolak oleh Grace dengan menggelengkan kepalanya.
"Saya besok sekolah."
Deg!
"What?!"
Marvel kehilangan kata-kata. Ia kira Grace adalah seorang gadis yang baru saja lulus SMA. Ternyata dia masih bersekolah.
"Kamu kelas berapa?" tanya Marvel.
"2 IPA," jawab Grace singkat.
Marvel beranjak di atas tubuh Grace, wajahnya terlihat kecewa dan kepalanya pusing memikirkan hasratnya belum terpenuhi.
Miliknya sudah menegang sedari tadi. Saat mereka berciuman selama empat puluh lima menit tadi, Marvel mencoba untuk membuat Grace nyaman dan ia bisa merasakan nikmatnya tubuh Grace.
Sementara Grace memilih berdiri karena jika ia berlama-lama untuk duduk di depan Marvel, dress mininya tersingkap ke atas dan itu bisa jadi bahan tontonan Marvel.
Ia malu.
Beruntung Marvel kini tengah memakai baju kaos oversize jadi Grace tak melihat milik Marvel yang menegang di dalam celana Marvel.
Marvel beranjak dari ranjang menuju nakas, mengambil dompetnya lalu memberikan semua uang tunai yang ada di dalam dompetnya kepada Grace.
Grace yang melihat lembaran uang berwarna merah itu sangat tertegun. Ia menelan salivanya dan impiannya terwujud dalam semalam.
Hap!
Saat Grace ingin mengambil uang dari tangan Marvel, terlebih dahulu Marvel menaikkan tangannya di atas kepala sehingga Grace tak bisa mengambil uang miliknya.
"Ada apa lagi, Om?" tanya Grace kesal. Pasalnya ini sudah jam 9 malam.
"Berikan saya alamat rumahmu."
"Enggak, hak Anda apa?"
"Saya akan kasih kamu uang ini, tapi kamu harus kasih tahu alamat rumah kamu. Atau sekolah kamu."
Marvel memberikan pilihan yang sulit untuk Grace. Pasalnya ia sudah mengetahui tempat tinggal Grace, hanya saja ia ingin menggoda gadis itu. Apakah ia mengatakan hal yang bohong atau dia adalah gadis yang jujur.
Grace mengetikkan pesan di ponsel bututnya lalu memperlihatkan layar ponselnya yang pecah. Di sana tertulis alamat rumah Grace.
Benar. Sesuai dengan apa yang dikirim oleh Fanya padanya.
Marvel menganggukkan kepalanya. Lalu dia mengirim pesan kepada bodyguardnya untuk membelikan baju kaos panjang lengan dan celana training khusus perempuan dengan tinggi badan 155 cm.
"Tunggulah di sini, saya harus bersiap-siap," ujar Marvel seraya pergi ke kamar mandi. Guna untuk menuntaskan hasratnya di sana. Ia butuh berendam air dingin sekarang.
"Om, pakaian saya ada sama Bu Fanya," kata Grace.
"Saya akan membelikan baju untukmu. Tunggulah, nanti ada orang yang akan memberinya."
Ceklek!
Marvel masuk ke dalam kamar mandi lalu kembali mengirim pesan pada Fanya untuk mengantarkan peralatan milik Grace pada bodyguardnya.
Marvel membuka seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya lalu ia menyalakan kran air dingin di bathup dan merendamkam tubuhnya di sana.
Untuk pertama kalinya Marvel tersiksa oleh seorang gadis. Rasanya ia ingin menuntaskan dengan sabut batang saja. Tapi, tak mungkin. Karena Grace berada di 1 ruangan bersamanya. Jika nanti Grace mendengar desahan, u*****n dan erangannya, bagaimana? Marvel masih punya urat malu di sarafnya.
5 menit berendam, tapi miliknya masih saja menegang. Membuat kepala pria itu pusing tak karuan. Bagaimana ini?! Pikir Marvel menatap ke bawah.
"Ayo, tidurlah. Aku akan mengantar gadis itu pulang ke rumahnya. Jika kau masih on begini, gimana aku akan keluar dari bathup ini?" ujar Marvel seraya memijit pelipisnya.